Saat si Pra-Remaja Membuka Mata Kita dengan Pendapatnya Mengenai LGBT

Saat si Pra-Remaja Membuka Mata Kita dengan Pendapatnya Mengenai LGBT

3.8K
"Kak, bagaimana pendapatmu tentang LGBT?" Ini topik serius yang membuat saya gelisah. Nggak mungkin nggak dibahas karena anakku pasti melihat sendiri fakta di depan matanya. Berani nggak ya saya nanya pendapat anak pra-remaja ini?

Saya datang dari keluarga yang religius dan berpendidikan. Kami cenderung sangat konservatif dalam lingkungan keluarga sendiri. Tetapi kami berteman dengan berbagai orang dari latar belakang yang berbeda-beda.

Berminggu-minggu saya gelisah. Ada sebuah topik yang ingin sekali saya bahas dengan anak-anak. Topik ini untuk saya termasuk topik sensitif, sekelas dengan seks, murtad dan pornografi. Topik ini belakangan juga menjadi hangat mulai dari larangan masuk kampus, sweeping, hingga berita artis. Saya takut sekali membahas topik ini. Takut salah ngomong. Takut salah hati. Tapi kalau tidak dengan saya, saya yakin anak pra-remaja saya akan membahas topik ini dengan orang lain! Jadi lebih baik saya memberanikan diri untuk berdiskusi dengan anak pra-remaja ini dengan terbuka.

Topik ini adalah topik tentang LGBT. Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender.

Minggu lalu saya memberanikan diri bertanya pada anak kami yang nomor dua. Si Kakak – begitu kami memanggilnya di rumah – berusia 11 tahun. Ia adalah anak perempuan kelas 6 SD yang suka girlband Fifth Harmony, sedang berlatih jadi pemeran utama dalam pentas drama sekolah, dan lebih suka pelajaran Bahasa Indonesia dibandingkan pelajaran IPA.

“Kak, bagaimana pendapatmu tentang LGBT?”

Kakak menoleh pada saya dan terdiam. Lalu sambil memelintir rambutnya, ia menjawab dengan sangat hati-hati.

“Aku nggak nyaman dengan topik ini. Aku khawatir kalau aku berpendapat tentang topik ini, orang yang tidak setuju dengan pendapatku akan menghakimi pendapatku.”

Lalu Kakak melanjutkan. “Mereka itu kan manusia juga. I think it’s not fair if they cannot go to school. Kita nggak boleh jahat sama mereka.”

Saya berusaha keras untuk tidak memotong omongan Kakak.

“Tapi ... bukan berarti aku support lifestyle mereka. Karena aku diajarinnya, di agama itu tidak boleh.”

Penutupnya cukup mencengangkan. Kakak meminta saya menonton sebuah video di Buzzfeed berikut ini.



Hari ini Mamah belajar tentang hati yang lembut dan penuh perhatian pada sesama. Betul, Kak. Meski tidak mendukung cara hidup mereka, tetapi kita tetap bisa berhati lembut. Perilaku yang bisa kita lakukan pada semua orang yang berbeda dengan kita. Berbeda ras, berbeda agama atau berbeda orientasi seksual.

Terima kasih, Kakak.


***


Ditulis oleh

Ligwina Hananto, founder dan CEO QM Financial, adalah ibu dari 3 orang anak.

Anda bisa membaca tulisannya di www.moola.id dan www.qmfinancial.com.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saat si Pra-Remaja Membuka Mata Kita dengan Pendapatnya Mengenai LGBT". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ligwina Hananto | @ligwina

Writing about Personal Finance is her game.

Silahkan login untuk memberi komentar