Inilah #KisahSaya - Saya Hamil di Luar Nikah dan Harus Berdamai dengan Janin yang Tak Saya Harapkan

Inilah #KisahSaya - Saya Hamil di Luar Nikah dan Harus Berdamai dengan Janin yang Tak Saya Harapkan

10.7K
Hamil di luar nikah telah menghancurkan semua yang sudah saya raih; keluarga, harapan dan karier saya. Tapi, saya harus mencintai bayi yang tak saya harapkan ini. Harus.

Dua garis itu nyata. Saya hamil di luar nikah.

Saya. Hamil.

Testpack itu tidak sedang berbohong atau sedang mempermainkan saya. Tangan saya bergetar memandang dua garis merah yang terlihat begitu jelas.

Tidak ada yang berubah.

Tidak ada kekeliruan.

Jelas sudah penyebab mengapa saya mual-mual dan tidak enak badan dalam seminggu terakhir ini. Saya menangis tanpa suara. Dada terasa sesak.

Saya belum menginginkan ini semua. Belum. Bukan saat ini. Bukan sekarang.

Dalam kepala saya berkecamuk beragam kemungkinan. Haruskah saya melepaskan atau mempertahankan janin ini?

Tapi saya bergidik ngeri membayangkan ada sesuatu yang dikeluarkan paksa dari dalam tubuh saya. Tidak. Membunuh bukan pilihan. Janin ini bukan sekadar darah menstruasi yang harus dibuang. Dia akan menjadi satu kehidupan. Dan saya tidak pernah membayangkan akan menjadi algojo bagi kehidupan orang lain. Orang yang akan menjadi darah daging saya sendiri.



Sulit bagi saya untuk menerima sesuatu yang tidak pernah benar-benar saya harapkan. Sesuatu yang bahkan tidak pernah saya minta. Terlebih kedatangannya yang begitu tiba-tiba.

Bagaimana rasanya mengandung janin yang bahkan tidak pernah diprediksi? Seseorang yang berkembang di dalam rahim tanpa permisi. Tumbuh. Membesar.

Saya tidak pernah mengerti, mengapa begitu banyak orang menikah menginginkan kehadiran anak? Terlalu banyak pengorbanan di sana. Lebih dari itu, pengorbanan mengenai waktu. Waktu yang hilang dan tidak akan pernah kembali.

Setiap harinya, saya selalu bertanya-tanya, apa saya bisa menjadi ibu? Apa saya layak dan pantas punya anak?

Saya tidak pernah tahu jawabannya. Saya tidak tahu harus menjawab apa untuk sesuatu yang belum pernah saya harapkan sebelumnya. Lagipula, apa yang orang harapkan dengan memiliki anak?

Ada banyak hal yang harus dihambur-hamburkan. Lelah mengandung, sakitnya melahirkan, repotnya membesarkan. Semua itu untuk mendapatkan apa?


BACA JUGA




Pada akhirnya anak tidak akan selalu menurut dan tidak selamanya lucu. Mereka bisa tumbuh menjadi nakal, liar, bahkan melawan orangtuanya, meski orangtuanya tidak pernah sekali pun mengajarkan begitu.

Kelak, ketika ia menikah dan membangun keluarganya sendiri, orangtua akan kembali merasa sepi. Apakah orangtua akan bertanya, di mana ganjaran pengorbanan yang telah dilakukannya dulu?

Karena itu, banyak orangtua yang kemudian menjadi penuntut, orangtua yang berekspektasi lebih pada anaknya. Karena, sejatinya tuntutan tak akan ada jika tak ada pengorbanan. Ekspektasi hadir dari perjuangan. Saya masih belum paham akan arti berjuang dan berkorban sebagai seorang ibu, yang pada akhirnya berujung pada keikhlasan penuh.

Entahlah.


Transisi Menjadi Ibu


Usia saya 27 ketika tahu diri saya hamil di luar nikah.

Semakin bayi ini tumbuh dalam rahim saya, keraguan saya pun semakin besar. Saya ragu apakah bisa mengemban amanah sebesar ini? Nyawa manusia. Tidak adakah titipan lain yang bisa lebih ringan dari itu?

Berkali-kali saya meragukan kelayakan dan kepantasan saya untuk menjadi seorang ibu dan memiliki anak.

Ketika hendak menikah, saya sempat membayangkan bagaimana kelak ketika menjadi seorang istri. Tapi saya tidak pernah membayangkan bagaimana menjadi ibu.

Menjadi istri adalah bagaimana menerima kehadiran orang lain di jalan hidup, menjadi ibu berarti menerima kehadiran seseorang yang baru di dalam diri.

Seseorang yang tumbuh bersama apa yang saya makan, apa yang saya rasakan. Seseorang yang bahkan entah akan seperti apa. Ada banyak kerelaan, ada banyak gejolak yang harus terus saya rasakan. Terlalu banyak perubahan dalam diri, yang entah saya kehendaki atau tidak.


Ditentang Keluarga


Mungkin lebih mudah menerima kehadiran janin ini ketika ia hadir setelah pernikahan. Pedihnya adalah saya harus memendam ini sendiri. Membiarkannya terus hidup tanpa memberitahu rekan-rekan kerja saya, terlebih menyembunyikannya dari keluarga saya.

Saya dan kekasih saya saat itu langsung segera menyusun rencana pernikahan. Sebelum terlalu terlambat. Anak ini harus lahir dalam hubungan yang sah.

Pernikahan di Indonesia adalah berarti penyatuan dua keluarga besar. Saya dan calon suami saya kesulitan ketika kami memberitahukan bahwa pernikahan kami yang harus diselenggarakan secepatnya kepada keluarga dua belah pihak. Kami sepakat tidak ingin mengatakan bahwa saya tengah mengandung. Kami ingin melangsungkan pernikahan dengan baik-baik saja. Anak ini harus tahu bahwa ayah dan ibunya menikah seperti orang-orang pada umumnya. Bukan pernikahan yang disembunyikan rapat-rapat.

Namun, tampaknya tidak semudah itu.

Kami ingin melangsungkan pernikahan sebelum bulan puasa. Karena jika setelah Lebaran, tentunya perut saya sudah semakin membesar. Sedangkan puasa akan dimulai sebulan lagi. Itu berarti saya hanya punya waktu mengurus keperluan pernikahan saya kurang lebih hanya 4 minggu.

Keluarga kami heran, mengapa harus terburu-buru? Dengan jangka waktu sebulan apa bisa mengurus semuanya?

Saya dan calon suami saya tetap bersikeras. Kami akan mengadakannya dengan upaya kami sendiri. Kami berdua yang mengurus segala sesuatunya. Kami tekankan, bahwa keluarga tidak perlu repot apa-apa. Kami ingin mandiri. Kami hanya meminta restu.

Tapi justru restu itulah yang paling mahal harganya. Keluarganya berpendirian keras tak akan merestui pernikahan kami jika kami terlalu memaksa.

Saya tahu keluarganya tidak begitu suka pada saya. Mereka menginginkan jodoh anak laki-laki pertamanya adalah seorang perempuan yang solehah, berkerudung dan alim di mata mereka.

Saya, dengan segala kekurangan saya, sangat jauh dari itu. Maklum, mereka dari latar belakang keluarga yang cukup religius. Calon suami saya sempat mengenyam pendidikan pesantren selama 6 tahun. Semua adik-adiknya juga pernah disekolahkan di pesantren.

Betapa sedihnya saya, ketika tahu orangtuanya ingin menjodohkan calon suami saya dengan perempuan lain yang lebih pantas menurut keluarganya.

Saya pun hampir menyerah. Saya berpikir saya tak peduli jika ia pergi meninggalkan saya. Tapi ada darah dagingnya dalam perut saya. Saya belum bisa membayangkan hidup seperti apa yang akan saya jalani jika saya tidak menikah dan tahu-tahu punya anak.

Namun, suami saya tetap menguatkan saya, dengan mengatakan bahwa semua ini akan terlewati. Bahwa kami akan bahagia hidup bertiga nantinya, dan segala kesulitan ini akan segera berakhir.


Merelakan Pekerjaan dan Jabatan


Saat saya tahu diri saya hamil di luar nikah, saat itu juga atasan saya memberikan jabatan baru untuk saya.

Saya naik jabatan yang diikuti dengan kenaikan gaji. Saya sungguh tidak enak padanya. Saya terus memikirkan persiapan pernikahan saya yang tinggal hitungan minggu. Mencari tempat, mencari penyewaan pelaminan dan dekorasi, mengurus undangan dan suvenir, dan lain sebagainya, yang tentunya begitu menyita waktu, tenaga dan perhatian.

Pekerjaan saya jadi sedikit terbengkalai. Saya pernah menangis diam-diam di kantor karena memikirkan pernikahan saya yang terancam batal. Orangtua calon suami saya mengancam tidak akan hadir jika kami tetap nekat melangsungkan pernikahan.

Setelah menikah, saya terpaksa resign ketika usia kandungan saya mencapai 5 bulan. Kondisi saya ketika hamil cukup lemah, sehingga ketika perut saya semakin membesar saya tidak lagi sanggup berdesak-desakan di kereta untuk pulang-pergi ke kantor setiap harinya.

Bos saya cukup kecewa ketika menerima surat pengunduran diri saya.

“Baru saja kamu naik jabatan, kenapa harus keluar?”

Ya, mau nggak mau ada harga yang harus saya bayar akibat perbuatan yang saya lakukan, salah satunya adalah karier saya yang menanjak. Saya harus ikhlas.

Saya harus rela.


Mencoba Mencintai Janin yang Sebelumnya Tak Saya Inginkan


Sebelum menikah dan mengundurkan diri dari kantor, saya cerita pada sahabat saya.

Badan saya yang selalu lemas karena hamil. Pikiran saya yang begitu tersita soal persiapan pernikahan dan restu yang belum diperoleh, serta pekerjaan yang tetap harus diprioritaskan.

Ia bilang, “Kamu itu harusnya bangga. Orang biasa mungkin dititipi jabatan, perusahaan atau hal lainnya. Kamu itu dititipi nyawa. Langsung dari Sang Pencipta. Cuma orang hebat yang bisa dikasih titipan dengan tanggung jawab sebegitu besar.”

Saya tertohok karenanya.

Tuhan sudah sayang pada saya, dan sekarang saya merasa telah menyia-nyiakannya.

Karena itu, setelah berhenti bekerja, setiap harinya saya berusaha mencintai anak dalam kandungan saya.

Namun, ternyata itu sulit. Sulit sekali bagi saya. Pikiran-pikiran buruk selalu menghantui. Saya menyesali apa yang sudah saya lakukan, saya berharap semua bisa saya ulang kembali. Namun, tak bisa.

Sampai di bulan ke-6, saya merasakan perut saya begitu sakit luar biasa. Saya BAB berkali-kali. Seperti ada yang menusuk-nusuk ulu hati saya. Saya tidak kuat menahan sakitnya, dan meminta suami saya segera membawa saya ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, saya harus dilarikan ke UGD. Di sana saya langsung diinfus dan diambil darah. Melalui pemeriksaan darah diketahui bahwa saya terkena infeksi saluran pencernaan dan harus dirawat.

Setelah masuk kamar perawatan. Saya masih sering merasa sakit perut yang luar biasa. Sampai saya tak bisa istirahat di malam hari karena ulu hati saya masih terasa sering seperti ditusuk-tusuk. Saya pun dijadwalkan untuk bertemu dokter kandungan. Untuk memastikan kandungan saya baik-baik saja. Saya diberikan obat anti kontraksi, mengingat usia kandungan saya masih enam bulan akan berbahaya jika janin saya terganggu karena penyakit saya.

Saat itulah saya mulai menyadari, bahwa saya telah mencintai bayi yang ada dalam kandungan ini. Tak ada yang paling saya inginkan selain keselamatannya.

Kini, anak kami sudah berusia 3 bulan. Setiap harinya ia tumbuh semakin menggemaskan. Senyum dan tawanya adalah hal yang membahagiakan kami setiap harinya.

Sampai kapan pun saya berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak berhenti mencintainya.

Ternyata, menerima kehadiran manusia lain secara penuh dan mencintainya dengan tulus hanya mungkin ketika kita sudah berdamai dengan diri sendiri.


BACA JUGA


Inilah #KisahSaya - Saat Pelecehan Seksual yang Saya Alami Menjadi Bayangan Hitam yang Selalu Menyertai Setiap Langkah Saya

Inilah #KisahSaya - Saat Pelecehan Seksual yang Saya Alami Menjadi Bayangan Hitam yang Selalu Menyertai Setiap Langkah Saya

Pelecehan seksual adalah semua tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. ...

Read more..


Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi semua perempuan di mana pun mereka berada. Saya telah hamil di luar nikah, saya harus menanggung semua akibatnya. Tapi dari bayi saya, akhirnya saya belajar berdamai dan kembali mencintai diri sendiri.

Semoga bisa dijadikan pelajaran, bahwa apa yang kita perbuat, selalu ada harga yang mesti dibayar. Selalu akan ada konsekuensi di setiap tindakan kita. Berpikirlah jauh ketika akan melakukan sesuatu.

Sounds so cliche, but it's so true.


* * *


- Seperti yang dituturkan oleh seorang ibu muda pada Redaksi Rocking Mama. -


Mama punya kisah hidup inspiratif, serupa dengan yang di atas, yang ingin dibagikan pada jutaan pembaca lain agar mereka pun bisa memetik hikmahnya? Yuk, tuliskan dalam format .doc atau .docx, dan kirimkan untuk dimuat di Rocking Mama! Ada kompensasi yang disediakan untuk setiap cerita #KisahSaya yang dimuat.
Lebih lengkapnya bisa dibaca di halaman #KisahSaya ini ya!


Rocking Mama tunggu kiriman cerita Mama!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah #KisahSaya - Saya Hamil di Luar Nikah dan Harus Berdamai dengan Janin yang Tak Saya Harapkan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Rocking Mama | @RockingMama

Mother's life hacks - Mama Community - For Smart & Powerful Moms Only!

Silahkan login untuk memberi komentar