Inilah Kisah Saya, Sang Survivor Depresi Pasca Melahirkan - Saat Menjadi Seorang Mama Jadi Hal yang Begitu Menakutkan

Inilah Kisah Saya, Sang Survivor Depresi Pasca Melahirkan - Saat Menjadi Seorang Mama Jadi Hal yang Begitu Menakutkan

7K
Depresi pasca melahirkan dialami oleh 10 - 15% mama yang baru melahirkan dari 80% yang mengalami baby blues syndrome. Depresi pasca melahirkan harus segera diatasi, sejak gejala mulai muncul!

Saya pernah ingin membunuh bayi saya. Ya, Mama, saya pernah menderita depresi pasca melahirkan.

It was horrible, Mama!

Ketika ada orang lain (selain saya dan bayi saya) di sekitar kami, maka saya terlihat seakan-akan adalah seorang mama yang bahagia dan sempurna yang sangat menyayangi bayinya. Tapi ketika saya cuma berdua bersama bayi saya di rumah, it was the most scary moment for me!

Alhamdulillah, saya dan bayi saya masih dilindungi oleh Allah.

Pada tahun 1875, seorang peneliti bernama Savage menulis referensi dalam sebuah literatur kedokteran, di situ disebutkan bahwa ada suatu keadaan disforia pasca persalinan yang dialami oleh para mama baru. Kondisi ini disebut milk fever, yaitu merupakan reaksi emosi yang muncul bersamaan dengan mulai bekerjanya hormon prolaktin pada new mama yang merangsang keluarnya ASI.

Milk fever kemudian dikenal dengan istilah post-partum blues atau juga maternity blues, atau yang lebih kekinian dikenal dengan istilah baby blues syndrome. Yes, Mama, jadi baby blues syndrome didefinisikan sebagai reaksi emosional pada perempuan setelah persalinan. Baby blues syndrome merupakan gejala paling ringan dari depresi pasca melahirkan.



Infografis via Baby Center


Reaksi emosionalnya seperti apa? Biasanya ditandai dengan gejala depresi seperti cemas, menangis dan takut (Sugi Suhandi, 2007).

Ya, ya. Reaksi emosional.

Reaksi emosional sementara. Banyak literatur juga menyebutkan bahwa baby blues syndrome ini akan segera berlalu secepat datangnya. Berarti nggak apa-apa, semua bisa diatasi.

Benarkah demikian?

Well, jika baby blues syndrome berlangsung lebih dari dua minggu, dengan semakin intens-nya keinginan sang mama menyakiti bayi ataupun menyakiti diri sendiri, maka saat itulah kita "resmi" menderita depresi pasca melahirkan.

Dan itulah yang saya alami, Mama.

I wanted to kill my own baby!

Berkali-kali saya merasakan dorongan untuk melukai anak saya. Jangan dibayangkan, Ma, karena bakalan terasa tak masuk akal. Bagaimana bisa seorang mama akan melukai anaknya? Tapi saat kita berada dalam kondisi tertekan, semuanya adalah mungkin!

Saat-saat tergila yang pernah hampir saya alami adalah ketika saya sedang menggendong anak saya, tiba-tiba saja saya pengin lepaskan dia begitu saja. Biar dia terempas ke lantai!

It was so horrible!

Untung saja saya masih cukup terjaga, dan segera ber-istighfar. Saya segera minta ampun dan perlindungan dari Allah. Does it helps? It does! Saya nggak tahu saya harus mencari pertolongan pada siapa, selain pada-Nya. Bahkan saya tak bisa bercerita pada suami saya sendiri, karena saya takut dianggap gila.

Gilakah saya? Saat itu saya ya juga tak tahu. Mungkin saya memang gila. Saya benar-benar tak tahu dari mana dorongan untuk menyakiti bayi saya itu berasal. Apakah saya ini bipolar? Atau saya berkepribadian ganda? Entah. Kalaupun iya, bukankah seharusnya saya segera mencari pertolongan?



Tapi, sungguh. Saya takut. Saya takut pada diri saya sendiri. Berbagai macam pikiran buruk merasuk ke otak saya. Yang semua tak pernah saya rasakan sebelumnya. Selama sebulan setelah melahirkan saya masih merasa “normal”, karena semua masih baik-baik saja. Saya bahagia telah melahirkan anak saya. Saya sedikit demi sedikit juga belajar, agar bisa menjadi mama yang terbaik untuknya.

Tapi ... selanjutnya saya tak mengenal diri saya sendiri. Dan saya harus mengalami semuanya selama kurang lebih dua bulan. Sendirian. Karena saya tak berani bilang pada siapa pun. Saya takut dianggap gila.

Saya singkirkan semua benda tajam, seperti gunting dan pisau jauh-jauh dari saya dan bayi saya. Karena setiap kali saya melihat benda-benda tajam itu, ada suara kecil dalam kepala saya yang menyuruh saya untuk menyakiti bayi saya. That little silent voice in my head! Suaranya begitu kecil, tapi rasanya seperti meledakkan kepala.

Kalau suara itu terdengar, saya pun segera menjauh dari bayi saya. Saya nggak mau menyentuhnya sama sekali. Saya tidurkan dia di atas kasur, sementara saya lari ke pojok ruangan, memeluk lutut, melorot ke lantai dan menangis sejadi-jadinya. I tried sooo hard to held my self consciousness, Mama!

Ya, saya begitu ketakutan kalau sampai ditinggal berdua hanya dengan bayi saya di rumah. Takut jika hal-hal terburuk terjadi.

Setengah sadar, kemudian saya berusaha untuk mencari tahu. Ada apa dengan diri saya? Apa yang terjadi pada saya? Dan saat itulah saya baru mengerti kalau saya menderita depresi pasca melahirkan. Ini bukan sekadar baby blues syndrome. Saya sudah sampai pada tingkat depresi.

Dari referensi tersebut saya ketahui bahwa kalau si mama bayi "hanya" sekadar mengalami mood swing, mudah menangis, mudah kesal, mudah tersinggung, selalu khawatir berlebihan, enggan memperhatikan si bayi, maka bisa dipastikan dia sedang mengalami baby blues syndrome. Namun jika kemudian si mama ingin menyakiti diri sendiri dan juga bayinya, maka itulah level lanjutan dari baby blues syndrome, yaitu depresi pasca melahirkan.

Dari hasil penelusuran saya itu. akhirnya membuat saya mengambil keputusan. Yang saya alami ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Konon, depresi pasca melahirkan bisa berlangsung hingga satu tahun. Saya tak ingin bayi saya menderita selama satu tahun! Karena itu saya berusaha menyelamatkan bayi saya dari tangan saya, segera!

Hal itu menjadi titik balik bagi saya. Saya sadar, bahwa setelah melahirkan, saya seperti terlalu larut dalam euforia punya bayi baru. Saya terlalu banyak meninggalkan kewajiban ibadah yang seharusnya terus saya lakukan.

Saya pun lantas meningkatkan salat saya, yang wajib dan yang sunnah. Saya perbaiki komunikasi saya dengan Allah. Saya curhat dan menangis di hadapanNya, setiap kali saya melakukan tahajud. Saya dzikir setiap kali saya akan dan sedang menyentuh, menggendong, menimang dan menyusui anak saya.



Dan apakah suami sudah tahu mengenai hal ini? Belum. Suami saya masih belum tahu sampai semuanya mulai mereda. Until I could put my feet on the ground again.

Saat saya mulai bisa menguasai diri sendiri, barulah saya mengajak suami suami untuk mengobrol. Saya ceritakan, apa yang saya rasakan, apa yang saya lakukan, dan ingin saya lakukan. Saya jelaskan, bahwa saya kemungkinan besar sedang menderita depresi pasca melahirkan.

Apa reaksinya? Tentu saja dia kaget setengah mati, Ma, dan nggak percaya. Saya menenangkannya dengan menjelaskan lebih jauh lagi, bahwa sekarang saya sudah mulai bisa mengendalikan diri, namun saya meminta pertolongannya untuk menjaga saya dan juga bayi kami.

Dia mengerti, dan sejak saat itu, suami saya nggak pernah meninggalkan saya berdua saja dengan bayi kami. Saat dia harus berdinas luar kota, dia akan mengungsikan saya ke rumah orangtua.

It was all getting better, saat saya akhirnya kembali masuk kerja. Saya kembali menemukan diri saya yang dulu, yang selalu sibuk di luar rumah. Kondisi pasca melahirkan yang "memaksa" saya untuk selalu berada di rumah, kemungkinan juga memberikan tekanan tersendiri pada diri saya.

Kini, bayi saya semakin tumbuh besar, sehat dan pintar. Alhamdulillah, semua terlewati dengan akhir yang baik. Selalu ada hikmah di balik peristiwa, sepahit apa pun itu. Dan, hikmah dari kejadian ini adalah saya menjadi lebih mawas diri, nggak pernah lagi meninggalkan ibadah, dan saya semakin menyayangi anak saya.




So, bagi para mama yang kini sedang berada dalam fase yang sangat mengerikan ini, ketahuilah dan percayalah, bahwa Mama tidak sendirian. 80% mama baru di luar sana mengalami baby blues syndrome, dengan 10% di antaranya mengalami kondisi yang lebih parah, yang disebut depresi pasca melahirkan.

Saat Mama mulai merasakan gejala baby blues syndrome, segeralah minta bantuan pada siapa pun (terutama pada suami) agar tak semakin parah hingga menjadi depresi pasca melahirkan. Don't be panic, namun segeralah bertindak cepat. Singkirkan kekhawatiran dan ketakutan dianggap gila. You are fine, you are not sick! But you need help to get over it immediately! Jangan dipendam sendiri!

Atasi segera depresi pasca melahirkan Mama segera sejak gejala timbul, jangan biarkan berlarut.

Stay healthy and happy, Mama!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah Kisah Saya, Sang Survivor Depresi Pasca Melahirkan - Saat Menjadi Seorang Mama Jadi Hal yang Begitu Menakutkan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Inne R. A. | @innera

Content Writer * Translator * Freelance Teacher A life learner

Silahkan login untuk memberi komentar