Bagaimana Mengatasi Konflik Pasangan Sesuai dengan Kepribadian? - Workshop bersama Pingkan Rumondor

Bagaimana Mengatasi Konflik Pasangan Sesuai dengan Kepribadian? - Workshop bersama Pingkan Rumondor

4.8K
Konflik pasangan bisa terjadi pada siapa saja. Workshop Enriching Relationship Satisfaction: Through Conflict Resolution ini membahas mengenai resolusi konflik pasangan, baik hubungan pacaran maupun hubungan pernikahan. Ikuti bagaimana Pingkan Rumondor memberikan resolusinya yuk!

Masalah memang pasti akan selalu ada, tapi jangan sampai membuat kita lupa untuk berbahagia. Begitu kata sang ahli bijak. Baik dalam hubungan pacaran ataupun suami istri, kita pun pasti pernah menghadapi konflik pasangan, dan menjadi hal yang tak terhindarkan.

Fakta ini tidak harus membuat kita mundur dan menyesali semuanya, Ma. Selalu ada cara untuk memperbaiki hubungan, selama ada Cinta, Keyakinan, dan Usaha.



Pada Sabtu (13/5) lalu saya berkesempatan hadir dalam sebuah workshop yang bertujuan untuk mengetahui strategi penyelesaian konflik pasangan, yang diselenggarakan oleh WeCan Vibes, sebuah lembaga konsultan psikologi yang berfokus pada aspek pengembangan diri bagi dewasa muda.

Workshop yang berjudul Enriching Relationship Satisfaction: Through Conflict Resolution ini membahas mengenai resolusi konflik pasangan, baik hubungan pacaran maupun hubungan pernikahan.

Bertempat di Kenobi Space, Kemang, WeCan bekerja sama dengan Pingkan Rumondor, S.Psi., M.Psi mengedukasi pasangan muda agar mengenali kepribadian masing-masing untuk mengetahui strategi yang tepat dalam menyelesaikan konflik pasangan yang mungkin terjadi.

Iya, Ma, peserta yang hadir ternyata para pasangan muda. Hmm jadi ingat masa muda deh, Ma.

Well, meskipun workshop tersebut memang sesi khusus untuk pasangan muda yang belum atau baru akan menikah, tetapi materi workshop ini berlaku untuk semua pasangan, baik yang masih baru menjalani hubungan maupun yang sudah lama. Konflik pasangan memang hal yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari--hari, tanpa mengenal lamanya hubungan yang sudah terjalin.

Dalam budaya timur kita, terkadang membicarakan konflik rumah tangga merupakan hal tabu. Konflik dianggap sebagai tanda mulai berakhirnya hubungan.

Hmmm, take a note, ternyata mengalami konflik pasangan bukan penyebab berakhirnya suatu hubungan tetapi perilaku menghindari konfliklah yang dapat mengakhiri suatu hubungan.

Tahukah, Ma? Ternyata konflik itu tidak selalu berarti negatif lho.

Apa sih konflik itu?

Pingkan Rumandor menjelaskan dengan bahasa sederhana.

"Konflik terjadi ketika ada dua pikiran atau perilaku yang berbeda yang tidak bisa diterima satu sama lain. Konflik adalah ketika aku ingin berbahagia, dan kebahagiaanku bertabrakan dengan kebahagiaan orang lain."

Konflik pasangan dapat terjadi karena adanya perbedaan atau disebabkan oleh adanya komunikasi yang tidak efektif di antara pasangan.


BACA JUGA


Bertengkar dengan Suami itu Wajar, Tapi Jangan Melakukan Hal-Hal Berikut Saat Marah!

Bertengkar dengan Suami itu Wajar, Tapi Jangan Melakukan Hal-Hal Berikut Saat Marah!

When a couple fights too much but they're not breaking up, they're really in love

Read more..


Namun demikian, konflik dapat menjadi suatu hal yang konstruktif apabila pasangan tahu bagaimana cara menyelesaikan konflik tersebut dengan cara yang tepat, dan dapat merefleksikan kembali konflik tersebut untuk meningkatkan kualitas dan kepuasan hubungan.

Berbeda halnya jika konflik pasangan tersebut dihindari tanpa adanya penyelesaian dengan cara yang tepat, maka akan menjadi konflik yang destruktif – yang dapat memperkeruh dan melemahkan hubungan pasangan.

Nah, salah satu strategi yang diperkenalkan dalam workshop tersebut adalah bagaimana para pasangan dapat menyelesaikan konflik yang terjadi dengan bersama-sama mengetahui dan mengenali kepribadian masing-masing dan pasangannya.

Metode yang digunakan adalah Lumina Sparks.

Lumina merupakan alat tes psikologi modern yang diadaptasi dari Inggris. Metode Lumina ini akan dapat membantu mengenal ciri kepribadian diri dan pasangan dan mendiskripsikan persamaan dan perbedaan masing-masing kepribadian.

Setelah itu pasangan dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan dari tiap kategori kepribadian. Para pasangan juga belajar bagaimana cara berkomunikasi yang efektif dan asertif, di mana komunikasi merupakan kunci untuk menyelesaikan konflik.


Strategi untuk menyelesaikan konflik pasangan berdasarkan tipe-tipe kepribadian



Berdasarkan Psychometric Lumina Park, ada 4 jenis kepribadian yang diwakili oleh 4 warna yang menyimpan 4 energi kepribadian, 8 aspek, dan 24 kualitas. 4 warna tersebut adalah merah, hijau, biru, dan kuning yang membentuk Lumina Mandala.

Dalam workshop ini, Pingkan memberi para peserta beberapa kartu yang mewakili 4 warna dimaksud. Mereka kemudian diminta memilih dari masing-masing kartu yang di dalamnya tertulis ciri-ciri kerpibadian sesuai pengelompokkan warna. Setelah memilih dan memisahkan mana kartu dan tulisan di dalamnya yang menggambarkan kepribadian masing-masing, kemudian peserta diminta memilih mana kartu yang paling cocok dengan kepribadiannya.

Dengan sendirinya para peserta kemudian terbagi dalam 4 kelompok warna. Si energy merah yang "outcome focused", si hijau yang "people focused", si biru yang "down to earth" dan si kuning yang "big picture thinking". Yang menarik ternyata setiap orang bisa memiliki ke 4 warna kepribadian tersebut tetapi akan ada kecenderungan yang lebih kuat pada salah satu warna.

Jadi Mama bisa saja si hijau yang "people focused", karena cenderung lebih banyak mendengarkan orang lain, tapi saat mengerjakan pekerjaan menjadi si biru yang sangat detail dan suka bekerja dengan mempertimbangkan fakta-fakta. Papa mungkin si merah yang sangat fokus pada target atau tujuan. Tapi pada satu kondisi Papa bisa menjadi si kuning yang sangat bergantung pada inspirasi untuk menggerakkan kinerjanya.


BACA JUGA


Mau Tahu Karakter Asli Mama dalam Mengasuh si Kecil? Coba Cari di Antara 12 Gaya Parenting Berdasarkan Zodiak Ini!

Mau Tahu Karakter Asli Mama dalam Mengasuh si Kecil? Coba Cari di Antara 12 Gaya Parenting Berdasarkan Zodiak Ini!

Memang sih di luar sana banyak sekali buku-buku parenting yang bisa menjadi referensi dan panduan kita mengasuh anak-anak. Mau yang praktis ...

Read more..


Untuk mengetahui warna yang paling menggambarkan kepribadian kita, kita bisa menemukannya dalam kondisi kita sedang "bebas" tanpa tekanan, atau tanpa tuntutan atau target-target tertentu. Namun, sekali lagi, kondisi kita tersebut bisa berubah warna, karena pengaruh kondisi di luar kita dan situasi yang dihadapi.

Tidak ada tipe kepribadian yang dianggap lebih baik dari yang lain. Setiap kepribadian memiliki sisi positif dan negatif. Kita harus bisa men-drive diri untuk lebih menguatkan sisi positifnya.

Dari 4 warna kepribadian tersebut ada 8 aspek dan 24 kualitas continum yang disebut sebagai karakteristik kepribadian. Jadi bukan tipe kepribadian, karena setiap orang adalah unik dan Lumina Spark ini membantu kita menemukan potret diri yang paling menggambarkan diri kita sesungguhnya.

Para peserta kemudian akan diberikan pertanyaan terkait dengan 8 aspek dan 24 kualitas kontinum. Untuk menemukan dan mengenali kepribadian masing-masing dan pasangannya. Mereka akan menemukan lebih banyak persamaan atau justru perbedaan? Bagaimana perbedaan kemudian bisa menjadi penyebab timbulnya konflik pasangan antar mereka. Mama juga bisa mempraktikkannya di rumah dengan Papa.

Setelah mengetahui pribadi masing-masing, para pasangan kemudian diajak mengungkapkan konflik atau permasalahan mereka dan mencoba menyelesaikannya dengan merumuskan sebuah action plan dengan model GROWS (Goal, Reality, Options, Will, Support).


Workshop Enriching Relationship Satisfaction: Through Conflict Resolution with Pingkan Rumondor - photo via IG @wecan_vibes


1. Articulate Your Goal

Tentukan sebuah tujuan bersama. Misalnya bulan madu kedua atau memiliki anak kedua?

Mama dan Papa bisa sesuaikan dengan kondisi Mama dan Papa. Hmmm ... bagaimana kalau kita contohkan tujuan yang ingin Mama dan Papa capai adalah hadirnya adik untuk si sulung yang sudah mulai tumbuh besar.


2. Reality: What are the facts

Pada tahapan ini kemudian Mama dan Papa mengumpulkan fakta-fakta yang ada. Misalnya usia Mama yang sudah memasuki 30 lebih, karier Mama yang sedang menanjak, Papa yang sedang harus menghadapi project besar, Mama dan Papa yang mulai jarang menghabiskan waktu bersama, sang kakak sering dtinggal di rumah hanya dengan pengasuh, dan tampaknya mulai butuh teman bermain dan seterusnya.


3. Options: Write down all your ideas

Tuliskan semua ide yang mungkin dipilih untuk menjadi solusi dari beragam fakta yang telah Mama dan Papa kumpulkan sebelumnya.

Mama fokus untuk 2 atau 3 tahun ke depan dan setelah pada posisi yang lebih settle, baru memikirkan rencana menambah momongan. Papa fokus pada proyek penting, dan setelah selesai, luangkan waktu untuk Mama dan sang Kakak. Atau, bagaimana kalau Mama dan Papa mengambil cuti panjang, misalnya. Tentu saja dengan mengajak Kakak.


4. Will: what will you do? What action will you take?

Pada tahapan ini Mama dan Papa harus memilih dari sekian banyak ide untuk menjadi sebuah "aksi". Suatu keputusan yang disepakati bersama secara sadar untuk mencapai tujuan.

Ambil contoh, Mama dan Papa memilih untuk segera mengambil cuti panjang untuk second honeymoon.


5. Support: Who can you enroll to help you?

Tentu untuk mewujudkan rencana ini, Mama dan Papa pasti membutuhkan sokongan dari pihak lain. Selain sang kakak yang tentu saja harus tahu rencana Mama dan Papa dan dilibatkan sejak awal, Mama dan Papa bisa jadi membutuhkan support dari keluarga. Oma dan Opa si kakak mungkin? Atau, bos dan atasan di kantor. Setidaknya mereka tidak akan menjadi penghalang atau kendala terwujudnya tujuan Mama dan Papa.


BACA JUGA


Bertengkar Dengan Suami? Amit-Amit Deh! Begini Cara Efektif Bagi Mama Untuk Menghindarinya!

Bertengkar Dengan Suami? Amit-Amit Deh! Begini Cara Efektif Bagi Mama Untuk Menghindarinya!

Bertengkar dengan suami adalah hal yang nggak menyenangkan. Mood pun jadi hilang, pekerjaan terbengkalai merupakan sedikit dari efek ...

Read more..


Tampaknya model penyelesaian ini menunjukkan bagaimana pentingnya komunikasi. Pentingnya saling mendukung secara emosional pada kebutuhan, masalah, dan fakta-fakta yang dihadapi pasangannya.

Hubungan yang berbahagia, termasuk hubungan perkawinan, tidak datang begitu saja. Butuh pengetahuan dan usaha dari masing-masing suami istri. Mengenali dan mengetahui karakter masing-masing dan usaha untuk mewujudkan keharmonisan merupakan syarat terwujudnya kebahagian berumah tangga.


Bagaimana dengan Perbedaan?


Workshop Enriching Relationship Satisfaction: Through Conflict Resolution with Pingkan Rumondor - photo via IG @ophiziadah

Perbedaan merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Bahkan pasangan yang memiliki kecenderungan warna kepribadian yang sama sekalipun tidak berarti tidak akan menghadapi konflik pasangan ini. Sekali lagi karena setiap pribadi adalah unik dan memiliki spektrum masing-masing yang khas.

Sebaliknya, perbedaan warna kepribadian juga tidak berarti menjadi penyebab konflik pasangan.

Konflik pasangan sering timbul karena terkadang kita tidak mampu memahami atau salah mengerti maksud pasangan kita. Hal ini bisa terjadi karena cara kita berkomunikasi, jumlah komunikasi yang terlalu banyak atau terlalu sedikit, atau bahkan tidak ada komunikasi sama sekali.

Kesalahpahaman juga banyak terjadi karena masing-masing membuat asumsi. Mama dan Papa berusaha dimengerti tapi tidak berusaha untuk mengerti satu sama lain.

Lalu bagaimana? Mama dan Papa perlu memikirkan cara yang tepat untuk mengatasi perbedaan. Salah satu strategi yang bisa Mama dan Papa coba adalah LOVE, yaitu listen and repeat, observasi, value your partner dan evaluasi kepentingan atau tujuan.


BACA JUGA


Suami Istri Sama-Sama Anak Bontot, Keras Kepala, dan Baru Saja Jadi Pasutri? Ini Tipsnya Biar Nggak Berantem Terus!

Suami Istri Sama-Sama Anak Bontot, Keras Kepala, dan Baru Saja Jadi Pasutri? Ini Tipsnya Biar Nggak Berantem Terus!

Menjadi newlywed alias pasangan suami istri baru memang excited sekali ya, Ma. Ada banyak sekali hal baru yang harus ditolerir, mulai dari ...

Read more..


Mama dan Papa harus benar-benar memahami permasalahan yang Mama dan Papa alami. Jangan lupa untuk mengidentifikasi posisi pasangan dan melakukan identifikasi tujuan atau kepentingan di balik posisi masing-masing sehingga saat mencari solusi diharapkan bisa memenuhi kepentingan kedua pasangan.

Satu lagi yang juga sangat penting, Ma. Saat sedang berhadapan dengan konflik pasangan dan berusaha mengatasinya, selalulah fokus pada topik permasalahan. Jangan melebar ke mana-mana.

Terakhir, selalu siap untuk saling memaafkan.

Well, jadi gimana Ma? Mau mencoba mempraktikkan cara mengatasi konflik pasangan di atas di rumah dengan Papa? Semoga konflik Mama dan Papa bisa selesai dengan damai dan mendapat solusi terbaik ya.

Semangat, Ma!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bagaimana Mengatasi Konflik Pasangan Sesuai dengan Kepribadian? - Workshop bersama Pingkan Rumondor". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ophi Ziadah | @OphiZiadah

Mom of Trio Alinga, Zaha, and Paksi. Legislative drafter who loves blogging. Visit her personal blog at www.ophiziadah.com www.marlekum.net

Silahkan login untuk memberi komentar