Ini Dia 7 Mitos dan Fakta Selaput Dara yang Barangkali Belum Diketahui oleh Banyak Orang

Ini Dia 7 Mitos dan Fakta Selaput Dara yang Barangkali Belum Diketahui oleh Banyak Orang

7.1K
Selaput dara dan perempuan. Dua hal yang dalam masyarakat kita tak terpisahkan.

Setiap perempuan Indonesia boleh jadi pernah mendapat pengajaran tentang betapa pentingnya selaput dara, sedari mereka beranjak remaja. Baik melalui keluarga, sekolah, agama, maupun lingkungan yang lebih luas. Dalam masyarakat kita, selaput dara yang utuh adalah tanda keperawanan seorang perempuan, yang juga dianggap sebagai tolak ukur moralitasnya dan seberapa tinggi “nilai”-nya sebagai anggota masyarakat.

Mama pasti sudah pernah membaca tentang tes keperawanan, yang sering dilakukan pada calon tentara atau polisi perempuan. Bahkan tes keperawanan juga pernah diusulkan sebagai indikator kelulusan siswi-siswi SMA.

Tapi apa, sih, sesungguhnya selaput dara atau hymen itu? Bagaimana bentuk, sifat, dan fungsinya? Apakah semua yang kita ketahui selama ini tentang selaput dara adalah fakta, atau justru mitos-mitos yang menyesatkan? Sudah pernahkah kita melihat wujud selaput dara yang sesungguhnya?

Lewat artikel ini, saya akan membedah beberapa informasi tentang selaput dara yang selama ini mungkin belum pernah Mama ketahui. Yuk, belajar sama-sama!


Beberapa mitos dan fakta seputar selaput dara yang barangkali belum banyak diketahui

1. Apakah selaput dara adalah “batas” yang melindungi bagian dalam kelamin perempuan?



Untuk mengetahui hal ini, kita harus mempelajari lebih dulu tentang terbentuknya selaput dara. Organ-organ reproduksi seksual perempuan mulai terbentuk sejak minggu ke-7 dalam kandungan. Prosesnya kira-kira seperti dua cekungan atau saluran buntu yang saling bertemu. Satu dari atas, satu dari bawah.

Seiring dengan semakin bertambahnya usia janin, kedua ujung buntu saluran ini makin mendekat satu sama lain. Menjelang akhir usia kehamilan, kedua ujung ini hanya dipisahkan oleh suatu selaput atau membran yang tipis. Selaput ini terletak tepat di dalam mulut vagina. Inilah cikal bakal selaput dara.

Tapi selaput dara bukanlah sebuah “batas” atau “dinding” tak berlubang yang harus “ditembus” seperti ujung pensil menembus kertas. Di seputar masa kelahiran, membran tipis ini membentuk lubang secara alamiah, sehingga akhirnya kedua ujung saluran bertemu dan membentuk satu kesatuan dari luar ke dalam. Lubang inilah yang kelak menjadi jalan pengeluaran darah menstruasi.

Bila selaput dara tak berlubang, darah menstruasi tak bisa keluar. Keadaan ini adalah suatu kelainan bawaan yang disebut imperforated hymen, dan harus ditangani dengan tindakan operasi kecil. Ada pula yang lubangnya ada, tapi terlalu kecil untuk terlihat maupun untuk mengeluarkan darah menstruasi, namanya microperforated hymen. Kondisi ini pun harus diperlebar dengan operasi.


2. Apakah selaput dara setiap perempuan sama bentuknya?

Bentuk alamiah selaput dara sangat bervariasi. Variasi ini dipengaruhi oleh perbedaan orang per orang dan juga perkembangan usia.

Secara umum, ada banyak variasi bentuk selaput dara pada perempuan dewasa. Ada yang berbentuk cincin penuh. Ada yang berbentuk bulan sabit yang melengkung di bagian bawah. Ada yang, alih-alih memiliki satu lubang, justru punya dua lubang bersebelahan yang dibatasi selaput tipis atau malah beberapa lubang kecil. Ada yang bukaannya berbentuk cincin mulus, malah melipat-lipat atau berkelok-kelok seperti ikat rambut yang menggulung. Ada yang tepi bebasnya rata, tapi ada juga yang memiliki lekuk-lekuk kecil seperti gunung dan lembah.

Selaput dara bayi baru lahir, anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia berbeda-beda. Bayi baru lahir umumnya memiliki selaput dara berbentuk cincin yang tebal dan memiliki banyak pembuluh darah. Saat beranjak usia balita, kebanyakan selaput dara berbentuk bulan sabit dan lipatan-lipatannya berkurang. Di usia anak-anak sebelum masa pubertas, selaput dara cenderung tipis, rapuh, dan kurang elastis. Setelah pubertas, hormon estrogen menyebabkan selaput dara semakin tebal dan elastisitasnya bertambah. Bila seorang perempuan telah melahirkan secara spontan, biasanya yang tersisa hanya sedikit jaringan dari selaput dara. Pada perempuan usia menopause, selaput dara menipis karena berkurangnya estrogen.


3. Apakah selaput dara selalu mudah robek?


Seperti yang telah dijelaskan di atas, elastisitas selaput dara sangat tergantung usia pemiliknya. Tapi ternyata pada sesama perempuan usia dewasa pun, elastisitas masing-masing selaput dara tidak sama.

Ada jenis selaput dara yang bisa robek hanya karena memasukkan tampon/jari atau aktivitas olahraga yang terlalu berat. Tapi ada juga penelitian yang menyebutkan bahwa beberapa perempuan yang menjadi pekerja seks komersial memiliki selaput dara yang utuh.

Hal lain yang dapat menyebabkan robekan selaput dara adalah apabila seorang perempuan terjatuh ke atas suatu benda tajam atau pernah mendapat tindakan operasi tertentu.


4. Apakah selaput dara selalu robek bila seorang perempuan sudah pernah berhubungan seksual?


Robek tidaknya selaput dara bergantung pada ketahanan dan elastisitasnya, seperti sudah dijelaskan dalam poin ketiga di atas. Umumnya, hubungan seksual yang bersifat suka sama suka memungkinkan selaput dara untuk meregang dengan baik dan tidak mengalami trauma, robekan, atau luka. Jikapun ada, seringkali hanya berbentuk lecet mikroskopis yang cepat membaik kembali dan tidak tampak secara anatomis.

Yang lebih memungkinkan robekan selaput dara karena hubungan seksual yang melibatkan penetrasi adalah jika penetrasinya kasar, partner perempuan tidak siap untuk berhubungan, kurangnya pelumas atau rangsangan, atau pada anak perempuan yang belum mengalami pubertas. Tapi bahkan pada anak-anak pun, tetap sulit membedakan antara robekan karena trauma dengan variasi anatomis yang normal.


5. Apakah selaput dara selalu berdarah saat hubungan seksual yang pertama kali?


Selaput dara pada perempuan dewasa atau yang sudah mengalami pubertas adalah jaringan yang sedikit sekali memiliki pembuluh darah atau serabut saraf. Kalaupun selaput dara terluka karena hubungan seksual, darah yang mungkin keluar hanya sedikit sekali, dan biasanya tidak tampak karena tercampur dengan cairan pelumas, cairan sperma, dan sebagainya. Peristiwa seprai-bernoda-darah, yang sering menjadi penanda bahwa pengantin perempuannya masih perawan, sesungguhnya sangat kecil kemungkinan terjadinya.

Namun berbeda dengan anak perempuan yang belum pubertas. Selaput daranya cenderung lebih tipis dan rapuh serta memiliki lebih banyak pembuluh darah. Bentuk dan ukuran alat reproduksinya pun belum matang, sehingga bila terjadi penetrasi, penis akan cenderung bergerak menembus/merobek selaput dara alih-alih melewati lubangnya.


6. Apakah tes keperawanan dengan memeriksa selaput dara dapat diandalkan?


Beberapa poin di atas telah menyebutkan tentang variasi yang begitu luas pada bentuk, elastisitas, dan struktur selaput dara antara satu perempuan dengan perempuan yang lain. Bahkan untuk menentukan standar tentang apakah seorang anak perempuan telah mengalami kekerasan seksual atau tidak membutuhkan kehati-hatian.

Lekukan alamiah pada selaput dara perempuan yang belum pernah berhubungan seksual bisa dikira robekan. Sebaliknya, perempuan yang sudah aktif secara seksual bisa saja memiliki selaput dara yang utuh. Perlukaan pada selaput dara pun tidak selalu terjadi karena aktivitas seksual.

Secara umum, penelitian-penelitian yang ada menyatakan bahwa pemeriksaan selaput dara untuk menentukan keperawanan seorang perempuan adalah prosedur yang tidak dapat diandalkan dan kemungkinan besar menyesatkan, meski dilakukan oleh tenaga medis berpengalaman sekalipun.


7. Apakah selaput dara memiliki fungsi?


Berdasarkan ilmu embriologi atau ilmu perkembangan janin, selaput dara sesungguhnya adalah jaringan sisa dari struktur yang ada sebelum janin itu dilahirkan. Hingga hari ini, belum ditemukan fungsi biologis apa pun dari selaput dara, dan apabila selaput dara itu robek, secara medis ia tidak menimbulkan konsekuensi apa pun.


Nah, Ma, itulah beberapa serba-serbi tentang selaput dara yang katanya adalah lambang kesucian seorang perempuan. Kira-kira setelah mengetahuinya, cukup mudah, kan, Ma, membedakan mana yang mitos dan mana yang fakta?

Selama ini, Ma, harga diri seorang perempuan terlalu banyak diletakkan pada suatu organ yang bahkan tidak memiliki fungsi yang signifikan. Pemahaman tentang bentuk dan sifat organ itu sendiri pun lebih banyak mitos daripada kebenarannya. Sungguh tidak adil, bukan, Ma, meletakkan konsep baik buruk pada sesuatu yang tak dipahami dengan baik, padahal konsep tersebut bisa membawa akibat yang luar biasa bagi hidup seseorang?

Begitu pula dengan aturan atau hal-hal yang dipaksakan seputar selaput dara, misalnya tes keperawanan. Pada hakikatnya, tes keperawanan adalah tindakan yang jauh lebih banyak membawa kerugian daripada keuntungan, dan cenderung merendahkan harkat perempuan. Lebih parah lagi, ternyata prosedur itu secara ilmiah tak bisa diandalkan.

Setelah membaca artikel ini, Ma, yuk, kita bersama-sama belajar lebih bijak dalam meletakkan penghargaan pada sesama kita. Bukan hanya karena kita sendiri perempuan, tapi karena banyak dari kita yang sudah atau akan punya anak, cucu, cicit perempuan. Ibu, bibi, nenek kita pun perempuan. Tetangga dan guru kita banyak yang perempuan. Bayangkan, Ma, betapa bahagianya bila kelak di masa depan perempuan bisa lebih dimanusiakan, tidak begitu mudah dipandang hina hanya gara-gara sekumpulan mitos. Dan itu semua harus diperjuangkan dari sekarang.

Sebab ternyata selaput dara sama sekali bukan tameng atau parameter kebaikan kita sebagai manusia. Yang lebih berguna daripada organ sekecil itu adalah tameng yang bertumbuh dalam pikiran dan hati kita: nalar, empati, sikap adil, dan kebijaksanaan. Hal-hal yang harus dimiliki oleh semua orang.

Bukan begitu, Ma?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ini Dia 7 Mitos dan Fakta Selaput Dara yang Barangkali Belum Diketahui oleh Banyak Orang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Putri Widi Saraswati | @putriwidisaraswati

INTJ. Feminis amatir, pencinta buku, penulis angot-angotan, dokter saat dibutuhkan. Belum jadi mama - but would like to be, someday.

Silahkan login untuk memberi komentar