Inilah #KisahSaya - Atas Percobaan Pemerkosaan yang Kamu Lakukan, Saya Memaafkanmu, Fabien!

Inilah #KisahSaya - Atas Percobaan Pemerkosaan yang Kamu Lakukan, Saya Memaafkanmu, Fabien!

3.9K
Saya memaafkanmu, atas percobaan pemerkosaan yang pernah kamu lakukan pada saya, biarpun butuh perjuangan besar untuk itu. Meski kamu tidak pernah meminta.

Saya tak pernah mengira, bahwa sekali dalam hidup saya, saya ternyata harus menghadapi percobaan pemerkosaan hanya karena kepolosan dan kebodohan saya sendiri.


Sydney yang terik

Siang itu, di sebuah restoran cepat saji di pusat kota Sydney, memang sedang terik. Saya dan beberapa teman Indonesia yang sedang mengambil program ‘Summer English’ di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris, sedang asyik menikmati sunshine di pelataran restoran.

Menikmatinya bukan karena kami rindu sinar matahari yang terbit di sana hanya sekitar tiga bulanan per tahunnya, tapi karena butuh. Kami kedinginan! Musimnya memang summer, tapi di penghujung, menjelang autumn alias musim gugur. Anginnya terlalu dingin buat kami, para makhluk tropis ini.

Seperti halnya orang-orang putra negeri lainnya yang lebih suka berbicara dengan bahasa ibu, kami, yang menuntut ilmu (biarpun programnya cuma sebulan) bahasa Inggris di sana, tetap cekakak-cekikik mengobrol dalam bahasa Indonesia.

Yes, alih-alih membiasakan diri dengan mata pelajaran yang cuma satu-satunya, bahasa Inggris, kami kekeuh menggunakan bahasa ibu, yaitu bahasa Indonesia di mana pun kami berada.


BACA JUGA


Inilah #KisahSaya - Saya Hamil di Luar Nikah dan Harus Berdamai dengan Janin yang Tak Saya Harapkan

Inilah #KisahSaya - Saya Hamil di Luar Nikah dan Harus Berdamai dengan Janin yang Tak Saya Harapkan

Hamil di luar nikah telah menghancurkan semua yang sudah saya raih; keluarga, harapan dan karier saya. Tapi, saya harus mencintai bayi yang ...

Read more..


Kemudian dia datang


Saat sedang asyik bercanda-ria dan mengomentari setiap bule yang berseliweran, seseorang ternyata memperhatikan kami dari kejauhan.

Ia kemudian menghampiri, dan memberi salam, “Assalamualaikum.”

Sontak, kami-–yang rata-rata adalah perempuan--menoleh, dan terkesima. Lalu, otomatis, ndesonya kumat. Mesem-mesem nggak jelas, sedikit ganjen, sambil cari perhatian.

Bagaimana tidak? Yang sedang berdiri dengan kedua tangan ditangkupkan di dada, dengan matanya yang biru, senyuman yang menarik, bahasa yang familiar, dan berwajah putih bersemu merah itu adalah cowok bule yang tampan!

“Walaikumsalaaaam!”

Kami pun menjawab bak paduan suara, salam penuh doa dan keramahan itu. Hari gini, ada bule ganteng ngucapin salam, masa iya ditolak?

Sang bule kembali bersuara, “Kalian dari mana? Malaysia atau Indonesia?”

Demikianlah, kami semua lantas terlibat dalam percakapan menyenangkan dengan cowok Prancis yang sedang mengambil master degree jurusan Hukum Internasional di Sydney itu.

“That’s why I need to master seven different languages, including Indonesia," jelasnya mengenai kefasihan berbahasa Indonesia-nya. Kami manggut-manggut, masih dalam pesonanya.

Singkat cerita, kami semua bertukar nomor telepon dan berjanji untuk saling berkabar lagi.

Tapi dia hanya mengabari saya saja. Bukan yang lain.

“Van, loe mau ke mana abis les?" Saya menjawil tangan Ivan, teman akrab saya di kelas.

“Nongkrong sama anak-anak di QVB paling. Kenapa?” tanya Ivan balik. QVB, atau Queen Victoria Building, adalah sebuah shopping centre besar di Sydney. Lokasinya pas di seberang tempat kursus kami.

“Anterin gue ke apartemennya Fabien, ya!”

“Si bule? Ngapain?”

“Main aja. Dia nelpon gue dooong!” Saya memekik girang.

“Nelpon nyuruh loe dateng ke apartemennya, gitu? Loe mau?”

“Ya iyalaaah!” Sungguh, saya tak pernah mengira, kepolosan saya ini akan menuntun saya ke sebuah bencana. “Kenapa sih?”

“Janjiannya di mana kek. Masa di apartemen? Ntar loe diapa-apain loh!”

Saya, yang tukang maksa, yang begitu naif, kegeeran dikontak sama bule ganteng, berhasil memaksa Ivan untuk mengantar.

“Tapi gue nggak mau ikut masuk ya!” Cowok itu berpesan.


BACA JUGA


Si Remaja Mulai Pacaran, Ma? Nggak Usah Bingung, Lakukan 9 Tips Ini Agar Semua Terkendali!

Si Remaja Mulai Pacaran, Ma? Nggak Usah Bingung, Lakukan 9 Tips Ini Agar Semua Terkendali!

Akhir-akhir ini, gaya pacaran remaja semakin mengkhawatirkan. Bagaimana kita harus menyikapi si remaja yang mulai mengenal pacaran

Read more..


Ternyata feeling kelaki-lakian Ivan benar

Fabien menyambut saya dengan keramahan ala timur yang memesona di apartemennya--sebuah unit kecil kamar dengan dua tempat tidur, lengkap dengan kamar mandi dan dapur yang sederhana. Ia menyewanya berdua dengan teman kuliahnya, katanya, supaya lebih murah.

Fabien mengajak saya duduk, untuk memperlihatkan koleksi kaset Rhoma Iramanya yang tersimpan apik sebagai

“..kenangan atas keragaman musik Indonesia,” jelasnya dengan bangga.

Saya nyengir saja. Rhoma Irama? Okay! Why not?

“Kamu mau lihat al-Qur’an saya? Ini .,..”

Diambilnya kitab suci itu dari mejanya.

Saya kembali terpesona. Bule. Ganteng. Pinter. Menghargai seni. Memiliki al-Quran. Tunggu sampai Ivan dan Mama saya mendengar semuanya!

“Kamu mau minum apa? Saya punya teh. Tunggu ya!” Dia pun bangkit untuk menjerang air.

Saya beranjak ke jendela kamar yang besar. Melihat keluar, menikmati pemandangan kota dari lantai 3, sambil menilik-nilik ke setiap pohon di bawah sana, mencari di mana Ivan berada.


Mau main halus atau kasar?


Iya, cowok itu akan menunggu saya, katanya, kalau-kalau saya keluar sambil menangis. Cih! Saya tertawa dalam hati, sedikit mengejek keparnoan Ivan.

Kenapa sih tu orang? Bawel banget, macam orang tua!

Saya masih asyik melayangkan pandang, ketika ada dua tangan tiba-tiba memeluk saya dari belakang.

Saya terkejut dan berteriak. Spontan membalikkan badan dan menjauhkan kedua tangan Fabien dari saya. Tangannya bisa lepas dari pinggang, tapi kemudian disenderkannya di jendela, di sebelah kiri dan kanan telinga saya.

Sembari mendekatkan wajahnya, Fabien bertanya, apakah saya mau ‘main halus atau kasar’.

Sebuah frasa baru, yang membuat saya mengernyitkan kening.

“Owh, c’mon, don’t play around. Let’s get started!” desahnya sambil menundukkan kepala, dan mulai menciumi leher saya.

Saya kembali berteriak. Saya menghindar, lalu dikejar dan dijatuhkan ke tempat tidurnya.

Saya mulai paham akan apa yang sedang terjadi, dan meronta-ronta di bawah tindihannya. Antara kebingungan dan senang, bule Perancis itu semakin erat memeluk dan menciumi saya.

Dia bilang, tidak mungkin kalau saya tidak tahu bahwa ajakannya ke apartemen itu adalah untuk bermesraan dengannya. Juga bahwa dia senang-senang saja dengan apa pun itu ‘permainan’ saya.

Dengan jijik dan harga diri yang terinjak, saya mengerahkan segenap tenaga untuk mendorongnya.

“Apa? Did you invite me for this?”

“Of course! Owh, don’t tell me that you don’t know that! You came here to have some fun, too, didn’t you?”



Saya terhina


Sangat terhina. Dan perasaan itu memberi kekuatan tambahan untuk saya. Saya memukul, menendang, menjambak, menyakitinya dengan cara apa pun yang saya bisa, sambil berteriak-teriak layaknya orang gila.

Bukannya surut karena usaha saya menolaknya, Fabien malah tambah menggila. Tangannya menggerayang, masuk ke balik pakaian saya. Saya mengutuk, mengeluarkan segala sumpah-serapah, dengan sepenuh harap agar salah satu dari sumpahan saya itu terjadi seketika.

“Mati kamu orang jahat. Bang***!”

Namun sia-sia. Hal itu malah membuat berahinya semakin menggelora. Ia berhasil melucuti pakaian saya dengan tenaganya yang besar.

Tak patah arang, saya mengeluarkan jurus lain: menangis. Siapa tahu hal itu akan meluluhkan hatinya. Saya meraung-raung memanggil Mama, Papa, bahkan Ivan, dengan tersedu-sedu.

Sekian lama, hingga saya menyembah kaki Fabien. Memohon dan menghiba padanya. “Please don’t do this to me. I’ll give whatever you want, but please let me go!”

Tangis saya tak bisa terkendalikan lagi.

Saya benci diri saya sendiri, karena memohon-mohon begitu padanya. Dalam segala hal, posisi saya sudah di bawah, mengapa harus menunduk pula? Ibarat hati yang sudah tercabik dan berdarah, harus ditetesi jeruk nipis pula!

Tapi saya tidak punya pilihan. Saya harus lolos dari percobaan pemerkosaan yang akan dilakukannya!

Nampaknya strategi itu berhasil. Fabien tampak termangu, berhenti, dan menenangkan dirinya sendiri yang sebelumnya membrutal. Ada secercah harapan di hati saya.

“Don’t worry, I’ll use a condom. Wait here!” perintahnya dan segera masuk ke kamar mandi.

Saya terbengong-bengong, mencoba mengartikan perkataannya.

Apa maksudnya? Dia akan mengambil kondom? Dia pikir, saya menolaknya hanya karena dia tak menggunakan pengaman? Ya Tuhan! Apa itu artinya dia masih ingin meneruskan usahanya memperkosa saya?


Saya harus bisa lolos dari percobaan pemerkosaan ini!

Untungnya saya segera sadar, dan buru-buru menganalisis keadaan. Saya mengukur-ukur jarak tempuh dari tempat tidur ke pintu.

Berapa langkah yang harus saya ambil dengan berlari? Cukupkah waktunya untuk membuka kunci dan slot, atau keburu si bang*** itu keluar dari kamar mandi? Haruskah saya berpakaian dulu, atau langsung kabur walau harus menanggung malu di luar sana?

Ah what the heck! Saya harus lari! Saya harus bisa lolos dari percobaan pemerkosaan ini!

Saya bangkit sambil menyambar sweater. Lumayan untuk sekedar menutup bagian depan.

Tapi, terlambat!

“Please don’t make me play hard on you!" Tiba-tiba suaranya terdengar di tengah kekalutan saya.

Fabien telah berdiri di depan pintu kamar mandi. Telanjang, dengan hanya sebuah kondom menempel di tubuhnya. Laki-laki itu perlahan mendekat.

Oh. My. God.

Saya terkesiap, lalu memeras otak memikirkan plan B untuk hidup saya. Apakah jendela itu bisa dibuka? Kalau saya loncat, apakah saya bisa mendarat dengan selamat? Atau saya tendang saja anunya?

Ya, saya tendang saja! Pukul kepalanya sekeras mungkin, lalu lari ke pintu.

“What are you thinking? You don’t want your pretty face to be hit, do you?”

What? Fabien bisa membaca pikiran saya!

Saya semakin kalut. Merasa tak berdaya, tapi saya tak ingin menyerah. Dalam hati saya menyesali, mengapa saya harus datang ke tempat ini?

Tuhanku, begitu lemahnyakah diri ini hingga begitu mudah diperdaya, dihina, diancam-ancam, sampai dilecehkan oleh orang yang entah kenapa tiba-tiba muncul dalam hidup hamba? Hikmah apa yang Engkau coba berikan pada hamba, ya Tuhan?

Saat itu, saya tidak punya perasaan apa-apa lagi, selain kehancuran. Bisa jadi, saya pulang hanya tinggal nama. Saya berjalan mundur dengan tangis yang sudah tidak lagi mengeluarkan suara. Hingga punggung saya membentur jendela.


Saya lolos dari percobaan pemerkosaan itu!


“Mama, Papa, adikku sayang, kalau Kakak punya salah, maafin ya! Maafiin semuanya, Kakak sayang kalian!” Saya meracau pilu dalam batin, dan terus berdoa, “Ya Allah, selamatkan saya!”

Saya lepaskan doa itu ke udara. Sebuah harapan terkahir di antara ketidakmungkinan. Saya memejamkan mata, menyerahkan segalanya pada Tuhan semata, dan bersiap untuk hal yang terburuk.

Tapi, apakah yang mustahil bagi-Nya?

“I pity you!” Suara Fabien tiba-tiba terdengar kembali. Begitu angkuh, dan getas. ”Take your clothes, and go washing up. Then get away from here!”

Kata-katanya menggema dalam kepala saya.

Saya membuka mata, dan dia mengulangi perintahnya. Saya berkedip, mencoba mencerna kalimat bernada sombong itu.

Doa saya terkabul! Sang Maha Besar meloloskan saya dari lubang jarum!

“Ya Allah! Terima kasih!” jerit saya dalam hati.

Tanpa berlama, saya memunguti pakaian dan masuk kamar mandi. Memakai kembali bra, celana dalam, dan baju saya sekenanya.

Saya menghambur ke pintu dan membuka semua kuncinya dengan gemetar. Dengan pandangan terhalang air mata, saya kemudian berlari menyusuri lorong, dan memilih menuruni tangga ketimbang menunggu lift tiba.

Saya takut si bang*** itu berubah pikiran, dan mengejar saya!

Saya ingat benar perasaan saat itu: ingin memeluk Ivan atau siapa saja di luar sana dan menangis sejadinya, untuk sekadar menemukan kembali rasa aman yang sempat hilang dari saya.


BACA JUGA


Inilah #KisahSaya - Saat Pelecehan Seksual yang Saya Alami Menjadi Bayangan Hitam yang Selalu Menyertai Setiap Langkah Saya

Inilah #KisahSaya - Saat Pelecehan Seksual yang Saya Alami Menjadi Bayangan Hitam yang Selalu Menyertai Setiap Langkah Saya

Pelecehan seksual adalah semua tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. ...

Read more..


Saya butuh rasa aman! Semua perempuan butuh itu!

Teruntuk semua laki-laki di seluruh dunia, jadilah pria sejati sesuai kodrat yang diberikan oleh Tuhan kepada kalian, yaitu untuk melindungi kami, perempuan.

Secara fisik kami lebih lemah, tapi bukan berarti kami boleh dilecehkan begitu saja!

Teruntuk Fabien, di mana pun kamu berada kini, saya sudah memaafkan, walaupun jiwa ini teramat sakit.

Saya memaafkanmu, biarpun butuh perjuangan besar untuk itu. Meski kamu tidak pernah meminta. Memaafkan kamu butuh kekuatan besar, dear Fabien, sepertinya demikian pula halnya dengan meminta maaf.

But I guess this time, saya yang lebih kuat dari kamu. Saya berani memaafkan atas percobaan pemerkosaan yang kamu lakukan, tapi kamu bahkan tidak berani meminta.

Ini hikmah yang Tuhan ajarkan kepada saya, bahwa di balik kelemahan perempuan, ia begitu besar dalam jiwa pemaafnya.

Now I pity you, Fabien!


***


- Seperti yang dituturkan oleh Kenayu pada Redaksi Rocking Mama. -

Mama punya kisah hidup inspiratif, serupa dengan yang di atas, yang ingin dibagikan pada jutaan pembaca lain agar mereka pun bisa memetik hikmahnya?

Yuk, tuliskan dalam format .doc atau .docx, dan kirimkan untuk dimuat di Rocking Mama! Ada kompensasi yang disediakan untuk setiap cerita #KisahSaya yang dimuat.

Lebih lengkapnya bisa dibaca di halaman #KisahSaya ini ya!

Rocking Mama tunggu kiriman cerita Mama!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah #KisahSaya - Atas Percobaan Pemerkosaan yang Kamu Lakukan, Saya Memaafkanmu, Fabien!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Rocking Mama | @RockingMama

Mother's life hacks - Mama Community - For Smart & Powerful Moms Only!

Silahkan login untuk memberi komentar