Ini Dia 3 Tanda-Tanda Pasti Bahwa Sudah Waktunya Mama Resign dari Kantor!

Ini Dia 3 Tanda-Tanda Pasti Bahwa Sudah Waktunya Mama Resign dari Kantor!

1.5K
Be brave enough to walk out of your comfort zone, for it never will bring the better of you.


Baiklah, saya kasih tahu satu rahasia; kalau sebelum berangkat ke kantor tadi Mama merasa mual dan pusing ngga jelas, itu merupakan salah satu tanda bahwa Mama harus resign.

Loh?

Ya iyalah, karena apa yang Mama kerjakan itu seharusnya menghasilkan sekaligus menyenangkan. A perfect a-while-escape from your house, husband, and children, yang membuat Mama masih memiliki pemikiran ‘waras’ saat kembali ke pelukan keluarga di rumah.

Kenapa demikian? Karena sejatinya Mama adalah perempuan yang dibutuhkan anak-anak untuk selalu ceria, dinantikan suami untuk senantiasa lembut, dan diperlukan di rumah untuk menebar kehangatan. Not the other way around.

Berikut ini adalah tanda-tanda pasti bahwa Mama sudah nggak menikmati bekerja di kantor, dan harus resign. Dengan segera!


1. Saat mau berangkat kantor, tiba-tiba perut mulas, sakit kepala dan sakit-sakit lainnya


Pekerjaan adalah sesuatu yang harus kita pertanggungjawabkan, isn’t it, Ma? Laporan keuangan, rancang-bangun sebuah gedung, dana-dana nasabah yang dikelola, ketersediaan barang-barang yang ada di gudang, atau bentuk-bentuk dedikasi lain yang harus Mama pikul selama 5-6 hari seminggu itu merupakan tanggung jawab demi mendapatkan gaji bulanan. Ya kan?

Naaah, kalau sampai apa yang dikerjakan itu membuat Mama mengalami kram perut dan otak berkepanjangan, apa tidak sebaiknya dihentikan?

Memang, beberapa kali dalam sebulan, terutama di hari-hari menjelang tenggat waktu, kepala dan perut itu terbiasa ‘menderita’. Neraca yang tak kian seimbang, padahal harus masuk ke meja atasan, first thing in the morning tomorrow, itu pasti bikin pusing. Pun, kalau dana nasabah sudah terlanjur dibelanjakan beberapa saham tertentu pada posisi rendah, dengan harapan akan terjual nanti pada saat nilainya tinggi, tapi ternyata ada isu bom hingga ada kecenderungan nilainya jeblok di bursa, tentu tiba-tiba membuat perut terasa mulas luar biasa.

Walaupun hal-hal demikian dirasa wajar, dengan alasan “namanya juga kerja, pasti ada tertekannya!”, namun jika itu terjadi juga di waktu-waktu selain deadline, maka sudah lain lagi ceritanya, Ma! Kalau bahkan sebelum berangkat kerja, Mama sudah mulai merasa berat di langkah, sakit di kepala, bahkan mual dan keringat dingin tanpa sebab, itu artinya Mama sudah sangat terbeban dengan pekerjaan.

Segera pikirkan untuk berhenti, Ma, because whatever you do to earn money is not supposed to make you stressed out!


2. Atmosfer pekerjaan yang tidak mendukung dan tidak mengenakkan


Selain tekanan karena jenis pekerjaan yang kurang sesuai dengan kata hati, Mama mungkin saja ‘menderita’ di tempat kerja karena suasananya. Apakah itu rekan kerja yang menyebalkan atau atasan yang mengintimidasi, disadari atau tidak, dapat menurunkan kinerja Mama sebagai pekerja yang produktif, loh! Mama jadi merasa tidak nyaman dalam menunaikan tanggung jawab, karena ruang geraknya seakan dibatasi oleh mereka-mereka semua itu.

Pernah memiliki partner yang suka iri atas pencapaian Mama? Tidak bisa mendengar sang boss memuji Mama sedikit, ia akan langsung mencibir dan ‘membakar’ seluruh ruangan dengan kebenciannya. Panas? Tentu saja, karena Mama mendapatkan penghargaan itu dengan seluruh pikiran dan peluh. Jadi kenapa pula harus disiriki orang? Tapi Mama bisa apa, karena apa pun yang dilakukan hanya akan membuat keadaan semakin tidak enak.

Atau mungkin, punya atasan yang membuat ‘gerah’? Yang bukannya merangkul pegawainya saat down atau memotivasi saat terpuruk, malah ngomel-ngomel ga jelas hingga membuat Mama semakin tidak percaya diri dalam menjalankan tugas. Tipe atasan yang ingin selalu tampak baik hingga harus ‘menginjak’ bawahannya sedemikian rupa, atau yang selalu mengejar target tanpa membangun pondasi kerjasama yang baik dalam tim, tentu melelahkan secara fisik dan mental. Betul, Ma?


3. No happy ending


Ini, yang nampaknya paling perlu dipertimbangkan, walaupun rasanya dua yang di atas itu sudah amat-sangat-begitu mengguncang jiwa dan raga (*lebay ah!). Kalau Mama termasuk perempuan yang berjiwa besar, mungkin masih bisa mentoleransi segala bentuk intimidasi orang-orang di kantor. Jika Mama seorang yang benar-benar tangguh, juga pasti bisa menghadapi ‘sakitnya tuh di sini di sini dan di sini (tunjuk kepala, perut, dada)’. Tapiii ... tolong pikirkan matang-matang bila itu menyangkut kemajuan karier ya, Ma!

Ya, Mama adalah seorang wanita sabar sekaligus ulet yang mampu menghadapi setiap tantangan dalam dunia kerja. Saat pulang ke rumah pun, Mama masih menyunggingkan senyum hangat untuk dibagikan pada suami dan anak-anak. Namun kalau setelah apa yang Mama berikan bagi perusahaan, Mama tidak kunjung melihat sinar terang di depan sana, ya untuk apa? Pasti Mama merasa bahwa setiap tetes keringat selama ini akan membawa Mama ke posisi yang lebih tinggi, bukan? Mama pun tentu ingin segala loyalitas Mama membuahkan apresiasi yang lebih.

Apa yang akan Mama lakukan, jika tahu bahwa karier Mama di sebuah perusahaan akan selalu berjalan di tempat? Apa yang akan terjadi, kalau Mama tahu bahwa Mama punya kualitas untuk berada di atas, tapi semua jalan ditutup untuk mencapainya? Tidak ada kesempatan untuk merambat, atau bahkan lari meraih puncak. Kecewa, bahkan sakit hati, mungkin? Sungguh sayang sekali, jika pengorbanan Mama tidak dihargai dengan semestinya.


Jadi, bagaimana? Masih kurang bukti kalau Mama perlu rehat selamanya dari kantor yang demikian itu? C’mon, Ma, meski cuma 3 saja hal yang menjadi alasan di atas, tapi itu sudah sangat sangat sudah lebih dari cukup menjadi alasan Mama untuk segera berpikir ulang. Luangkan waktu untuk berdialog jujur dengan diri sendiri, apakah pekerjaan itu pantas untuk diteruskan. Kuatkan diri sendiri dengan berpikir positif dan keyakinan bahwa Mama adalah pekerja yang loyal dan berdedikasi. Masih banyak perusahaan di luar sana yang mendambakan seseorang dengan kualifikasi seperti Mama. Yup, Mama berhak atas sebentuk tanggung jawab yang bisa membawa Mama berkembang menjadi pribadi yang lebih matang dan berwawasan luas, yang mampu membimbing Mama meraih aktualisasi diri dan pencapaian tertinggi.

Why not? You are worth it, and you deserve it!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ini Dia 3 Tanda-Tanda Pasti Bahwa Sudah Waktunya Mama Resign dari Kantor!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


PutuAyu Winayasari | @ayuwinayasari

A whole-hearted writer. A caring teacher. A Rocking Mama. A loving wife-daughter. Visit me at bilikayuwinayasari@blogspot.co.id. Reach me at raynorkayla@gmail.com. Or just come by to LIA-Bandung to have some bakso with me :)

Silahkan login untuk memberi komentar