5 Hal Penting Berikut Ini Harus Dipahami Lebih Dulu Untuk Bisa Menolong Mama yang Mengalami Depresi Paska Melahirkan

sumber foto: babycentredotcom

5 Hal Penting Berikut Ini Harus Dipahami Lebih Dulu Untuk Bisa Menolong Mama yang Mengalami Depresi Paska Melahirkan

1.6K
The very damaging, frightening part of postpartum is the lack of perspective and the lack of priority and understanding what is really important. - Brooke Shields

Memiliki bayi harusnya adalah pengalaman emosi yang paling membahagiakan. Tapi ternyata tidak bagi sebagian mama. Ada yang mengalami baby blues syndrome di bulan-bulan pertama setelah kelahiran si kecil.

Sebenarnya hal itu wajar terjadi, perubahan besar mulai dari fisik, aktivitas sampai kesibukan seorang mama akan berubah drastis sejak bayi mungil itu hadir. Yang tadinya bebas bisa ke kantor, nyalon, ngopi, jalan-jalan bersama teman dan suami tiba-tiba dihadapkan pada tugas mengurus bayi yang tiada henti.


Baca juga: 5 Hal Inilah yang Sering Dirasakan oleh Para Mama Baru Namun Dirahasiakan dan Enggan Diungkapkan


Belum lagi waktu tidur yang berkurang, saran-saran yang tujuannya membantu tapi bagi para mama baru ini jadi terasa menghakimi karena nggak sesuai dengan keyakinan mereka dan juga hormon yang masih berubah-ubah nggak jelas.

Keadaan ini biasanya akan membaik setelah beberapa bulan, selepas masa nifas dan haid kembali ke siklusnya semula. Mama juga semakin kuat setelah fisik mereka mulai terbiasa dengan rutinitas baru, serta begitu si kecil dapat beradaptasi di dunia luar. Biasanya sesudah itu semua, emosi si mama akan lebih stabil. Apalagi kalau mama mendapat dukungan dan bantuan penuh dari suami serta keluarga besar.

Sayangnya, tidak semua mama seberuntung itu. Mama yang tidak mendapatkan bantuan dalam mengatasi baby blues syndromenya, jika berlanjut dapat mengalami depresi paska melahirkan. Kalau mama terus menerus merasa khawatir bahwa si bayi dapat terluka kapan saja dan di mana saja, serta merasa bahwa mereka bukanlah ibu yang baik untuknya sampai-sampai terus merasa sedih dan ingin bunuh diri atau justru ingin membunuh bayi mungil tak berdaya itu, bisa jadi si mama sedang mengalami depresi paska melahirkan.

Depresi ini, sama seperti baby blues, belum diketahui pasti apa penyebabnya. Tapi pengidapnya benar-benar nyata. Pernah dengar kisah Andrea Yates? Seorang ibu yang membunuh 5 orang anaknya dengan menenggelamkan mereka ke dalam bak mandi di Houston, Texas, tahun 2000 silam. Di Indonesia sendiri kalau kita ingat ada beberapa kejadian seperti itu ya. Para ibu ini adalah contoh-contoh ekstrem penderita depresi paska melahirkan. Sedihnya ....

Pada kondisi yang tidak terlalu parah, depresi paska melahirkan tetap dapat mengganggu kualitas hidup seorang mama dan keluarga karena mengalami beberapa hal ini:

  1. Kesulitan tidur atau justru terlalu banyak tidur.
  2. Kehilangan semangat dalam menjalani rutinitas sehari-hari.
  3. Suasana hati berubah-ubah dan biasanya mengalami perasaan sedih yang menetap.
  4. Kehilangan konsentrasi dan sering lupa.
  5. Lebih sensitif, khawatir berlebihan dan selalu merasa tidak dihargai.
  6. Perubahan nafsu makan.
  7. Mudah putus asa.
  8. Menarik diri dari lingkungan.
  9. Lebih mudah marah.
  10. Sulit menjalin ikatan dengan bayi.

Keadaan ini tentu juga akan berpengaruh pada hubungan mama dan suami serta anak-anak, bahkan keluarga besar. Seperti yang dialami oleh Anita Fowler, seorang mama sekaligus blogger yang menuliskan pengalamannya di blog Live Like You Are Rich. Menurut Anita, depresi bagaikan sebuah lubang gelap yang kosong, seperti monster yang hidup dalam pikiran kita dan nggak bisa kita kendalikan.

Anita bercerita bahwa apa pun yang dilakukan keluarganya untuk menghiburnya akan berakhir dengan buruk. Ia justru merasa semakin sedih dan marah. Suaminya kehilangan sosok istri yang ia kenal dan Anita pun merasa putus asa.

Nggak mudah menangani depresi tanpa bantuan profesional, seperti dokter atau psikolog. Tapi, kalau kita mengenal seseorang yang sepertinya sedang mengalami depresi paska melahirkan, Anita memberikan beberapa pedoman yang dapat kita jadikan panduan untuk membantunya. Berikan informasi ini pada semua orang yang memerlukannya ya.


1. Jangan Menghakimi


Kecuali kita pernah mengalaminya, kita nggak tahu bagaimana rasanya depresi. Jadi sebaiknya kita simpan saja kesoktahuan itu dan berhenti menghakimi mama yang mengalami depresi paska melahirkan.


2. Jangan Ucapkan Kalimat-Kalimat Ini


“Ah, gitu aja kok cengeng. Ngurus bayi emang gitu, capek. Semua ibu juga mengalaminya. Jangan manja.”

“Kamu harus banyak bersyukur, punya bayi sehat dan lucu gini. Bukannya murung nggak jelas terus-menerus.”

“Jangan diturutinlah perasaan malesnya. Bangun! Olahraga! Keluar rumah! Baru punya bayi kok kaya gini.”

Hindari mengucapkan kalimat seperti itu kepada mama yang baru memiliki bayi. Terutama jika ia mengalami baby blues atau bahkan depresi paska melahirkan. Menyembuhkan depresi bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh penderitanya. Dan, percayalah, kalimat-kalimat seperti itu justru akan membuat kondisi penderitanya semakin buruk.


3. Mendapatkan Diagnosa Depresi dan Penyembuhannya Memerlukan Waktu


Kalau kita menderita radang tenggorokan, kita bisa langsung ke dokter untuk mendapatkan antibiotik dan setelah meminumnya kita akan sembuh seperti sedia kala.

Tapi, depresi nggak seperti itu. Untuk menegakkan diagnosa bahwa seseorang mengalami depresi, dokter atau psikolog akan melakukan serangkaian tes yang memerlukan waktu. Dan karena sifatnya personal, obat-obatan atau terapi yang perlu dijalani pun harus dipilih dengan hati-hati, bahkan nggak jarang seorang pasien harus melalui uji coba obat atau terapi sebelum psikiater menemukan metode yang cocok bagi penderita depresi.


4. Apa yang Cocok Untuk Seseorang Belum Tentu Cocok Untuk Orang Lain


Ketika kita mengalami depresi, akan lebih baik jika kita memiliki support group dari sesama penderita depresi paska melahirkan. Dengan demikian, kita tidak merasa sendirian dan memiliki keyakinan bahwa ini akan berakhir suatu saat nanti. Tapi perlu diingat. Depresi bersifat personal, sehingga terapi atau metode yang cocok bagi seorang penderita DPM belum tentu cocok bagi yang lain.

Anita bercerita bahwa dari hasil sharing dengan sesama mama yang mengalami DPM, ia mendapatkan banyak sekali masukan metode yang berhasil pada mereka. Namun ternyata setelah dicoba beberapa hal ada yang dapat membuatnya lebih baik, sebagian lain malah memperburuk kondisinya. Jadi berhati-hatilah mencoba sesuatu yang nampaknya berhasil pada orang lain, karena kita memiliki tubuh dan hormon yang berbeda.


5. Hal Yang Bisa Kita Lakukan dan Katakan Kepada Penderita Depresi Paska Melahirkan


“Maaf, saya nggak terlalu paham kondisimu saat ini tapi saya sedih kamu harus mengalami hal ini.”

“Kamu orang yang sangat tegar. Saya kagum lho, kamu hari ini bisa bangun dan mengerjakan pekerjaan rumah dan tersenyum seperti sekarang.”

Menurut Anita, dengan memberikan pujian akan hal-hal kecil yang mereka lakukan sudah sangat berarti, karena mama yang mengalami depresi paska melahirkan biasanya sulit melakukan hal tersebut.

“Aku ada waktu luang nih hari Rabu setelah antar anak-anak sekolah. Kamu mau aku datang untuk membantumu masak atau sekadar ngobrol bareng?”

Tip: Kalau mereka menolak, tawarkan lagi dengan tulus lain waktu kalau rasanya mereka menolak karena takut mengganggu kita.

“Kalau kamu perlu waktu, aku dengan senang hati lho, menjaga anak-anak, setiap hari Senin dan Jumat. Kabarin aja ya, jangan sungkan-sungkan.”

“Saya akan selalu ada untukmu kalau kamu butuh teman bicara.”


Jadi, sekarang kita bisa lebih aware ya, kalau ada teman atau saudara atau bahkan kita sendiri mengalami perubahan emosi yang berkepanjangan setelah melahirkan. Yang paling penting adalah menunjukkan dukungan dan memberikan bantuan sebanyak mungkin. Mungkin melelahkan bagi kita, tapi percayalah, sedikit saja perhatian bisa jadi sangat berarti bagi mama yang sedang mengalami depresi paska melahirkan.

Jangan lupa untuk menyebarkan informasi di atas kepada orang-orang terdekat atau yang lainnya ya, or just simply share this article di media sosial masing-masing, supaya bersama-sama kita bisa membantu para mama yang mengalami depresi paska melahirkan sehingga para mama ini kembali bisa menjalankan perannya masing-masing sebagai ibu yang baik bagi anak-anaknya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "5 Hal Penting Berikut Ini Harus Dipahami Lebih Dulu Untuk Bisa Menolong Mama yang Mengalami Depresi Paska Melahirkan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Alfa Kurnia | @alfakurnia

Mamah galau. Introvert yang suka gaul. Punya cita-cita abadi jadi kurus tapi doyan makan. Blogging at http://pojokmungil.com. Believe that “Blogging is not rocket science, it’s about being yourself, and putting what you have into it.

Silahkan login untuk memberi komentar