6 Masalah Kewanitaan yang Perlu Mama Tahu Sehingga Tak Panik Saat Menemuinya

6 Masalah Kewanitaan yang Perlu Mama Tahu Sehingga Tak Panik Saat Menemuinya

622
Dari berbagai masalah kewanitaan yang sering dialami, beberapa mungkin bisa Mama temukan di bawah ini.

Mama sering mencemaskan kondisi kesehatan, terutama masalah kewanitaan Mama? Jangan khawatir. Rocking Mama merangkum beberapa masalah kewanitaan menjadi satu dalam artikel ini.

Simak mana yang nggak perlu Mama khawatirkan karena tergolong normal, dan cari tahu mana yang harus diperhatikan, bahkan harus diperiksa lebih lanjut.


BACA JUGA


5 Penyakit Wanita yang Berbahaya yang Barangkali Belum Mama Sadari - Kenali Gejala dan Pencegahannya!

5 Penyakit Wanita yang Berbahaya yang Barangkali Belum Mama Sadari - Kenali Gejala dan Pencegahannya!

Kenali 5 penyakit wanita yang berbahaya ini, Ma. Dan ingat, mencegah lebih baik daripada mengobati

Read more..


6 Masalah kewanitaan yang harus Mama tahu

1. Keputihan


Keputihan sebenarnya merupakan masalah kewanitaan yang normal dan dialami oleh semua perempuan. Sejauh keputihan yang Mama alami berwarna bening atau putih, dan tidak berbau, maka keputihan masih tergolong sehat.

Menurut Prof. Dr. Ali Baziad, SpOG(K) dari Brawijaya Women and Children Hospital, keputihan tidak selalu menandakan infeksi vagina. Deteksi dulu lendirnya, kalau warnanya kehijauan dan baunya menyengat, maka kita perlu waspada. Konsultasikan ke dokter kandungan, kemudian lendirnya akan dites ke laboratorium agar terlihat jelas jenis kuman, bakteri atau penyebab lainnya.

Jika jenis kuman penyebab sudah diketahui dengan pasti, pengobatan yang tepat pun akan lebih mudah diberikan.

Hal yang membedakan keputihan dengan infeksi vagina adalah adanya bau menyengat yang cenderung amis. Biasanya itu berarti ada bakterinya.

Penyebab terjadinya infeksi vagina tidak hanya bakteri, tetapi juga jamur, parasit, ataupun virus.

Tindakan pencegahan:


2. Menstruasi tidak teratur


Tamu bulanan ini memang sering dijadikan semacam sinyal jika ada masalah kewanitaan. Menstruasi sendiri merupakan peristiwa luruhnya lapisan dinding dalam rahim yang banyak mengandung pembuluh darah melalui vagina.

Lapisan dinding dalam rahim yang meluruh tersebut adalah sel telur yang tidak dibuahi. Umumnya, siklus normal menstruasi adalah 21-35 hari dengan lama sekitar 3-7 hari.

Menstruasi bisa terjadi tidak teratur. Artinya, siklus haid nggak pasti setiap bulan, bisa lebih cepat atau lebih lambat, tanpa kepastian.

Hormon yang tidak seimbang seringkali menjadi penyebab tidak teraturnya menstruasi. Siklus menstruasi bisa menjadi lebih lama karena hormon estrogen yang tinggi. Atau, bisa juga karena kondisi sel telur yang nggak keluar.

Pemicunya bisa beragam. Bisa kelelahan, diet ketat, obesitas, sampai faktor psikologis.

Mestruasi yang tidak teratur juga nggak boleh dianggap sepele, karena bukan nggak mungkin itu menjadi gejala sesuatu yang serius, misalnya seperti penebalan endometrium atau kanker endometrium.

Cari penyebab menstruasi nggak teratur, lalu diterapi sesuai kelainan yang ditemukan. Selain itu, lakukan juga kontrol berat badan dengan benar.

Tindakan pencegahan:

  • Terapkan pola hidup sehat untuk membantu mengembalikan siklus menstruasi secara normal.
  • Benahi pola makan supaya lebih teratur, dengan konsumsi makanan yang seimbang
  • Cukup istirahat
  • Hindari melakukan pekerjaan berat, yang menguras energi terutama menjelang datangnya menstruasi karena akan mengganggu kerja hormon di dalam tubuh.


BACA JUGA


Ini Dia 9 Fakta Mengerikan yang Membuktikan Bahwa Kita Harus Serius Menghadapi Penyakit Alzheimer!

Ini Dia 9 Fakta Mengerikan yang Membuktikan Bahwa Kita Harus Serius Menghadapi Penyakit Alzheimer!

Dua pertiga penderita Alzheimer adalah perempuan, dan banyak di antaranya yang sudah menampakkan gejala saat mereka masih berusia 30 tahun

Read more..


3. Cairan berubah warna


Pernah merasa khawatir karena cairan kewanitaan berubah warna menjadi keruh, Ma?

Salah satu penyebab masalah kewanitaan ini mungkin adalah bacterial vaginosis. Vagina sendiri normalnya lebih banyak memiliki bakteri baik ketimbang bakteri jahat. Namun, bakteri jahat ini bisa meningkat jumlahnya jika terjadi perubahan keseimbangan dalam tubuh perempuan—saat hamil, misalnya.

Menurut National Institute of Health, sekitar 1 dari 5 perempuan hamil akan merasakan infeksi vagina yang gatal dan menyakitkan, yang dipicu oleh perubahan hormon.

Bacterial vaginosis berkembang ketika ada pertumbuhan terlalu cepat dari bakteri yang secara alami hidup di vagina.

Pada calon ibu, jika kondisi ini tidak diobati dengan benar, maka akan ada kemungkinan bayi terlahir prematur, pecah ketuban, dan berat badan bayi lahir rendah.

Bagi perempuan yang tidak hamil, kondisi bacterial vaginosis dapat menyebabkan pelvic inflammatory disease yang berujung pada infertilitas, atau kerusakan tuba falopi.

Walau kadang kondisi ini bisa sembuh dengan sendirinya, namun para ahli menyarankan untuk mengobatinya dengan antibiotik.

Tindakan pencegahan:

  • Selalu gunakan celana dalam yang kering berbahan katun.
  • Hindari celana yang terlalu ketat
  • Tidur tanpa celana dalam dapat mengurangi risiko infeksi vagina.
  • Saat membersihkan vagina, bilas atau keringkan dari arah depan ke belakang.


4. Gatal pada vagina


Infeksi jamur adalah tersangka utama sebagai penyebab rasa gatal pada vagina. Selain gatal, biasanya rasa yang sering dikeluhkan penderita infeksi vagina karena jamur adalah rasa terbakar.

Ini disebabkan oleh Candida—jenis jamur yanghidup alami di vagina—yang berkembang. Jamur dapat semakin subur berkembang biak saat hamil, karena meningkatnya hormon estrogen dan progresteron menciptakan lingkungan yang membuat jamur mudah berkembang biak.

Penyebab lain dari infeksi jamur adalah penggunaan antibiotik berlebihan dan penularan saat berhubungan intim.

Kedua hal tersebut dapat mengganggu pH alami vagina kita, Ma.

Biasanya akan muncul rasa gatal dan nyeri di vagina, bengkak dan kemerahan di vagina dan labia, cairan tebal berwarna kuning—bisa berbau atau tidak—sakit dan rasa tidak nyaman saat berhubungan intim, rasa terbakar saat buang air kecil.

Pengobatan bisa dilakukan dengan memberi antijamur, atau krim.

Tindakan pencegahan:

  • Perbaiki sirkulasi udara pada vagina dengan menggunakan celana dalam katun
  • Mengurangi risiko infeksi dengan tidur tanpa menggunakan celana dalam
  • Rutin buang air kecil untuk mengurangi bakteri penyebab infeksi
  • Konsumsi yoghurt, kandungan lactobacillus-nya merupakan probiotik yang mampu mencegah infeksi vagina.


BACA JUGA


RIP Jupe aka Julia Perez - Yuk, Kenali si Kanker Serviks, Sang Hantu yang Bisa Mengancam Setiap Wanita

RIP Jupe aka Julia Perez - Yuk, Kenali si Kanker Serviks, Sang Hantu yang Bisa Mengancam Setiap Wanita

RIP Jupe yang akhirnya menyerah pada kanker serviks, dan Yana Zein yang akhirnya kalah juga dari serangan kanker payudara. Dengan mengenali ...

Read more..


5. Rasa terbakar pada vagina


Salah satu penyebab masalah kewanitaan satu ini adalah Trichomoniasis.

Centers Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan terjadi 7.4 juta kasus baru infeksi Trichomoniasis setiap tahun.

Parasit yang sering disebut “trich” ini menjadi salah satu penyebab dari penyakit seksual menular yang paling sering ditemui dan paling bisa disembuhkan.

Biasanya akan keluar lendir berwarna hijau-kekuningan, berbuih dan berbau. Selain itu juga terasa gatal, terbakar, dan mungkin terjadi iritasi dan nyeri saat berhubungan intim.

Keluhan ini biasanya akan diatasi dokter dengan memberi Mama pengobatan dengan antibiotik.

Tindakan pencegahan:

  • Lakukan tes, sehingga jika Mama atau Papa terkena trich, pasangan yang lain nggak akan tertular.
  • Gunakan kondom saat berhubungan untuk membantu pencegahan penyebaran bakteri.


6. Tanpa gejala


Mama tidak merasakan gejala apa pun dan tidak merasa ada masalah kewanitaan. Bahkan Mama juga sudah memasuki trimester terakhir masa kehamilan.

Well, ternyata masih ada satu hal penting yang perlu Mama lakukan untuk menjamin kesehatan sistem reproduksi dan bayi yang akan dilahirkan.

Lakukan tes GBS.

Group B streptococus (GBS) ini merupakan bakteri hidup di usus, rektum dan vagina pada perempuan yang sehat.

Data CDC menyebutkan, bahwa di AS sendiri sekitar 1-4 perempuan membawa jenis bakteri ini.

Menjadi carrier atau pembawa bakteri bukan berarti kita terinfeksi, Ma. Bakteri ini juga umumnya tidak memiliki gejala seperti infeksi jamur dan tidak berbahaya. Namun, bakteri ini bisa berbahaya bagi calon ibu yang akan melahirkan.

Walaupun banyak yang nggak merasakan gejala apa pun, pada beberapa orang GBS dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, Ma. Beberapa gejalanya adalah rasa sakit atau terbakar saat buang air kecil, warna urine keruh, dan rasa ingin buang air kecil tiba-tiba.

Pengobatannya adalah dengan memberikan penisilin atau antibiotik lainnya saat melahirkan, sehingga Mama tidak akan menularkan GBS pada si bayi.

Tanpa antibiotik, maka bayi Mama bisa berisiko terkena GBS, yang dapat mengakibatkan lesu, demam dan sulit menyusu.

Tindakan pencegahan:

  • Mintalah dokter melakukan pemeriksaan GBS pada usia kehamilan 35-37 minggu agar dapat segera diambil langkah lanjutan.


BACA JUGA


Ini Dia 7 Mitos yang Selama Ini Kita Percaya Namun Ternyata Merupakan Sinyal Gangguan Kesehatan - Waspada!

Ini Dia 7 Mitos yang Selama Ini Kita Percaya Namun Ternyata Merupakan Sinyal Gangguan Kesehatan - Waspada!

Sering kita mendengar mitos-mitos yang beredar di masyarakat yang diartikan lain sama sekali, padahal menyimpan fakta gangguan kesehatan di ...

Read more..


Nah, itu dia beberapa masalah kewanitaan yang biasanya harus kita hadapi, Ma. Terutama sih kalau kita sedang hamil, biasanya semua masalah itu tiba-tiba saja muncul semua. Tenang, nggak usah panik.

Yang pasti, jika Mama mengalami satu atau semua masalah kewanitaan tersebut di atas, jangan malu untuk menceritakannya pada dokter kandungan Mama ya. Kadang kan kita malu ya, mau bilang ini kok gatel anunya. Hihihi. Jangan malu, Ma! Katakan dengan jelas, agar dokter bisa menyarankan tindakan apa yang harus segera diambil. Tentunya agar Mama pun merasa nyaman kembali.

Stay healthy, Mama!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "6 Masalah Kewanitaan yang Perlu Mama Tahu Sehingga Tak Panik Saat Menemuinya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar