Ini Dia 11+ Film Indonesia yang Meraih Banyak Penghargaan di Luar Negeri

Ini Dia 11+ Film Indonesia yang Meraih Banyak Penghargaan di Luar Negeri

1.2K
Banyak film Indonesia yang mendapat penghargaan di luar negeri. Mirisnya, justru sebagian di antaranya tidak laku atau tidak dikenal di negeri sendiri. Bahkan ada pula yang dilarang pemutarannya di bioskop Indonesia.

Hai, Mama! Sudah tahu belum kalau tanggal 30 Maret ini diperingati sebagai Hari Film Indonesia?

Karena itu, untuk memperingatinya, Rocking Mama akan membahas 11 ++ film Indonesia yang berhasil meraih penghargaan di luar negeri, sebagai apresiasi mendalam terhadap karya anak bangsa ini.

Apakah Mama sudah menonton semuanya? Pasti belum deh. Karena, bahkan sebagian tidak ditayangkan di Indonesia dengan alasan-alasan tertentu.


BACA JUGA


10 Film Hollywood Terbaik - Para Pemenang Oscar Sepanjang Masa Pilihan Rocking Mama

10 Film Hollywood Terbaik - Para Pemenang Oscar Sepanjang Masa Pilihan Rocking Mama

Deretan film Hollywood terbaik telah dinominasikan, perhelatan Academy Awards tinggal menunggu hitungan jam. Kita nostalgia dulu yuk, dengan ...

Read more..


Kadang saya miris sih kalau begini ya. Film Indonesia mendapatkan banyak pujian di luar, meraih banyak penghargaan di mana-mana, malah nggak bisa kita tonton dengan leluasa di sini. Kenapa? Ah, Mama pasti sudah tahu jawabannya.


11+ Film Indonesia yang banyak meraih pujian dan penghargaan di luar negeri


1. The Raid: Redemption (2011)


Film The Raid: Redemption ini dibintangi oleh Iko Uwais, Pierre Gruno, Ray Sahetapy, Joe Taslim, Tegar Satria, Verdi Solaiman, Ananda George, Eka Rahmadia, R Iman Aji, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian.

Film karya Gareth Evans yang pertama kali diputar pada Midnight Madness Festival Film Internasional Toronto 2011 ini mendapatkan review positif dari dalam maupun luar negeri lho, Ma. Film Indonesia satu ini juga sangat populer di IMDB karena Sony Pictures pun mendistribusikan film ini di Amerika Serikat dengan mengganti judul menjadi The Raid: Redemption. Musiknya pun digarap dengan apik oleh para personel Linkin Park, yaitu Joseph Trapanese dan Mike Shinoda.


2. Danum Baputi: Penjaga Mata Air (2015)

Film Indonesia yang bertema lingkungan hidup ini meraih penghargaan Excellent Winner Award, Environmental Film Competition Catagory di Canada International Film Festival/CIFF 2015 dan berada di posisi kelima.


3. Atambua 39° Celcius (2012)

Berkat kualitas fotografi yang luar biasa, film dokumenter yang disutradarai oleh Riri Reza & Mira Lesmana ini berhasil memenangkan penghargaan Inalco Jury Award dari beberapa juri (Remi Dor, Anthony Folkmann, Francois-Xavier Durandy, Satenik Mkhitaryan, Elodie Guignard dan Boris Elaiba) di Vesoul Film Festival yang digelar di Prancis.


4. Si Anak Kampoeng (2011)

Yang satu ini sepertinya kurang dikenal ya, Ma. Tapi siapa sangka, film ini berhasil menyabet penghargaan sebagai The Best Family Film di Canada International Film Festival (CIFF) tahun 2015.

Wow banget kan?


5. Laskar Pelangi (2008) dan Sang Pemimpi (2009)

Dari sutradara berbakat Riri Riza, film ini diadaptasi dari novel Andrea Hirata, dan mendapatkan apresiasi yang luar biasa di dalam maupun di luar negeri.

Film Laskar Pelangi berhasil memenangkan The Golden Butterfly Award sebagai film terbaik di Internasional Festival of Films for Children and Young Adults, Iran, Ma. Juga berhasil meraih HIGNIS Award di Hong Kong International Film Festival, dan penghargaan sebagai film terbaik di Festival Film Asia Pasifik ke-53, Kaohsiung, Taiwan.

Sekuel dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, juga nggak kalah berprestasinya. Film yang menceritakan tentang hubungan persaudaraan dan persahabatan ini juga berhasil merebut beberapa penghargaan internasional, seperti 3 Castle Award di Castellinaria International Film Festival, yang diselenggarakan di Swiss. Juga kembali meraih The Golden Butterfly di The 25th Isfahan International Film Festival of Children and Young Adults yang diselenggarakan di Iran.

Keren banget ya, Ma.


6. Rumah Dara (Macabre) (2009)

Wah, ini nih, Ma. Saya sendiri nggak pernah bisa utuh nontonnya. Nonton sekian menit, berhenti dulu. Lanjut nanti, kalau deg-degan dan ngerinya sudah berkurang. Hahaha. Gokil banget ini film! Tapi ya, akhirnya bisa sampai selesai sih.

Film Indonesia satu ini dibintangi oleh Shareefa Daanish, Julie Estelle, Sigi Wimala dan beberapa bintang muda lain. Macabre berhasil ditayangkan di Puchon International Fantastic Film Ferstival (PiFan) pada tahun 2009 di Korea Selatan. Bahkan Shareefa berhasil menyabet penghargaan sebagai the best actreess lho.

Kapan ditayangkan di bioskop Indonesia? Wah, kayaknya nggak bakalan deh, karena film ini termasuk dalam genre slasher di mana ada kanibalisme di dalamnya. Nggak akan lulus sensor di Indonesia. Hehehe.


7. Pintu Terlarang (2009)

Film Indonesia satu ini memang kurang laris saat diputar di bioskop-bioskop.

Diangkat dari novel yang berjudul sama karya Sekar Ayu Asmara, namun film karya Joko Anwar ini berhasil menembus berbagai festival film internasional. Di antaranya Puchon International Fantastic Film Festival 2009 di Korea Selatan, Bangkok International Film Festival 2009, dan Rotterdam International Film Festival.

Bahkan film yang dibintangi Fachri Albar, Marsha Timothy, dan Ario Bayu ini berhasil dinobatkan sebagai salah satu dari 100 film terbaik dunia versi majalah Sight and Sound Inggris lho.

*applause*


8. Babi Buta yang Ingin Terbang (2008)

Babi Buta yang Ingin Terbang (Blind Pig Who Wants To Fly) merupakan film Indonesia bergenre drama yang dirilis pada tahun 2008 dengan disutradarai oleh Edwin. Dibintangi oleh Ladya Cheryl dan Pong Hardjatmo, film ini menceritakan mengenai gambaran etnis Tionghoa di Indonesia yang diwakili oleh beberapa tokoh di dalamnya.

Penghargaan untuk film ini sudah banyak diraih. Sebut saja Rotterdam International Film Festival 2009 (Fipresci Prize), Singapore International Film Festival 2009 (Fipresci/Netpac Award), Pusan International Film Festival 2008 (Nominated New Currents Award), Nantes Three Continets Festival 2009 (Young Audience Award),dan Jakarta International Film Festival 2009 (Best Director).


9. Siti (2014)

Film ini sebenarnya merupakan proyek independen, namun justru berhasil menyabet penghargaan film terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2015, padahal belum tayang komersil di bioskop Indonesia, Ma.

Siti, disutradarai oleh Eddie Cahyono, telah memotret kehidupan perempuan yang harus menjadi pemandu karaoke kelas bawah di sekitar Parangtritis Yogyakarta. Saat Siti bekerja sebagai pemandu karaoke, suaminya Bagus merasa keberatan dan tak mau berbicara kepadanya. Siti pun frustrasi dan bimbang hingga seorang polisi hadir dalam kehidupannya, bahkan mengajaknya menikah.

Film yang dibuat secara hitam putih ini juga telah meraih penghargaan sebagai sinematografi terbaik dan naskah film terbaik untuk kategori New Asia Talent Competition Festival Film Internasional Shanghai 2015.


10. The Mirror Never Lies (2011)

The Mirror Never Lies (Laut Bercermin) merupakan film drama besutan Kamila Andini yang dibintangi oleh Gita Novalista, Reza Rahadian dan Atiqah Hasiholan. Kritikus banyak yang memuji aspek produksi film, tata setting, serta akting dramatis dari aktris utama Gita Novalista.

The Mirror Never Lies mendapatkan 7 nominasi dalam Festival Film Indonesia 2011, termasuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik untuk Camilla Andini, dan Aktris Terbaik untuk Gita Novalista. Film ini juga mendapatkan 13 nominasi dalam Festival Film Bandung 2012. Dan, berhasil memenangkan 4 di antaranya, termasuk penghargaan tertinggi Film Terpuji dan Sutradara Terpuji untuk Camilla Andini.


11. Jagal (2012) dan Senyap (2014)

Jagal (The Act of Killing) merupakan film dokumenter karya sutradara Amerika Serikat Joshua Oppenheimer, yang menyorot bagaimana pelaku pembunuhan anti-PKI yang terjadi pada tahun 1965-1966 memproyeksikan dirinya ke dalam sejarah untuk menjustifikasi kekejamannya sebagai perbuatan heroik.

Film Jagal banyak memperoleh berbagai penghargaan, Ma, di antaranya Film Dokumenter Terbaik pada British Academy Film and Television Arts Awards 2013 dan nominasi Film Dokumenter Terbaik pada Academy Awards ke-86. Sementara itu, film pendukung dari Jagal, berjudul Senyap ("The Look of Silence") diluncurkan pada 2014.

Sedangkan Senyap (The Look of Silence) merupakan film dokumenter kedua Joshua Oppenheimer, masih dengan tema sentral pembantaian massal 1965. Senyap menyoroti kisah Adi, seorang penyintas yang keluarganya dituduh sebagai bagian dari PKI. Walaupun tema sentralnya sama, film ini berbeda dengan film Jagal yang menyoroti sisi pelaku pembantaian.

Film Senyap pertama kali diputar di Indonesia pada 10 Desember 2014 secara serentak di berbagai kota, sebagai bagian dari peringatan Hari HAM Sedunia. Seperti film pendahulunya, Jagal, film Senyap juga masuk nominasi Oscar untuk kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik. Film Senyap adalah film Indonesia pertama yang masuk dalam nominasi Oscar.


BACA JUGA


Bintang-Bintang Film Indonesia Lawas: Kangen Nggak Sih, Ma, Melihat Akting Mereka Lagi?

Bintang-Bintang Film Indonesia Lawas: Kangen Nggak Sih, Ma, Melihat Akting Mereka Lagi?

Film-film Indonesia telah melalui ups and downs. Banyak deretan aktris dan aktor film Indonesia lain yang ngangenin, pengin lihat mereka ...

Read more..


Sebenarnya masih banyak lagi film Indonesia lain yang berhasil menyabet berbagai penghargaan dan menuai pujian para kritikus di luar negeri. Sebut saja seperti Filosofi Kopi, 05:55, Daun di Atas Bantal, Pasir Berbisik, Kala dan lain-lain. Memang Rocking Mama hanya menyebutkan 11 saja, namun tidak mengurangi penghargaan terhadap film-film lain yang juga berhasil memenangkan banyak awards di luar sana.

Terima kasih para insan film Indonesia! Semoga film kita semakin berjaya, dan semakin bisa diterima oleh masyarakat dunia.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ini Dia 11+ Film Indonesia yang Meraih Banyak Penghargaan di Luar Negeri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar