Inilah 7 Mitos tentang Feminisme yang Penting Mama Ketahui Agar Tak Salah Sangka

sumber: Tumblr

Inilah 7 Mitos tentang Feminisme yang Penting Mama Ketahui Agar Tak Salah Sangka

1K
One was not born, but rather becomes, a woman. – Simone de Beauvoir

Mama pernah mendengar tentang feminisme? Kalau mendengar kata itu, apa yang pertama kali terlintas di kepala Mama?

Oops! Sebentar, Ma, kalau Mama sudah takut duluan dengan kata "feminis" jangan dulu buru-buru tutup artikel ini deh. Justru di sini saya ingin bercerita mengenai feminisme, agar Mama nggak parno dan anti duluan dengan gerakan ini. Karena, lagi-lagi menurut saya, feminisme seharusnya layak diperjuangkan, meski dalam hal kecil yang terjadi di lingkungan sekitar kita, oleh siapa pun. Bahkan oleh Mama! Mengapa? Karena Mama, sebagai seorang perempuan yang telah dipercaya untuk melahirkan manusia yang lain, mempunyai potensi yang kuat untuk mematahkan beberapa anggapan yang bisa mengurangi ruang gerak dan kekuatan Mama sendiri.

So, balik lagi ke pertanyaan, apa yang terlintas di benak Mama saat mendengar kata "feminisme"?

Para perempuan pembenci laki-laki? Para perempuan yang suka berontak? Para perempuan yang nggak mau nurut sama kodrat?

Nah, Mama, ternyata di situlah banyak kesalahan anggapan terjadi pada gerakan feminisme ini. Inilah yang membuat masyarakat, dan mungkin juga Mama, sudah takut dan anti duluan dengan kata "feminisme". Padahal gerakan ini ada, murni untuk memotivasi kaum perempuan agar selalu kuat dan mau untuk berpikiran maju.

Coba kita lihat yuk, apa saja mitos-mitos mengenai gerakan feminisme yang sesungguhnya salah, tapi sudah terlanjur melekat di benak kita.


1. Feminisme berarti membenci dan ingin menguasai atau mengalahkan kaum laki-laki


Image via Daily Trojan

Ini adalah salah satu kesalahpahaman paling kuno dan paling mendasar tentang feminisme – yang sayangnya justru paling banyak dipercayai. Feminisme sama sekali bukan dan tidak pernah menjadi perkara membenci laki-laki.

Feminisme memperjuangkan kesetaraan antargender, baik laki-laki, perempuan. Kesetaraan artinya berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Kesetaraan artinya semua orang mendapatkan haknya sesuai kebutuhan mereka masing-masing. Kesetaraan tak pernah berarti membenci, apalagi ingin menguasai.

Kalau ada sesuatu yang diperangi oleh feminisme, itu adalah patriarki. Wikipedia mengartikan "patriarki" sebagai "suatu sistem sosial di mana kaum laki-laki memegang kekuasaan utama, mendominasi di berbagai bidang baik politik, otoritas moral, hak-hak istimewa secara sosial, dan kendali hak kepemilikan atau properti".

Kebalikan dari feminisme adalah patriarki. Jika feminisme menghendaki kesetaraan, patriarki menghendaki dominasi satu gender atas gender lain.

Inilah yang diperjuangkan oleh para feminis.


Baca juga: Indonesia Telah Merdeka dan Saatnya Mama Menjadi Perempuan Independen Dengan 5 Cara Ini!


2. Feminisme hanya untuk kaum perempuan



Mentang-mentang bunyinya mirip dengan “feminin”, sifat yang diidentikkan dengan perempuan, feminisme sering dikira hanya diperuntukkan dan menjadi urusan kaum perempuan.

No, Mama! Jika ada yang beranggapan demikian, Mama bisa menjelaskannya seperti ini.

Pada awal kelahirannya, feminisme memang secara khusus dikampanyekan untuk memperjuangkan hak pilih bagi perempuan, kaum yang saat itu dipandang tidak cukup kompeten untuk berpartisipasi dalam pemilihan publik atau hak-hak politik sipil. Bersama dengan itu, feminisme masa itu juga memperjuangkan hak-hak seksual, reproduksi, dan ekonomi bagi kaum perempuan.

Dan, sekarang kita sudah berada di abad ke-21. Tujuan awal feminisme saat ia lahir sudah cukup banyak terpenuhi. Maka feminisme mulai melebarkan sayap, tak lagi hanya diartikan sebagai pembelaan terhadap hak-hak kaum perempuan yang dikebiri. Namun lebih pada ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di lingkungan kita. Termasuk yang terjadi pada pria!

Patriarki adalah alasan mengapa anak laki-laki didoktrin tidak boleh menangis, meski ia sedih. Patriarki adalah alasan mengapa remaja laki-laki yang lemah lembut perilakunya dipandang “kurang jantan” dan seringkali di-bully. Patriarki adalah alasan mengapa laki-laki diajarkan untuk tidak menunjukkan emosinya, mengapa laki-laki harus sanggup menanggung beban seluruh anggota keluarga, mengapa laki-laki harus memiliki alat kelamin yang besar atau jago di ranjang. Selain menekan kaum perempuan dan gender lain, patriarki juga menuntut gambaran dan syarat-syarat yang tidak realistis bagi laki-laki.

Suami Mama, misalnya, bisa menjadi seorang feminis apabila ia memutuskan untuk vasektomi karena Mama tidak cocok dengan kontrasepsi. Atau jika ia tidak keberatan “bertukar peran” dengan Mama, melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan persepsi masyarakat kebanyakan: Mama sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga, ia mengurus printilan rumah tangga dan membantu jaga anak.

Anak remaja laki-laki Mama bisa menjadi seorang feminis bila ia memutuskan tidak menjaili atau menggoda teman-teman perempuannya dengan candaan seksis, atau bila ia menolak memaksa mencium/meraba/berhubungan seks dengan kekasihnya tanpa persetujuan.

Feminisme adalah perkara kesetaraan. Untuk itu, semua pihak harus menjadi partner dan bekerja bersama-sama.


Baca juga: Pengin Menjadi Perempuan yang Kuat? Mulailah dengan Menghargai Diri Sendiri dalam 7 Langkah Ini!


3. Feminisme dari dulu ya sama saja. Cuma berjuang demi hak perempuan!



Hmmm ... Untuk menangkal mitos ini, barangkali kita perlu untuk menengok sedikit sejarah perkembangan feminisme. Pada dasarnya ada empat gelombang gerakan feminisme sesuai dengan perkembangan zaman. Dimulai pada ab

Dimulai pada abad ke-19 terutama di Eropa, para feminis pada awalnya memperjuangkan hak-hak politik kaum perempuan, termasuk hak untuk memilih dan dipilih, serta hak memiliki properti.

Berlanjut pada tahun 1960-an, topik dominan perjuangannya adalah hak-hak seksual dan reproduksi kaum perempuan, kepemilikan tubuh, serta upah yang tidak merata. Tidak seperti gelombang pertama yang didominasi kaum perempuan kulit putih kelas menengah Eropa, gerakan feminisme gelombang kedua mulai merangkul kaum perempuan dari berbagai etnis di dunia. Termasuk di sini adalah penolakan terhadap berbagai kontes kecantikan, yang dianggap menyamakan perempuan dengan hewan ternak, Ma.

Pada pertengahan 1990-an, feminisme menjadi global dan multikultural. Tak lagi hanya membela hak-hak perempuan, tapi kesetaraan secara menyeluruh. Dan sekarang, zaman makin maju, gerakan feminisme pun menyentuh ke area yang berbasis digital; teknologi, media, internet), body-positive, sex-positive, menolak pandangan biner berdasarkan seksualitas dan gender, serta menolak misandri (pemahaman yang membenci laki-laki).

Nah, see? Feminisme selalu berkembang dari zaman ke zaman. Karena memang pada prinsipnya, feminisme adalah kesetaraan. Tentunya hal ini juga berkembang sesuai dengan kebudayaan yang terus maju.

Feminisme adalah paham kesetaraan yang lintas budaya, nasionalisme, dan gender. Feminisme bisa diterapkan sesuai kebutuhan dan keunikan setiap budaya, sebab feminisme itu sendiri menghargai dan merayakan perbedaan.


Baca juga: Perempuan Bossy - Nggak Cuma Sukses di Karier, Tapi Juga Sukses di Urusan Cinta! Ini 7 Alasannya!


4. Kaum feminis membenci bra, pernikahan, make up, dan hal-hal lain yang seharusnya menjadi kewajiban perempuan


Salah satu prinsip dasar lain dari feminisme, selain kesetaraan, adalah pro-pilihan. Feminisme menghargai hak seorang individu untuk memilih secara bebas, berkesadaran, tanpa paksaan atau tekanan dari mana pun. Termasuk memilih menikah/tidak, memakai make up/tidak, mencukur bulu ketiak/tidak, memakai bra/tidak. Otoritas atau hak milik seorang individu atas tubuh dan pilihan-pilihannya adalah sesuatu yang selalu diperjuangkan oleh feminisme.

Dan pilihan-pilihan tersebut termasuk apa yang ada dalam hidup sehari-hari.

Feminisme, misalnya, mendukung Mama apabila hendak memilih menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga, sesuai dengan kebutuhan Mama. Feminisme mendukung Mama apabila hendak menjadi fans K-Pop atau Hollywood. Feminisme mendukung Mama apabila Mama hendak memilih kontrasepsi apa pun yang Mama rasa paling cocok untuk Mama. Feminisme mendukung Mama jika suami ingin berhubungan seks tapi Mama sedang tidak enak badan. Feminisme mendukung Mama apabila Mama tidak pintar memasak. Feminisme mendukung Mama apabila orang berkata bahwa tubuh Mama sehabis melahirkan jadi lebih jelek. Feminisme mendukung Mama apabila Mama ingin mengeriting rambut, meluruskannya, atau memotongnya pendek sekali. Feminisme mendukung Mama apabila Mama ingin mengenakan lipstik merah darah, atau berbaju sedikit terbuka saat menghadiri pesta.

Feminism is all about the freedom to choose.


Baca juga: Hey, New Mama! Hindari Terjebak dalam Moms War Berkepanjangan dengan 5 Tips Ini!


5. Feminisme menentang ajaran agama


Harus diakui bahwa banyak agama di dunia, terutama agama-agama Abrahamis (Yahudi, Kristen, Islam), yang interpretasi ajarannya banyak terpengaruh oleh sudut pandang patriarki dan cenderung memandang perempuan sebagai warga kelas dua. Hal ini disebabkan ketika agama-agama tersebut lahir, mereka pertama-tama hadir dalam konteks masyarakat yang masih sangat kental dengan patriarki. Mau tidak mau, sudut pandang dan konteks sosial budaya masyarakat di mana suatu agama lahir akan memengaruhi interpretasi dan gaya pengajarannya.

Namun, seperti yang sudah ditulis di poin ketiga, Ma, bahwa gerakan feminisme telah menjadi sesuatu yang begitu global dan cair. Feminisme tidak lagi kaku. Ada banyak pihak yang telah berupaya menghadirkan interpretasi ajaran agama yang lebih ramah terhadap perempuan, termasuk banyak cendekiawan Muslim di Indonesia. Beberapa bahkan nggak ragu-ragu mendeklarasikan dirinya sebagai seorang feminis.

Saya sendiri masih seorang pemeluk agama, dan itu tidak menghalangi saya untuk percaya bahwa kesetaraan yang diyakini feminisme patut untuk diperjuangkan demi kehidupan bersama yang lebih baik.


Baca juga: Begah Melihat Kondisi di Sekitar? 5 Cara Sederhana yang Penuh Cinta Ini Akan Mampu Mengubah Dunia!


6. Feminisme tidak diperlukan lagi. Toh, zaman sekarang perempuan sudah sejajar dengan laki-laki.


Benarkah? Well, mari kita lihat yang terjadi di sekitar kita.

Di negara kita sendiri, ada banyak sekali contoh. Sistem hukum dan peradilan negara kita belum ramah terhadap perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual. Berdasarkan sebuah survei daring yang diselenggarakan oleh Lentera Sintas Indonesia (sebuah support group untuk penyintas kekerasan seksual), Magdalene (sebuah webmagazine feminisme), dan difasilitasi oleh Change.org, mengungkapkan fakta bahwa ada 93% korban pemerkosaan tidak pernah melapor ke pihak berwajib, dan dari antara mereka yang melapor, hanya 1% yang kasusnya ditangani hingga tuntas di pengadilan, Ma!

Sedihnya, alasan yang diutarakan oleh mereka yang enggan melapor mayoritas karena ketakutan dipermalukan atau dipersalahkan, takut tidak mendapat dukungan dari keluarga, takut dituduh tidak punya bukti, atau karena diintimidasi oleh pelaku.

Media arus utama kita juga masih belum memiliki etika yang baik dalam memberitakan kasus kekerasan seksual. Misalnya, menyebut kasus pelecehan dan kekerasan seksual dengan istilah "keisengan", bahkan media juga dengan terang-terangan membuka identitas asli korban.

Itu baru soal kekerasan seksual. Belum jika kita membicarakan sulitnya menghadirkan ruang menyusui bagi pegawai-pegawai perempuan yang baru kembali dari cuti melahirkan, perbedaan upah yang masih saja ada di antara buruh laki-laki dan perempuan, pimpinan-pimpinan tinggi perusahaan atau pemerintahan yang masih didominasi kaum laki-laki karena kemampuan memimpin perempuan diragukan, humor-humor seksis (beberapa bahkan tentang pemerkosaan) yang dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari, pernikahan anak di bawah umur, tingkat putus sekolah yang masih lebih tinggi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki dan banyak hal lain.

Duh, bukankah semuanya masih kita temui sampai sekarang, Ma?

Saya pribadi (meski saya hanya satu bagian kecil dari masyarakat yang sedemikian besar) memang memimpikan hadirnya masa ketika feminisme tidak lagi diperlukan. Tapi, melihat apa yang terjadi di masyarakat kita saat ini, sepertinya saat itu masih akan sangat lama terwujud. Terdengar begitu pesimis ya? Tapi yah ... bagaimana lagi?


Baca juga: Ini Kisah Saya, Sang Survivor KDRT - Saat Status Istri Menjadi Tak Lagi Sepadan untuk Dipertahankan


Begitulah, Ma. Terlalu susahkah untuk dipahami? Saya harap sih enggak, ya. Karena, seperti kata pepatah klise, tak kenal maka tak sayang, semoga dengan semakin mengenal arti gerakan feminisme, Mama semakin juga mengerti mengapa Mama harus memperjuangkan hak-hak sebagai seorang mama bagi anak-anak.

Semoga setelah membaca tulisan ini, Mama nggak lagi takut dengan hal-hal yang berbau feminisme, ya. Atau mencurigai siapa pun yang mendukung feminisme. Karena feminisme hadir untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik dan adil bagi kita semua dan bagi anak cucu kita kelak.

Stay strong, Mama!



Referensi:

Feminism - https://en.wikipedia.org/wiki/Feminism

Patriarchy - https://en.wikipedia.org/wiki/Patriarchy

10 Pemahaman Keliru tentang Feminisme - http://www.magdalene.co/news-381-10-pemahaman-keliru-tentang-feminisme-.html

Indonesian Media Coverage of Sexual Violence Unethical - http://www.magdalene.co/news-841-indonesian-media%E2%80%99s-coverage-of-sexual-violence-unethical-rights-body.html

Stop Jadikan Humor Seksis Wajar - http://www.magdalene.co/news-865-stop-jadikan-humor-seksis-wajar.html

93 Percent Survivors Stay Silent About Their Rapes: Online Survey - http://www.magdalene.co/news-870-93-percent-survivors-stay-silent-about-their-rapes-online-survey.html

6 Things to Know About Fourth Wave Feminism - http://www.bustle.com/articles/119524-6-things-to-know-about-4th-wave-feminism

Four Waves of Feminism - http://www.pacificu.edu/about-us/news-events/four-waves-feminism

Time to Popularize Quran Interpretations that Treat Women and Men Equally - http://www.magdalene.co/news-856-time-to-popularize-quran-interpretations-that-treat-women-and-men-equally.html


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah 7 Mitos tentang Feminisme yang Penting Mama Ketahui Agar Tak Salah Sangka". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Putri Widi Saraswati | @putriwidisaraswati

INTJ. Feminis amatir, pencinta buku, penulis angot-angotan, dokter saat dibutuhkan. Belum jadi mama - but would like to be, someday.

Silahkan login untuk memberi komentar