Inilah #KisahSaya - Saat Pelecehan Seksual yang Saya Alami Menjadi Bayangan Hitam yang Selalu Menyertai Setiap Langkah Saya

Inilah #KisahSaya - Saat Pelecehan Seksual yang Saya Alami Menjadi Bayangan Hitam yang Selalu Menyertai Setiap Langkah Saya

7.4K
Pelecehan seksual adalah semua tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. Sudah saatnya perempuan sadar bahwa apa yang dialaminya termasuk dalam pelecehan seksual. Inilah #KisahSaya

“Pelecehan seksual pada perempuan di tahun 2016 meningkat 100%.”

“93% kasus pemerkosaan di Indonesia tidak dilaporkan.”

Membaca berbagai headlines berita tersebut membuat saya teringat kembali akan peristiwa yang saya alami kira-kira satu tahun yang lalu, dan peristiwa-peristiwa lain ke belakang.

Pagi itu, saya seperti biasa hendak melakukan olahraga kegemaran saya, bersepeda. Pukul 05.00 pagi, saya mengeluarkan sepeda dari garasi. Saya sudah mengenakan celana panjang training dan kaus Tshirt longgar yang mudah menyerap keringat. Saya sengaja nggak mengenakan jaket, karena cuaca sepertinya bakalan panas seperti hari-hari sebelumnya.

Saya pun mulai mengayuh sepeda keluar dari pagar rumah. Saya santai bersepeda, saya nikmati udara pagi, saya dengarkan kicau burung-burung yang beterbangan rendah. Saya memang tak pernah bersepeda sambil mendengarkan music dengan headphone atau earphone, karena saya merasa kalau telinga saya tertutup saya menjadi kurang waspada.

Dengan telinga yang bebas, saya bisa mendengar suara alam yang indah, pun tetap waspada akan kondisi sekitar. We never know, right?


BACA JUGA



Dan, kemudian peristiwa pelecehan seksual itu saya alami.


Saat baru beberapa ratus meter dari rumah, saya pun sadar bahwa ada sepeda motor di belakang saya. Saya agak menepi dan memperlambat kayuhan sepeda, agar si pengendara sepeda motor bisa mendahului saya yang memang sedang pemanasan.

Si pengendara sepeda motor memang mendahului saya, Ma. Namun, tangan si pengendara tiba-tiba saja meraup dada saya dan meremasnya dengan kencang!

Saya oleng dan terjatuh dari sepeda. Tubuh saya menggigil hebat. Shock atas perlakuan yang saya terima, juga shock akibat terjatuh dari sepeda. Sakit di lutut saya tak begitu terasa. Sakit di dada saya … itu masih terasa hingga kini.

Saya berteriak, mengumpat keras. Sampai bergema di lingkungan perumahan.

Tapi, adakah yang keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi?

Nggak ada.

Nggak ada seorang pun keluar dari rumah, sekadar kepo mengapa ada perempuan berteriak. Nggak ada, Ma, nggak seorang pun keluar dari rumah. Lingkungan itu tetap sepi. Padahal hari pun sudah cukup terang, dan jalan kampung itu sebenarnya juga termasuk jalan yang biasanya ramai dilalui kendaraan. Bahkan sejak pagi-pagi.

Tapi, entah kenapa, saat itu tak ada seorang pun yang berada di sana.

Si pengendara motor, alih-alih kabur karena saya berteriak, dia malah berhenti beberapa meter di depan saya. Dia memutar badan, lalu menatap saya sedemikian rupa.

Jangan tanya, bagaimana perasaan saya. Saya nggak bisa menggambarkannya. Dengan tubuh yang masih gemetar hebat, saya bangun, meraih sepeda dan berputar balik.

Saya kayuh sepeda cepat-cepat untuk pulang ke rumah. Saya takut. Takut luar biasa! Bahkan saya seperti merasa si pengendara sepeda motor itu mengejar saya! Berbagai bayangan buruk berkelebatan, hingga membuat saya makin kuat mengayuh sepeda.

Padahal, itu hanya beberapa ratus meter dari rumah, tapi rasanya jauuuh sekali.


Apa reaksi saya terhadap pelecehan seksual tersebut?



Sesampainya di rumah, saya menangis sejadi-jadinya. Saya segera ke kamar mandi (saya sebenarnya sudah mandi pagi itu sebelum mulai bersepeda). Saya mandi lagi. Saya gosok tubuh saya kuat-kuat, sampai sakit. Saya merasa mau muntah. Memuntahi tubuh saya sendiri.

Selesai mandi, dan juga keramas, saya masih belum merasa bersih. Saya ambil baju saya, dan langsung saya buang.

Beberapa hari kemudian, saya juga akhirnya menjual sepeda saya.

Saat saya bercerita mengenai hal ini pada seseorang, dia menyarankan saya untuk melupakannya saja.

Melupakan?

Mana bisa?

Bahkan sampai sekarang kalau saya ingat, saya masih saja menahan tangis.

Apakah saya lebay? Entah kenapa saran seperti itu membuat saya merasa seperti drama queen. Seolah itu biasa saja terjadi, di mana pun kapan pun.

Tapi, melihat berbagai kasus pelecehan terhadap perempuan yang ada akhir-akhir ini, barangkali memang iya, itu biasa terjadi. Itu yang terdata. Yang nggak terdata dan terlaporkan seperti yang saya alami? Pasti lebih banyak lagi!

Mengapa tidak saya laporkan?

Buat apa? Karena begitu shock-nya, saya tak bisa melihat pelat nomor si pengendara itu. Saya begitu takut, sehingga mana bisa saya mengingat wajahnya? Semua teori yang saya baca, yang banyak saya jumpai di majalah atau di media online mengenai tips dan trik menghindari pelecehan seksual itu, hilang semua!

Semua bullshit! Nggak ada yang bisa dilakukan.

Kalaupun saya laporkan, iya kalau saya nggak disalahkan? Saya lihat dan dengar, banyak korban pelecehan dan pemerkosaan disalahkan pula atas apa yang mereka kenakan. Bagaimana nanti kalau saya disalahkan, karena mengenakan celana panjang training dan TShirt longgar saya? Bisa defend apa saya?

Saya pun trauma keluar rumah. Saya nggak berani bertemu dengan orang yang tak saya kenal kalau tanpa perlindungan. Perlindungan di sini misalnya, saya berada di dalam mobil, sedangkan si orang asing di luar mobil. Atau misal, kami dibatasi oleh area tertentu.

Saya mengalami trauma ini selama berbulan-bulan. Saya memang berusaha mengatasinya sendiri, tanpa bantuan psikolog atau siapa pun. Tapi sepertinya saya nggak akan pernah bisa "sembuh". Ingatan akan peristiwa itu selalu mengganggu sampai sekarang. Saya mencoba untuk bersepeda lagi. Nggak pagi-pagi sekali, tapi saya keluar sekitar pukul 08.00. Tapi tak pernah bisa jauh. Setiap kali ingatan itu melintas, saya langsung putar balik dan kembali ke rumah.

Itu baru saya yang ‘hanya’ mengalami pelecehan seksual. Lalu, bagaimana dengan para korban pemerkosaan? Entahlah, saya nggak berani membayangkan.

Saya yang ‘cuma’ segitu saja sudah trauma berkepanjangan, apalagi mereka?

Kemudian, ingatan saya pun mengembara kembali ke tahun-tahun yang lebih lama lagi.


Ternyata saya sudah sering menerima pelecehan seksual



Waktu itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Sudah biasa bagi kami saat pelajaran olahraga, kami akan melakukan pemanasan dengan berlari mengelilingi kompleks sekolah.

Seperti biasa, anak-anak berlari per gerombol sesuai dengan gengnya masing-masing. Saya pun berlari bersama beberapa orang teman. Tiba di suatu sudut, tiba-tiba ada seorang pria setengah baya yang menyapa kami.

“Sssttt … Sssstttt!” panggilnya.

Kami bertiga menoleh. Ternyata, si bapak itu mengeluarkan (maaf) alat kelaminnya dari dalam celana.

Sontak kami menjerit ketakutan, dan kabur. Kami berlari kencang, pulang kembali ke sekolah. Kami laporkan kejadian tersebut pada bapak guru olahraga, dan kami bertiga pun segera diamankan ke kantor guru. Ada ibu guru yang kemudian menenangkan kami.

Selanjutnya, entahlah. Sepertinya kami memang ditanya-tanya, tapi saya lupa apa saja pertanyaannya. Untunglah peristiwa itu tak terlalu membuat saya trauma. Mungkin juga karena ada pendampingan dari bapak ibu guru yang diberikan pada saya.

Ah, ternyata saya memang sudah beberapa kali mengalami pelecehan seksual. Saya juga pernah dicolek-colek di dalam bus kota yang penuh sesak saat masih kuliah. Saat itu, saya bisa membalas menginjak keras-keras kaki si pencolek sampai dia berteriak kesakitan. Orang-orang menatap saya karena teriakan orang itu. Mereka seperti menyalahkan saya, karena nginjek kaki orang nggak lihat-lihat. Tapi saya nggak peduli. Saya turun dari bus kota itu, dan ganti ke bus lain.

Saya juga mengalami pelecehan seksual saat masih di tahun pertama saya bekerja di sebuah perusahaan selepas saya kuliah. Tapi, seperti halnya korban pelecehan seksual yang lain, I tried to get over it myself.

Puncak dari semuanya adalah peristiwa saya sedang bersepeda di atas.


Apakah kita akan terus diam saja jika ada kasus pelecehan seksual yang terjadi di sekitar kita?


Image via streetharassmentdisruption

Ya, semakin ke sini, pelecehan seksual seperti menjadi makanan sehari-hari bagi kita, perempuan. Banyak yang dilaporkan, namun lebih banyak lagi yang tidak. Kasus pemerkosaan pun hanya sekitar sekian persen saja yang bisa dilaporkan oleh korban, apalagi yang seperti yang saya alami itu.


Menurut dokumen dari Komnas Perempuan, pelecehan seksual adalah semua tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. Ia termasuk menggunakan siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukan materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan. (dikutip dari Komnas Perempuan)


See, Mama? Barangkali Mama pernah juga mengalami salah satunya. Dan, apa yang terjadi? Bahkan mungkin Mama (sebagai korban) merasa itu sangat biasa, sehingga nggak memikirkannya lebih lanjut. Disiulin, dibecandain dengan bernuansa seksual, dicolek-colek ... Ya, Mama, itu semua sudah termasuk dalam pelecehan seksual. Bahkan, jika Mama mengalami pemaksaan hubungan seksual oleh suami, itu juga bisa dilaporkan sebagai tindak kekerasan seksual. Tentunya hal ini jika sudah dalam kondisi ekstrem dan tak bisa lagi dikomunikasikan ya.

Masih ada banyak lagi bentuk kekerasan seksual yang dijelaskan oleh Komnas Perempuan dalam dokumen yang saya baca tersebut. Termasuk soal pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi. Silakan Mama baca sendiri saja ya, detailnya.

Dan, sedihnya lagi, korban pelecehan seksual, dan kekerasan seksual lain, sering justru disalahkan karena mereka dianggap 'mengundang' tindakan yang terjadi pada mereka itu. How sad is that, Mama?

Lalu, apakah kita tetap akan menganggapnya biasa saja? Membiarkan diri kita dilecehkan begitu?

Di momen International Women’s Day ini, saya hanya berharap, semoga kita semua semakin peduli terhadap kasus pelecehan seksual yang terjadi, pada diri kita sendiri dan di sekitar kita.



Jangan diam saat Mama dilecehkan, meski mungkin usaha Mama untuk melaporkan akan sia-sia. Temukan seseorang yang bisa mengerti saat Mama curhat mengenai pelecehan seksual yang Mama alami, dan bisa membantu Mama to get over it.

Pelecehan seksual mau se-"ringan" apa pun akhirnya pasti akan menjadi bayangan hitam yang tak pernah lepas menyertai langkah seorang perempuan jika ia pernah mengalaminya, baik itu dalam bentuk verbal maupun fisik. Ia tak akan dapat melupakannya. Ironis, bahwa banyak orang yang bahkan nggak sadar bahwa mereka telah atau sedang melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan, karena begitu "biasanya" hal itu mereka lakukan.

Begitu pun saat kita melihat ada pelecehan seksual yang terjadi di sekitar kita. Jangan hanya abai saat kita melihatnya. Jangan pura-pura nggak lihat, kalau ada perempuan yang dilecehkan dan terjadi di dekat kita. Meski kita juga perempuan, kita juga bisa menolongnya kok. Ikutlah berteriak dan meminta bantuan bersama korban. Atau foto saja dengan ponsel Mama, lalu laporkan.

Hanya kita yang bisa menolong diri sendiri, Ma. Bukan orang lain. Bukan suami Mama, bukan anak-anak Mama, bukan orangtua Mama, bukan pula polisi.

Hanya kita sendiri.


BACA JUGA


Inilah Kisah Saya, Sang Survivor Depresi Pasca Melahirkan - Saat Menjadi Seorang Mama Jadi Hal yang Begitu Menakutkan

Inilah Kisah Saya, Sang Survivor Depresi Pasca Melahirkan - Saat Menjadi Seorang Mama Jadi Hal yang Begitu Menakutkan

Depresi pasca melahirkan dialami oleh 10 - 15% mama yang baru melahirkan dari 80% yang mengalami baby blues syndrome. Depresi pasca ...

Read more..


Jika Mama mengalami atau mengetahui adanya tindakan pelecehan seksual di sekitar Mama, Mama bisa langsung melaporkannya pada Komnas Perempuan melalui melalui email: mail@komnasperempuan.go.id, atau telepon di 021-3903963.

Kalau bukan sesama perempuan yang saling menolong, lalu siapa lagi, Ma?


Mama punya kisah hidup inspiratif, serupa dengan yang di atas, yang ingin dibagikan pada jutaan pembaca lain agar mereka pun bisa memetik hikmahnya? Yuk, tuliskan dalam format .doc atau .docx, dan kirimkan untuk dimuat di Rocking Mama! Ada kompensasi yang disediakan untuk setiap cerita #KisahSaya yang dimuat.

Lebih lengkapnya bisa dibaca di halaman #KisahSaya ini ya!

Rocking Mama tunggu kiriman cerita Mama!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah #KisahSaya - Saat Pelecehan Seksual yang Saya Alami Menjadi Bayangan Hitam yang Selalu Menyertai Setiap Langkah Saya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar