5 Pikiran Negatif Tentang Suami yang Harus Segera Mama Hilangkan Sebelum Semuanya Hancur Berantakan

5 Pikiran Negatif Tentang Suami yang Harus Segera Mama Hilangkan Sebelum Semuanya Hancur Berantakan

4.2K
You live with your thoughts. So be careful what they are. ~ Eva Arrington

Pikiran negatif nggak cuma bikin perasaan nggak enak dan nggak nyaman, tapi juga bikin hubungan kita dengan suami jadi runyam. Lantaran mengkhawatirkan berbagai hal (yang sebenarnya sebagian mungkin bahkan nggak perlu), kita jadi nggak bisa menjalani perjalanan pernikahan dengan perasaan tenang. Padahal, ya itu tadi, semua itu hanya ada dalam pikiran kita aja. Cuma perasaan kita aja, Ma.

Nah, terus pikiran negatif apa aja sih yang seringkali ‘mampir’ ke kita sehingga kita gampang curigaan sama suami?


1. Jangan-jangan Papa punya WIL!


Amit-amit jabang bayi, jangan sampai ya, Ma. *knocks on wood*

Dan, karena pikiran seperti ini, kita jadi kepoin suami sepanjang hari, diam-diam ngecek handphone-nya, atau ngecek Facebook dan Twitter-nya. Siapa tahu mention-mention-an sama seseorang.

Sebagai pasangan, kita tentu wajar ya, Ma, kalau kita pengin tahu sepak terjang suami di luar rumah. Tapi kayaknya nggak perlu juga sampai memintanya untuk menjelaskan setiap detail kegiatannya pada kita.

“Artinya, kalau suami bilang akan meeting, nggak perlulah juga kita menanyakan dengan siapa saja dia akan meeting, topik apa yang akan dibicarakan, apa sekretarisnya ikutan meeting dan duduk di sebelah mana, dan seterusnya,” papar W. Bruce Cameron, seorang pakar relationship dalam bukunya 8 Simple Rules for Marrying My Daughter.

Hati-hati, Ma, kalau Mama mulai ada keingintahuan yang melewati batas seperti ini. Kalau nggak segera dihilangkan, bisa jadi inilah tanda-tanda kita sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap suami, yang sebenarnya didasari oleh rasa kurang percaya pada diri sendiri.

“Biasanya hal ini dialami oleh perempuan yang menganggap pasangannya adalah sosok yang sempurna dan sebenarnya nggak pantas didampingi olehnya. Padahal pasangan kita sendiri memilih kita karena memang dia menganggap kitalah yang paling pantas dari semuanya,” lanjut Bruce.


Baca juga: Setelah Didera Badai Perselingkuhan, Akankah Kita Bisa Kembali Menjalani Kehidupan Pernikahan dengan Normal?


2. Jangan-jangan Papa menganggap Mama kurang perhatian!


Mama sering “meneror” Papa dengan telepon, pesan WhatsApp, SMS dan sebagainya sepanjang hari?

Well, dari sononya perempuan memang ditakdirkan punya perhatian yang lebih pada urusan orang lain, terutama urusan orang yang dicintainya. Dan memang menjadi sifatnya untuk selalu memberikan perhatian pada pasangannya.

Menurut David Zinczenko, seorang pakar relationship dan penulis buku Men, Love & Sex: The Complete User’s Guide for Women, hal ini disebabkan oleh banyaknya perempuan yang menilai kualitas dirinya melalui kualitas hubungannya dengan orang yang dicintainya.

Sebenarnya sih, ini nggak salah, Ma. Tapi dengan catatan, porsi perhatian yang kita berikan pada suami memang seusai dengan yang dibutuhkan. Kalau berlebihan, bukannya hubungan yang membaik, tapi justru malah menghancurkan hubungan itu sendiri.

“Pada dasarnya seorang pria tetap ingin merasa bebas, meski dia sudah terikat. Makanya, SMS dan telepon yang tak henti-henti bukan dirasakannya sebagai bentuk perhatian, tapi justru menjadi teror yang mengganggu ketenangannya,” kata Zinczenko.


Baca juga: 5 Jenis Pujian Inilah yang Akan Selalu Diharapkan oleh Suami dari Mama. Berikan, Ma!


3. Jangan-jangan Papa lagi marah!


Pernah nggak ngalamin seperti ini, Ma?

Mama telepon Papa, nggak diangkat. Kirim WhatsApp cuma centang hitam, nggak centang biru. Lalu BBM, cuma “R” doang, nggak dibalas. SMS nyampe sih, nggak dibalas juga.

Aduh! Papa jangan-jangan lagi marah sama Mama, jadi nggak mau balas semua pesan.

Hayo, siapa yang suka gitu? Hihihi.

Mama, nggak mau ngangkat telepon itu adalah cara perempuan untuk menunjukkan kalau dia marah, atau lagi ada masalah. Tapi, Mama, itu nggak berarti sama untuk Papa.

Ada banyak sekali penyebab telepon nggak diangkat, WhatsApp nggak dibaca, BBM nggak dibalas dan seterusnya itu. Mungkin si Papa benar-benar lagi sibuk di kantornya, lagi di tengah-tengah meeting penting, atau lagi nyetir di jalan, atau ... mungkin Papa lagi ada perlu di toilet. Atau si Papa lagi beradai di tempat yang luar biasa ramai, sehingga nggak dengar panggilan telepon.

Nah, banyak kan sebabnya?

Jadi, santai sajalah kalau si Papa belum bisa menghubungi atau menerima pesan atau telepon Mama. Nanti kalau sudah selo, pasti Papa akan hubungi Mama kembali. Kalaupun lama ngehubungin kembali, ya nggak usah kebakaran jenggot juga, Ma. Menurut Bruce Cameron, gaya seorang pria untuk menunjukkan perhatian itu nggak sama dengan gaya perempuan. Nggak terima telepon, nggak balas pesan, itu bukan berarti dia nggak peduli.

So, santai ya, Ma.


4. Jangan-jangan Papa udah nggak sayang lagi!


Nah loh. Ini biasanya adalah pikiran negatif selanjutnya yang datang setelah “jangan-jangan Papa marah”. Kalau nggak ngehubunginnya kelamaan, jadinya gini nih.

Mama, mempunyai teman pendamping seperti Mama, tentu menjadi semangat tersendiri bagi Papa untuk menjalani hari-harinya. Saat Papa lagi berada di tengah perjalanan meniti karier ataupun bisnisnya, Mama merupakan “bahan bakar” untuk energi Papa. Papa yang sibuk, tentu karena sedang berusaha membahagiakan Mama dan memenuhi kebutuhan keluarga kan? Dan itu bukanlah tanda-tanda bahwa Papa nggak sayang lagi.

So, ayo, Ma, dukung Papa dengan segala jenis motivasi yang tersedia. Jangan menambah bebannya dengan pikiran-pikiran negatif yang nggak perlu.


Baca juga: Ini Dia 101 Cara untuk Katakan Cinta dan Mencintai Suami to the Fullest!


5. Jangan-jangan Papa terlalu dikekang!


Mama termasuk yang suka bilang “terserah” saat ditanya pendapat oleh Papa?

Hmmm, kalau iya, barangkali Mama takut dianggap terlalu mengekang Papa. Iyakah?

Dalam kasus apa pun, menanggapi persoalan dengan cara ekstrem tidak akan membantu Mama menemukan penyelesaian. Karena nggak mau dianggap mengekang, Mama malah kemudian bersikap ekstra longgar dan nggak berani mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran Mama atapun apa yang menjadi pilihan Mama. Ini juga nggak bagus lho Ma, untuk hubungan suami dan istri.

Saat ditanya mau liburan ke mana, Mama bilang terserah. Saat ditanya pendapat Mama mengenai satu hal, Mama bilang terserah atau manut. Dan itu Mama lakukan hanya karena Mama ingin membuatnya senang.

Menurut Zinczenko, cara ini malah akan membuat si Papa kehilangan simpati dan malas buat ngajak ngomong lagi lho. Karena merasa nggak pernah ditanggapi, maka dia pun akhirnya malas berdiskusi dengan Mama. Bahkan di matanya, Mama akan berkesan seperti perempuan “lembek” yang nggak punya pendirian. Aduh!

Bagi pria, perempuan yang cerdas dan berani mengutarakan pendapat secara lugas, malah terlihat lebih seksi ketimbang perempuan penurut lho.


Baca juga: Perempuan Adalah Makhluk Manipulatif. 7 Tanda Ini Buktinya!


Nah, gimana, Ma?

Sudah siap sekarang untuk menghapus semua pikiran negatif yang nggak perlu ini dari diri kita? Kalau sudah, berarti Mama sudah siap kembali untuk menikmati hubungan suami istri harmonis bersama Papa tercinta.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "5 Pikiran Negatif Tentang Suami yang Harus Segera Mama Hilangkan Sebelum Semuanya Hancur Berantakan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar