5 Nasihat Perkawinan Ini Sudah Nggak Sesuai Zaman, dan Perlu Kita Perbarui demi Kehangatan Keluarga!

5 Nasihat Perkawinan Ini Sudah Nggak Sesuai Zaman, dan Perlu Kita Perbarui demi Kehangatan Keluarga!

1.7K
Marriage doesn't have to be perfect, it has to be beautiful.


Kalau sudah bicara tentang pernikahan, biasanya langsung teringat pada banyak hal romantis yang pernah Mama dan Papa lakukan ya?

Betapa dulu Mama suka ikutan nonton pertandingan sepak bola, bela-belain begadang demi menemani suami tercinta. Yah, walaupun sampai sekarang masih merasa kasihan sama hakim garis karena di lapangan bola yang luas itu, hanya dia satu-satunya orang yang larinya nggak bebas. Yang lain bisa free running ke berbagai arah, hakim garis cuma boleh lari lurus saja. *pukpuk*

Mama juga terkenang-kenang, bagaimana dulu Papa suka menatap mata Mama saat sedang bercerita, sambil sesekali menyingkirkan rambut-rambut halus yang melambai-lambai di wajah Mama. Menyingkirkan rambut yang menutupi mata, menutupi hidung, menutupi bibir, sambil kemudian jadinya mencium Mama. Hm ... Modus banget ya?

Mestinya sih begitu terus, ya? Because everything was so perfect back then!

Saling melakukan hal yang disukai pasangan, supaya hubungannya semakin sempurna. Tapi kenapa sekarang Papa nggak begitu lagi ke Mama, ya? Kenapa matanya menatap layar handphone atau TV saat Mama sedang bicara? Dan kenapa juga Mama harus menemani Papa nonton bola, saat semalaman kemarin sudah susah tidur karena berjaga di samping si kecil yang sedikit demam?

Karena, Ma, pernikahan itu tidaklah mencari sempurna. Pernikahan itu mencari bahagia.


Baca juga: Ini Dia 5 Mitos yang Bisa Menghancurkan Rumah Tangga


Jadi, mulai sekarang, singkirkan semua nasihat yang mengarahkan Mama dan Papa pada the so called ‘Perfect Marriage’ seperti berikut ini;


1. Perempuan bertugas mengurus rumah


Okay, first of all, kata ‘bertugas’ itu saja sudah salah. Tugas memaknakan sesuatu itu harus dikerjakan. Sebuah obligasi. Sebagai kewajiban. Padahal, sebagai seorang muslim yang sedang belajar lebih akan keyakinannya, ada satu hal yang saya ingin bagi melalui tulisan ini,

"Tidak wajib atas istri berkhidmat untuk membuat roti, memasak, mencuci dan bentuk khidmat lainnya, karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban."

*Disebutkan dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab karya Abu Ishaq Asy-Syirazi rahimahullah.

Pada zaman itu, seorang suami bahkan ‘bertugas’ membawakan pulang roti untuk dimakan keluarganya. Nah tapiii ... sebelum saya ditimpuk berjamaah, ada penjelasan lebih lanjut mengenainya,

Allah tidak memaksa kita --para istri--, tapi menjanjikan banyak sekali kebaikan bagi perempuan yang ikhlas mengurus keluarganya.

"Perempuan yang mengurus suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah Azza wa Jalla akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah Azza wa Jalla akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah."

Jadi kesimpulan saya, walaupun amat sangat mulia bagi para istri untuk melaksanakan semua hal di rumah, tapi ‘tugas mengurus rumah’ itu adalah tugas bersama. Bukan hanya tugas perempuan. Toh tidak sedikit dari kita yang turut membantu suami dalam mencari nafkah, karena dalam pernikahan, rizki itu bisa datang dari suami maupun istri. Namanya rizki bersama :)

Another supporting fact, menurut Kathleen Gerson dalam bukunya ‘The Unfinished Revolution’, lebih dari 80% perempuan dan 70% pria sepakat untuk pembagian tugas yang adil dalam urusan pekerjaan rumah.

So, meminta suami untuk menyapu rumah dan membawakan sampah ke depan bukan suatu hal yang berlebihan, bukan? Dengan berbagi tugas, niscaya akan lebih tercipta kelanggengan dan rasa tepa selira antara Mama dan Papa.


Baca juga: Bertengkar dengan Suami itu Wajar, Tapi Jangan Melakukan Hal-Hal Berikut Saat Marah!


2. Pelajari hobi suami, dan coba ikuti


Ini yang sebenar-benarnya saya ngga pernah mampu pahami –-walaupun pernah mencoba ikut menggeluti hobi bolanya sang suami. I mean, why on earth do we have to do that?

Mama dan Papa, walaupun ada dalam ikatan suci bejudul ‘pernikahan’, tetap saja adalah dua individu yang berbeda. Beda latar belakang, beda pemikiran, beda kesukaan. Kalaupun ada banyak hal yang sama, itu namanya bonus. Dan ngga semua orang dapet bonus, kan?

So, why don’t each of us just enjoy our own hobbies? Mama bisa senang-senang membuat quilt cover yang cantik, Papa dapat dengan tenang membongkar pasang elektronik. Tenteram dan bahagia, bukan? Seperti kata George Matthew Allen,

"People with many interest live not only the longest, but the happiest."


Baca juga: Tolong Jangan Katakan 9 Hal Ini Kepada Kami, Para Mama Gibol!


3. Punya teman pria


Saya punya teman pria. Banyak, hehe! Dan itu sama sekali tidak mengurangi kadar kecintaan saya pada suami, justru merasa saya semakin dapat memahaminya.

"A guy knows what's in a guy's mind. Buried underneath that no woman can figure out."

Pada saat saya sedang teramat-sangat kesal pada suami, dan boro-boro mau membicarakan dari hati ke hati dengannya, saya akan menelepon teman laki-laki saya.

Saya bercerita, bertanya, mengapa imam saya itu gagal paham kalau saya sedang PMS dan butuh dipeluk, bukannya diajak ke ranjang! Kemudian dijawabnya, bahwa pria itu bukan peramal, jadi utarakan saja segala keberatan saya. Dan maklumi saja, bahwa satu pelukan saja baginya adalah sebuah perjuangan berat -jika tidak segera ‘ditindaklanjuti’ di kamar. Sebagaimana saya juga ingin dipahami betapa berjalan melewati outlet bertuliskan ‘sale up to 70%’ tanpa berlari menujunya itu butuh pertahanan diri yang luar biasa!


Baca juga: Atasi 3 Permasalahan Komunikasi Suami Istri Ini Segera, Kalau Nggak Mau Semua Berantakan!


4. Perempuan harus selalu menurut pada suami


Demikian kata nenek.

Well, sebagai makhluk yang berkodrat lebih lembut dan penyayang, yang lebih banyak menggunakan perasaan daripada logika, kita memang diharapkan untuk mengikuti kata-kata suami. Sebagai laki-laki, suami memang biasa bersikap lebih tegas, lebih mengarahkan keluarganya. Namanya juga kepala keluarga.

Tapi kan, si Papa juga manusia biasa. Mahkluk Tuhan yang bisa merasa penat akibat tekanan di kantor, bisa jengkel karena pompa air macet terus, bisa ini dan itu yang membuatnya keluar dari logika dan kebijaksanaannya?

Nah, kalau kata-katanya sudah mulai ngawur gegara kekesalannya itu, apa masih bisa dituruti? Apalagi, kecenderungan laki-laki bila sedang marah itu adalah menampilkan egonya loh!

"Be a woman with not only beauty and body, but also with brain."

Faktanya, sekarang kan perempuan sudah sangat berpendidikan (terima kasih Ibu Kartini yang memperjuangkannya bagi kami), ya kan Ma? Sebagian besar Mama menyandang gelar tinggi, dan yang belum pegang gelar pun tidak kalah pintarnya (terima kasih pada Rocking Mama yang artikel-artikelnya menginspirasi ).

Jadi mungkin saja Mama tahu beberapa hal penting yang Papa tidak pernah dengar sebelumnya, bukan? Semisal cara menangani anak tantrum, atau bahwa proporsi reksadana di unitlinked yang Papa ambil bulan lalu itu bisa diulik sesuai keinginan untuk memaksimalkan investasi dan bukannya hanya ‘terserah bagusnya’ saja?

Atau langkah-langkah menuju multiple orgasm? Wuih. Nah, sekarang, Papa mau nurutin Mama nggak nih? Hayoo!


Baca juga: 5 Hal Ini Lho, yang Membuat Perempuan Merasa Nyaman dalam Sebuah Pernikahan!


5. Kalau ada masalah, simpan!


Kalau dengan tujuan agar aib keluarga tidak menyebar, iya tentu saja! Apalagi kalau curhatnya di media sosial.

Tapi, di era yang semakin kompleks ini, di mana permasalahan itu sangat variatif dan penuh tuntutan fast response-fast settlement, persoalan keluarga yang dipendam sendiri malah akan menjadi bumerang. Hati makin gundah, kepala makin panas. Akibatnya tentu saja penyakit! Masih mau menyimpan masalah sendiri dan menelannya pahit-pahit?

Kalau tidak, tetaplah bersikap bijak, dengan berpegang teguh pada prinsip keutuhan pernikahan. Jadi datanglah kepada ahlinya, yang bertaburan di setiap sudut kota. Jasa konsultan pernikahan itu banyak, dan para profesional itu tentu saja menjaga kode etiknya dengan tidak menggembar-gemborkan situasi Mama dan Papa apalagi mentertawakannya.

"Sometimes, telling your problems to a complete stranger is such a better relief."

Nah, kalau masalahnya sudah sedemikian berat dan susah untuk berkomunikasi baik-baik dengan Papa, juga bila dirasa terlalu memalukan atau menghinakan bila diceritakan pada sahabat, go find a consultant to help save your marriage out!


Baca juga: 7 Hal Penting Harus Dilakukan Oleh Setiap Pasangan untuk Mengembalikan Kemesraan yang Perlahan Menghilang


Begitu ya, Ma, ternyata ada beberapa peraturan tentang pernikahan yang sudah tidak sejalan dengan zaman. Mama dan Papa harus berjuang menjaga kesucian pernikahan, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada sekarang.

Keep fighting, because afterall, “A perfect marriage is just two imperfect people who refuse to give up on each other’.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "5 Nasihat Perkawinan Ini Sudah Nggak Sesuai Zaman, dan Perlu Kita Perbarui demi Kehangatan Keluarga!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


PutuAyu Winayasari | @ayuwinayasari

A whole-hearted writer. A caring teacher. A Rocking Mama. A loving wife-daughter. Visit me at bilikayuwinayasari@blogspot.co.id. Reach me at raynorkayla@gmail.com. Or just come by to LIA-Bandung to have some bakso with me :)

Silahkan login untuk memberi komentar