Belajar dari Awkarin, Ini Dia 7 Hal yang Harus Kita Tanamkan pada Remaja Kita Mengenai Kehidupan!

Belajar dari Awkarin, Ini Dia 7 Hal yang Harus Kita Tanamkan pada Remaja Kita Mengenai Kehidupan!

141.1K
Being a mother is hard, and it wasn't a subject I ever studied. ~ Ruby Wax

Sudah kenal (atau seenggaknya) ngepoin Karin Novilda, Ma?

Para remaja beberapa hari terakhir ini nampaknya selain lagi gemar main Pokemon Go, ternyata juga lagi pada heboh gara-gara seorang Selebgram, Vlogger, sekaligus pengguna Ask.fm (yang katanya) keren bernama Awkarin aka Karin Novilda. Saya sendiri baru kemarin malahan dengar namanya. Dan langsung kepo dong.

Siapa si Awkarin ini? Apanya awkward? #eh

Ternyata saat saya tahu, beneran awkward deh sayanya. Jadi dia ini remaja biasa sih sebenarnya. Hanya saja dia punya kelakuan 'unik'. Unik dalam arti negatif. She swears, she kissed her boyfriend macam kita sama si papa, she wants attention more and more.

Beberapa saat ngepoin, akhirnya yang bisa saya lakukan adalah mengelus dada sembari berdoa, semoga anak-anak saya nggak membuat heboh dunia maya dengan cara demikian.

Yang Awkarin lakukan bagi saya adalah bentuk permintaan perhatian darinya. Tapi dengan cara yang salah. Dan biasanya orang (baca: remaja labil) akan melakukannya saat dia tak mendapatkannya dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga. Padahal Awkarin sebelumnya adalah pemegang nilai tertinggi Ujian Nasional di Riau. Ini berarti mengungkap fakta lagi bahwa dia sebenarnya bukanlah remaja bodoh, yang ho oh-ho oh saja dicekoki oleh orang lain. Saya hanya menduga, bahwa dia kemudian disilaukan oleh gaya pergaulan yang salah, yang kemudian dia coba, dan akhirnya merasa dari situ dia bisa mendapatkan bentuk perhatian yang selama ini dicarinya.

Hingga akhirnya bola salju berputar. Bertambah besar setiap harinya, dan Awkarin pun semakin salah mengambil keputusan. Dan sekarang sudah terlalu jauh untuk berbalik (tentunya kalau dia mau berbalik).

Mungkin perilaku Awkarin ini merupakan cerminan terbesar bagi remaja kita nowadays. Pasti nggak sedikit yang juga melakukan hal-hal ini. Terbukti dengan beberapa komen dari follower Awkarin yang dengan histerisnya bilang bahwa gaya pacaran Awkarin adalah #RelationshipGoals banget. Jadi, pastinya, entah tersirat atau tersurat, remaja kita juga pengin melakukannya.

Kenyataan pahit? Iya banget, buat kita orangtuanya.

Pengin anak kita kemudian meniru Awkarin, karena dianggap keren? Nggak tentunya ya, kalau Mama sepakat dengan saya, bahwa Awkarin ini sama sekali nggak ada keren-kerennya. Terus, gimana kita menanamkan hal ini pada remaja kita?

Yang berikut ini adalah beberapa hal yang terjadi pada Awkarin, tapi bisa kita tanamkan dengan cara yang berbeda pada remaja kita.


1. If you post something on the internet, it will last forever


Sumpah serapah Awkarin bertebaran di mana-mana, di dalam vlog-nya, di caption dan komen Instagramnya. Yes, she swears a lot. Adegan ciuman, pelukan vulgarnya dan gaya pacarannya juga ada di mana-mana, di dalam vlog-nya, di foto Instagram-nya ...

Yakin, itu nggak akan melekat jadi image negatif dari dirinya? Masyarakat kita, however, masih menganut nilai dan norma kebudayaan yang konvensional. Lalu, katakan saja, mungkin memang sekarang banyak brand dan agency yang merangkul selebgram, vlogger, ataupun social media enthusiast jenis lainnya untuk meng-endorse produk yang mereka pasarkan. Apa kita yakin, mereka akan melirik selebgram bereputasi dan berkonotasi negatif seperti Awkarin? Apa kabar dengan image produk mereka nanti jika diidentikkan dengan hal yang negatif?

Belum lagi kalau nantinya harus bekerja. Gimana kalau calon bos perusahaan di mana anak kita mau ngelamar kerja terus ngepoin akun-akun media sosialnya? Gimana kalau semua hal negatif yang sudah diposting itu dilihat oleh dosen juga? Oleh rekan sekerja? Oleh calon klien? Yakin nggak akan jadi BAD portfolio buatnya?

Kalaupun Awkarin insaf, dan kemudian memutuskan untuk menghapus semuanya, yakin bakalan terhapus semua? Media online dua hari ini heboh memberitakan mengenai dirinya, lengkap dengan screenshoot akun-akun media sosialnya. Yakin, mau meminta satu per satu untuk menghapusnya?

What you posted to internet, it will stay FOREVER!


Baca juga: Si Remaja Mulai Pacaran, Ma? Nggak Usah Bingung, Lakukan 9 Tips Ini Agar Semua Terkendali!


2. Bahwa edgy dan keren itu beda arti dengan cabul


Coba amati komen-komen yang mampir di akun Instagram Awkarin, ataupun di vlog-nya. Banyak yang bilang "Awww! So cute!" atau "Pengen kayak kakak!", dan seterusnya.

Remaja kita, yang masih labil itu, memandang Awkarin dan pacarnya sangat keren dan edgy, Mama! *pingsan*

Nggak, Nak, itu bukan hal yang keren atau edgy! Itu cabul. Tahu kan, arti kata cabul?

cabul/ca·bul/ a keji dan kotor; tidak senonoh (melanggar kesopanan, kesusilaan) ~ Kamus Besar Bahasa Indonesia

Bagaimanapun kita hidup di Indonesia, Nak. Dan yang seperti itu sama sekali nggak keren di sini, meski kita hidup di Jakarta ataupun kota besar lain yang katanya modern! Bukan yang seperti itu yang disebut edgy (means at the forefront of a trend; experimental or avant-garde.) Estée Lalonde itu keren, Nak. Atau Marcus Butler. Evita Nuh, itu edgy, Nak. Atau Asyura Hatta.

Apa yang Awkarin lakukan, itu bukan #relationshipgoals, Nak. #RelationshipGoals itu adalah hidup menua bersama, selamanya, saling cinta. Bukan pacaran doang. lalu putus 6 bulan kemudian, Nak.

Camkan itu!


Baca juga: 13 Pernikahan Langgeng Para Selebriti Lebih dari 30 Tahun: Keajaiban?


3. Bahwa bentuk perhatian yang utama dan pertama diperoleh dari keluarga


"Mau caper? Coba caper dulu sama Mama sini!"

Perhatian merupakan salah satu kebutuhan primer bagi remaja yang masih labil dan masih mencari identitas diri seperti ini. Dan, seharusnya, itu bisa dipenuhi lebih dulu oleh orang-orang terdekatnya, yaitu keluarga.

Sepertinya ini gambaran klise masa kini ya, Ma. Anak-anak yang menjadi korban juga akhirnya. Saya bukannya menghakimi orangtua Awkarin sih. Tapi bagaimanapun, saya percaya bahwa anak adalah cerminan dari orangtuanya. Saat si anak berlebihan perhatian dan orangtua bisa menjadi contoh yang baik, mereka nggak akan jauh-jauh banget jatuhnya juga kan?

Makanya, Ma ... sudah memberikan perhatian pada si kecil belum hari ini?


Baca juga: 5 Kebiasaan Mama yang Tidak Sehat Ini Jangan Sampai Menular Pada si Kecil ya, Ma!


4. Bahwa haters itu sama dan tidak sama dengan fans


Kadang terceletuk di keseharian, bahwa haters itu bisa jadi merupakan fans yang sebenarnya gengsi untuk mengakui kekagumannya. Hahaha.

Tahu nggak sih, bahwa kalimat tersebut sebenarnya merupakan bentuk kalimat hiburan? Menghibur diri sendiri, lebih tepatnya, karena kadang diucapkan oleh orang yang merasa punya haters.

Padahal sih enggak. Haters ya haters. Fans ya fans. Punya perbedaan, yang satu memang benci pada kita karena suatu hal, yang lainnya begitu kagum pada kita. Ada perbedaannya, tapi ternyata ada pula kesamaannya. Kesamaannya, dua-duanya akan menonton saat kita gagal! Yang satu akan menonton dengan senang sambil ngetawain, yang lainnya akan menonton dengan simpati (meski hanya pura-pura). Tapi ya tetep, mereka akan menjadi penonton. Lalu bertepuk tangan dan minta ditambah saat drama usai. Keduanya not really here with us, saat kita mengalami kesulitan atau keterpurukan.

So, yakin, Nak, mau punya fans atau haters seperti Awkarin?


Baca juga: Ini Dia 17 Racun Teknologi yang Tanpa Sadar Telah Mengontaminasi Kita Sehari-hari. Waspadalah!


5. Bahwa kadang musibah itu nggak datang dari Tuhan, tapi akibat perilaku buruk kita sendiri


Saya sering tertawa kalau mendengar (terutama sih dari infotainment ya) ada orang bilang bahwa dia sedang mendapat cobaan dari Tuhan, padahal jelas-jelas itu merupakan akibat dari perilaku buruknya sendiri. Contoh, ada artis bilang sedang mendapat cobaan dari Tuhan saat foto-foto tidak senonohnya beredar di dunia maya. Padahal reputasinya sendiri memang nggak pernah bagus.

Aduh. Kasihan banget Tuhan, ya? Jadi kambing hitam.

Seperti Awkarin. Dia menyebut apa yang dialaminya sekarang sebagai ujian dari Tuhan. Padahal jelas-jelas itu adalah sebagai akibat apa yang diperbuatnya sendiri.

Karena bagaimanapun, hukum sebab akibat masih ada dan bisa terjadi di dunia nyata ini, Nak. Makanya sesekali piknik ke dunia nyata ya, jangan main di dunia maya melulu.


Baca juga: Yuk, Belajar Bersyukur dengan Mengunjungi Jejak-Jejak Tsunami di Aceh!


6. Bahwa kalau kita terkenal karena reputasi buruk, maka kita pun akan mendapatkan hasil yang buruk pula


No pain, no gain. Tanpa usaha, kita memang nggak akan mendapatkan apa pun. Itu betul sekali. Tapi kalau usahanya negatif, ya pastinya hasil yang akan kita dapatkan juga buruk.

Siapa menabur angin, akan menuai badai. Dia yang berbuat, dia pula yang terkena akibat. Ini adalah penjelasan dari poin sebelumnya. Apa yang didapat oleh seorang Awkarin di masa depan? Apa saja bisa terjadi, dan saya nggak yakin dia bisa bangga pada dirinya sendiri di masa tuanya kalau mengingat kelakuannya di masa sekarang. Tentunya, kalau dia masih waras.

Jangan pernah sepelekan kata pepatah, Nak. Karena pepatah biasanya tercipta karena pengalaman orang banyak.


7. Bahwa menjadi seorang free-spirited nggak berarti dia harus melakukan hal yang negatif


Seseorang yang free-spirited, atau berjiwa bebas, selalu diidentikkan dengan menjadi seorang yang rebellious, menentang norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Memang bisa dibilang begitu, tapi nggak selalu dilakukan in a wrong way. Tidak kemudian dengan ciuman di depan kamera, demi memberontak pada aturan kesusilaan. Tidak juga dengan smoke the weed, demi memberontak pada aturan mengenai larangan mabuk.

You can do it in better way, Nak! Misalnya, kamu nggak suka jadi karyawan seperti umumnya orang-orang, maka kamu mulai menjajaki mimpimu menjadi seorang enterpreneur sejak sekarang. Atau saat kamu dianggap nggak mampu menembus IPK tinggi, maka kamu pun belajar mati-matian untuk mendapatkan gelar cum laude. Atau kondisi kamu nggak memungkinkan untuk menjadi pemusik karena pendengaran kamu yang mengalami gangguan, kamu justru tampil bak Beethoven di panggung sekolahmu. Ingin membebaskan jiwamu, Nak? Maka lakukan perjalanan seperti seorang Christine sang Grrrl Traveler!

See? You can do much much better as a rebellious an free-spirited person in a good way!


Baca juga: Saat si Pra-Remaja Membuka Mata Kita dengan Pendapatnya Mengenai LGBT


Nah, Mama. Sepakat kan dengan saya, bahwa nggak perlu kita sendiri yang berbuat salah baru kemudian belajar? Kita bisa belajar dari kesalahan orang. Kita sendiri sebagai orangtua juga nggak pernah bisa berhenti belajar sampai kapan pun, apalagi kalau sampai menyangkut kehidupan masa depan anak-anak kita kan?

Maka, yuk, kita belajar dari kasus Awkarin. Kita belajar dari kesalahan orang lain, dan jangan sampai jatuh di lubang yang sama. Berusaha melakukan hal yang positif, maka kita pun akan mendapatkan hasil yang baik.

Stay positive, Mama!




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Belajar dari Awkarin, Ini Dia 7 Hal yang Harus Kita Tanamkan pada Remaja Kita Mengenai Kehidupan!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar