5 Hal tentang Suami Kita yang Harus Segera Dipahami Begitu Kita Terikat dalam Pernikahan

5 Hal tentang Suami Kita yang Harus Segera Dipahami Begitu Kita Terikat dalam Pernikahan

490
Setelah menjadi pasangan suami istri, ternyata banyak sekali PR yang harus segera kita lakukan dan selesaikan. Di antaranya adalah saling memahami.

Ma, setelah menjalani kehidupan pernikahan, banyak sekali penyesuaian yang harus kita lakukan bersama suami.

Adakalanya kita memerlukan waktu cukup lama untuk memahami suami, meski kita telah menjalin hubungan terlebih dahulu jauh sebelum menikah.

Sebelum menikah, kita mungkin berdebat hanya soal makanan, penampilan atau hal-hal sepele lain yang bisa baik dengan sendirinya. Tapi saat setelah menikah, perdebatan bisa muncul dari banyak celah. Mulai dari kotoran dalam rumah, urusan menu makanan, genting yang selalu bocor sampai dengan keuangan dan masalah anak-anak. Duh, memang banyak beud deh masalahnya.

Memang, ketika dua orang dihadapkan pada satu tujuan, tentu akan ada banyak cara yang dilakukan oleh dua orang itu demi mencapainya. Barangkali perdebatan, ego yang tinggi, saling mendiamkan, maupun mencoba mengalah adalah bagian sehari-hari dalam kehidupan pernikahan.

Jika hal ini sering terjadi, maka kita harus mulai mencari akar masalah dari perdebatan-perdebatan itu. Salah satunya adalah dengan memahami suami kita, kemudian memakluminya sehingga hati kita menjadi lebih lapang. Memahami membuat kita ikhlas, memahami juga membuat kita bisa berkompromi untuk mencari solusi.


BACA JUGA


Ini Dia 5 Sikap Suami yang Secara Nggak Sengaja Bisa Menghancurkan Pernikahan

Ini Dia 5 Sikap Suami yang Secara Nggak Sengaja Bisa Menghancurkan Pernikahan

Seorang suami memang bertugas untuk melindungi keluarga, membuat istri dan anaknya merasa nyaman dan aman. Apa jadinya kalau suami melakukan ...

Read more..


Apa saja ya, hal yang perlu kita pahami tentang suami begitu kita menikah?

1. Lahir dari keluarga yang berbeda


Ma, seperti yang saya utarakan di atas, ada dua kepala dalam sebuah rumah tangga. Dua kepala itu masing-masing berasal dari tempat yang berbeda, dilahirkan oleh orang tua yang berbeda, sehingga memiliki cara pengasuhan yang berbeda pula.

Saya ingat ketika awal menikah, suami saya seringkali mengatakan bahwa dia tidak bisa tinggal di tempat yang kurang bersih, karena dia dibesarkan di rumah yang sangat resik.

Berhari-hari saya berpikir, apa yang salah dengan cara saya membersihkan rumah sampai-sampai dia mengatakan hal demikian? Alih-alih saya ngambek terlalu lama, saya pun memutuskan untuk tinggal beberapa hari di rumah mertua.

Hasilnya? Saya jadi memahami mengapa suami seringkali protes saat rumah berantakan. Ya, rumah ibu mertua memang sangat nyaman ditinggali, dan perasaan nyaman itu tentu saja akan menjadi ekspektasi suami ketika dia memiliki rumah sendiri.

Bisa dibayangkan kan Ma? Hal itu juga berlaku saat suami dan kita mempermasalahkan tentang perbedaan pola pikir. Well, saya rasa hal itu sangat wajar.

Suami dan kita, dilahirkan oleh orang tua yang berbeda, lalu kita membawa semua hasil pengasuhan termasuk karakter berbeda ke dalam sebuah rumah yang sama. Adakalanya, perbedaan ini memang hanya bisa dimaklumi tanpa bisa kita mengubahnya.


2. Kesiapan tentang pergantian status


Ma, tidak hanya kita lo yang kaget ketika menjadi seorang istri, apalagi ibu. Suami juga merasakan hal yang sama dengan apa yang kita rasakan.

Kita sering merasa segala sesuatu sangat sulit ketika tiba-tiba kita harus merawat suami dan rumah, sedangkan kita juga harus bekerja. Apalagi bagi seorang perempuan yang tiba-tiba saja berstatus ibu rumah tangga, setelah sebelumnya ia adalah seorang perempuan yang bekerja dan memiliki segudang aktivitas.

Jangan salah. Suami juga harus menyesuaikan ritme kerja dia dengan keberadaan kita lo, Ma.

Percaya deh, saat Mama merasa kesepian, kehilangan teman, dan merindukan aktivitas yang Mama lakukan dulu sebelum menikah, maka hal yang sama berlaku juga untuk suami kita. Apalagi saat anak telah hadir di tengah-tengah kita, keluhan tentang repotnya mengurus anak sembari melakukan urusan rumah tangga juga menjadi keluhan yang sama bagi para suami.

Suami kita juga sama dengan kita, sama-sama belajar menjadi orang tua baru. Tapi mungkin, suami tidak sepandai kita dalam mengungkapkan perasaan. Ia memilih menghindar saat kebingungan akan hal baru, daripada harus berdebat panjang dengan kita karena kita ngotot ingin dimengerti.


3. Perbedaan budaya dan tradisi


Pernahkah Mama merasakan perbedaan budaya yang kadang menjadi penghalang kita menyamakan persepsi atau frekuensi dengan suami?

Sebenarnya hal ini sangat wajar, Ma. Saya bukan ingin mengatakan suku A lebih baik dari suku B, tapi memang demikian adanya saat kita menikah dengan orang dengan suku yang berbeda. Mulai dari bahasa, cara bertutur, cara berpakaian, cara bergaul, selera makan, sampai dengan hubungan kekerabatan yang berlaku.

Apa jadinya jika kita tidak begitu memahami bahasa asal suami, biasanya kita akan merasa terasing saat pertemuan keluarga besar tiba. Pun demikian dengan selera makan atau berpakaian, ada suku tertentu yang menyukai masakan asin tanpa santan, tapi ada suku lain yang menggunakan santan dan penuh bumbu dalam setiap masakan.

Bisa dibayangkan kan, bagaimana pasangan ini harus menyesuaikan diri di meja makan?

Itu baru soal suku. Belum lagi latar belakang lain yang juga ikut memengaruhi. Bahkan strata sosial pun--meski kita selalu bilang bahwa cinta seharusnya tak mengenal strata sosial--akan ikut berperan dalam membentuk karakter dan budaya seseorang.

Menurut saya wajar, jika ada masa penyesuaian yang panjang sampai kedua belah pihak menemukan cara untuk menyenangkan pihak yang lainnya. Misalnya saja kalau soal selera, ya dengan menguasai resep makanan dari kedua keluarga, lalu menghidangkannya bergantian.


BACA JUGA


7 Mitos Seputar Hubungan Suami Istri yang Justru Akan Membahayakan Kehidupan Pernikahan

7 Mitos Seputar Hubungan Suami Istri yang Justru Akan Membahayakan Kehidupan Pernikahan

Selama ini banyak beredar berbagai mitos tentang hubungan suami istri atau seks yang nggak jelas kebenarannya. Padahal banyak di antaranya ...

Read more..


4. Belum menemukan cara komunikasi yang menyenangkan


Komunikasi adalah kunci penting keberlangsungan sebuah rumah tangga. Tanpa komunikasi yang baik maka salah paham tidak akan bisa terelakkan.

Apalagi konon, perempuan memiliki lebih banyak jumlah kata yang harus dikeluarkan per hari dibandingkan laki-laki. Maka tidak heran, saat Mama mengeluhkan respon suami yang tidak sesuai harapan saat Mama bercerita.

Padahal, ketika suami itu diam, bukan berarti dia tidak memperhatikan lo. Ketika dia tidak menegur kita, bukan berarti pula dia membiarkan. Jika Mama perhatikan, suami akan memiliki kode khusus berupa intonasi, mimik muka dan gestur untuk menunjukkan emosi mereka.

Saat kita tidak mendapatkan respon yang sesuai dengan harapan kita, mungkin ada yang salah dengan cara kita menyampaikan. Bisa jadi, kita menyampaikan sebuah informasi sepotong-sepotong dilengkapi dengan kode. Yah, biasanya suami tidak mau ambil pusing untuk memecahkan kode-kode keluhan kita sih, Ma.

Belum lagi, saat kita menceritakan banyak hal sesaat begitu suami baru saja pulang kerja. Hadeh, bisa dibayangkan betapa lelahnya dia.

Ada yang bilang, cobalah kita berbagi kebahagiaan bukan berbagi beban dengan pasangan.

Jadi, mungkin, suami ingin sesekali kita menceritakan kebahagiaan alih-alih cerita tentang segala keluh kesah kita. Bisa jadi, saat itu suami sedang banyak pikiran dan ingin menghilangkan beban itu dengan mendengar berita bahagia.

Coba pahami dulu sebelum bicara yuk, Ma.


5. Perbedaan ekspektasi tentang makna keluarga


Apa arti suami dan anak-anak bagi Mama? Bisa saja, Mama memprioritaskan kepentingan suami baru kepentingan anak-anak.

Tapi, bisa jadi bagi suami, hal itu tidak berlaku. Setelah memiliki anak, <ama bukan lagi prioritas suami. Bagi suami, kebutuhan anak-anak adalah hal pertama yang harus ia penuhi, karena hal ini sejalan dengan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.

Namun, kadang kita kangen ya, Ma, ingin diperhatikan lagi? Tenang, Ma, ternyata suami juga demikian kok.

Seringkali suami merasa bahwa kita tidak seperhatian dulu sebelum kita menjadi seorang ibu, karena waktu kita sudah tersita untuk keluarga. Kadang, suami juga kehilangan teman untuk berbagi hal-hal kecil yang remeh seperti bercerita tentang film, atau hobi yang ia lakukan.

JIka hal ini yang terjadi, maka Mama dan suami harus menghabiskan waktu berdua saja tanpa anak-anak. Dari situ, maka Mama dan suami akan menemukan kembali sesuatu yang hilang karena kehadiran buah hati.

Tapi jika keluarga yang dimaksudkan adalah orang tua kita, Mama harus tahu bahwa seorang ibu menjadi tanggung jawab anak laki-laki. Dan bagi ibu, anak laki-laki yang sudah menjadi suami dan ayah itu tetaplah anak laki-laki kecil kesayangannya.

Maka, Mama harus mencoba berdamai dengan itu.

Bagaimanapun, ibu mertua adalah ibu kita juga, ibu yang melahirkan dan mencintai suami kita tanpa batas. Pun demikian hubungan Mama dengan orang tua Mama kan?

Pasti akan ada banyak penyesuaian yang terjadi setelah menikah. Mama harus memahami ketika suami tidak sering-sering mengizinkan mama pulang menjenguk orang tua sesering dulu. Mungkin, suami punya alasan yang enggan ia katakan.


BACA JUGA


Agar Hubungan Suami Istri Tetap Mesra Bahkan Setelah Memiliki Anak, Lakukan 7 Tips Jitu Ini!

Agar Hubungan Suami Istri Tetap Mesra Bahkan Setelah Memiliki Anak, Lakukan 7 Tips Jitu Ini!

Ingin masa-masa bulan madu kembali terasa dan hubungan suami istri makin hangat meskipun telah memiliki anak? Bisa kok, Ma

Read more..


Nah, mari kita pahami suami dulu, sebelum kita minta dipahami ya, Ma! Salam!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "5 Hal tentang Suami Kita yang Harus Segera Dipahami Begitu Kita Terikat dalam Pernikahan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Hepi Risenasari | @hepirisenasari

Woman, kids, and parenting enthusiasm

Silahkan login untuk memberi komentar