Antara Keluarga dan Pekerjaan, Mungkinkah Bisa Seimbang?

Antara Keluarga dan Pekerjaan, Mungkinkah Bisa Seimbang?

5.9K
Keluarga seringkali harus terkalahkan oleh urusan karier. Bagaimana cara menyeimbangkannya menurut pendapat ahli? Mungkinkah keduanya bisa seimbang?

Teknologi, memang bisa memudahkan namun juga bisa membuat hidup kita jadi tercampur baur antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga keluarga.

Mumpung momennya tepat nih, Ma. Sudah tahu belum kalau tanggal 20 Februari ini diperingati sebagai Hari Pekerja Nasional? Belum?

Yah, semakin ke sini, nampaknya Hari Pekerja Nasional memang semakin kurang populer ya, karena semua orang (baca: pekerja, karyawan dan buruh) akhirnya lebih terfokus merayakan Hari Buruh 1 Mei, yang bahkan sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional. Sebenarnya sejarah diperingatinya Hari Pekerja Nasional ini cukup panjang juga, Ma. Namun, pada intinya, Hari Pekerja Nasional merupakan momentum hari kelahiran Federasi Buruh Seluruh Indonesia, yang merupakan organisasi penyatuan seluruh serikat pekerja yang ada di Indonesia.


BACA JUGA


Menjadi Ibu Bekerja Itu Lebih Rentan Akan Stres - Atasi dengan 5 Tips Ini Agar Sekembalinya di Rumah, Semua Tetap Aman

Menjadi Ibu Bekerja Itu Lebih Rentan Akan Stres - Atasi dengan 5 Tips Ini Agar Sekembalinya di Rumah, Semua Tetap Aman

Begitu tiba di rumah, para ibu bekerja di rumah diharuskan tetap dalam kondisi mood yang baik dan bisa langsung menghadapi keriuhan rumah ...

Read more..


Bagi para pekerja yang sekaligus berstatus ibu rumah tangga, salah satu perkara yang selalu harus dihadapi adalah ketidakseimbangan kehidupan karier dengan kehidupan pribadi dan keluarga. Apalagi di era teknologi yang makin maju ini ya. Semua aspek kehidupan tersentuh oleh teknologi. Semua bisa dikerjakan secara mobiling, thanks to technology. Nggak perlu berada di kantor untuk bisa menyelesaikan pekerjaan. Sambil macet, kita bisa ngecek email klien. Sambil menunggu makan siang datang di warung, kita juga bisa mengecek tugas-tugas outsourcing.

Di satu sisi, ini menguntungkan kita. Di sisi lain ...

Well, teknologi memang memudahkan kita, namun, bisa juga menjadi "ancaman" ketika teknologi membuat batas antara pekerjaan dan keluarga menjadi semakin baur.

Coba lihat, Ma, berapa dari kita yang kalau saat liburan bareng keluarga masih sempat membalas email klien? Berapa dari kita yang saat beristirahat di rumah, masih mau menerima chat via WhatsApp dari bos untuk membahas masalah pekerjaan? Berapa dari kita yang membawa pulang tugas kantor untuk bisa dikerjakan di rumah, atas nama mengejar target?

Nah, jika Mama merupakan salah satu dari pekerja atau karyawan atau juga pimpinan perusahaan yang kian sulit menyeimbangkan kehidupan karier dengan kehidupan pribadi dan keluarga, maka, coba deh, Ma, ikuti saran ahli ini.


Sebuah penelitian oleh profesor psikolog dari Universitas Cincinnati, Stacie Furst-Holloway membeberkan beberapa strategi menggunakan teknologi mobile untuk mengatur batasan kehidupan pekerjaan dan keluarga.


1. Manage your time wisely


Sebagian besar orang merasa, waktu kerja 9 to 5 itu nggak pernah cukup untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Namun, harus ada ketegasan bahwa Mama perlu memproteksi waktu personal dengan tidak selalu tenggelam dalam urusan pekerjaan yang tak pernah ada habisnya, karena itu bijaksanalah menggunakan waktu bekerja dan pribadi Mama.

Pulang tenggo, alias tepat waktu, adalah salah satu solusinya. Apa pun yang terjadi, pulanglah tepat waktu dengan tanpa membawa pekerjaan ke rumah. Tak perlu menunggu semua pekerjaan selesai, karena somehow, pekerjaan itu nggak pernah akan selesai tuntas. Saat tugas ini selesai, langsung muncul tugas yang lain.

Untuk itu, tegaslah pada diri sendiri dan bijak memilih, mana tugas yang bisa dikerjakan esok harinya.


2. Have a Well Written Auto Reply


Selama berlibur atau di akhir pekan, beberapa dari kolega dan klien mungkin tetap mengharapkan balasan email Mama terkait pekerjaan.

Dengan demikian, membuat email auto reply selama Mama menikmati masa libur akan sangat diperlukan, Ma. Namun, Mama perlu hati-hati dalam gaya penulisan email balasan otomatis tersebut, dengan kata-kata yang ramah namun tetap tegas. Tuliskan bahwa Mama saat ini sedang tidak online, dan akan segera membalas email begitu Mama sudah kembali bekerja.

Nah, saat Mama sudah kembali beraktivitas di kantor, maka taruhlah membalas email-email ini dalam urutan pertama to do list Mama.


3. Say ‘no’ to extra task


Mengatakan tidak pada pekerjaan ekstra mungkin paling sulit dilakukan oleh para workaholic. Pun oleh mama yang memang menginginkan untuk bisa menampilkan performa kerja yang baik ya.

Namun, jika Mama merasa pekerjaan Mama terlalu banyak dan sulit dilakukan dalam waktu yang singkat, maka jangan takut untuk mengatakan ‘tidak’ pada pekerjaan tambahan yang diberikan oleh atasan Mama.

You can always say 'no' in a polite way, Mama. Janjikan pada bos atau atasan Mama, bahwa Mama akan menerima tugas ekstra tersebut, namun tidak bisa menyelesaikannya sekarang. Atau, jika memang sifatnya urgent, Mama bisa merekomendasikan rekan sekantor Mama yang lain untuk melakukannya. Tapi, hati-hati ya, Ma, jika Mama bermaksud merekomendasikan teman Mama yang lain, karena bisa saja kemudian Mama dianggap hanya ingin menghindar dari pekerjaan dan mengalihkan beban pada orang lain. So, jika memang ingin merekomendasikan teman, pastikan Mama punya alasan yang sangat kuat dan diutarakan saat momen yang tepat.


BACA JUGA


Bagi Mama Bekerja, Jangan Lupa Seimbangkan Kehidupan Keluarga dan Pekerjaan dengan 7 Langkah Mudah Ini!

Bagi Mama Bekerja, Jangan Lupa Seimbangkan Kehidupan Keluarga dan Pekerjaan dengan 7 Langkah Mudah Ini!

Don't confuse having a career with having a life. ~ Hillary Rodham Clinton

Read more..


Bagi para mama pekerja, waktu berada di kantor dan menyelesaikan pekerjaan bisa jadi sudah menyita sepertiga harinya. Sepertiga hari lainnya lagi harus digunakan untuk beristirahat agar energi bisa kembali full saat bekerja, sehingga hanya menyisakan sepertiga untuk melakukan hal lain. Sepertiga waktu tersisa ini harus kita gunakan dengan baik, dan mau buat apa lagi sih kalau bukan buat keluarga? Betul nggak, Ma?

Maka, kebijakan kita untuk bisa membuat batasan antara kehidupan karier dan keluarga, juga untuk diri sendiri, itu memang penting sekali, agar semua aspek kehidupan kita berjalan seimbang yang akan berbuah pada kepuasan diri dan kebahagiaan.

Selamat Hari Pekerja Nasional, Mama! Let's be a better worker yet a better mom!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Antara Keluarga dan Pekerjaan, Mungkinkah Bisa Seimbang?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar