Ibu Mertua Riwil? Pahami dan Lakukan 6 Hal Ini untuk Mengatasi Hubungan yang Buruk dengannya!

Ibu Mertua Riwil? Pahami dan Lakukan 6 Hal Ini untuk Mengatasi Hubungan yang Buruk dengannya!

2.1K
Relasi dengan Ibu Mertua kadang begitu rumit bagi sebagian perempuan. Menggantikan perannya sebagai "sosok perempuan terpenting" dalam hidup seorang pria memang bukan perkara yang mudah. Atasi dengan memahami dan melakukan 6 hal berikut ini.

Buat sebagian perempuan, relasi dengan Ibu Mertua memang bisa jadi merupakan hal yang cukup menakutkan, dalam artian cukup membuat kita harus ekstra hati-hati bahkan tak jarang agak-agak menegangkan ya, Ma.

Masalahnya, kalau dengan mama kita sendiri kan kita bisa ngeles atau mengemukakan argumen kita dengan lebih enak kalau misalnya sedang ada masalah. Sedangkan, dengan ibu mertua, kadang kita lebih sungkan dan segan. Nggak bisa terlalu becandain, ntar dibilang menantu nggak sopan lagi. Bener nggak?

Memang sudah menjadi rahasia umum ya, kalau hubungan antara ibu mertua dan menantu itu memang agak-agak rumit. Kadang ibu mertua suka menilai, menantunya ini kok selalu kurang saja dalam berbagai hal. Masakannya kurang enak, kurang dalam melayani suami, terlalu boros, endebre endebre. Sedangkan si menantu suka salah paham juga, ih, ibu mertua kok gitu sih. Masa gini disalahin, gitu nggak boleh. Ngatur banget. Jadi serba salah deh.

Parah lagi kalau relasi yang kurang hangat yang terjalin antara kita dan ibu mertua ini bisa sampai memengaruhi hubungan kita dengan suami. Coba saja bayangin kalau suami sampai membanding-bandingkan kita dengan mamanya. Waduuuh! Bahaya, Ma, kalau sudah begitu!

Makanya, ayo, Ma, kalau Mama termasuk menantu yang mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan baik dengan mertua, sekarang coba deh kita perbaiki relasi kita dengan ibu mertua. Iya, sebelum si Papa ikutan pusing.


6 Hal yang Harus Mama Pahami dan Lakukan untuk Mengatasi Hubungan yang Buruk dengan Ibu Mertua


1. Suami adalah anak mereka


Yes, Mama, yang pertama harus Mama sadari dan tetap ingat adalah Papa pernah dan akan terus menjadi anak laki-laki mereka.

Dan sebagaimana seorang mama seharusnya, mereka akan selalu terpanggil untuk membantu saat anak mereka mengalami kesulitan atau kekurangan sesuatu. Seperti juga kita kan, Ma, kalau anak-anak membutuhkan sesuatu insting kita pasti akan langsung berbicara kalau kita harus membantunya.

No matter how old the son is! Yes, meski anak-anak sudah dewasa, insting seorang mama tak akan berubah. Tetap menganggap mereka pangeran kecilnya.

Sadarilah hal ini lebih dulu. Posisikan jika Mama berada dalam posisi beliau, maka Mama akan lebih memahami sikap-sikap Ibu Mertua.


2. Ibu Mertua pernah punya mimpi untuk anak lelakinya


Bagaimanapun, mereka pernah memupuk mimpi untuk anak laki-lakinya, baik disadarinya atau tidak.

Coba deh, Ma, jika Mama punya anak laki-laki sekarang. Apa saja doa Mama untuknya? Menjadi orang yang sukses, menjadi orang yang berguna, menjadi orang besar, yang pastinya akan didampingi oleh perempuan yang terbaik yang bisa mendukungnya saat sedih dan susah, sakit dan sehat, sampai maut memisahkan kan?

Begitu pun dengan Ibu Mertua, Ma. Meski mungkin tak semua mimpinya terwujud, namun mereka pernah mendoakannya bagi suami Mama. Berarti tak ada salahnya juga kan, kalau Mama ikut ambil bagian dalam mimpi tersebut dengan cara menjadi yang terbaik bagi Papa?

Jika Mama tampak selalu mendukung suami Mama, si Papa, anaknya, sudah pasti Ibu Mertua akan melihatnya sebagai hal yang baik bukan? Bentuk dukungannya bisa macam-macam, misalnya mengenali makanan kesukaan suami dan memasakkannya untuknya, atau sekadar memberikan perhatian-perhatian kecil lainnya.


3. Ibu Mertua punya ketakutan-ketakutan dalam dirinya



Begitu Mama masuk dalam kehidupan Papa, ketahuilah bahwa ada banyak ketakutan-ketakutan menyelinap di hati Ibu mertua (meski mungkin berusaha tak diperlihatkannya).

Ketakutan seperti, akankah Mama bisa “mengurus” Papa dengan baik, atau akankah Mama bisa mendukung setiap langkah Papa, atau akankah mereka akan segera menimang cucu. Atau, apakah mereka harus bersaing dengan Mama untuk mendapatkan perhatian dari anak lelakinya.

Ya, Mama, ingat ya, bahwa sampai kapan pun Papa adalah anak lelaki mereka. Biasanya anak lelaki juga lebih dekat pada mamanya kan? Maka tentunya hal ini hal yang wajar ya. Siapa sih yang mau perhatian untuknya ‘dicuri’?

Ah, pokoknya banyak deh, kekhawatiran dan ketakutan Ibu Mertua pada kita, Ma.

Jangan dulu antipati terhadap semua kekhawatiran itu, Ma. Justru dengan demikian, kita harus memperlihatkan bahwa kita memang adalah perempuan yang tepat untuk mendampingi Papa. Bersama kita, Papa tak akan kekurangan suatu apa pun, sehingga Ibu Mertua tinggal menikmati saja saat-saat istirahatnya.


4. Batasi info


Saat Ibu Mertua mulai ikut mikirin permasalahan yang terjadi dalam keluarga kita, jangan buru-buru menyalahkannya, Ma. Ada kemungkinan bahwa kita (atau Papa) terlalu banyak menceritakan perihal permasalahan keluarga kita pada mereka.

Well, actually, the less they know, the less they have to throw in your face.

Yah, kasarannya sih begitu.

Ada baiknya bagi kita untuk memilah informasi atau curhatan yang pengin kita share dengan Ibu Mertua, begitupun dengan suami, Ma. So, sepakatilah dengan Papa, hal apa saja yang bisa diceritakan pada Ibu Mertua, dan mana yang lebih baik disimpan sendiri antara Papa dan Mama untuk kemudian diselesaikan sendiri.


5. Beri respek sewajarnya



Tentulah sebagai seorang mama, Ibu Mertua berhak mendapatkan penghormatan dan penghargaan yang sewajarnya mereka terima. Betul kan, Ma?

Mereka telah menjadi mama kita on the day we married her son. Dan mereka akan tetap menjadi mama kita sampai kapan pun. Maka, perlakukanlah mereka selayaknya mama kita sendiri.

Bukankah sudah Mama sadari kan, bahwa begitu kita menikahi seseorang, kita juga telah menikahi seluruh keluarganya?


6. Diam


Ya, inilah yang terbaik, Ma. Saat Mama sedang berada dalam tekanan oleh Ibu Mertua, lebih baik Mama diam. Tak perlu membangkang setiap perintahnya, tapi juga tak perlu selalu melakukannya juga. Mamalah yang tahu apa yang baik bagi keluarga Mama. Diskusikan saja dengan Papa, jelaskan padanya jika memang Mama tak bisa melakukan perintah Ibu Mertua.

Because your family is your home kan?


Dengan memahami dan melakukan 6 hal di atas, tentunya sekarang kita tak perlu terlalu tegang lagi kan menghadapi Ibu Mertua, Ma? Mereka harus dihormati, itu mutlak. Tapi tak perlu selalu dilibatkan dalam setiap permasalahan keluarga kita. We married the whole family, that’s true. Tapi yang menjadi prioritas Mama adalah Papa seorang.

So, stay happy ya, Mama!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ibu Mertua Riwil? Pahami dan Lakukan 6 Hal Ini untuk Mengatasi Hubungan yang Buruk dengannya!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar