Galau Ingin Beralih Profesi Menjadi Ibu Rumah Tangga? 5 Pertimbangan Ini Barangkali Bisa Bantu Mama Memutuskan!

Galau Ingin Beralih Profesi Menjadi Ibu Rumah Tangga? 5 Pertimbangan Ini Barangkali Bisa Bantu Mama Memutuskan!

1.3K
Menyandang status sebagai ibu rumah tangga barangkali sudah menjadi pilihan sebagian perempuan, sedangkan bagi sebagian lagi, hal ini masih menjadi dilema. Pertimbangkanlah dengan masak-masak, dan tidak dalam keadaan tertekan.

Menyandang status sebagai ibu rumah tangga barangkali sudah menjadi pilihan sebagian perempuan, sedangkan bagi sebagian lagi, hal ini masih menjadi dilema.

Memang ya, pilihan menjadi ibu rumah tangga bisa jadi bikin kita galau. Ya, gimana nggak galau, kalau keputusan kita menjadi ibu rumah tangga itu akan mempengaruhi kehidupan 10 atau 20 tahun mendatang. Sama saja dengan pertanyaan wawancara kerja kantoran kan, Ma? Iya, kalau Mama sebelumnya adalah seorang ibu bekerja yang kemudian ingin beralih profesi menjadi ibu rumah tangga, anggaplah itu juga sama dengan beralih profesi atau karier yang lain. Harus dipikirkan secara mendalam dan sistematis.

Karena ya itu tadi, takutnya kalau kita memutuskan karena emosi sesaat, karena kondisi sesaat, karena situasi darurat saja. Nggak mau kan, menyesali keputusan yang sudah diambil? Bakalan telat, dan kemudian, gunanya apa?

Saya juga demikian saat akhirnya memutuskan beralih profesi menjadi seorang ibu rumah tangga seperti sekarang. Hingga kemudian akhirnya saya benar-benar memutuskan ganti profesi, saya kemudian menemui banyak hal yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Karena itu saya ingin berbagi pengalaman dengan Mama. Siapa tahu Mama sekarang sedang gundah gulana *ciyehh*, sehingga membutuhkan beberapa pertimbangan dan masukan lain. Bukannya saya sudah sukses jadi ibu rumah tangga, tapi yah, sekadar berbagi pengalaman saja.


5 Hal yang bisa membantu Mama saat hendak mempertimbangkan beralih profesi menjadi ibu rumah tangga



Pertimbangkan saat kondisi normal

Pertimbangkan Saat Kondisi Normal -


Banyak yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga karena alasan situasi darurat dan kondisi mendesak, misalnya harus lebih fokus mengurus anak, rumah, dan suami, atau kelelahan, dan seterusnya. Well, saya juga begitu dulu.

Keputusan berhenti dari pekerjaan akhirnya diambil sebagai solusi tercepat saat itu.

Terus, begitu masalah yang tadinya darurat itu sudah teratasi, barulah kita kemudian merasa seharusnya bisa berprestasi lebih tinggi. Sehingga menimbulkan rasa tak puas pada diri sendiri. Pelampiasannya? Jadi sinis terhadap teman-teman yang bisa hangout, kita juga jadi meremehkan pencapaian orang lain, dan berbagai pikiran negatif lainnya.

Nah, siapa sekarang yang suka sirik lihat orang lain senang?

Kondisi para ibu rumah tangga yang super sensitif, mudah tersinggung saat ada yang sedikit mempertanyakan apa kerjanya selama di rumah, dan mengharapkan penghargaan yang lebih terhadap statusnya itu, biasanya terjadi karena mereka sendiri yang memang belum siap dan belum ikhlas menjalani profesi tersebut.

Itulah pentingnya, mengapa keputusan seharusnya diambil tidak saat situasi sedang genting atau saat putus asa. Itulah mengapa pertimbangan harus dipikirkan saat semua berjalan dengan normal, tidak dalam keadaan terpaksa.

Caranya bagaimana?

Jika memang pertimbangan untuk beralih profesi ini atas nama kondisi rumah tangga yang sedang dilanda masalah, maka cobalah cari bantuan dulu. Berusahalah untuk menormalkan kondisi, baru kemudian dipikirkan rencana jangka panjang selanjutnya.

Dengan pertimbangan yang tidak dalam kondisi terpaksa, tertekan ataupun darurat, kita pasti lebih bisa berpikir jernih. Dan kalau keputusan yang diambil saat pikiran jernih, pasti kita dengan ikhlas menjalaninya.

Betul, Ma?



Berpikirlah jangka panjang

Berpikirlah Jangka Panjang -


Misalnya nih, Ma. Mama ingin beralih profesi menjadi ibu rumah tangga karena repot mengurus anak? Well, ada beberapa pertimbangan yang bisa dipikirkan.

Memang sih, usia kemandirian anak bisa saja berbeda-beda. Tapi, biasanya, saat mereka sudah mulai masuk SD, rumah pun sudah cenderung lebih sepi.

Durasi rumah yang sepi ini akan semakin panjang seiring dengan makin tingginya sekolah anak. Apalagi kalau sistem sekolahnya adalah full day school, atau mungkin anak sudah mulai sibuk pula les ini les itu. Makin jaranglah mereka di rumah.

Yang mereka perlukan kemudian adalah sopir, atau tukang antar jemput. Makanya sekarang juga sudah jamak ditemui ibu rumah tangga yang merangkap sopir pribadi. Anak-anak akan memerlukan sosok "ibu" lagi saat mereka sudah di rumah. Mungkin sore dan malam, lalu pagi lagi.

Kalau dihitung-hitung, ya sama saja dengan jam kantoran kan? Kita ketemu mereka dan "memainkan" peran ibu pada sore hari saat sepulang kita dari kantor, malam, dan pagi sebelum berangkat.

Nah, seandainya bisa minta bantuan dan berusaha bertahan hingga anak-anak masuk SD, apakah Mama masih tetap ingin menjadi seorang ibu rumah tangga?

Jika jawaban Mama "Iya", maka berarti itu memang keputusan yang sudah diperhitungkan, bukan karena emosional semata.



Mau bekerja kembali setelah anak-anak mandiri?

Mau Bekerja Kembali Setelah Anak-anak Mandiri? -


Barangkali Mama juga sudah memikirkan win-win solution semacam ini. Resign untuk sementara waktu sampai kondisi memungkinkan lagi untuk kerja.

Tapi kondisi memungkinkan itu kapan ya? Apakah Mama punya gambaran yang jelas?

Kalau nggak jelas kapannya, maka anggap saja itu nggak akan pernah terjadi. Sekali masuk ke urusan rumah tangga, maka akan sulit lepas kembali, Ma. Karena anak-anak dan suami pasti akan terbiasa dengan hadirnya Mama selama 24 jam penuh. Mama juga akan terlanjur merasa bahwa urusan rumah nggak akan beres kalau bukan Mama sendiri yang pegang, meski hanya 8 jam saja ditinggal.

Belum lagi persoalan umur. Saat anak-anak sudah ditinggal, barangkali Mama sudah ketinggalan dengan angkatan kerja baru yang fresh. Mindset dan kelincahan sudah pasti akan kalah diadu, meski mungkin pengalaman Mama sudah tak diragukan lagi.

Sebagian mama menyiasatinya dengan mengambil kuliah lagi untuk meraih degree yang lebih tinggi.

Nah, jika ini menjadi pilihan Mama, maka rencanakan kegiatan yang real dan bermanfaat selain urusan domestik untuk mengisi tahun-tahun yang kosong tersebut, agar saat kondisi memungkinkan itu tiba, Mama tetap bisa kompetitif di dunia kerja. Mengambil kerja secara freelance, barangkali?



Pengin berbisnis dari rumah?

Pengin Berbisnis Dari Rumah? -


Memang banyak ya, mama yang membayangkan, bahwa idealnya kita berada di rumah, urus anak, suami dan rumah, tapi tetap berpenghasilan.

Saat anak-anak di sekolah, suami ngantor, dan rumah sudah beres, bisalah ya, kita mengurus bisnis kecil-kecilan sampai waktunya anak-anak dan suami pulang nanti.

Well, the truth is, saat kita sudah punya usaha atau bisnis, baik itu mandiri maupun menjadi reseller, kita juga harus punya dedikasi dalam menjalankannya. Kadang kalau hanya dikerjakan di sela-sela kesibukan domestik, waktunya nggak cukup. Harus ada alokasi waktu sendiri, Ma. Apalagi kalau nanti akhirnya bisnisnya melejit. Bakalan rempong jawab customer di WA atau BBM, lalu ngurus pemesanan, bungkus-bungkus, lalu ngirim dan seterusnya.

Karena itu, kalau memang pilihannya demikian, rencanakan dengan sebaik-baiknya. Akan lebih baik jika merintis bisnis dahulu sebelum memutuskan resign dan menjadi ibu rumah tangga, dan bukannya berbisnis setelah menjadi ibu rumah tangga.

Dengan demikian, kita akan punya etos kerja yang bagus lebih dulu, plus sudah terlatih me-manage waktu dengan baik juga.



Punya hobi atau gabung komunitas

Punya Hobi Atau Gabung Komunitas -


Saat Mama memutuskan menjadi ibu rumah tangga, maka rata-rata Mama sedang dalam kondisi sibuk luar biasa.

But you know what, Mama, saat nanti sudah 5 tahun berjalan, kita mungkin masih saja mengeluh capek, sibuk, kenapa kerjaan nggak ada habisnya, pengin membelah diri dan seterusnya.

Tapi coba deh, 15 tahun kemudian. Anak-anak sudah terbang ke mana-mana. Mau masak, mereka sudah pada nggak makan di rumah. Beberapa barangkali sudah pindah ke kota lain untuk mengejar karier yang lebih bagus.

Kita mau ngapain? Mungkin Mama yang memutuskan tetap bekerja kantoran, 15 tahun lagi juga sudah pensiun.

So, itulah mengapa hobi itu penting. Hobi bisa menjaga agar kita tetap waras dan pikiran tetap positif. Nggak cepat pikun. Jika Mama adalah tipe penyendiri, Mama bisa mengerjakan hobi di rumah saja. Sedangkan kalau Mama adalah tipe gaul, maka Mama bisa bergabung ke komunitas. Komunitas ini nggak harus yang komunitas 'wah'. Pengajian rutin di kampung juga termasuk komunitas lho.


Yes, menjadi ibu rumah tangga ataupun menjadi bukan ibu rumah tangga alias ibu bekerja, itu tak ada yang kurang atau lebih baik. Masing-masing terkait dengan kondisi keluarga masing-masing.

Mama harus ingat, bahwa tidak ada ibu atau mama yang sempurna. Yang ada adalah para mama yang berusaha keras agar keluarganya selalu dalam kondisi yang nyaman dan bahagia.

Karena itu, sebagai sesama mama, kita harus saling dukung dengan membagi informasi yang mungkin bisa membantu mereka yang sedang galau untuk mengambil keputusan. Dan kemudian mendoakan, agar semua berjalan dengan baik untuknya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Galau Ingin Beralih Profesi Menjadi Ibu Rumah Tangga? 5 Pertimbangan Ini Barangkali Bisa Bantu Mama Memutuskan!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Lusi Tris | @lusitris

Silahkan login untuk memberi komentar