Awas, 5 Senjata Mendidik Anak Ini Bisa Melukai Perasaan dan Perkembangan Jiwa Mereka! Jangan Teruskan!

Awas, 5 Senjata Mendidik Anak Ini Bisa Melukai Perasaan dan Perkembangan Jiwa Mereka! Jangan Teruskan!

2.6K
Dalam hal mendidik anak, karakter anak akan terbentuk berdasarkan pola kebiasaan orangtua. Apakah Mama sering mempergunakan 5 senjata mendidik anak ini? Jika ya, sebaiknya segera tinggalkan!

Proses mendidik anak itu memang tak sesederhana proses menanak nasi. Dari beras, bisa langsung jadi nasi dalam waktu satu jam. Butuh waktu bertahun-tahun, penuh keringat dan air mata *lebay*

Belum lagi, selalu ada saja saat di mana kita kehilangan akal dalam menghadapi sikap anak yang kadang di luar kendali. Segala nasihat, perintah hingga suara teriakan dengan nada tinggi. Semua kita lakukan atas nama mendidik anak agar bisa menjadi yang kita inginkan. Hingga kemudian, tanpa kita sadari akibatnya di masa depan anak, kita melakukan berbagai macam cara supaya mereka mau menuruti kehendak kita dengan 'senjata mendidik anak' yang telah kita siapkan.

Dan layaknya senjata sesungguhnya, 'senjata mendidik anak' yang kita siapkan itu bisa jadi malah melukai mereka. Malah justru membuat perkembangan dan pertumbuhan mereka terhambat lho.


BACA JUGA


Hai, Orangtua, Mau Mengasuh Anak dengan Bijak? Kalau Begitu, Jangan Katakan 8 Kalimat Ini pada Si Kecil!

Hai, Orangtua, Mau Mengasuh Anak dengan Bijak? Kalau Begitu, Jangan Katakan 8 Kalimat Ini pada Si Kecil!

Mengasuh anak dengan bijak itu tak cuma membutuhkan teori, namun terutama membutuhkan hati. So, sediakan hati Mama selalu untuk mereka ...

Read more..


Apa saja 'senjata mendidik anak' yang sering kita lakukan tanpa sadar dan bisa melukai mereka itu ? Yuk, coba kita simak.


Senjata mendidik anak yang sering kita pergunakan namun justru bisa melukai anak bahkan tanpa kita sadari


1. Menakut-nakuti


Si kecil masih ingin bermain di luar padahal hari mulai gelap. Kita pun mengajaknya masuk ke dalam rumah, namun si kecil enggan beranjak. Kita yang tak tahan ingin segera masuk untuk mengerjakan hal lain lalu mengeluarkan ajian pamungkas.

“Dik, masuk yuk! Sudah gelap ini. Nanti ada momok lho. Hiiyyy!”

Si kecil serta merta berlari mendekat dan mau diajak masuk. Kita pun senang dan puas, karena berhasil mengajaknya masuk.

Tapi sadarkah Mama, apa akibatnya? Tanpa sadar, kita telah menanamkan suatu pola pikir untuk takut pada sesuatu yang abstrak. Sosok momok yang menakutkan, apakah itu hantu, atau makhluk halus yang mengerikan pun tertanam di pikiran si kecil. Akibatnya, dia bisa jadi tumbuh menjadi anak yang penakut, tidak akan berani keluar sendiri di malam hari dan selalu minta ditemani.

Yang rugi siapa hayo? Kita sendiri kan? Cita-cita untuk mengajarkan arti kemandirian bubar sudah.

Jika memang kondisinya begitu, akan lebih baik jika kita katakan, “Dik, main di luarnya besok lagi, ya. Sekarang sudah malam. Katanya besok mau ikut Mama jalan-jalan? Nanti kecapekan lho, nggak jadi bisa ikut."

Kasus lain, si kecil lagi susah makan. Lalu kita bilang, “Kalau nggak mau makan nanti disuntik dokter lho.”

Tahukah Mama, bahwa dengan menakut-nakuti si kecil bahwa pergi ke dokter dan disuntik itu mengerikan, berarti kita menanamkan dalam alam bawah sadarnya bahwa kata 'dokter' itu jauh dari kata baik. Dalam bayangan si kecil, dokter laksana algojo yang siap menghabisi dengan suntikannya kapan saja. Bisa jadi lho si Kecil malah trauma dan tidak mau diajak sama sekali periksa ke dokter saat sakit beneran. Kan repot, Ma!

Sebaiknya katakan saja, ”Kalau nggak mau makan, nanti gampang sakit lho, Dik. Kalau sudah sakit, Adik nggak bisa bermain sama teman-teman.”

Hal lain yang sering kita pergunakan sebagai senjata mendidik anak dengan menakut-nakuti adalah dengan membawa nama polisi.

“Dik, kalau nakal nanti ditangkap polisi lho! Adik mau dipenjara?”

Waduh! Yakali, Ma, ada anak kecil nakal lalu ditangkap polisi? Seakan-akan polisi tuh makhluk berseragam yang tak punya hati, main tangkap anak kecil saja.

Akan lebih baik, dalam mendidik anak, kita perbaiki cara berkomunikasi kita dengan mereka, Ma. Lebih baik jujur kepada anak tanpa harus menakuti, jelaskan mengenai konsekuensi, dan biarkan anak mengenali akibat jika mereka melakukan hal-hal yang kita larang.


2. Mencari kambing hitam


Saat si kecil terjatuh, spontan kita bilang, “Oh, kodoknya nakal!” Dan, kemudian diikuti akting memukul-mukul tanah seolah mengusir si kodok virtual yang wujudnya entah berada di mana sambil bilang,”Nakal! Nakal! Nakal!“

Hmmm ... Maksudnya apa coba ya?

Yuk, kita pikirkan bersama, Ma. Benarkah si kecil jatuh gara-gara kodok? Si kodok menghalangi jalannya gitu? Mana buktinya? Manaaa, Ma? Hahaha.

Mungkin alasan Mama mengatakan demikian adalah supaya si kecil berhenti menangis ya, sehingga kita harus menghiburnya dengan mencari kambing hitam. Yang salah kodoknya. Bukan si kecil yang kurang hati-hati.

Padahal, dengan cara seperti ini berarti kita membiarkan si kecil bersikap tidak sportif lho. Tidak mau mengakui kesalahannya. Toh, yang salah si kodok. Bukan aku. Jadi ya aku nggak perlu hati-hati. Begitu barangkali pola pikir yang kemudian terbentuk di benak si kecil.

Well, mencari kambing hitam seperti itu jelas bukan cara mendidik anak yang baik, Ma. Sebaiknya sih kita bicara secara terus terang saja kepada si kecil. Jatuh, merasakan sakit dan terluka lalu menangis, itu wajar. Nggak apa-apa. Kita bantu saja untuk bangkit lagi, lalu menguatkannya, ”Nggak papa, Dik. Lain kali hati-hati ya, supaya tidak jatuh lagi. Adik terlalu asyik main sih, sampai nggak lihat ada lubang di depan.“

Dengan demikian, kita juga mengajari tentang hubungan sebab akibat. Tentang tanggung jawab. Bahwa ada risiko di balik setiap perbuatan kita. Kalau tidak hati-hati ya bisa jatuh. Itu saja sih sebenarnya.


3. Mengerdilkan


Sebagai orangtua, kita kadang merasa paling tahu tentang kemampuan anak kita. Saking tahunya, kadang ada rasa tidak percaya jika anak kita mampu melakukan sesuatu yang kita anggap sulit.

“Apa kamu bisa?”
“Mama yakin kamu belum mampu untuk melakukan hal itu!”
“Janganlah!”
“Nggak usah!”
“Bahaya.”
“Kamu tu bisanya apa?”

Yah, Mama. Dicoba saja belum, tapi kita sudah yakin kalau dia tidak mampu.

Dengan memperlakukannya seperti itu, secara tidak langsung, kita menjadi orang pertama yang berhasil menggagalkan cita-citanya lho, Ma, dan itu akan terekam dalam ingatannya. Dia akan selalu ingat dan menilai diri sendiri bahwa dia tidak bisa apa-apa, dan menjadi kurang percaya diri akan potensi dirinya.

Padahal, jika kita berlaku sebaliknya, mendorongnya dengan penuh motivasi, semangatnya akan terpompa hingga pada akhirnya mampu melakukan yang dia inginkan.


BACA JUGA


Mendidik Anak dengan Kekerasan Hanya Akan Menghasilkan Anak yang Penuh dengan Kekerasan. Lakukan Hal-Hal Berikut untuk Menghindarinya!

Mendidik Anak dengan Kekerasan Hanya Akan Menghasilkan Anak yang Penuh dengan Kekerasan. Lakukan Hal-Hal Berikut untuk Menghindarinya!

Mendidik anak dengan kekerasan juga akan menghasilkan anak yang penuh dengan kekerasan. Dan ini bukanlah hal yang baik bagi perkembangannya ...

Read more..


4. Ingkar Janji


Adakah Mama yang belum pernah berbohong pada si kecil? Hahaha. Pasti pada sudah pernah deh. Walaupun dengan embel-embel berbohong demi kebaikan. White lie, katanya.

Dan berbohong pada anak yang paling sering kita lakukan adalah dengan mengingkari janji.

“Dik, kalau maemnya banyak, besok Mama belikan mainan deh.”

Lalu si kecil pun mau makan dengan lahapnya. Keesokan harinya dia nagih,”Mana mainannya, Ma?”

Mama dengan serta merta menjawab, “Besok, ya Dik. Kalau Mama sudah gajian.”

Sampai gajian tiba, lupa (atau tepatnya pura-pura lupa). Lalu ditagih lagi. Dan kita pun menjawab, “Kan mainannya Adik sudah banyak, belum perlu beli lagi.”

Uh oh! Coba lihat si kecil, Ma. Dia tertunduk menahan tangis. Kecewa. Janji tinggal janji. Percuma aku makan banyak kalau akhirnya dibohongi. Begitu pikirnya.

Apa yang kemudian Mama dapatkan? Si kecil barangkali tak akan pernah mau mendengarkan Mama lagi.

Well, mendidik anak dengan kebohongan pastinya tidak akan membuahkan hasil yang baik. Mama pasti setuju kan?

Lebih baik tidak perlu mengumbar janji kepada si kecil jika memang tak berniat untuk menepatinya. Kalau memang tujuannya ingin memberi reward atas prestasinya, maka ya berikan sesuai janji. Jangan diingkari. karena janji adalah utang yang harus dipenuhi.


5. Membanding-bandingkannya dengan anak lain


Rumput tetangga tampak selalu lebih hijau. Betul, Ma? Termasuk soal anak. Kadang anak orang lain selalu tampak lebih super dari anak sendiri. Sering ya, sadar atau tak sadar kita membandingkan anak sendiri dengan anak tetangga atau teman dekat.

Kok si A nilainya bagus di sekolah, sedangkan si kecil kok biasa-biasa saja? Padahal sudah diajari mengerjakan PR segala macam, tapi ya nilainya tidak sebagus si A.

Bagaimanapun, kemampuan anak satu dengan yang lainnya tidak ada yang sama. Lha wong anak kembar aja ada bedanya kok. Semua pribadi itu unik dan berbeda.

Coba kita telusuri lagi, Ma. Mungkin si kecil nilai akademiknya biasa saja tapi pandai bermain musik, misalnya. Mungkin si kecil adalah tipe anak yang takut matematika, tapi dia pintar melukis. Akan lebih baik jika kita fokus saja pada kelebihannya kan? Coba saja asah bakat si kecil supaya bisa berkembang dengan lebih baik.

Sakit hati, lho rasanya dibanding-bandingkan itu. Lebih baik terima apa adanya keadaan anak kita, dan mulai jeli melihat bakatnya. Pastinya hal tersebut akan lebih bijaksana daripada kita menuntut ini itu dari si kecil bukan?


BACA JUGA


Mencintai Anak Kita? Sudah Seharusnya. Menghormati Anak? It's Another Way to Love Our Children!

Mencintai Anak Kita? Sudah Seharusnya. Menghormati Anak? It's Another Way to Love Our Children!

Ya, nggak salah baca kok, Ma. Mama akan membaca bagaimana kita bisa mencintai anak kita dengan jalan menghormati mereka. Seperti kata ...

Read more..


Nah, itu dia, Ma, 5 senjata mendidik anak yang harus segera kita tinggalkan jika kita ingin anak kita tumbuh dan berkembang dengan baik.

Semoga bermanfaat, Ma, and happy parenting!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Awas, 5 Senjata Mendidik Anak Ini Bisa Melukai Perasaan dan Perkembangan Jiwa Mereka! Jangan Teruskan!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Juliastri Sn | @juliastrisn

A mom of 2, suka menulis di blog www.juliastrisn.com. Entrepeneur di bidang otomotif. Beberapa tulisan pernah dimuat di majalah wanita dan majalah parenting terkemuka di Indonesia.

Silahkan login untuk memberi komentar