Anak Menyontek? Mungkin 5 Hal Ini yang Menjadi Alasan Mereka, dan Bagaimana Mengatasinya?

Anak Menyontek? Mungkin 5 Hal Ini yang Menjadi Alasan Mereka, dan Bagaimana Mengatasinya?

5.9K
Anak menyontek sudah jadi budaya sejak zaman dulu, sampai sekarang. Bukan omelan yang mereka butuhkan saat mereka ketahuan menyontek. Mendampinginya, dan benar-benar ada untuknya, akan mengurangi kebiasaan anak menyontek.

Suatu kali, anak saya pulang sekolah dengan berurai air mata. Saya, yang menjemput dan menunggunya di mobil berkawan buku, sudah pasti kaget. Tapi, tipe anak saya kalau lagi sedih gitu nggak bisa langsung dicecar dengan pertanyaan 'kenapa'. Diamkan dulu sampai tenang, baru deh ditanyain.

Sesampainya di rumah, baru bisa saya tanyai.

"Kok Kakak nangis tadi, kenapa?"

Sembari masih sesenggukan, ia pun bercerita. Hari ini ia ada ulangan matematika, mencongak pembagian. Ia ingat kalau ia punya tabel pembagian yang saya buat khusus untuknya agar ia lebih mudah belajar. Ia pakai tabel itu untuk menjawab soal-soal mencongaknya.

"Terus, berapa nilai Kakak?" tanya saya.
"Salah 1 aja. Jadi aku dapat nilai 9." Ia masih tampak sedih.
"Bagus tuh. Tapi kenapa sedih?"
"Karena aku menyontek."

Saya hanya menghela napas panjang. Satu sisi, saya bangga karena ia sebenarnya sadar bahwa menyontek dan curang itu nggak baik. Sisi lain, berarti saya harus mendampinginya belajar lebih keras lagi.


BACA JUGA


Si Kecil Nampak Stres di Sekolah, Ma? Jangan Remehkan, Mungkin Tiga Hal Ini Penyebabnya!

Si Kecil Nampak Stres di Sekolah, Ma? Jangan Remehkan, Mungkin Tiga Hal Ini Penyebabnya!

Going to school is an everyday process; it isn't something we accomplish and are all done with. ~ Bruce Vento

Read more..


Well yeah, kasus anak menyontek selalu saja terjadi di setiap sekolah di setiap tahun. Dari zaman saya masih sekolah, sampai sekarang. Iya, saya dulu juga sesekali nyontek. Hehehe. Ngaku deh. Rasanya belum lengkap gitu jadi anak sekolah kalau belum pernah nyontek. Hahaha. Please, jangan ditiru ya, Nak.

Makanya saat anak saya ngaku menyontek, saya juga 'nggak berani' marah-marah ataupun ngomel. Saya dulu pernah begitu, saya (kurang lebih) bisa menduga apa penyebabnya, dan saya ingin membantunya memperbaiki kesalahan dari akarnya.

Untuk siswa SD kelas 1 ataupun 2, kadang menyontek mereka lakukan bahkan tanpa disadari. Melihat jawaban tes teman sebangku misalnya. Semakin besar, mereka pun akhirnya 'menemukan' berbagai cara untuk menyontek.

Hingga kemudian, menyontek jadi semacam ‘budaya’ di kalangan siswa sekolah, dari mulai SD hingga kuliah. Padahal sebenarnya mereka tahu sekali apa konsekuensi menyontek.

Dari guru pun nggak kurang usahanya untuk 'memerangi' kebiasaan menyontek ini. Ada berbagai hukuman atas seorang siswa penyontek, mulai dari pengurangan nilai, pengulangan ujian, skorsing hingga label ‘penyontek’ atau cheater yang akan tetap lekat pada diri mereka sampai kapan pun.

Tapi memang, mereka jugalah yang akan menuai sendiri hasil kebiasaan menyontek mereka di masa depan. Mereka menjadi pribadi yang tak mandiri, tak mau berusaha, cepat menyerah, dan berbagai hal negatif lainnya.


Tapi mengapa tetap saja anak menyontek jika tahu akibat yang bisa terjadi tersebut? Dari pengamatan, berikut beberapa alasannya


1. Kompetisi antar siswa yang ketat


Mungkin sudah banyak yang mulai gerah dengan sistem peringkat yang diterapkan oleh pendidikan di Indonesia.

Orang tua dan para praktisi saja sudah mulai gerah, apalagi siswa yang menjalaninya. Mau nggak mau, mereka dipaksa untuk berkompetisi dengan teman-teman mereka sendiri.

Hasilnya? Orientasi keberhasilan menjadi bergeser.

Semula tujuan bersekolah adalah untuk menimba ilmu, akhirnya menjadi bagaimana caranya bisa meraih peringkat yang tinggi. Anak menyontek demi mendapat nilai yang bagus. Mereka akhirnya hanya melihat pada hasil, bukan menikmati proses belajarnya.


2. Beban akademis yang berat


Sudah banyak yang mengeluhkan materi-materi pelajaran yang dipandang terlalu memberatkan siswa.

Saya sendiri merasakan, bahwa sangat berbeda sekali perbandingan materi pelajaran di sekolah masa kini dengan zaman dahulu saat saya masih duduk di bangku sekolah.

Untuk bisa duduk di bangku SD saja, kini anak-anak mesti sudah bisa membaca. Jadi, anak-anak TK pun sudah harus belajar mengenal huruf, dan lain sebagainya. Padahal, saya dulu TK mah masih asyik main balok-balok bentuk, main bak pasir, nyanyi-nyanyi, tepuk tangan dan sebagainya.

Yah, memang kita harus mengakui, zaman semakin maju. Lagipula otak anak-anak sudah bagai spons penyerap segala macam. Akan lebih mudah mengajarkan semuanya saat mereka masih kecil, ketimbang sudah telat. Meski saya (mungkin bisa mewakili para anak dan sebagian orang tua) masih menuntut ada waktu bermain yang lebih bagi mereka.

Semakin tinggi kelas semakin berat pula beban akademiknya. Jadinya anak menyontek, demi bisa meringankan beban mereka.


3. Tekanan dari luar


Entah sadar atau tidak, kita juga ikut andil dalam budaya anak menyontek ini, Ma.

Nggak jarang kita malah ikut menambah beban sekolah anak kita, gara-gara kita mungkin memarahi mereka yang nggak bisa meraih peringkat tinggi di kelas, atau meraih nilai yang tak memuaskan dalam tes atau ujian.

Bisa juga karena faktor lain, misalnya kondisi anak yang kurang fit saat tes akan berlangsung. Tentu saja, mereka tak bisa belajar dengan optimal kan, akhirnya? Sehingga mereka pun memutuskan untuk menyontek saja.


4. Solidaritas


Di luar alasan akademis, banyak juga anak menyontek demi solidaritas dengan teman.

Demi persahabatan, mereka rela berbagi jawaban dengan teman-teman mereka. Tak hanya itu, pada beberapa kasus bullying juga membuktikan bahwa ada anak yang diancam oleh temannya yang lain; jika tidak memberi sontekan, maka mereka akan dikucilkan, dibully dan sebagainya.


5. Tak mau berusaha


Namun, memang kita nggak bisa hanya menyalahkan semua faktor yang berasal dari sekitar anak, atau yang di luar dirinya.

Banyak pula yang lebih suka belajar kalau lagi mau ulangan, ujian atau tes saja. Tentu saja cara belajar SKS, aka sistem kebut semalam alias belajar dadakan seperti ini, akan membuat persiapan mereka menghadapi tes atau ujian menjadi nggak optimal.

Daripada susah-susah, mereka malas berusaha sehingga akhirnya memutuskan lebih baik menyontek saja. Saat situasi ‘tak siap menghadapi ulangan’ ini terus berulang maka kemudian menyontek menjadi kebiasaan.


BACA JUGA


Pengin Membantu Anak Belajar? Kita Harus Tahu Inti dari Pelajarannya di Sekolah Dulu!

Pengin Membantu Anak Belajar? Kita Harus Tahu Inti dari Pelajarannya di Sekolah Dulu!

Membantu anak belajar menjadi PR tersendiri bagi orangtua. Anak-anak ujian, orangtua tak ketinggalan ikut belajar. Namun, jika kita bisa ...

Read more..


Kelihatannya memang sepele sih, tapi kebiasaan anak menyontek bisa jadi akan membuka kesempatan untuk mereka terbiasa melakukan kecurangan hingga mungkin bisa jadi kriminalitas di masa depan. Ah, mungkin terdengar lebay ya, Ma. Tapi percaya kan, kalau segala hal itu selalu mulai dari hal yang sepele dan kecil seperti ini?

Saya sih percaya itu.

Bagaimanapun, budaya anak menyontek ini harus dipatahkan. Saya yakin, guru di sekolah juga sudah melakukan berbagai upaya untuk mencegah anak menyontek. Tapi balik lagi, bahwa pendidikan anak selalu dimulai dari rumah.

Jadi, sayalah yang merasa paling bertanggung jawab jika anak menyontek.

So, saya harus melakukan sesuatu. Apa saja?


Yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kebiasaan anak menyontek


1. Bangkitkan rasa percaya diri anak

Dalam kasus anak saya, saya yakin betul bahwa sebenarnya permasalahannya adalah ia kurang pede saat tes. Karena sewaktu belajar di rumah bersama saya, ia dapat menjawab semua soal dengan baik. Iya sih, ada kesalahan di sana-sini, tapi semua masih wajar. Toh ia masih belajar.

Tapi begitu sampai di kelas dan harus tes, sepertinya ia mulai panik, nggak pede bisa menjawab soal dengan baik.

Maka PR saya yang utama dan pertama, adalah membantunya untuk pede. Hal ini tentunya tak bisa dicapai hanya dalam satu hari, tapi harus selalu saya tanamkan setiap waktu.

Setiap kali belajar, saya usahakan untuk selalu memberinya mereka motivasi untuk percaya diri. Saya berikan sugesti-sugesti ke dalam pikirannya, bahwa ia akan baik-baik saja besok di sekolah dan menjalani tesnya.


2. Berikan banyak variasi latihan soal

Saya mencari dan mengunduh banyak sekali latihan soal ulangan yang ada di internet. Dan setiap sore pun, saya menyodorkannya pada anak saya sebagai latihan mengerjakan soal. Nggak perlu banyak-banyak. Ia cukup menyelesaikan 5 soal saja setiap sore.

Asumsi saya, saat ia makin terbiasa menghadapi soal, maka ia pun akan semakin santai dan nggak lagi kurang pede. Jika ia santai saat menghadapi soal ulangan, maka semua yang ia pelajari akan dengan mudah ia ingat, sehingga tak ada alasan lagi anak menyontek.


3. Nilai jelek bukan berarti bodoh

Berulang kali pula saya katakan pada anak saya (dan juga pada diri saya sendiri), bahwa nilai jelek itu bukan berarti bodoh.

Mengapa saya katakan hal tersebut pada diri saya sendiri juga?

Karena saya nggak mau terjebak seperti mindset saya dulu saat masih duduk di bangku sekolah, bahwa nilai jelek = bodoh. Ranking besar = bodoh. Nggak, saya nggak mau terjebak lagi. Saya juga mau anak saya terjebak.

So, saat saya mengatakan hal itu pada anak saya, saya sebenarnya juga sedang 'memantrai' diri saya sendiri, supaya saya nggak jadi orang tua yang menuntut terlalu banyak padanya.


BACA JUGA


Inilah 12 Potret Perjuangan Anak-anak Sekolah dari Seluruh Penjuru Dunia sebagai Gambaran Mahalnya Pendidikan Kita!

Inilah 12 Potret Perjuangan Anak-anak Sekolah dari Seluruh Penjuru Dunia sebagai Gambaran Mahalnya Pendidikan Kita!

Sekolah dan sistem pendidikan kita masih mahal! Nggak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia

Read more..


Namun, dari semuanya, saya kira hal yang paling penting yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kebiasaan anak menyontek adalah mendampinginya belajar setiap hari. Kita menemaninya belajar di rumah, pun saat mengantarnya ke sekolah dan menjemputnya, kita harus selalu benar-benar ada untuknya. Bukan sekadar ada di situ, tapi kita asyik masyuk dengan smartphone kita sendiri. Duh, jangan sampai deh, Ma.

Mendampingi anak di setiap tahapan hidup, buat saya, bukan sekadar kewajiban atau tugas orang tua. Karena kalau sebatas kewajiban, kita bisa saja melakukannya karena terpaksa.

Padahal dengan adanya perhatian penuh dari kita, anak pun bisa berjalan dengan yakin on the right track. Kadang mereka memang hanya membutuhkan kita agar yakin bahwa apa yang mereka lakukan sudah benar. Mereka nggak butuh nasehat, tapi dukungan.

Tetap semangat, Ma! Jadi orang tua itu memang berat ya. Hahaha. Saya juga masih belum yakin, apakah cara saya mendampingi anak belajar di atas efektif dan efisien. Saya masih harus menunggu sampai akhir tahun pelajaran tiba untuk membuktikannya.

Yuk, bersama-sama membentuk budaya belajar tanpa menyontek. Jika Mama punya cara yang lebih baik dari cara saya di atas, boleh lho menambahkannya di kolom komen. I'll be grateful!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Anak Menyontek? Mungkin 5 Hal Ini yang Menjadi Alasan Mereka, dan Bagaimana Mengatasinya?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar