Inilah 11 Cara Anak-Anak Dari Keluarga Bercerai Melihat Cinta Dalam Pandangan Yang Berbeda

Inilah 11 Cara Anak-Anak Dari Keluarga Bercerai Melihat Cinta Dalam Pandangan Yang Berbeda

2.3K
The fact that love is imperfect does not mean that it is untrue or unreal. - Pope Francis

Siapa sih yang ingin gagal dalam pernikahan?

Ketika janji pernikahan diucapkan, nggak pernah terbersit setitik pun terlintas di pikiran setiap pasangan suami istri untuk dengan segera mengakhiri apa yang telah dimulai. Masing-masing tentu mempunyai bentuk perjuangan sendiri dalam menapaki tahun demi tahun pernikahan. Kadang seiring waktu kita juga sadar, bahwa ternyata cinta saja nggak cukup untuk mempertahankannya.

Nggak gampang memang, Ma, untuk bisa memelihara sebentuk ikatan rumah tangga yang sehat.


Baca juga: Pernikahan yang Sehat dan Awet Itu Nggak Mustahil. Ada 9 Kunci untuk Mendapatkannya!


Saat langkah bersama itu terhenti, dunia jadi terasa nggak adil lagi. Tahun-tahun kelam, air mata, dan beribu pertanyaan akan kesucian pernikahan pun melintas di pikiran. Tak jarang akhirnya banyak hujatan terlontar pula dari mulut.

Apa yang salah dengan pernikahan hingga harus berakhir di ruang persidangan? Ke mana perginya kehangatan itu? Apa cinta sudah memudar? Ke mana komitmen pernikahan? Saling menyalahkan, nggak bisa menerima keadaan, tapi sekaligus harus berusaha untuk tegar di hadapan keluarga terlebih anak-anak.

Pada akhirnya, kita hanya bisa menghibur diri bahwa perceraian barangkali bukanlah akhir dari segalanya. Barangkali inilah jalan untuk menjadi sebuah awal kita menemukan yang lebih cocok.

But, what happened then?

Akan ada masa di mana kita benar-benar merasa menjadi manusia paling buruk di muka bumi ini karena harus menyandang status janda. Bukan tak mungkin hal yang sama akan dirasakan oleh suami. Beban hidup seakan lima kali lebih berat, belum lagi ditambah cemoohan dari lingkungan sekitar. Dan, nggak hanya kita yang menderita lahir batin, anak-anak kita juga.

Ya, stop memikirkan diri sendiri sekarang. Kita harus sadar bahwa sebenarnya anak-anak bakalan harus berjuang juga untuk bisa survive dari kondisi ini. Memang sih, sebagian besar orangtua yang bercerai akan berusaha untuk tetap memberikan kasih sayang bagi anak-anak. Apa pun dilakukan agar anak tetap merasa disayangi, tidak sendirian, nggak terkucilkan dari pergaulan, terlebih lagi supaya nggak lari ke free sex dan drugs. We never know kan?

Namun, bagaimanapun, perceraian jelas akan membawa luka bagi anak-anak. Untuk mengatasi lukanya, ada yang mencoba menunjukkan protes dengan berbagai cara, pun ada yang bisa menerima meski sangat sulit. Bagi anak-anak 'korban' dari orangtua yang bercerai, perpisahan tersebut secara nggak langsung akan mengubah cara pandang mereka mengenai ikatan pernikahan yang sesungguhnya antara seorang pria dan perempuan.

Ini dia beberapa di antaranya.



1. Komitmen adalah hal yang sangat krusial

Anak-anak tahu dengan benar bahwa sumpah pernikahan tidak hanya sekadar tulisan di atas batu. Bahwa tindakan lebih penting daripada sekadar kata-kata. Inilah sebabnya mengapa komitmen sangat penting bagi mereka. Mereka nggak butuh nama-nama panggilan kesayangan yang sering diberikan oleh remaja yang lagi pacaran yang lain, semacam hunny bunny cutie choo choo choo, pun mereka tak butuh janji-janji besar yang sudah jelas hanya kosong belaka. Mereka tak butuh sekadar kata-kata gombal. Commitment is way beyond that.


2. Pernikahan bisa jadi sangat menakutkan bagi mereka

Bayangan tentang hidup bersama dengan seseorang untuk waktu yang sangat lama, seperti dalam sebuah ikatan pernikahan, dapat berubah menjadi mimpi buruk. Nggak berarti bahwa pernikahan yang “happily ever after” itu nggak mungkin menjadi kenyataan juga sih. Tapi akan ada sedikit (mungkin malah akan ada banyak sekali) keraguan tertanam tanpa sadar dalam diri mereka, bahwa hal itu akan dengan mudah diwujudkan.


Baca juga: Pernikahan Kini Semakin Terasa Menakutkan. Benarkah? Mengapa?


3. Komunikasi adalah hal yang penting

Hal yang pertama kali dilihat oleh anak-anak dari keluarga bercerai adalah bagaimana kurangnya komunikasi dapat merusak hubungan. Barangkali dalam prosesnya, mereka melihat bagaimana orangtua mereka saling menyalahkan. Dari sebab itulah, anak-anak yang besar dari sebuah keluarga broken home selalu mencari tahu terlebih dahulu, apakah pasangan yang nantinya akan mereka pilih punya kemampuan komunikasi yang baik. Mereka lebih menghargai kejujuran, dan akan meminta pasangan mereka untuk selalu jujur, nggak peduli seberapa pahitnya.



4. Optimis

Orangtua mungkin mengatakan dan berjanji, bahwa mereka akan selalu saling mencintai. Tapi perceraian berada di luar kendali mereka. Namun, bagi anak-anak, semua kata tersebut hanya berupa sekadar kata-kata, yang dengan mudah pula dilupakan.

Karena pengalaman buruk inilah, maka mereka kemudian berjanji pada diri sendiri. Sekali mereka mencintai seseorang, mereka akan mempertahankannya. Mereka berjanji pada diri sendiri akan selalu mencintai pasangannya, apa pun yang terjadi. Tekad seperti itulah yang menjadi optimisme dan motivasi mereka untuk bisa mencintai seseorang nantinya.


5. Sekaligus pesimis

Selain rasa optimis yang besar, namun di waktu yang sama, mereka juga sadar betul bahwa terkadang cinta nggak bisa bertahan lama. Bahwa cinta harus selalu dirawat dan dipupuk. Mereka juga membayangkan, bahwa nggak peduli apa yang telah dilakukan ataupun dikorbankan, pada akhirnya cinta yang tak dipelihara dan tak diusahakan akan pudar juga pada waktunya.


6. Mempertanyakan segala hal

Kepercayaan adalah hal yang sangat mahal bagi anak-anak dari keluarga bercerai. Karena itu mereka cenderung lebih posesif ketimbang orang pada umumnya. Mereka akan lebih sering bertanya segala sesuatu yang sedang dilakukan oleh pasangan mereka nantinya.



7. Lebih Waspada

Anak-anak dari keluarga yang bercerai telah menyaksikan, saat orangtuanya berada di masa-masa yang sulit sebagai akibat dari pertengkaran tiada henti. Hingga akhirnya mereka berjanji pada diri sendiri untuk jangan sampai harus melalui pertengkaran yang sama. Mereka akan lebih berhati-hati saat mereka mulai jatuh cinta, juga saat memulai sebuah hubungan. Mereka akan mencoba lebih jeli dalam mencari tanda-tanda negatif yang berpotensi menyebabkan kesulitan dalam hubungan.


8. Mencintai tanpa syarat

Mereka akan mencintai tanpa syarat. Selalu akan mencoba untuk memberikan pasangan mereka semua cinta yang ada sebagai cara untuk menjaga gairah cinta tetap ada, karena mereka menginginkan cinta itu bertahan lama.


9. Kenyamanan

Karena anak-anak dari keluarga bercerai telah terbiasa untuk memberikan kenyamanan kepada orangtua ketika berada pada momen yang nggak menyenangkan, mereka juga akan melakukan hal yang sama untuk pasangannya. Hal-hal kecil seperti pelukan kasih sayang, merawat orang-orang tercintanya saat sakit, atau sekadar bisikan cinta di pagi hari adalah cara mereka mengingatkan orang-orang yang dicintai betapa kehadiran mereka sangat berarti bagi dirinya.



10. Mereka juga bersiap untuk hal terburuk

Anak-anak dari keluarga bercerai akan mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk karena mereka nggak ingin melalui sakit hati yang sama datang. Bagaimanapun mereka pernah merasakan sakit sebelumnya, dan tak ingin merasakannya lagi. Karena itu, mereka akan berusaha untuk meminimalisir rasa sakit yang mungkin akan timbul. Mereka lantas terbiasa untuk tak punya harapan terlalu muluk, sehingga saat harapan itu nggak menjadi kenyataan mereka tak terlalu merasa kecewa atau sakit hati.


11. Lebih memperhatikan detail

Kencan pertama adalah saatnya "penilaian" buat mereka. Mereka akan mencari setiap kelemahan potensial yang mungkin dapat menjadi penghalang sebuah hubungan. Dengan jeli, mereka akan mengamati calon pasangannya, membuat list kelayakan dalam benak mereka sendiri, dan kemudian akan memutuskan apakah kencan akan berlanjut dengan kencan kedua dan seterusnya, berdasarkan list kelayakan yang telah mereka susun diam-diam.


Baca juga: Ini Dia 5 Mitos yang Bisa Menghancurkan Rumah Tangga


Nggak ada orangtua yang menginginkan perceraian, betul nggak Ma? Kalaupun terjadi, itu sudah melalui masa-masa yang berat dan keputusan itu adalah hal terakhir yang bisa ditempuh. Efek bagi anak-anak pun nggak bisa dihindari. Harus bisa merangkul mereka dalam keadaan apapun dan jangan pernah meninggalkannya. Trauma pada anak pasti akan ada. Tapi, percayalah Ma, anak-anak pun tahu cara untuk mengatasinya di luar pengetahuan kita.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah 11 Cara Anak-Anak Dari Keluarga Bercerai Melihat Cinta Dalam Pandangan Yang Berbeda". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ranny Afandi | @rannyafandi

Content creator. Aquarian. Movie lover. Bookaholic. Read my stories at www.hujanpelangi.com | Find me on IG & twitter : @rannyrainy

Silahkan login untuk memberi komentar