Begini Seharusnya Cara Seorang Rocking Mama Mengatur Keuangan Rumah Tangga. Yay for Financial Freedom!

Begini Seharusnya Cara Seorang Rocking Mama Mengatur Keuangan Rumah Tangga. Yay for Financial Freedom!

1.3K
"Don't give up on your dreams of Financial Freedom. First, change your attitude, next take action." ~ Kim Kyosaki

Yang namanya ‘haree genee’, apa-apa itu terasa mahal, sekaligus terlihat begitu menarik untuk dimiliki. Hihihi.

Ya begitulah, di zaman yang modern ini, cobaan hidup menjadi lebih berat. Budaya konsumtif melanda, membuat kita sering lapar mata, dan memaksa berakhir di meja kasir sebuah mall yang menawarkan ‘Branded sale up to 70%’. Tidak mengapa, kalaupun ternyata uangnya kurang, masih ada limit di beberapa credit card kok. Yah, paling tinggal pusing mikirin kenapa cicilannya nggak beres-beres saja nanti? Hahaha.

Tidak hanya menyoal kebiasaan konsumtif, yuk, kita bahas juga permasalah keuangan bulanan. Apakah pemasukan rumah tangga Mama mampu menutupi semua biaya? Atau terkadang kurang, sehingga harus mengandalkan pinjaman? Bukannya Papa (juga Mama, jika ikut bekerja untuk menambah uang bulanan) tidak berikhtiar maksimal sehingga rasanya kok defisit melulu, tapi memang tidak bisa dipungkiri, bahwa ada sesuatu yang salah!

Nah, di sini, kita harus bisa bersikap objektif dan legowo ya, Ma. Berusahalah untuk tidak selalu menyalahkan keadaan atas ‘kebobolan’ keuangan kita. Jadi bukan si ‘sale up to 70%’ itu yang jadi kambing hitam, atau bahkan inflasi yang membuat biaya-biaya makin tinggi (walaupun kedua hal tersebut memang bikin gregetan!), tapi pola pikir dan sikaplah yang paling bertanggung jawab atas semua permasalah keuangan kita.

Setuju kan? *males-malesan ngangguk*

Well then, let’s change! Redirect our point of view and behavior in financial matter. Bagaimana caranya supaya Mama bisa lebih mandiri dalam hal keuangan ini? Ini beberapa tipsnya!


1. Niat dengan sungguh-sungguh!


Kesannya klise, ya Ma? Tapi sebagian besar orang memang ‘hanya’ berharap dan berdoa agar keuangannya membaik tanpa ada aksi. Buktinya, banyak mahasiswa yang skripsinya tidak maju-maju, atau penulis buku yang nggak kelar-kelar, karena terus-terusan berada di ‘bab niat’. Hehehe *ketawa miris*

Jadi kali ini, pergilah ke depan kaca, dan mulai mendoktrinasi diri sendiri dengan afirmasi positif, “Saya ingin memiliki kelapangan finansial!”, dengan hati yang teguh. “Dan saya akan mendapatkannya melalui usaha yang sungguh-sungguh!”.

There you go, satu tahap telah dilalui :)


Baca juga: Pengin Menjadi Perempuan yang Kuat? Mulailah dengan Menghargai Diri Sendiri dalam 7 Langkah Ini!


2. Berkonsultasi keuangan


Saat ini, jasa konsultan keuangan sudah bertaburan di seluruh pelosok negeri.

Nah, jangan mengira bahwa perusahaan-perusahaan besar saja yang bisa menyewa mereka ya, Ma. Keuangan rumah tangga juga bisa saja meminta bantuan dan saran dari konsultan-konsultan tersebut.

Kalau masih merasa enggan ‘curhat’ soal uang secara tatap muka, Mama bisa berkonsulatsi dari rumah kok. Caranya dengan ‘mantengin' radio-radio tertentu yang menayangkan acara konsultasi keuangan. Lumayan banyak loh, Ma, pengetahuan yang bisa kita dapati dari para ahli itu. Dan tidak hanya mendengarkan permasalahan orang lain, Mama juga bisa menelepon dan menceritakan persoalan Mama. Dijamin nggak akan malu atau sungkan, dan kisah Mama juga tentunya akan bermanfaat bagi pendengar lainnya.

Salah satu ilmu yang pernah saya dapatkan dari teman yang seorang manager investasi, adalah bahwa kita harus mengalokasikan dana secara proporsional. Menurut beliau, idealnya dalam 100% pemasukan adalah 30% untuk cicilan utang, 50% untuk hidup (dan gaya hidup), 10% untuk tabungan/investasi, dan sisa 10%-nya adalah untuk biaya tidak terduga. Jadi, apa pun itu jenis utangnya (apalagi yang besar, seperti kredit rumah dan kendaraan), biaya cicilnya tidak boleh melebihi sepertiga pemasukan bulanan.

Hmmm ... *ambil kalkulator*

Begitupun dengan hidup dan biaya hidup. Pengeluaran dasar seperti makan, pulsa, dan transportasi, serta yang sekunder macam pelesiran dan gadget anyar, harus berada dalam jangkauan setengah pendapatan bulanan. Jangan lupakan tabungan atau investasi ya, Ma, karena tentu saja kita harus mempersiapkan keuangan untuk masa depan, dengan menyisihkan setidaknya 10% dari income. Demikian juga dengan dana darurat, buat jaga-jaga, kalau-kalau ada sesuatu di luar dugaan terjadi, sehingga kita tidak perlu menadahkan tangan atau berutang pada orang.


Baca juga: 6 Kesalahan Keuangan Berikut Ini Sering Dilakukan oleh Mama Demi Keluarga. Apa Saja?


3. Well planning on expenses


Selanjutnya, buatlah perencanaan keuangan yang lebih mantap dalam hal pengeluaran. Ambil beberapa amplop cokelat berukuran sedang, lalu anggaplah mereka sebagai pos-pos pengeluaran. Tulisi masing-masing amplop dengan judul-judul biaya bulanan, seperti ‘Uang Sekolah dan Les’, ‘Gaji si Mbak’, ‘Uang Saku Anak-anak’, ‘Uang Transportasi’, ‘Belanja Bulanan’, ‘Uang Jalan dan Lain-lain’, sampai ‘Dana Cadangan’.

Be firm about all that, alias bersikaplah tegas terhadapnya. Jangan ditukar-tukar atau ditambal sulam. Apalagi kalau amplop ‘Uang Jalan dan Lain-lain’ sudah kosong, jangan sampai tergoda untuk me-refill dari amplop ‘Dana Cadangan’ ya, Ma! Biarkan si amplop terakhir itu tetap apa adanya, karena hanya dipakai untuk keadaan darurat.

Dan percayalah, sale itu bukan darurat, ia akan datang lagi di bulan-bulan berikutnya dengan barang-barang yang lebih lucu lagi. Hahaha.


Baca juga: Mau Buka Rekening Baru di Bank? Pastikan Mama Tahu 6 Hal Berikut Ini Lebih Dahulu!


4. Bedakan kebutuhan dengan keinginan


I know this will be a hard thing to do. Siapa yang kuasa untuk membedakan, apakah sebuah tas bermerek terkenal yang sedang diskon itu adalah sebuah kebutuhan atau keinginan semata? Namanya tas (branded pula!), pasti butuh!

Ya, tapi butuhnya kapan? Kalau masih menjawab (dengan jujur ya!) ‘kapan-kapan’, then it’s definitely not a necessity. Simpan kembali uangnya dalam dompet, Mama! Percaya deh, diskonnya juga akan ada lagi. Kapan-kapan!

Point ini maksudnya adalah supaya Mama membuat daftar prioritas yang jelas, apa yang benar-benar perlu dan apa yang hanya demi pemuas keinginan. Bedanya jauh, loh! Jangan mau terjebak pada situasi yang rumit, seperti pusat-pusat perbelanjaan, juga teman-teman yang berperilaku konsumtif. Segeralah berteguh hati dan melarikan diri. Dan semakin berlatih, semakin dekat pula Mama pada tujuan ‘kebebasan finansial’. Semangat!


Baca juga: Miliki 7 Item Fashion Berikut Ini Untuk Penampilan yang Menarik, Seksi, Sekaligus Smart. Fashionable!


5. Maksimalkan potensi diri


Setelah melalui serangkaian ‘ujian’, eh, tahapan, di atas, ada satu tips lagi bagi Mama untuk mencapai kemerdekaan keuangan, yaiu dengan memaksimalkan kemampuan diri untuk mendapatkan tambahan rupiah.

Untuk wanita karier yang bekerja kantoran, misalnya, dengan membuat daftar prestasi yang sudah dicapai, dan tambahkan itu dalam Curriculum Vitae. Rajinlah bersilaturahmi dengan situs-situs pencari kerja, dan tunggulah telepon dari para head hunter, yang akan menyambungkan Mama pada karier dan pekerjaan yang lebih menantang dan bergaji tinggi. Jangan takut untuk pindah kerja ya, Ma, yakinlah bahwa Mama mampu dan layak. Yes, you are worth it!

Bagi Mama yang ingin menambah uang saku dari rumah, juga bisa mengintip peluang-peluang yang bertaburan di internet, kok. Cari yang sesuai dengan bakat Mama, ya. Juga dengan skill yang Mama dapat di tempat-tempat kursus memasak, menjahit, menulis, dan sebagainya. Have faith in yourself, karena biasanya Mama yang belum punya pengalaman kerja itu suka nggak pede kalau harus menunjukkan kemampuannya. Yakin aja deh Ma, bahwa Mama juga bisa berekspresi dan menghasilkan tambahan uang melalui tangan Mama!


Baca juga: Mama Back to Work? Malu? Takut? Don't be! 3 Tips Berikut ini Bisa Jadi Bekal Mama!


Jadi bisa yes, Ma, menjadi wanita yang punya kebebasan finansial? Yang mampu membantu Papa dalam hal pemasukan bulanan, maupun sekadar menambah uang saku untuk sendiri? Bisa yes, menjadi Mama panutan yang teguh pendirian dan tidak mudah tergiur serta konsumtif, karena punya prinsip dan prioritas? Bisa yes, jadi Rocking Mama yang mampu berkarya, menghasilkan sesuatu yang menjadi kebaikan dan manfaat bagi keluarga dan sesama?

Bisaaa! *ayo, tunjuk tangan dengan bangga!*


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Begini Seharusnya Cara Seorang Rocking Mama Mengatur Keuangan Rumah Tangga. Yay for Financial Freedom!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


PutuAyu Winayasari | @ayuwinayasari

A whole-hearted writer. A caring teacher. A Rocking Mama. A loving wife-daughter. Visit me at bilikayuwinayasari@blogspot.co.id. Reach me at raynorkayla@gmail.com. Or just come by to LIA-Bandung to have some bakso with me :)

Silahkan login untuk memberi komentar