11 Kesalahan Ini Perlu Mama Perhatikan Agar Anak Terhindar Dari Obesitas dan Overweight Sejak Dini!

11 Kesalahan Ini Perlu Mama Perhatikan Agar Anak Terhindar Dari Obesitas dan Overweight Sejak Dini!

1.9K
Healthy isn't a goal. It's a way of living.

"Eh, kemarin anak Anya masuk rumah sakit, kamu udah jenguk belum?"

"Lho, aku malah nggak tau. Emang sakit apa?"

"Katanya sih ada gejala diabetes."

"What? Ciyusan? Masih umur 12 tahun kok udah ada gejala itu?"

Ya, Ma, sekarang ini seringkali kita mendengar ada kerabat, teman atau tetangga yang di usia dini sudah terkena penyakit seperti hipertensi, jantung dan diabetes bahkan stroke.

Nggak bisa dipungkiri memang, gaya hidup menjadi salah satu pemicu utama penyakit ini muncul. Kebiasaan makan junk food, alkohol, rokok, kopi yang berlebihan tanpa diimbangi dengan olahraga bikin tubuh ini menumpuk 'racun'. *hiks*

Penyakit tersebut dapat menimpa siapa saja nggak pandang usia maupun jenis kelamin. Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2013, jumlah anak bertubuh gemuk yang ada di Indonesia mencapai 18% dari total jumlah penduduk. *gosh, it's so terrible!*

Meskipun faktor keturunan atau genetik ikut berpengaruh tapi jumlahnya sangat kecil. Jadi, jangan berpikir jika orangtuanya gemuk sudah pasti anaknya gemuk juga atau sebaliknya. Hal ini nggak sepenuhnya benar, Ma! Kelebihan berat badan (overweight) lebih banyak disebabkan oleh faktor lingkungan seperti makanan, gaya hidup, dan lainnya.

Obesitas dan overweight seringkali disamaratakan artinya oleh kebanyakan orang. Sayangnya, dua hal ini berbeda lho, Ma.

Obesitas adalah kondisi di mana lemak di dalam tubuh berada dalam jumlah yang berlebihan. Obesitas ini berhubungan juga dengan penyakit-penyakit lain yang secara langsung dapat memengaruhi kualitas hidup.

Overweight adalah kelebihan berat badan seseorang melebihi berat badan normal.

Jelas, ya, Ma, kenapa obesitas dan overweight ini momok banget bagi orangtua maupun remaja.

Beberapa laporan penelitian menyebutkan anak yang gemuk sejak kecil rentan mengalami obesitas saat dewasa. Walaupun nggak semua anak gemuk nantinya ketika dewasa akan gemuk juga, tapi pada orang yang mengalami kegemukan sejak kecil cenderung tetap gemuk saat mencapai usia dewasa apalagi jika faktor lainnya seperti lingkungan nggak dijaga maka ikut berpengaruh.

Ini tugas kita lho, Ma, sebagai orangtua agar menjaga pola makan anak, memerhatikan lagi camilan yang dikonsumsi hingga minuman. Pastinya Mama nggak ingin kan si kecil yang baru berusia 5 tahun memiliki resiko penyakit akibat kelebihan berat badan, bukan? Memang sih, anak dengan badan berisi terlihat menggemaskan. Tapi, Mama harus bisa mengontrol apakah beratnya sesuai dengan usia.

Sebagai Mama yang siaga, ada baiknya mengenali dulu apa saja penyebab anak mudah gemuk. Bisa jadi lho, Ma, kegemukan mereka disebabkan oleh kesalahan kita yang nggak disadari.


1. Anggapan gemuk = lucu

Masih ingat Arya Permana, bocah obesitas asal Karawang, Jawa Barat, ini sempat menghebohkan media massa karena memiliki bobot badan mencapai 190 kg? Pasti inget banget, yes.

Anggapan umum yang berkembang di masyarakat kita adalah anak gemuk itu menggemaskan, bawaannya pengin towel terus deh. Padahal pendapat tersebut keliru loh, Ma! Karena stigma anak gemuk itu lucu dan menggemaskan, maka banyak orangtua 'sengaja' membuat anaknya jadi gemuk. Mulai dari memberikan makanan sebanyak-banyaknya kepada anaknya, bahkan sejak masih bayi. Ditambah lagi pemberian camilan tinggi lemak. Bahkan kalau anaknya terlihat kurus, orangtua merasa malu, dikira nggak memberi makan anaknya dengan benar.


2. Pola asuh tidak tepat

Para ahli kesehatan mengatakan bahwa faktor yang berperan besar terhadap peningkatan angka kegemukan pada anak adalah pola asuh yang tidak tepat. Biasanya karena orangtua masih belum sadar dan memerhatikan kebutuhan gizi anaknya. Banyak yang berpikir yang penting anak kenyang, tidak rewel, tidak menangis terus menerus, beri saja makan yang banyak.

Jadi, Ma, dengarkanlah apa kata anak. Jika kenyang pasti akan mereka katakan. Jangan memaksakan harus makan terus.


Baca juga : Ini dia 6 penyakit berbahaya yang dapat mengancam si kecil. Hati-hati!


3. Bayi yang lahir dengan berat kurang


Pada bayi-bayi yang lahir dengan berat kurang/rendah (BBLR), akan membuat orangtua terpacu untuk menggenjot atau mengejar supaya berat anaknya bertambah dan tanpa disadari orangtua semakin anak besar dan bertumbuh, berat badan anaknya sudah berlebih (overweight).

Mama harus memerhatikan buku kesehatan anak yang sering dibawa ketika imunisasi. Di dalamnya ada grafik pertumbuhan anak. Di situ Mama bisa lihat, jika bayi berumur 4 bulan misalnya, berat dan panjang yang normal berapa.


Baca juga: Yuk, Ma, Capai Berat Badan Ideal Bayi Sejak dalam Kandungan dan Setelah Dilahirkan!


4. Kenali psikologis anak

Perilaku makan seringkali terkait dengan kondisi psikologis seseorang termasuk anak-anak. Munculnya keinginan makan terus menerus yang nggak disadari oleh anak kadangkala akibat dari pelampiasan emosi yang nggak stabil seperti rasa marah, kurang perhatian, nggak punya teman karena kurang bergaul, sering dibully di sekolah, dan lainnya.


5. Kurang aktivitas

Keasyikan main gadget membuat anak betah berlama-lama di depan gadgetnya yang membuatnya kurang beraktivitas di luar seperti bermain di luar rumah atau berolahraga. Alhasil, anak jadi kurang bergerak dan mudah gemuk karena nggak ada aktivitas fisik yang membakar kalori dan lemak.

Jadi, Ma, sebisa mungkin dibatasi penggunaan gadget pada anak. Ajak mereka untuk melakukan aktivitas di luar rumah seperti jalan sore atau melakukan olahraga bersama.


Baca juga : Ini dia cara berlibur sehat menikmati alam bebas bersama keluarga ala Rocking Mama petualang!


6. Makan sambil nonton tv

Seringkali anak makan sambil melakukan aktivitas lain seperti nonton TV atau lainnya. Karena keasyikan nonton, anak jadi tidak fokus terhadap makanannya, tanpa disadari anak makan banyak dan sulit berhenti mengunyah.


7. Kebiasaan mengonsumsi junk food

Gaya hidup modern kaum urban yang sibuk, serba cepat dan peningkatan ekonomi, ikut memunculkan kebiasaaan masyarakatnya mengonsumsi makanan cepat saji (junk food), tak terkecuali anak-anak.

Jika ditanya makanan favorit ketika ke mal, pasti dengan cepat anak-anak akan menuju restoran cepat saji. Padahal nih Ma, makanan cepat saji sangat tinggi kandungan lemak dan kalorinya, kurang serat dan vitamin, sehingga mudah memicu kegemukan.


Baca juga: Mama Tetaplah yang Terbaik, Meskipun Mama Melakukan 7 Dosa Parenting Ini!


8. Kurang konsumsi buah dan sayuran

Anak-anak cenderung susah makan buah dan sayur. Padahal sayur dan buah memiliki kandungan gizi dan nutrisi tinggi dan seratnya mempercepat rasa kenyang, sehingga dapat mengurangi terjadinya kegemukan.

Barangkali Mama bisa mengakali ini dengan bikin makanan yang bahannya dicampur dengan sayuran. Misalnya, bikin nasi goreng dicampur sayuran atau nugget dicampur wortel. Kreasikan dapur Mama! Untuk buah, perlahan Mama kenalin, tentunya Mama harus menyediakan buah-buahan di rumah. Bisa Mama variasikan buah ini dalam bentuk jus. Agar anak lebih mudah untuk mengonsumsinya.


Baca juga : Si Kecil masih susah makan sayur, Ma? Coba 15 cara sederhana ini, yuk!


9. Banyak konsumsi makanan dan minuman yang mengandung pemanis buatan

Anak-anak biasanya lebih menyukai makanan dan minuman yang manis-manis. Bener nggak, Ma?

Waspada, ya, Ma, jangan sampai si buah hati kecanduan makanan dan minuman manis apalagi pemanis buatan. Gula sintetis dari produk yang dikonsumsi seperti gula pasir, gula halus, atau gula buatan lain dapat dengan mudah menumpuk menjadi lemak di tubuh yang berujung pada kegemukan. Kontrol lagi jajan dan camilan mereka, ya, Ma.


10. Camilan tinggi lemak dan kalori

Selain makanan utama, anak juga perlu diberi makanan selingan dua kali sehari berupa camilan yaitu pada pukul 10.00 pagi atau pada sore hari. Tapi, seringkali orangtua memberikan camilan tanpa memperhitungkan kandungannya seperti kue-kue manis tinggi kalori, es krim, burger plus kentang goreng, snack instan seperti keripik dan lain sebagainya.

Sebisa mungkin kurangi intensitas pemberian camilan yang tinggi lemak dan kalori pada anak, ya, Ma. Makan sesekali nggak masalah, akan menjadi masalah ketika dikonsumsi tiap hari.


11. Pemberian makanan tinggi lemak sejak bayi

Bayi dapat mengalami kegemukan bisa dari asupan makanan pendamping ASI (MPASI) yang diberikan.

Kok bisa ya, Ma?

MPASI yang dikonsumsi bayi pada usia 6 bulan keatas, seharusnya lebih mementingkan kandungan nutrisi esensial untuk bayi bukan yang padat energi. Contohnya, MPASI yang terlalu banyak diberi keju, daging yang banyak lemak, kulit ayam, atau sudah dikasih santan kental.


Baca juga : 5 Resep MPASI praktis, mudah dan super yummy yang bisa dimasak kurang dari 15 menit!


Nah, Mama, sebelum anak mengalami kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas, lakukan pencegahan sejak dini. Ubah dan atur pola makan anak dengan memberikan makanan sehat yang kaya kandungan gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan buah hati kita. Bila perlu, konsultasikan dengan dokter ahli gizi.

Stay healthy, Ma...





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "11 Kesalahan Ini Perlu Mama Perhatikan Agar Anak Terhindar Dari Obesitas dan Overweight Sejak Dini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


| @RisaRusli

Silahkan login untuk memberi komentar