Ini Kisah Saya, Sang Survivor KDRT - Saat Status Istri Menjadi Tak Lagi Sepadan untuk Dipertahankan

Ini Kisah Saya, Sang Survivor KDRT - Saat Status Istri Menjadi Tak Lagi Sepadan untuk Dipertahankan

36.6K
Seharusnya mereka, laki-laki, menjadi pelindung kaum perempuan.

Namun, ternyata, ada saatnya, perempuan rela ditampar bolak-balik, dipukuli hingga babak belur, dan diancam akan dibunuh, demi sebuah status; sebagai seorang istri, pacar, anak, atau apa pun.

Apa yang menyebabkan para perempuan ini rela bertahan menjadi bodoh begitu?

Tak lain tak bukan, adalah karena alasan ketergantungan finansial, kekhawatiran terhadap psikologis anak-anak, dan tidak mampu hidup tanpa suami. Padahal, semua itu bisa diatasi jika perempuan bisa mengambil sikap!

Menjadi single parent itu nggak pernah enak. Kalau ditanya, siapa sih yang bakalan mau? Apalagi menyandang status janda yang punya konotasi buruk di masyarakat kita. Jadi jomblo itu juga nggak enak. Emang bisa santai terus gitu, kalau tiap kali dibully, "Hari gini jomblo?".

Dan, coba ya, perempuan mana sih yang nggak akan baperan kalau ditanya mana pacar padahal belum punya juga? Mana suami, padahal belum juga ada yang ngelamar? Perempuan yang mengutamakan perasaan akan mengesampingkan semuanya demi bisa berada dalam zona nyaman itu. Terbebas dari tuntutan orang sekitar, tentang arti pasangan.

Baca juga: Lepaskan Diri Dari Jerat KDRT, Sekarang!

Demi sebuah status, perempuan pun rela menjadi istri seseorang atau menjadi pacar seseorang, tanpa pikir panjang, tanpa pertimbangan, tanpa mau melihat lebih dekat. Nggak peduli juga akan kenyataan, bahwa untuk mempertahankan statusnya, dia harus mengorbankan segalanya, termasuk harga diri dan nyawa.

Sepadankah itu semua?

Saya akan bercerita mengenai arti "sepadan" ini.

Setiap kali saya mendengar berita mengenai kekerasan pada perempuan, memori saya, tanpa bisa saya kendalikan, selalu kembali pada malam itu. Malam terburuk dalam hidup saya.

Saya telah menikah selama beberapa tahun. Perceraian bukanlah sesuatu yang saya inginkan. Perempuan mana sih, yang mau rumah tangganya pecah? Di bulan-bulan awal menikah, alih-alih kebahagiaan yang saya rasakan, saya justru merasa menjadi perempuan paling menyedihkan di seluruh dunia.

Tapi pikiran itu pun saya tepis. Ah, bukankah memang itu yang kita rasakan kalau sedang sedih? Mungkin saya lagi sensitif. Mungkin saya memang salah. Barangkali saya memang perempuan yang nggak pantas jadi istri. Tapi, memang, tak bisa dipungkiri. Rasanya tidak ada berpihak pada kita. Semesta menjadi begitu kejam.

Dan, paling sedihnya, saya tak juga segera memutuskan untuk mencari jalan untuk menghentikan semua perlakuan brutal itu pada saya!

Saya bertahan!

Baca juga: Cegah dan Lindungi Anak Agar Tidak Menjadi Korban Kekerasan, Bahkan dari Kita Sendiri!

Hingga tibalah malam itu. Saya pikir, barangkali malaikat maut masih bermurah hati pada saya. Saya hanya mendapat beberapa benjolan di kepala saja, tidak sampai cacat atau mati. Dan yang lebih melegakan, bayi berumur tiga bulan yang saat itu sedang tertidur lelap di kamar, sama sekali tidak terbangun mendengar keributan yang terjadi. Dia tertidur pulas dan sehat sampai sekarang. Alhamdulillah! Tuhan masih melindungi kami.

Dan kemudian, perilaku itu terulang lagi, bahkan dengan frekuensi yang lebih sering.

Tapi, tetap saja saya tidak mau berpisah. Pura-pura bodoh, pura-pura semua baik-baik saja. Menutupi semuanya dari keluarga. Mengapa? Karena saya ingin punya keluarga yang utuh! Saya rela mengorbankan diri demi itu.

Saya baru tersadar, saat Mama menunjukkan berita-berita tentang kekerasan pada perempuan, atau mengulang cerita -yang sudah ratusan atau ribuan kali saya dengar- tentang pengalamannya sendiri, membebaskan diri dari cengkeraman tangan ayah saya.

"Bagaimana kalau yang masuk berita itu kamu? Atau Ahza?"

Kata-kata Mama menampar saya.

Iya, bagaimana jika kata Mama benar-benar terjadi? Saya masuk berita di koran di televisi, sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga.

Saya tercenung. Hingga kemudian saya sadar, bahwa ada hal-hal yang sangat bisa dijadikan alasan untuk pergi dari suami, yaitu kekerasan, alkohol, narkoba, dan selingkuh.

Baca juga: Setelah Didera Badai Perselingkuhan, Akankah Kita Bisa Kembali Menjalani Kehidupan Pernikahan dengan Normal?

Kenapa empat hal ini? Karena berdasarkan pengalaman, keempat hal ini bersifat adiktif, membuat pelakunya ketagihan, sehingga ada kecenderungan akan mengulanginya lagi. Sekali saja, buat mereka, nggak akan pernah cukup.

Butuh waktu belasan bulan bagi saya menyadari, bahwa keputusan yang saya ambil untuk pergi ini adalah yang terbaik.

Akhirnya saya nekat lari dari rumah. Allah dengan cara-Nya mengirimkan bala bantuan, yaitu kakak saya. Dia menolong saya saat ingin pergi dari rumah tapi tak sepeser uang pun ada di dompet. Malam itu, saya membakar api yang mungkin tak kunjung padam sampai sekarang. Tapi itu keputusan saya. Keputusan yang sampai saat ini tidak saya sesali.

Saat itu, dorongan yang membuat saya memutuskan pergi bisa dibilang hanyalah karena ketakutan yang memuncak. Juga untuk memberikan efek jera padanya. Bahwa saya sebenarnya bisa pergi, kapan pun saya mau dan kembali ke keluarga saya. Saya masih berharap agar pasangan saya bisa cooling down, dan semua akan kembali seperti semula.

Namun ternyata, keluarga berpendapat lain. Mereka melarang saya untuk kembali. Mereka mencemaskan saya. Mati mungkin menjadi akibat yang bisa dibilang ringan. Bagaimana jika saya cacat, dan menjadi beban? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan bayi saya? Penyesalan sebesar apa yang akan saya tanggung di sisa hidup saya nantinya?

Ya, itulah semua hal harus saya tanggung, jika saya masih masih ingin mempertahankan mimpi saya tentang 'keluarga kecil dan bahagia' yang ternyata hanya utopia semata.

Baca juga: Ini Dia 10 Tanda Bahaya Pernikahan yang Sudah Tak Sehat Lagi dan Harus Segera Diwaspadai!

Satu-satunya yang membuat saya tetap waras adalah Ahza, bayi saya. Jika tidak ada dia, mungkin saat ini saya masih di sana (atau mungkin sudah ditemukan tidak bernyawa?). Sungguh ajaib, di tengah keterbatasan dan di tengah kegilaan saya dengan semua masalah, dia begitu kuat dan tetap bertahan dengan hanya mengandalkan ASI. Dia nggak mau dicekoki susu formula sama sekali atau makanan lainnya. Bayi saya pun tumbuh menjadi anak yang aktif.

Ya, hidup saya memang untuk Ahza dan saya bersyukur mempunyai dia!

Dari cerita yang membosankan ini, sebenarnya saya ingin berpesan pada semua Rocking Mama di Indonesia, maupun di dunia; jangan takut untuk menjadi mandiri!

Hal ini berlaku untuk apa pun status Anda semua. Menjadi istri? Jadilah istri yang mandiri. Sebagai anak perempuan? Jadilah anak perempuan yang mandiri.

Menjadi perempuan mandiri tidak melulu tentang menjadi perempuan superior, perempuan yang mempunyai segalanya di atas lelakinya. Banyak hal yang bisa membuat perempuan menjadi mandiri, dan salah satunya adalah dengan menjadi produktif.

Akhir kata, please, STOP KEKERASAN PADA PEREMPUAN!

Di luar sana, masih sangat banyak perempuan-perempuan lain yang bernasib sama, atau bahkan lebih buruk dari saya. Ada yang mengalami kekerasan itu di luar rumah, dari pacar, orangtua, orang yang tidak dikenal, sampai orang yang seharusnya menjadi pelindung, para suami.

Baca juga: 5 Pikiran Negatif Tentang Suami yang Harus Segera Mama Hilangkan Sebelum Semuanya Hancur Berantakan

Status memang penting. Tapi lebih penting lagi menjadi orang yang bahagia, mandiri, dan bisa bermanfaat untuk orang lain.

Semoga cerita saya bisa memberikan manfaat. Mama punya cerita lain mengenai proses menjadi seorang perempuan mandiri yang kuat? Yuk, jangan malu-malu, share di kolom komen ya!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ini Kisah Saya, Sang Survivor KDRT - Saat Status Istri Menjadi Tak Lagi Sepadan untuk Dipertahankan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Dessy Natalia | @dessynatalia

Happy single mom, mompreneur, blogger at www.ibujerapah.com

Silahkan login untuk memberi komentar