Inilah #KisahSaya - Sang Korban Kekerasan dalam Pacaran dan Hampir Bunuh Diri karena Putus Asa

Inilah #KisahSaya - Sang Korban Kekerasan dalam Pacaran dan Hampir Bunuh Diri karena Putus Asa

7.8K
Kekerasan dalam pacaran yang terjadi pada remaja, lebih banyak disebabkan oleh "kebodohan" mereka sendiri. Sebagai orang tua, kita memang bertugas mencegahnya.

Hai, Ma. Cerita kekerasan dalam pacaran yang saya alami ini sudah lama terjadi dalam perjalanan hidup saya, yakni 7 tahun lalu, saat saya masih belia, berumur sekitar 15 tahun. Orang-orang terdekat, terutama sahabat saya, tahu tentang kisah yang saya alami ini. Meski sekarang, saya tidak pernah mau membicarakan lagi hal ini dengan siapa pun.

Tetapi, saya menepis keraguan saya untuk menuliskannya bagi Rocking Mama, hanya agar bisa jadi peringatan dan pelajaran untuk Mama yang punya anak remaja, terutama jika ia sudah menunjukkan tanda-tanda suicidal tendencies.

Inilah #KisahSaya.


BACA JUGA



Kepolosan Seorang Anak Remaja


Seperti anak remaja lainnya, saat itu hormon saya sedang tinggi-tingginya. Yup, saya penasaran sekali, seperti apa rasanya berpacaran. Bukan berpacaran dengan anak seumuran, tetapi kalau bisa sih, dengan lelaki yang usianya jauh di atas saya.

Alasannya simpel. Saya ingin dibilang keren dan dewasa, karena ceritanya saya, yang masih remaja belasan tahun ini, bisa punya pacar, orang dewasa pula.

Lalu datanglah dia. Seorang lelaki berusia 28 tahun, 13 tahun lebih tua dari saya. Seharusnya saya tahu kalau keputusan itu adalah keputusan terbodoh. Mau berpacaran dengan orang yang jauh lebih tua itu seharusnya tak saya lakukan. Mengapa? Sebab tentu saja pengalaman dia bermain dengan perempuan sudah banyak.

Tapi apa daya, saya sudah terpikat. Omongan mama saya kala itu juga tidak saya gubris, sebab menurut saya, dia adalah orang baik.

Mama bukannya melarang saya pacaran, namun beliau berkata, “Dia kan umurnya lebih tua, dia sudah lebih banyak bertemu perempuan dan pasti sudah pernah menyakiti hati perempuan. Lebih baik cari yang seusia dengan kamu.”

Kalau saya memikirkannya sekarang, maksud dan tujuan Mama sebenarnya jelas. Beliau ingin supaya lebih baik saya ‘belajar membuat kesalahan’ dengan anak-anak yang masih sama polosnya dengan saya. Belajar membuat kesalahan dengan anak-anak yang memang waktunya membuat kesalahan, do something stupid. Bukan dengan orang dewasa yang bahkan kami tidak tahu dengan jelas latar belakangnya.

Saya pun berpacaran dengan lelaki yang baru saya kenal sekitar 2 minggu itu. Saat itu, yang saya tahu dia adalah saudara tetangga saya. Aslinya, dia tinggal di kota lain dari kami.

Saya tahu, saya begitu bodoh saat itu. Dan, seperti layaknya manusia biasa, saya melakukan kesalahan. Saya belajar first kiss darinya, dan memperbolehkan dia untuk mengambil gambar kami berciuman. Yang tak pernah saya sadari, bahwa inilah bom yang nantinya akan menghancurkan saya.


Kekerasan dalam Pacaran Mulai Saya Alami Beberapa Bulan Kemudian


Mama tahu kan, yang namanya remaja pasti suka ngumpul dan hangout dengan teman-teman sebayanya? Tidak peduli apakah temannya cewek atau cowok, pastilah anak usia 15 tahun itu senang bergaul.

Beberapa bulan setelah pacaran, mungkin 3-4 bulan, saya mulai mengalami depresi dan perasaan takut yang terpendam, Ma. Lelaki itu telah melarang saya untuk berkumpul bersama teman-teman. Bahkan, teman baik saya pun mulai menjauh. Ia melarang saya untuk bergaul, sebab teman-teman saya hampir semuanya tidak suka dengan dia.

Pernah satu kali saya SMS-an dengan salah satu teman lelaki saya, yang tujuannya untuk membicarakan masalah kerja kelompok di sekolah. Karena takut, saya pun menghapus SMS yang sebenarnya tidak ada kandungan selingkuhnya sama sekali—semua tentang pelajaran!

Tapi saya kurang teliti. Ada satu SMS yang terlewat oleh saya. Dan, dia tahu!

Akhirnya, saya mengalaminya! Kekerasan dalam pacaran akhirnya saya alami dengan segera.

Saat dia berusaha mengambil ponsel dari saya, saya ditarik-tarik sekuat tenaga olehnya. Dan itu menyebabkan beberapa bagian tubuh saya jadi memar.

Mungkin memang bukan kekerasan yang sebenarnya, seperti ditendang atau ditonjok, tapi jelas ini pelecehan kan, Ma? Bagaimana bisa seorang dewasa berusia 28 tahun bergulat dengan anak 15 tahun hanya demi merebut ponselnya?

Kemudian, dalam beberapa kali adu argumen, kejadian tersebut terulang. Setiap kali ada pertengkaran, kami bergulat hingga menyebabkan beberapa memar di tubuh saya. Memang sih, tidak banyak dan tidak sering. Tapi yang pasti meninggalkan bekas luka dan ketakutan mendalam dalam diri saya.


BACA JUGA


Inilah #KisahSaya - Saat Pelecehan Seksual yang Saya Alami Menjadi Bayangan Hitam yang Selalu Menyertai Setiap Langkah Saya

Inilah #KisahSaya - Saat Pelecehan Seksual yang Saya Alami Menjadi Bayangan Hitam yang Selalu Menyertai Setiap Langkah Saya

Pelecehan seksual adalah semua tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. ...

Read more..


Saat Saya Meminta Putus, Ancamanlah yang Datang


Pada akhirnya, saya merasa tidak bisa menahan kekerasan dalam pacaran yang saya alami ini. Saya nggak tahan dengan dia. Saya ingin putus dengannya! Saya mau bebas dari dia. Saya tidak mau kehilangan teman, sedangkan dia dengan enaknya bisa melenggang bersama siapa pun yang dia mau di luar sana.

Posesif!

Setelah sekitar 6 bulan berpacaran, akhirnya saya meminta putus darinya.

Tapi, apa yang saya dapatkan? Ancaman!

Dia mengancam akan menyebarkan foto berciuman kami di Facebook. Ah, ini tak lepas dari kebodohan saya! Saya menyesalinya, bagaimana bisa saya memberikan e-mail dan password Facebook saya kepadanya dulu? Dia juga mengancam akan mengirimkannya kepada keluarga. Tak berhenti di situ, bahkan dia juga mengancam akan menyakiti mama dan papa saya.

Saya sangat ketakutan! Bagaimana mungkin saya bisa membiarkan orang menyakiti Mama dan Papa karena kebodohan saya begini? Saya juga tidak mungkin membiarkan foto itu tersebar. Apa kata orang nanti tentang saya? Saya hampir tidak pernah buat onar di sekolah. Saya anak alim yang lebih senang baca buku di sekolah.

Ancaman itu akan menghancurkan hidup saya.

Akhirnya saya pun menurutinya untuk tidak putus.

Tapi satu kali Tuhan menyelamatkan saya.

Suatu waktu saat dia sedang naik kereta, tasnya dicuri orang. Di tas tersebut ada flash disk yang berisi foto-foto kami. dan dengan dicurinya tas tersebut berarti foto tersebut pun hilang!

Tuhan dan alam semesta benar-benar memberi saya jalan keluar! Saya pun memberanikan diri untuk melawan. Saya memutuskan hubungan dengannya. Dan ancaman pun kembali membanjir.

SMS ancaman mulai saya dapatkan darinya, seperti “Lihat akibatnya kalau mau main-main dengan gue!” Atau, “Lihat saja. Di Facebook, semua orang akan gue kirimin foto lo!”

Saya sungguh takut. Saya juga tidak berani bercerita pada orang tua, karena saya malu!

Ternyata dia masih punya beberapa salinan foto terkutuk itu! Aksi penyebaran foto pun mulai dia lakukan. Dengan menggunakan akun Facebook saya (dia mengganti passwordnya sehingga saya tidak bisa membukanya lagi), dia mendekati teman-teman sekolah dan sepupu saya.

Dia memberikan foto tersebut dengan maksud menjatuhkan saya. Penyebaran itu akan berhenti kalau saya kembali dengan dia.


Bullying!

Foto yang begitu privat dibeberkannya pada orang lain. Saya hancur. Di mana harga diri saya? Saya sadar saya sudah sangat bodoh, tapi apa yang bisa saya perbuat? Saya benar-benar putus asa.

Ancaman dan bullying ini akhirnya membuat saya depresi. Saya jatuh sakit karena infeksi lambung, dan selama seminggu tidak masuk sekolah.

Selagi sakit, saya pun mematikan ponsel dan menutup telinga erat-erat dari segala laporan yang diberikan teman-teman saya mengenai dia. Oh Tuhan! Ternyata tak cuma saya yang merasakan akibatnya. Teman-teman saya bilang mereka juga diancam, dan ancaman itu akan berhenti kalau saya kembali padanya!

Bagaimana bisa ada orang yang sejahat itu, Tuhan? Saya benar-benar tak mengerti, dan kembali meratapi kebodohan saya.

Saya sangat sedih. Saya kecewa dengan diri sendiri. Kenapa hal seperti ini bisa sampai terjadi di masa muda saya? Anak-anak lain sibuk bermain, sibuk belajar, sibuk bertingkah konyol, tapi apa yang saya rasakan? Saya sungguh bodoh! Tak henti saya merutuk diri sendiri.


BACA JUGA


Inilah #KisahSaya - Saya Hamil di Luar Nikah dan Harus Berdamai dengan Janin yang Tak Saya Harapkan

Inilah #KisahSaya - Saya Hamil di Luar Nikah dan Harus Berdamai dengan Janin yang Tak Saya Harapkan

Hamil di luar nikah telah menghancurkan semua yang sudah saya raih; keluarga, harapan dan karier saya. Tapi, saya harus mencintai bayi yang ...

Read more..


Suicidal Thoughts Muncul


Hingga akhirnya, di satu titik saya tidak tahan lagi. Saya merasa bahwa saya harus mengakhiri ini semua. Karena saya lebih baik mati daripada harus kembali lagi dengan lelaki itu.

Pemikiran tentang bunuh diri pun muncul. Bagaimana tidak? Sepertinya itu jalan pintas yang sangat mudah. Saya jadi tidak harus berurusan lagi dengan lelaki itu. Saya juga tidak lagi harus menanggung malu datang ke sekolah.

Tapi, saya tidak pernah punya keberanian untuk melakukan semuanya. Saya pernah mencoba mau meminum obat luar seperti Betadine, mengiris pergelangan tangan dengan pisau, dan membeli 10 pack obat tidur. Tapi, nyali saya tidak pernah berani untuk melakukan aksi dengan benda-benda itu. Biasanya mereka hanya akan berakhir di tangan dan di ujung tangisan saya.

Lihatlah, bahkan untuk mengakhirinya dengan cepat pun saya tak berani.


BACA JUGA


Inilah Kisah Saya, Sang Survivor Depresi Pasca Melahirkan - Saat Menjadi Seorang Mama Jadi Hal yang Begitu Menakutkan

Inilah Kisah Saya, Sang Survivor Depresi Pasca Melahirkan - Saat Menjadi Seorang Mama Jadi Hal yang Begitu Menakutkan

Depresi pasca melahirkan dialami oleh 10 - 15% mama yang baru melahirkan dari 80% yang mengalami baby blues syndrome. Depresi pasca ...

Read more..


Akhirnya, Semua Berlalu

Harus saya akui, teman-teman terdekatlah yang membuat saya kuat. Merekalah yang menolong saya kala itu. Mereka yang memberi kekuatan pada saya, saat saya tidak berani minta kekuatan pada orang tua.

Iya, saya malu sekali untuk bercerita pada mama papa saya, meski saya tahu mereka akan memaafkan dan menolong saya.

Pada akhirnya, badai itu pun berlalu, seiring saya mulai berani bercerita pada orang-orang kesayangan saya.

Ya, ancaman dan bullying itu berhenti dengan sendirinya. Mungkin karena saya sudah bertekad untuk tidak meladeninya dan lebih baik memasang muka tebal menghadapi orang-orang dibanding harus kembali lagi padanya.

Dia pun menghilang bagai ditelan bumi.

Saat ini, saya sudah tidak tahu lagi di mana keberadaannya. Meski beberapa tahun lalu dia masih sempat punya keberanian untuk bertamu ke rumah saya layaknya teman, yang secara otomatis langsung saya usir. Pengalaman pahit saat itu langsung menyerbu kembali. Walaupun ketakutan memenuhi diri saya, tapi saya harus berani menghadapinya. Saya tak ingin jika kebodohan saya dulu sampai terjadi lagi. Sekali ada pintu terbuka untuknya, pasti dia akan membolak-balikkan dunia saya lagi.

Saya juga nggak tahu apa yang membuat dia merasa dirinya sebagai seorang teman, hingga berani berkunjung lagi. Teman? Seorang teman tak akan mungkin melakukan bullying dan melancarkan ancaman sampai sebegitu rupa. Ya, saya membiarkannya tahu, saya membencinya begitu dalam.


Pelajaran untuk Semua


Anak-anak remaja itu pada dasarnya selalu penasaran dengan segala hal baru, dan tidak stabil. Bagi Mama yang punya anak remaja perempuan, apalagi di zaman era teknologi seperti ini, please, jagalah pergaulannya. Jangan sampai dia salah langkah seperti saya.

Berteman dengan siapa saja boleh, tapi kalau urusan berpacaran, itu perlu dipikirkan masak-masak. Jangan sampai salah memilih pacar, hingga mengalami kekerasan dalam pacaran seperti ini.

Penggunaan internet dan media sosial juga seharusnya dibatasi. Bahkan, kalau bisa Mama harus berteman juga dengan anak Mama yang punya akun di media sosial. Bukan untuk menjadi komentatornya, melainkan sekadar untuk mengamati saja.

Anak-anak zaman sekarang membagi apa pun ke akun media sosialnya. Bahkan, banyak juga yang makin nggak malu mengumbar foto berciuman dengan pasangannya!

Memang sekarang dia tidak tahu konsekuensinya, Ma. Tapi bagaimana kalau 10 tahun ke depan? Bagaimana jika ada orang dari masa depan yang melihat foto tersebut?

Meskipun badai akhirnya berlalu, tapi luka dan trauma itu masih membekas dalam diri saya hingga sekarang. Keringat dingin langsung mengalir di tangan dan kaki saya, kalau saya mengingat-ingat wajah lelaki itu.


BACA JUGA


Inilah #KisahSaya - Atas Percobaan Pemerkosaan yang Kamu Lakukan, Saya Memaafkanmu, Fabien!

Inilah #KisahSaya - Atas Percobaan Pemerkosaan yang Kamu Lakukan, Saya Memaafkanmu, Fabien!

Saya memaafkanmu, atas percobaan pemerkosaan yang pernah kamu lakukan pada saya, biarpun butuh perjuangan besar untuk itu. Meski kamu tidak ...

Read more..


So. Mama. Tolong, perhatikanlah keadaan anak remaja Mama, dan catatlah jika ada hal-hal yang tak seperti biasanya terjadi. Apakah dia selalu murung? Apakah dia selalu sedih?

Hati-hati, Ma, jangan-jangan dia sedang mengalami suicidal thoughts seperti saya, kala itu. Dekati dia dan ajaklah berbicara dari hati ke hati. Jadilah teman bicara yang baik untuknya. Kadang para remaja itu hanya sekadar minta didengarkan saja kok.

Semoga pengalaman saya mengalami kekerasan dalam pacaran ini bisa jadi pelajaran untuk semua. Stay strong, ladies out there!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah #KisahSaya - Sang Korban Kekerasan dalam Pacaran dan Hampir Bunuh Diri karena Putus Asa". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Rocking Mama | @RockingMama

Mother's life hacks - Mama Community - For Smart & Powerful Moms Only!

Silahkan login untuk memberi komentar