Bangga Menjadi Guru: 7 Tahun Menjadi Guru Les, Ini Dia Suka Duka yang Saya Alami!

Bangga Menjadi Guru: 7 Tahun Menjadi Guru Les, Ini Dia Suka Duka yang Saya Alami!

785
Saya bangga menjadi guru les, meski hanya dipandang sebelah mata!

Mama, tahu kan kalau hari ini, 25 November, diperingati sebagai Hari Guru Nasional?

Sejarah Hari Guru Nasional dimulai pada kongres yang diadakan oleh para guru pada tanggal 24-25 November 1945, Ma. Kongres tersebut bertujuan untuk mendukung kemerdekaan Indonesia di kota Surakarta, dan menjadi tempat berkumpulnya para guru yang berjuang mempertahankan pendidikan Indonesia di tengah penjajahan.

Mereka semua yang tergabung di kongres itu adalah guru yang masih aktif mengajar, pensiunan pejuang, pegawai pendidikan, dan lainnya. Awalnya, organisasi yang menaungi para guru tersebut bernama Persatuan Guru Indonesia (PGI), yang kemudian berubah menjadi PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia).

Momen tersebutlah yang menjadi dasar penetapan tanggal 25 November 2017 sebagai Hari Guru Nasional, kendati penetapan secara resmi baru dikeluarkan pada tahun 1994, melalui dikeluarkannya Keppres Nomor 78 Tahun 1994.

Adakah Mama yang menjadi seorang guru?

Well, saya adalah seorang guru, dan sudah saya jalani sejak tujuh tahun yang lalu, Ma. Tepatnya saya adalah seorang guru les.

Yes, 7 tahun sudah saya menemani anak-anak belajar. Kok betah ya? Hahaha. Mama pasti bertanya-tanya demikian kan? Baiklah, kebetulan saya juga pengin cerita nih, suka duka menjadi seorang guru--terutama seorang guru les. Agar Mama pun bisa memahami, bagaimana berinteraksi dengan seorang guru les ya?

Kalau sama-sama saling memahami kan enak, betul? Kebetulan kan saya juga seorang mama, jadi saya sih kurang lebih sudah paham bagaimana perasaan seorang mama pada guru les anak-anaknya.

Sekarang, giliran saya cerita dari sisi seorang guru les.


BACA JUGA


Pendidikan di Sekolah Bukan Hanya Tanggung Jawab Guru - Yuk, Bantu Proses Belajar Si Kecil dengan 5 Hal Berikut Ini!

Pendidikan di Sekolah Bukan Hanya Tanggung Jawab Guru - Yuk, Bantu Proses Belajar Si Kecil dengan 5 Hal Berikut Ini!

Pendidikannya di sekolah nggak cuma menjadi tanggung jawab guru. Justru kitalah yang harus tetap bertanggung jawab penuh pada proses ...

Read more..


Beberapa fakta tentang menjadi guru les


1. Dipandang sebelah mata

Guru les, seperti yang saya jalani ini, biasanya menjadi profesi sambilan para mahasiswa. Maka, saat saya dulu pertama kalinya menjalani profesi ini, saya pun diremehkan.

Ya, kata mereka, "Sarjana kok cuma jadi guru les."

Namun, mendengar ucapan tersebut, saya santai saja. Saya pikir, mereka nggak tahu saja apa enaknya jadi guru les. Hehehe. Bahkan, di lembaga saya bekerja, tidak hanya sarjana, banyak juga lulusan S2 yang bekerja sebagai guru les.


2. Sulitnya menyesuaikan dengan kurikulum sekolah

Saat ini ada tiga jenis kurikulum sekolah yang berlaku, yaitu kurikulum KTSP, kurikulum nasional dan kurikulum 2013.

Masalahnya, setiap sekolah bebas memilih kurikulum yang digunakan. Jadi, bisa saja dalam satu kelas saya memiliki murid-murid dengan berbagai kurikulum yang berbeda.

Tentu saja, ini menjadi tantangan tersendiri saat menyampaikan materi di kelas ya, Ma. Nggak mudah lo bisa memfasilitasi semua perbedaan yang ada.



3. Menjadi tukang "reparasi" siswa

Guru les kerap dianggap seolah sebagai tukang reparasi siswa. Kami harus bisa memperbaiki prestasi belajar siswa, karena di sekolah mereka ketinggalan.

Karena di sekolah prestasi belajar anak nggak maksimal, maka dianggap dengan ikutan les, mereka pun bisa mengejar ketertinggalan mereka. Maunya sih, dengan les, terus tahu-tahu prestasi di sekolah pun bisa melejit.

Padahal ya, nggak semudah itu, Ma.

Apalagi kalau sudah mendekati SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Les menjadi jalan utama untuk membantu belajar siswa.

Guru les menjadi ujung tombak dalam mengantarkan siswa masuk ke dalam PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Anak gagal, guru les pun dianggap gagal.


4. Dituntut menjadi tukang sulap

Bener tuh, Ma. Guru les memang sering dituntut menjadi tukang sulap. Artinya, dalam waktu terbatas harus bisa membuat siswa memahami materi.

Lagi-lagi, tantangan ini terjadi bila menjelang pelaksanaan SBMPTN, yang masa persiapannya berlangsung kurang lebih (hanya) 3 bulan.

Dalam waktu terbatas, guru les harus bisa menjamin bahwa siswa yang dibimbingnya mampu menembus PTN.

Nah, tantangan tersebut menjadi lebih sulit saat harus membimbing siswa yang pindah jurusan. Misalnya nih, ada anak yang di sekolah mengambil jurusan IPA, lalu tiba-tiba saat kuliah ingin mengambil jurusan IPS. Guru les dituntut bisa membuat siswa yang 3 tahun belajar IPA, bisa paham IPS hanya dalam waktu 3 bulan.

Nah, seperti tukang sulap kan? Hahaha.


BACA JUGA


Memilih Guru Les Privat Memang Tak Mudah - Berikut 6 Pertimbangan yang Bisa Bantu Mama Mencari yang Cocok untuk Si Kecil!

Memilih Guru Les Privat Memang Tak Mudah - Berikut 6 Pertimbangan yang Bisa Bantu Mama Mencari yang Cocok untuk Si Kecil!

Memilih guru les privat itu juga menjadi persoalan tersendiri. Kadang juga nggak bisa sekali langsung dapat yang cocok dan sesuai dengan ...

Read more..


Well, itu tadi sepenggal kisah yang bisa saya bagi kepada Mama, tentang profesi yang saya jalani selama ini, yaitu menjadi seorang guru les.

Meski demikian, saya bangga menjalani profesi ini, menjadi bagian dari para guru.

Yah, selamat Hari Guru Nasional, bagi semua guru, termasuk Mama yang telah menjadi guru kehidupan si kecil sejak ia bahkan masih dalam kandungan.

Guru les, guru sekolah, dan guru kehidupan, mari jalankan tugas sebaik mungkin! Demi anak-anak kita.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bangga Menjadi Guru: 7 Tahun Menjadi Guru Les, Ini Dia Suka Duka yang Saya Alami!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


dee kusumawardani | @deekusumawardani

Saya adalah seorang ibu dua anak yang menjadi pengajar di BKB Nurul Fikri. Aktif di AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Jawa Timur dan Institut Ibu Profesional Surabaya. Memiliki hobi menulis dan telah memiliki karya buku antologi yang berjudul "Jiba

Silahkan login untuk memberi komentar