Ingin Pernikahan yang Langgeng? Mama Mungkin Perlu Membaca 9 Nasihat Ini!

Ingin Pernikahan yang Langgeng? Mama Mungkin Perlu Membaca 9 Nasihat Ini!

2.7K
Menerima nasihat tentang pernikahan dari para ahli atau pasangan yang sudah lama menikah tentu sudah biasa. Bagaimana jika menerima nasihat dari pasangan yang pernah gagal, belajar dari kegagalannya dan mencoba memperbaikinya?

Pasti banyak sekali nasihat tentang pernikahan yang sudah kita dengar ya, Ma. Baik dari orangtua, mertua, tetangga, saudara, teman sekantor dan orang asing yang kebetulan duduk di samping kita dalam KRL atau TransJakarta. Tapi, bagaimana kalau nasihat itu datang dari seorang perempuan yang pernah bercerai sebanyak 2 kali dan sekarang sedang kembali menjalani pernikahannya?

Sebagian dari kita mungkin berpikir, “Ah, dia aja gagal kok mau menasihati orang lain.”

Namun, justru biasanya orang yang gagal ini jadi banyak belajar dan memperbaiki diri dari kegagalan-kegagalan sebelumnya, lho Ma. Seperti yang dialami oleh Karen Lodato, pemilik blog eightrising(dot)com ini. Dengan rendah hati, Karen menulis beberapa nasihat untuk kita, para istri yang ingin memiliki pernikahan yang langgeng dan bahagia.

Apa saja itu? Yuk, kita simak, Ma.


1. Hormati Suami Kita


Kebutuhan terbesar seorang laki-laki adalah penghargaan dari sekitarnya. Dan orang yang paling dia harapkan dapat memenuhi kebutuhan tersebut tentu adalah kita, istrinya. Iya nggak, Ma? Jadi buang jauh-jauh frase, “ada uang abang sayang, nggak ada uang abang melayang” ya, Ma. Itu adalah anggapan yang salah.

Meski mencari nafkah bagi keluarga adalah kewajiban suami, bukan itu saja lho yang dia berikan kepada kita. Keputusan-keputusan penting yang dia pilih bagi keluarga, kenyamanan dan perlindungan dari dunia luar, cinta dan kesetiaannya juga merupakan pemberian yang sangat berarti bagi keluarga. Ucapkanlah rasa terima kasih kita dengan tulus, hargailah setiap keputusannya meski mungkin menurut mama itu konyol dan salah.

Suami juga manusia, Ma. Pasti ada kurang dan salahnya. Begitu juga kita, kan? Dengan kita menghormatinya, ia akan termotivasi untuk memberikan yang lebih baik untuk kita dan keluarga.


2. Jagalah Hati


Jangan kau nodai … Jagalah hati, lentera hidup ini.

Eh, bukan. Ini bukan tentang lagunya Aa Gym. Tapi memang ada benarnya, sih Ma. Selama ini kita selalu menganggap rumput tetangga lebih hijau. Suaminya lebih romantis, mereka lebih kaya, anak-anaknya lebih pinter dan sebagainya. Padahal nggak selalu begitu, Ma. Menjadi lebih langsing, memiliki penghasilan lebih tinggi, mobil lebih bagus dan rumah lebih besar nggak menjamin kita bisa menjadi perempuan yang lebih bahagia.

Mungkin ini nasihat usang yang sudah beribu kali Mama dengar. Tapi kunci rumah tangga bahagia adalah dengan mensyukuri apa yang kita miliki. Jagalah hati kita dari hal-hal dan orang-orang yang mencoba meyakinkan bahwa hidup kita atau suami kita tidak cukup baik. Akan selalu ada yang lebih besar, lebih kuat, lebih bersinar. Tapi percaya deh, Ma, kita nggak akan pernah puas dengan hal-hal yang lebih itu kalau tidak dapat bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang.


3. Tuhan, Suami dan Anak. Itu Urutan Prioritas Kita


Ini memang bukan filosofi populer di kalangan Mama. Terutama dua urutan terakhir.

“Apa nggak kebalik tuh?”

Mungkin begitu pikir Mama. Ternyata enggak kok. Suami haruslah menjadi prioritas kedua setelah Tuhan dalam hidup kita. Anak-anak menyusul setelahnya. Tenang, Ma. Ini bukan berarti Karen menyarankan kita untuk mengabaikan anak-anak demi melayani keperluan suami.

Begini, Mama pasti ingat kan, setiap kali pesawat hendak lepas landas, pramugari dan pramugara akan memperagakan prosedur keselamatan dalam keadaan darurat? Berarti Mama juga pasti ingat kalau mereka selalu meminta kita, para orangtua, untuk mengenakan masker oksigen terlebih dahulu sebelum menolong anak-anak. Bukan karena anak-anak lebih tidak penting dari orang dewasa. Justru karena kita tidak akan bisa menolong anak kita kalau kita sendiri kesulitan bernapas. Begitu kan, ya?

Hal yang sama berlaku dengan pernikahan dan parenting. Kita tidak akan dapat menjalankan peran orangtua dengan efektif jika pernikahan kita berantakan. Setidaknya, begitulah pengalaman Karen. Lagipula, Ma, anak akan beranjak dewasa. Dan pada saatnya mereka juga akan meninggalkan rumah untuk mengejar impian mereka sendiri sebagai orang dewasa. Jika kita tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan pasangan, kita hanya akan memiliki sarang yang kosong dan hati yang hampa.


4. Maafkan


Sekali lagi, tidak ada manusia yang sempurna. Semua orang pasti melakukan kesalahan. Jika Mama dapat memaafkan setiap kebiasaan-kebiasaan kecil yang menurut Mama mengesalkan seperti meletakkan baju kotor di lantai dan bukannya di keranjang cucian; melemparkan tas begitu saja tanpa menyimpannya di dalam lemari; tidak meletakkan kembali dudukan toilet setelah digunakan dan sebagainya, mama bisa mencegah kebencian tumbuh di hati Mama.


5. Komunikasi


Karen memiliki kebiasaan jelek yang ia lakukan selama bertahun-tahun dalam dua pernikahan sebelumnya, yaitu tidak mengutarakan perasaannya sebenarnya. Ia selalu berharap suaminya mengerti kenapa ia marah atau sedih. Hmmm, sound familiar ya, Ma. Sepertinya ada beberapa yang baca ini sambil mengangguk-angguk dan berkata, “Itu gue banget.”

Mama, kebiasaan ini tidak adil lho bagi para suami. Mereka, tidak selalu dapat membaca pikiran atau bahasa tubuh Mama. Dan para suami ini nggak selalu sadar kalau mereka telah bersikap tidak sensitif terhadap perasaan kita. Jadi yang harus kita lakukan adalah komunikasikan perasaan kita.

“Yang, aku kesal lho kamu pulang terlambat nggak ngasih kabar dulu. Kan aku khawatir kamu kenapa-kenapa. Tolong lain kali kabarin ya.”

Gitu kan lebih enak ya? Daripada pasang muka cemberut semalaman sambil banting-banting piring. Piring kan mahal. #lho


6. Kencan


Jadwalkan kencan dengan suami setiap minggu atau dua minggu sekali, Ma. Meskipun sudah menikah, bukan berarti kegiatan yang dulu selalu kita tunggu sebelum resmi menjadi suami istri harus berhenti. Malah seharusnya lebih seru dan menyenangkan kan, karena lebih banyak pilihan kegiatan yang bisa kita lakukan. Bisa candle light dinner sambil dengar live music di kafe langganan, nonton film terbaru di bioskop atau menyaksikan pertunjukan drama.

Nggak ada yang jaga anak-anak di rumah? Oh, jangan khawatir, Ma. Tidurkan anak lebih cepat dari biasanya, buat popcorn, putar film kesayangan di DVD player dan nikmati malam minggu bersama suami. Kalau nggak suka nonton, bisa duduk-duduk di teras sambil minum segelas teh hangat dan camilan kesukaan berdua.

Sejenak lupakan urusan rumah tangga, tagihan uang sekolah anak yang naik 20% tahun depan atau kenakalan si kecil seharian itu. Bicaralah tentang hubungan Mama dan suami, kenang kembali masa pacaran, tanya pendapatnya tentang buku yang baru ia baca, minta ia bercerita tentang bos barunya di kantor, rancang liburan impian kalian dan hal-hal lain yang dapat mengeratkan ikatan emosional mama dan pasangan.


7. Jangan Pernah Ucapkan Kata “C”


Semarah apapun, Ma, saat sedang bertengkar jangan mudah meminta cerai. Kalau suatu saat Mama mengucapkannya, pastikan Mama sudah memikirkannya masak-masak. Mengancam suami untuk bercerai bukanlah seni bertengkar yang baik dan adil, menurut Karen. Ia sering melakukannya pada pernikahannya sebelumnya dan hasilnya tidak baik sehingga menjadi pelajaran berharga baginya. Meskipun kita terluka begitu dalam dan ingin membalas, mengucapkan kata cerai untuk mengancam suami nggak akan membuat kita merasa lebih baik, Ma. Percayalah.


8. Ketahui Bahasa Cintanya


Semua orang punya bahasa cinta. Bagaimana kita memandang serta merasakan cinta bisa berbeda dengan pasangan dan anak-anak. Apakah suami menyukai kata-kata penuh pujian dan kasih sayang, atau dia lebih suka saat Mama memberinya hadiah? Apapun bahasa cintanya, pelajari dan praktikkan, Ma.


9. Jangan Pernah Berbicara yang Jelek-Jelek dari Suami kepada Orang Lain


Jika Mama mengalami masa-masa sulit dalam pernikahan, bicarakan pada ahlinya, baik psikolog atau konselor pernikahan profesional. Curhat kepada keluarga memang baik, tapi mereka hanya mendengar dari satu sisi, yaitu sisi Mama. Sehingga mereka pasti akan cenderung membela Mama, dan malah bisa membangun perasaan negatif kepada pasangan kita, yang biasanya tidak akan berkurang. Ini bahkan bisa berlangsung terus ketika Mama dan suami sudah melewatinya lho. Jadi semarah dan sekesal apapun kita kepada suami, lindungilah citranya dengan hanya meminta pendapat obyektif dari ahlinya. Dan ibu kita tidak termasuk ahli ya, Ma.


Baca juga: Para Suami Punya 7 Hal Rahasia Ini yang Tak Boleh Disebarkan Bahkan Pada Sahabat Terdekat Mama


Selama menjalani pernikahan, akan selalu ada saat-saat kita bangun dari tidur dan merasa bahwa kita tidak lagi mencintai sosok yang ada di samping kita. Akan ada masanya ketika suami nggak lagi nampak menarik bagi kita, tapi tetaplah memilih untuk mencintai dia.

Pernikahan adalah sebuah komitmen untuk selalu bersama dalam situasi apa pun. Susah dan senang, sehat dan sakit. Bukan hanya saat sehat dan senang saja. Justru sebagian besar cinta diuji ketika susah dan sakit. Jadi selama suami tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga atau mengingkari komitmen lain yang merugikan keluarga, pilihlah untuk mencintai, Ma.

Dia layak mendapatkannya.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ingin Pernikahan yang Langgeng? Mama Mungkin Perlu Membaca 9 Nasihat Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Alfa Kurnia | @alfakurnia

Mamah galau. Introvert yang suka gaul. Punya cita-cita abadi jadi kurus tapi doyan makan. Blogging at http://pojokmungil.com. Believe that “Blogging is not rocket science, it’s about being yourself, and putting what you have into it.

Silahkan login untuk memberi komentar