Anak Saya 6 Orang dengan Karakter yang Berbeda-beda, Beginilah Cara Saya Memahami Mereka

Ibu Harus Menjaga Potensi Anak

Anak Saya 6 Orang dengan Karakter yang Berbeda-beda, Beginilah Cara Saya Memahami Mereka

1.6K
Mempunyai 6 anak, membuat saya terus belajar. Belajar memahami, belajar memaklumi, dan belajar memberikan ruang seluas-luasnya untuk mereka berkembang.

Saat menjalani peran Mama sebagai seorang ibu, seringkah Mama berpikir. Apakah kita menjadi seorang ibu hanya sekadar karena punya anak? Apakah kita sudah benar-benar menjalankan peran dan fungsi kita sebagai ibu? Apakah anak-anak sudah merasakan betul sosok kita sebagai mama mereka?

Kalau iya, apakah itu karena kita menjalani fungsi ibu sebatas insting? Ataukah, kita sudah memahami betul yang menjadi tugas kita sebagai ibu, kemudian menerapkannya di keluarga?

Aduh, jadi kebanyakan mikir ya, Ma. Tapi, bukankah memang harus begitu? Awali segala sesuatu dengan pemikiran, sehingga semua bisa kita jalani nggak cuma asal jalan, namun jelas niat dan tujuannya.

Berdasarkan pemikiran-pemikiran yang melintas dalam benak saya tersebut, saya pun mencoba berdiskusi dengan anak-anak, pun dengan papanya anak-anak.

Saya ingin tahu pendapat mereka mengenai apa yang selama ini saya lakukan sebagai seorang ibu. Saya ingin tahu apakah saya memang telah melakukan "sesuatu" sehingga keluarga saya benar baik-baik saja, ataukah saya adalah sekadar orang yang beruntung dianugerahi anak-anak yang “tidak bermasalah”.

Eh, tapi benarkah anak saya tidak bermasalah?


BACA JUGA


Menjadi Orangtua Penyabar - Apakah Hanya Sekadar Harapan yang Terlalu Muluk untuk Dicapai?

Menjadi Orangtua Penyabar - Apakah Hanya Sekadar Harapan yang Terlalu Muluk untuk Dicapai?

Orangtua penyabar? Hmmm ... sebelum kita berteori, saya mau cerita dulu ah.Rasanya waktu belum menikah dulu, kalau melihat anak kecil lucu, ...

Read more..


Ah, sebenarnya saya merasa bersalah mengucapkannya. Karena setiap kali saya menemukan masalah pada anak saya, justru saya selalu memandang saya sendirilah yang bermasalah. Sayalah yang tidak bisa memahami anak saya.


Berikut beberapa cerita saya mengenai proses belajar saya untuk bisa lebih memahami keenam anak saya.


Anak pertama


Ketika Teteh, anak pertama saya lahir, saya begitu gagap mengenai cara mendidik dan membesarkan anak. Padahal Teteh termasuk anak yang punya banyak kelebihan.

Pertumbuhan motorik, sensorik, kognitif dan bahasanya cepat. Saat masih duduk di bangku TK, Teteh sudah hapal juz amma.

Sungguh, tak ada alasan untuk tidak bangga padanya. Tapi, tetap saja, saya pernah melakukan kesalahan-kesalahan dalam memahaminya.

Misalnya, Ma, saat anak kedua saya lahir, saya lantas menuntut Teteh supaya lebih cepat mandiri. Alasan saya, karena dia sudah punya adik. Padahal waktu itu Teteh baru menginjak usia 16 bulan.

Hanya karena di rumah ada anak yang lebih kecil, maka saya pun menganggap Teteh sudah besar. Sudah dewasa. Duh, bener kan, saya yang bermasalah?

Memang, saya sebagai orang tua baru, betul-betul nggak ngerti soal psikologi anak. Tapi, akhirnya, saya juga belajar banyak hal. Seperti ternyata anak bukanlah orang dewasa dengan fisik mini.

Sepintar-pintarnya anak, mereka tetaplah polos dan butuh disayang-sayang.


Anak kedua


Pelajaran yang saya dapatkan dari interaksi dengan Teteh akhirnya diuji ketika saya dianugerahi anak kedua, Uni.

Uni hadir dengan kondisi mental keibuan saya sudah lebih matang dari sebelumnya. Saya pun siap menerima Uni apa adanya.

Ya, karakter Uni berbeda sekali dengan Teteh. Kalau biasanya anak-anak seusianya cerewet, Uni jarang sekali bicara. Respon fisiknya pun lambat. Padahal tubuhnya lumayan berisi, berat badannya pun normal.

Kebetulan, kondisi perekonomian keluarga kami saat itu memang sedang berada di titik terendah. Sehingga seorang saudara bilang, mungkin lambatnya Uni bicara karena kurang gizi. Dan itu saya iyakan!

Namun, akhirnya saya sadar. Bahka seperti apa pun jadinya anak saya, saya akan selalu menerimanya. Saya bahagia, dan pasti akan menyayanginya. Sampai kapan pun!

Ketika Uni masuk usia sekolah, saya mengalami kesulitan untuk mengajarinya pelajaran yang membutuhkan hafalan. Sudah berbagai upaya kami usahakan, misalnya seperti menempel bahan-bahan pelajaran di dinding untuk mempermudahnya menghafal.

Tapi, semua tak ada yang berhasil.

Apa yang dulu begitu mudah diajarkan pada Teteh, tak berhasil pada Uni. Akhirnya, saya pun berhenti "memaksa". Bukannya menyerah, tapi saya baru paham kalau setiap anak punya karakter yang berbeda. Saya tidak ingin keceriaan Uni hilang gara-gara target saya sendiri. Pengin agar Uni seperti Teteh. Itu tak mungkin!

Saya biarkan Uni berkembang secara alami. Dia tampak bahagia bersekolah, ceria menjalani hari-harinya. Itu sudah cukup.

Namun, lama kelamaan terlihatlah minat Uni yang sebenarnya. Dia suka sekali membaca. Semua buku sudah dibacanya. Bahkan, buku-buku pelajaran milik kakaknya juga ikut dibacanya. Ketika SMP, dia bahkan sudah membaca buku-buku pelajaran SMA!

Saat saya tanyakan pada Uni, beginilah jawabannya.

“Mungkin karena Ibu memberi kesempatan sama aku untuk berkembang. Ibu nggak fokus pada kekuranganku. Ketika aku sulit menghafal, aku juga nggak disuruh les. Dan karena Ibu tidak tahu kelebihan aku, jadinya ibu tidak maksain aku. Tapi justru karena itulah aku memiliki kesempatan berkembang.”

ya ampun, Uni! Dan, betulkah saya "sepintar" itu? Saya malah nggak sadar sama sekali! Kini, Uni bersekolah di sebuah SMA negeri melalui jalur prestasi, atas kemenangannya pada Olimpiade Fisika tingkat nasional.

Betapa membanggakan!


BACA JUGA


3 Kekeliruan Mendidik Anak yang Cukup Fatal dan Seringkali Dilakukan oleh Orangtua. Mama Termasukkah?

3 Kekeliruan Mendidik Anak yang Cukup Fatal dan Seringkali Dilakukan oleh Orangtua. Mama Termasukkah?

Dalam mendidik anak, kita pasti memilih dan melakukan yang terbaik untuk anak kita. Tapi bukan berarti Mama tidak pernah keliru kan

Read more..


Anak ketiga


Aa, anak ketiga, juga pendiam, bahkan sering di-bully karena karakternya ini.

Berbeda dengan 2 kakaknya, Aa justru seperti tidak berminat dalam hal apa pun! Duh, Ma, cobaan macam apa lagi ini yang harus saya dapatkan?

Ketika harus mulai masuk TK pun, saya bahkan harus menyebutnya sebagai ‘bermain yang dipimpin supaya semua kebagian permainan’, alih-alih sekolah.

Ya, saya kembali mengingatkan diri sendiri, bahwa bukanlah anak yang bermasalah. Tuhan menganugerahkan mereka full-packed. Sayalah yang harus memahami mereka. Kalau saya ruwet, maka sayalah yang bermasalah.

Saya ingat, saya pernah menyesal karena menanyakan ranking rapornya pada guru Aa. Dia ranking terakhir di kelasnya, Ma! Duh!

Namun, bagi gurunya, yang lebih mengerti tentang perkembangan anak, posisi ranking terakhir di kelas bukanlah masalah, karena anak sedang dalam proses perkembangan. Tapi, bagi saya yang waktu itu masih terbiasa mendapatkan pujian atas prestasi Teteh dan Uni, rasanya seperti tersengat listrik, Ma.

Namun, semenjak itu, saya tidak lagi terlalu memperhatikan kekurangan akademik Aa. Dia mau sekolah dan bersosialisasi dengan teman-temannya saja sudah saya syukuri. Dia bahagia sekali memiliki teman-teman yang baik, karena dia pun baik para mereka.

Akhirnya jiwa kepemimpinan Aa pun tumbuh, yang berpengaruh pula pada perkembangan kemampuan akademiknya.

Ah, apa sih yang sudah saya lakukan? Rasanya saya tidak melakukan apa-apa untuk mereka, selain membiarkan anak-anak berbahagia menjadi dirinya sendiri. Mereka bebas melakukan aktivitas positif apa saja yang disukainya.

Dan, sebentar lagi, Aa akan menghadapi ujian nasional, Ma. Alhamdulillah, bahkan sebelum lulus MTS, Aa sudah dinyatakan diterima di sebuah sekolah yang didirikan oleh BJ Habibie melalui jalur beasiswa.

Betapa bangganya saya!


Anak keempat


Kakak, anak keempat, karakternya yang keras bahkan sudah terlihat sejak ia kecil. Saat berusia 3 tahun, Kakak punya gaun warna pink dengan sederetan kancing di bagian belakang. Dia berusaha mengancingkannya sendiri, tanpa mau dibantu. Alhasil, selama 1 jam, dia harus berusaha keras, sampai menangis! Tapi, usahanya berhasil. Dia bisa mengancingkan sendiri bajunya.

Kemandiriannya yang terlalu cepat itu kadang juga begitu menjengkelkan kakak-kakaknya. Contoh saja, dia tidak pernah mau dipegang tangannya saat berjalan di jalan raya. Padahal kakaknya khawatir akan keselamatannya.

Kakak menjadi pribadi yang tahan bully, tidak pernah terpengaruh dengan ejekan teman. Justru paling jago membalikkan ejekan pada mereka yang mengejeknya.

Dan, kelebihannya ini akhirnya sering menempatkannya pada situasi sulit, termasuk dengan kakak-kakaknya. Saya juga sering diprotes, “Kenapa sih Ibu sayang sama dia? Dia itu bandel!”

Saya sih hanya tertawa. Bandelnya Kakak adalah sebuah kelebihan. Masalahnya hanya terletak pada belum ditemukannya tempat yang tepat. Kita hanya bisa menunggu, hingga Kakak bisa "menemukan tempat yang tepat". Saya sih percaya, dan bersiap, untuk melihat sesuatu yang hebat dari dirinya.


BACA JUGA


Anak Bikin Kesal? Yuk, Kenali 7 Cara Mengendalikan Emosi Agar Mama Tidak Sampai Meledak

Anak Bikin Kesal? Yuk, Kenali 7 Cara Mengendalikan Emosi Agar Mama Tidak Sampai Meledak

Apa sih yang diperbuat anak Mama yang bisa membuat Mama tak bisa menemukan cara mengendalikan emosi yang efektif dan efisien? Apakah karena ...

Read more..


Anak kelima


Abang, anak kelima, bagai ‘wikipedia berjalan’. Dia bisa menjawab apa saja yang kita tanyakan.

Saat sedang di perjalanan, kami tak perlu khawatir tersesat. Kita bisa tanya dia, ini jalan apa atau harus keluar dari gerbang tol sebelah mana. Dia bahkan juga update kejadian terkini di sepanjang perjalanan, kondisi lalu lintasnya bagaimana, kecelakaan di mana saja, dan lain-lain.

Kita juga bisa bertanya, kapan jadwal salat, ibu kota tiap provinsi, bahkan kebijakan-kebijakan pemerintah terbaru. Abang sudah bisa membaca dengan lancar sejak usia 3 tahun, dan sejak itu dia begitu giat mengisi memorinya dengan data-data.

Namun, kemampuan motorik kasar Abang agak kurang, dan dia agak lebih sensitif ketimbang anak-anak pada umumnya. Namun, Abang baru berusia 10 tahun.

So, mengapa tak biarkan saja dia mengembangkan dulu kelebihan-kelebihannya itu.


Anak keenam


Ade, anak keenam, anak yang fokus pada tujuannya.

Bagi Ade, jika tujuannya sudah jelas, tak akan ada halangan atau rintangan yang tak bisa dihadapi. Meski di depannya ada gunung, itu nggak masalah. Dia akan menabraknya, demi mencapai tujuannya.

Dia tidak pernah takut pada apa pun. Dia tidak pernah dikuasai oleh keadaan, justru dialah yang menguasai. Namun kelebihannya ini juga sering membahayakan dirinya dan orang yang berada di dekatnya. Tubuh Ade sering luka, begitu pun dengan teman-temannya. Mereka sering kena senggol.

Lagi-lagi saya meyakinkan diri, bahwa bukan Ade yang bermasalah. Saya tidak boleh menghentikan Ade. Justru saya harus memberikan ruang seluas-luasnya pada Ade untuk mengembangkan kelebihannya itu, tanpa membahayakan diri dan lingkungan sekitarnya.

Saat dia sedang main trampolin, dengan santainya dia tetap mengobrol dengan kami yang menungguinya. Padahal tubuhnya sedang memantul-mantul sedemikian rupa. Saat kakak-kakaknya menjerit-jerit di dalam bola air, Ade dengan cueknya malah rebahan di dalam bola air tersebut.

Ade betul-betul bisa menguasai dirinya sendiri, tanpa dipengaruhi keadaan.


BACA JUGA


Anak Bahagia? Sudah Pasti Jadi Tujuan Hidup Mama. Ayo, Bantu Mereka Agar Lebih Bahagia!

Anak Bahagia? Sudah Pasti Jadi Tujuan Hidup Mama. Ayo, Bantu Mereka Agar Lebih Bahagia!

Anak bahagia pastinya menjadi keinginan bagi seluruh orang tua, termasuk Mama bukan? Memiliki anak bahagia ternyata bisa Mama lakukan dengan ...

Read more..


Itulah, Ma, cerita saya berinteraksi dengan keenam anak saya, yang sekarang sudah mulai besar. Saya belajar terus setiap hari untuk bisa memahami mereka lebih dan lebih lagi.

Jika saya ditanya, apa yang sudah saya lakukan untuk membesarkan mereka, sungguh, saya nggak tahu. Saya juga masih bingung, apa yang sudah saya lakukan?

Yah, mungkin memang benar, bahwa kebaikan Tuhanlah yang berperan, sehingga anak-anak saya terlahir tanpa masalah sama sekali. Hanya saya saja yang bermasalah. Sehingga kalaupun ada apa-apa, maka saya sendirilah yang harus berbenah diri.

Semoga cerita saya bermanfaat, agar Mama bisa lebih membuka diri pada setiap karakter anak, bahwa mereka selalu punya kelebihan sendiri-sendiri. Jika belum "terkendali", itu cuma masalah waktu.

Happy parenting now, Mama!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Anak Saya 6 Orang dengan Karakter yang Berbeda-beda, Beginilah Cara Saya Memahami Mereka". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


YasMarina Dewi | @yasmarinadewi

Mom of Six

Silahkan login untuk memberi komentar