Lakukan 6 Cara Jitu Ini Agar Anak Mama Suka Membaca Buku!

Lakukan 6 Cara Jitu Ini Agar Anak Mama Suka Membaca Buku!

1.1K
We lose ourselves in books, we find ourselves there too ~ a quote

“Terus, cara nulisnya gimana, Pekak?”
“Ya gitu, kayak nulis di buku, tapi namanya bukan buku. Namanya batu tulis.”
“Kok nulis di batu? Pakai pensil apa pulpen?”
“Pake batu juga, namanya ‘grip’. Habis nulis, nanti dihapus lagi.”
“Ha? Kalau buku tulisnya gitu, buku ceritanya gimana, Pekak?”

Percakapan siang itu jelas bikin otak Kayla, si penanya yang berusia hampir 9 tahun, itu mblunder. Sang Pekak (kakek dalam bahasa Bali) bercerita betapa bangganya beliau dapat hadiah ‘batu tulis’ dan ‘grip’ dari gurunya, saat menjuarai kelas berpuluh tahun lalu.

Kelihatan sekali kalau gadis cilik itu tidak bisa menerima konsep ‘alat tulis’ semacam itu; lempengan batu datar berwarna hitam sebagai buku, dan sebatang batu putih sebagai pena. Pasti imajinasinya segera kabur, membayangkan bagaimana wujudnya buku-buku yang dicetak. Tentu tidak ada bagus-bagusnya! Soalnya ia penggemar novel, komik, dan buku-buku cerita lainnya. Bagaimana jadinya kalau ia hidup sekitar 70 tahun silam?

Berarti, betapa beruntungnya kita saat ini, ya Ma? Di mana alat tulis dan buku-buku sudah dibentuk, dicetak sedemikian rupa sehingga menarik perhatian, bahkan sebelum memakai atau membacanya. Apalagi bagi anak-anak. Cover buku yang beraneka warna, dengan ilustrasi yang mencuri-curi perhatian.. Ah, lucu!

Etapi, anak-anak Mama suka membaca seperti Kayla kah? Anak itu sudah bisa membaca sejak berumur 2,5 tahun loh. Mau tahu tipsnya? Ini dia!


1. Koleksi (dan baca) banyak buku


Hal pertama yang patut dilakukan, semestinya adalah mempunyai beberapa buku. Apalagi buku-buku dengan gambar depan yang menarik. Simpan semua dalam satu rak khusus, yang terlihat oleh anak-anak. Sekali dua kali waktu, terutama saat mereka masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu buku, membacalah di sampingnya. Biarkan mereka ikut menggapai-gapai apa yang asyik dipegang oleh mamanya, dan ikut membuka lembaran-lembarannya. Kalau sudah begitu, congratulation, anak Mama sudah kenalan sama buku. Yay!


Baca juga: Pengin Punya Perpustakaan Pribadi Sendiri di Rumah? Hanya Perlu 1 Pojok dan 4 Langkah Mudah Ini!


2. Nina-bobokan dengan cerita


Setelah mengoleksi buku dan membacanya untuk diri sendiri di depan anak-anak (lah, iya kitanya juga harus seneng baca, ya Ma!), hal kedua adalah menyediakan waktu barang sepuluh hingga lima belas menit setiap malam sambil menina-bobokan mereka. Jadi, usahakan sebelum tidur, Mama dan anak-anak itu kumpul dalam satu selimut sambil memandang ke satu buku. Pilih cerita yang kira-kira terjangkau oleh kemampuan berpikir mereka semua, dan yang disetujui bersama (adiknya bisa mengikuti, dan kakaknya tidak akan bosan).

Soal dongeng pengantar tidur ini, selain untuk meningkatkan minat membaca, banyak sekali manfaat lainnya loh, Ma. Soalnya, konon katanya, membacakan cerita pada anak-anak itu sama efektifnya dengan beberapa hari belajar membaca di sekolah. Terbukti kok sama saya dan anak-anak, Ma! Di samping itu, bonding antara ibu dan buah hatinya juga akan semakin erat. Jadi, biarkan cerita-cerita asyik Mama mengantarkan mereka tidur dengan penuh imaji, ya!


Baca juga: Si Baby Belum Teratur Tidurnya? Yuk, Kita Coba Latih dengan Beberapa Metode Sleep Training Berikut, Ma!


3. Perlihatkan banyak gambar


A picture speaks a thousand words. Begitu bukan, Ma? Oleh karena itu, untuk membangkitkan rasa ingin tahu anak-anak pada huruf-huruf, perlihatkan dulu pada mereka buku-buku bergambar. Sebisa mungkin, pilihkan yang colorful yaa, soalnya bagi mereka, buku hitam putih itu amat sangat tidak menarik!

Biarkan pelajar-pelajar cilik itu melihat, memandangi, mengingat-ingat berbagai macam ilustrasi. Yang demikian ini juga berguna untuk memperkaya kosa katanya, loh Ma! Jadi nggak apa-apa, kalau cuma Mama yang sibuk nerocos sendiri, “Nah, ini gunung. Tinggi ya! Kalau ini namanya Mikimos. Lucu, telinganya lebar. Ini ... dan ini...”, sementara si kecil hanya bisa memandangi Mama, atau manggut-manggut, atau bahkan memukul-mukul bukunya. Diam-diam, otaknya merekam semua penjelasan Mama, kok.


4. Rangsang dengan banyak suku kata


Kalau kita dulu diajarkan membaca dengan huruf per huruf, anak-anak zaman sekarang belajarnya dengan suku kata loh, Ma!

Saya ingat, Raynor, adiknya Kayla pernah menjawab “PeA” saat ditanya “P sama A jadinya ...?”. Hahaha! Lagi-lagi untungnya, saat ini banyak beredar buku-buku mungil yang semua halamannya berisi hanya suku kata. Berwarna-warni pula. Jadi tanpa susah payah harus menuliskannya, Mama bisa dengan mudah membuka halaman demi halamannya sambil membaca, “Pa.. Ma.. Bi.. Bu.. ”, dan seterusnya. Jangan lupa minta anak-anak untuk mengulangi kata-kata Mama ya! Oh iya, walaupun kadang anak-anak itu ogah-ogahan mengikutinya, biarkan saja. Lama-lama mereka hafal kok huruf-hurufnya. Sabar ya, Ma!


5. Lanjut ke buku cerita


Kalau sudah mulai mengerti suku kata, Mama bisa melanjutkan perkenalan anak-anak kepada buku-buku yang bercerita. Jangan lupa, mulai dari yang sederhana, ya Ma. Awali dengan buku cerita yang lebih banyak gambarnya, dan berisi satu atau dua kalimat saja per halamannya. Biasanya, buku-buku dengan karakter kartun yang sudah dikenal luas lebih disukai ketimbang tokoh yang belum pernah dilihat. Mereka akan merasa lebih ‘nyambung’ dan mungkin saja berteriak girang, “Ooh, ini si Puh!”. Nah, kalau sudah begitu, Mama bisa lebih mudah mengajaknya mulai membaca. “Iya, ini Puh. Yuk kita baca, dia lagi apa ya?”.

Setelah buku-buku dengan sedikit kalimat, perlahan tapi pasti Mama bisa memberikannya buku-buku cerita yang lebih kompleks lagi, baik dari segi cerita maupun ilustrasinya. Oh iya, selain bertokoh kartun luar negeri, buku cerita dengan karakter lokal juga banyak loh, Ma! Coba deh, hunting di bagian cerita rakyat, Mama pasti ketemu lagi dengan si Kancil yang cerdik, Merak yang sombong, hingga yang bernuansa sejarah seperti Rara Jonggrang dan Bandung Bondowoso dengan perahu terbaliknya itu. Eksplorasi semua cerita untuk memperkaya pengetahuan anak-anak, ya Ma!


Baca juga: Yuk, Ajak Anak-anak Langsung Belajar di Lokasi dengan Mengunjungi Empat Cagar Budaya di Jawa Tengah Ini!


6. Mind your intonation!


Nah, ini nggak kalah penting dari semua buku bergambar, Ma. Menurut saya pribadi sih, intonasi itu berperan setidaknya 70% pada minat anak untuk menyukai sebuah buku cerita. Coba bayangkan, apa jadinya jika Mama membacakan cerita dengan nada suara datar seperti para news anchor ‘Dunia dalam Berita’ (eh, Mama masih ingat acara berita yang satu itu kan ya?)? Pasti anak-anak akan terkantuk-kantuk dalam kebosanan saat mendengarnya, bukan?

Nah, kalau begitu, bangkitkan daya khayal mereka dengan suara Mama yang lembut saat membaca bagian putri yang cantik, berganti dengan suara macho saat menjadi pangeran, lalu menggelegarlah saat sang naga bersuara. Roaaar!

Dengan demikian, mereka akan mendengarkan dengan tenang ketika jalan cerita sedang datar, dan ikut menjadi tegang ketika kisahnya makin mendebarkan. Seru ya? Sesekali, coba tanyakan pada mereka bagaimana akhir cerita sebuah buku sebelum habis membacanya, supaya mereka ikut memainkan khayalannya. Atau, review bukunya setelah membaca, untuk meyakinkan bahwa mereka mengerti kisahnya, dan terlebih lagi pesan moralnya.


Baca juga: Ini Dia 13 Buku Anak Terasyik Sepanjang Masa versi Rocking Mama!


Bagaimana, Ma? Mudah saja bukan, langkah-langkahnya? Semoga, kalau Mama sudah mempraktikkan semuanya, anak-anak akan segera bertanya, “Ma, kalau ini huruf apa?”, atau, “Kalau begini bacanya gimana?”, atau, “Ayo Ma, beli buku baru lagi buat dibaca!”, dan lain sebagainya yang menandakan kesuksesan Mama atas perjuangannya mengenalkan buku pada mereka.

Hore!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Lakukan 6 Cara Jitu Ini Agar Anak Mama Suka Membaca Buku!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


PutuAyu Winayasari | @ayuwinayasari

A whole-hearted writer. A caring teacher. A Rocking Mama. A loving wife-daughter. Visit me at bilikayuwinayasari@blogspot.co.id. Reach me at raynorkayla@gmail.com. Or just come by to LIA-Bandung to have some bakso with me :)

Silahkan login untuk memberi komentar