Afi Nihaya Faradisa, dan 4 Pelajaran Menjadi Orang Tua Sesungguhnya yang Saya Dapatkan Darinya

Afi Nihaya Faradisa, dan 4 Pelajaran Menjadi Orang Tua Sesungguhnya yang Saya Dapatkan Darinya

8.7K
Afi Nihaya Faradisa memang fenomenal. Tak hanya soal caranya menuliskan apa yang ada di pikirannya, tapi juga makna-makna dan pelajaran hidup yang dibukanya dalam tulisan.

Mama kenal dengan Afi Nihaya Faradisa?

Ya, mungkin Mama sudah banyak melihatnya, terutama sih membaca status Facebook-nya ya. Namun, mungkin sebagian yang lain belum tahu, siapa Afi Nihaya Faradisa ini?

Seleb media sosial baru lagikah?

Betul, saya bisa bilang dia adalah seorang seleb media sosial yang baru lagi (sebenarnya sudah nggak terlalu baru juga sih, karena statusnya sudah viral sejak setahun belakangan). Tapi, cukup berbeda dengan seleb media sosial lain yang ng ... "rada nganu" (kalau Mama mengerti dengan maksud saya), Afi Nihaya Faradisa ini cukup fenomenal in her own way.

Caranya bertutur, menulis, mengupas masalah, hingga mungkin menawarkan sebuah kesimpulan di akhir status Facebook-nya benar-benar bikin kita kayak nggak percaya kalau dia ini masih SMA!

Afi Nihaya Faradisa ini sangat dewasa pemikirannya. Dia tak hanya bahas soal beauty trend terbaru, atau heboh nyobain filter Snapchat terbaru. Afi Nihaya Faradisa membahas soal cinta, perbedaan, pendidikan hingga pilkada, dan semuanya menyejukkan!


BACA JUGA


Tentang Selmadena Aquilla dan Jodoh yang Dipilihnya (Sepucuk Surat untuk Anakku)

Tentang Selmadena Aquilla dan Jodoh yang Dipilihnya (Sepucuk Surat untuk Anakku)

Kisah Selmadena Aquilla dan jodoh yang akhirnya dipilih. Meski mungkin masih baru akan menghadapi masalah seperti ini 15 - 20 tahun lagi, ...

Read more..


Di antara semua statusnya yang sudah di-share hingga puluhan ribu orang, beberapa ada yang memberi saya pelajaran mengenai soal menjadi orang tua.

Menurut saya, adalah penting bagi kita untuk bisa mendengarkan bagaimana cara mendidik anak dari versi mereka--dari versi anak-anak kita. Apa sih yang mereka mau dari kita? Apa yang mereka butuhkan dari kita? Mereka pengin kita bagaimana, seperti apa?

Afi cukup banyak menyentil orang tua, dari sudut pandang anak-anak, mengenai bagaimana cara memahami anak-anak dengan benar. Mau tahu apa saja, Ma?


4 pelajaran parenting dari Afi Nihaya Faradisa untuk para orang tua


1. Kalahkan ego kita sendiri dulu sebelum kita mendidik anak-anak kita


Dalam salah satu statusnya, Afi Nihaya Faradisa menulis seperti ini.

Berapa banyak orang tua yang berimajinasi memiliki anak yang makin baik dari hari ke hari tapi dirinya sendiri enggan melakukan perbaikan?

Hmmm, how related is that, Mama?

Lebih lanjut lagi, Afi Nihaya Faradisa juga menulis.

Sebab ketika memutuskan untuk jadi orang tua, berarti seseorang harus siap untuk berdamai pula dengan orang lain di samping berdamai dengan dirinya sendiri. Jika dengan dirinya sendiri saja 'tidak beres', bagaimana dia bisa menjalin hubungan yang 'beres' dengan anak-anaknya?

Berapa kali kita menuntut anak-anak kita untuk begini dan begitu, tapi kita sendiri masih dengan mudah mengabaikannya? Misalnya saja.

"Ayo, Adik! Jangan main gadget terus! PRnya sudah dikerjakan belum?"
"Iyaaa."
Adik matikan gadget, dan menyerahkannya kembali pada kita.
Beberapa saat kemudian.
"Mama, taruh hapenya dong. Kan Adik lagi nanya soal PR sama Mama!"

Nah loh!

Ego kita kadang membuat mata kita jadi tak melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak-anak kita. Ego kita membuat kita mencari pembenaran terhadap apa yang kita lakukan untuk anak-anak.

Kita ini orang tuanya. Nggak apa-apa dong, main hape. Beli-beli sendiri. Lagian kerjaan juga udah beres!

Pun, ego kita kadang membuat kita menutup diri terhadap orang lain yang ingin membantu. Kita terlalu fokus pada begitu susah payahnya kita mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga, hingga tak pernah menyadari, bahwa semua orang juga punya masalah berat sendiri-sendiri.

Kita kadang merasa jadi orang yang paling menderita, paling susah hidupnya.


2. Status "orang tua" itu bisa saja tak bertahan lama


Apa saja permasalahan kita sebagai orang tua, Ma?

Afi Nihaya Faradisa berhasil menyebutkannya dengan baik.

Ada hari-hari di mana mereka sudah terlalu kesal dengan tingkah anak yang sulit diatur, bangun kesiangan, pilih-pilih makanan, malas belajar, meletakkan handuk di kasur, bertengkar terus dengan kakak atau adiknya, dan seabrek tingkah lain yang merampas kesabaran.

Ah ya. Saya tersentil, lalu coba menelusuri apa yang ada di web Rocking Mama ini. Berapa banyak tips dan trik menghadapi "kenakalan" anak-anak seperti ini? Banyak! Ini baru yang ada di sini saja. Belum yang ada di web di luar sana. Barangkali ada jutaan artikel parenting, soal menghadapi anak yang begini begitu.

Iya, soalnya jadi orang tua itu nggak ada sekolahnya. Makanya, kita harus punya tempat untuk mendidik diri sendiri seperti ini.

Iya, itu betul sekali. Saya juga banyak belajar dari artikel-artikel ini kok.

Tapi, coba renungkan lagi status Facebook Afi Nihaya Faradisa yang selanjutnya.

Tapi ingat bahwa tingkah-tingkah itu tidak akan berlangsung lama. Berapa lama masa kanak-kanak akan bertahan? Paling-paling hanya beberapa tahun. Setelah beranjak remaja, orang tua akan kesulitan berkomunikasi dan membangun kedekatan emosional dengan anaknya sendiri. Mereka tidak lagi menganggu orang tua dengan mulut cerewetnya karena sibuk dengan tugas sekolah dan gadget. Mereka akan tumbuh besar dan menata masa depan tanpa ada banyak campur tangan dari orang tuanya lagi. Mereka melarang orang tua masuk sembarangan ke kamarnya, tidak nyaman jika ditanyai hal-hal pribadi, dan mereka akan fokus ke dunianya sendiri yang penuh privasi.

Terus terang, Mama, saya tak bisa menahan air yang sedikit muncul di sudut mata saat membaca status Afi Nihaya Faradisa yang ini.

Ya, barangkali saya sekarang bawel banget ngomelin anak-anak untuk begini begitu. Maksud saya barangkali (lagi-lagi menurut saya) baik. Saya pengin anak-anak tumbuh menjadi orang yang baik, bertanggung jawab, disiplin, dan seterusnya.

Namun. catatan besar buat saya. Jangan sampai, kebawelan saya itu menutup ikatan batin antara saya dan anak-anak. Saya pengin saat mereka besar nanti, mereka tetap membiarkan saya masuk ke kamar mereka. Paling nggak sekadar untuk membantu merapikan.

Saya masih pengin saat mereka besar nanti, mereka masih datang pada saya sekadar untuk bercerita tentang masalahnya. Seperti halnya sekarang mereka akan mendatangi saya kalau ada PR yang tak bisa mereka jawab.

Saya masih ingin terus "diganggu" sampai mereka besar nanti. Sampai saya nggak bisa nungguin mereka lagi.


BACA JUGA


Mendidik Anak Remaja, Berikut Do & Don't (s) yang Harus Mama Simak

Mendidik Anak Remaja, Berikut Do & Don't (s) yang Harus Mama Simak

Mendidik anak remaja itu memang rumit, karena semua pasti tahu bahwa tahap remaja memang merupakan tahapan kehidupan di mana manusia sedang ...

Read more..


3. Orang tua adalah tempat anak untuk "pulang"


Ke mana lagi anak akan pulang, kalau bukan ke orang tuanya? Ini bisa jadi kiasan, namun bisa jadi bermakna lugas. Syukurlah, di negara kita memang dikenal tradisi mudik saat hari raya. Jadi, orang tua memang bisa jadi merupakan tempat pulang.

Afi Nihaya Faradisa ternyata punya pandangan lain soal pulang pada orang tua ini.

Orang tua adalah sosok yang tetap menerima anak walaupun seluruh manusia di dunia menolaknya. Adalah sosok yang ketika anak melakukan kesalahan dan semua orang di dunia menutup pintu, ia merentangkan tangannya untuk memeluk.

Jadi teringat beberapa tahun yang lalu, saat saya punya masalah yang cukup berat. Saya hanya bisa duduk diam, dan menangis. Dan, siapa yang pertama kali memeluk saya?

Iya, ibu saya.

Pelukannya sungguh menguatkan, meski tak ada solusi yang bisa ditawarkannya. Iya, beliau sendiri juga nggak tahu, saya harus melakukan apa. Beliau hanya memeluk, dan saya merasa, pasti saya akan didoakan juga.

Kelak, saat anak-anak saya dewasa, saya juga ingin menjadi tempat mereka "pulang", kapan pun mereka mau.


4. Orang tua harus mengenali bahasa cinta untuk masing-masing anak


Betapa banyak anak yang tidak merasa dicintai oleh orang tua yang sebenarnya sangat mencintai mereka. Mengapa itu terjadi?
Karena 'bahasa cinta' setiap orang berbeda-beda.

Afi Nihaya Faradisa menuliskan status itu di Facebook-nya.

Itulah mengapa orang tua, saya terutama, butuh untuk tahu, apa mau anak-anak dari saya? Tak jarang saya sering berusaha ajak obrol mereka, tentang apa yang mereka mau. Mereka pengin apa. Mereka maunya digimanain sih?

Tapi kok ya, setelahnya, mengapa saya akhirnya malah sering melupakan apa yang mereka mau? Mengabaikan keinginan mereka? Kenapa? Kenapa hanya ada tuntutan agar mereka mau menuruti saya? Supaya mereka mau mendengarkan saya?

Afi Nihaya Faradisa melanjutkan lagi dalam tulisannya.

Dalam teori 'bahasa cinta' dijelaskan bahwa, ada orang yang baru merasa dicintai dengan mendengar kata-kata "aku mencintaimu". Ada orang yang baru merasa dicintai dengan sentuhan fisik, misalnya sering dipeluk. Ada orang yang baru merasa dicintai dengan menerima hadiah-hadiah. Ada orang yang baru merasa dicintai dengan kehadiran, misalnya sering ditemani. Ada orang yang merasa dicintai dengan pelayanan, misalnya sering dibantu atau ditolong. Dan sebagainya.

Saya juga merasa sudah cukup memahami mereka, mengenali bahwa Kakak lebih suka dipeluk saat emosinya memuncak. Sedangkan Adik akan lebih cepat tenang, jika didiamkan dulu. Saya juga paham, bagaimana caranya mengungkapkan keinginan saya pada mereka. Tapi, mengapa saya masih begitu sulit mengerti mereka?

Ah, ternyata saya bahkan belum bisa apa-apa sebagai orang tua.

Bukankah sebenarnya memahami itu sederhana? Tapi banyak yang tidak mau berusaha karena selalu menggenggam erat keyakinan "aku berhak mendebatnya karena aku pasti lebih benar dari dia".


BACA JUGA


Anak Saya 6 Orang dengan Karakter yang Berbeda-beda, Beginilah Cara Saya Memahami Mereka

Anak Saya 6 Orang dengan Karakter yang Berbeda-beda, Beginilah Cara Saya Memahami Mereka

Mempunyai 6 anak, membuat saya terus belajar. Belajar memahami, belajar memaklumi, dan belajar memberikan ruang seluas-luasnya untuk mereka ...

Read more..


Ya, kita memang selalu bisa belajar tentang hal apa pun, dari siapa pun kan? Saya tadinya selalu berpikir, orang-orang yang belum menikah, belum punya anak, tahu apa soal menikah dan mendidik anak-anak? Bahwa praktiknya itu jauh sekali dari semua teori yang ada, apalagi kalau teori itu diberikan oleh orang-orang yang belum mengalaminya.

Tapi dari Afi Nihaya Faradisa, saya bisa tahu tentang cara berinteraksi dengan anak-anak, dari kacamata anak-anak.

Terima kasih, Afi Nihaya Faradisa, saya belajar banyak dari kamu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Afi Nihaya Faradisa, dan 4 Pelajaran Menjadi Orang Tua Sesungguhnya yang Saya Dapatkan Darinya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar