Inilah #KisahSaya - Suami Saya Menderita Tumor Otak, dan Saya Tetap Berusaha Mencuri Kebahagiaan di Antara Ruang-Ruang Kesulitan

Inilah #KisahSaya - Suami Saya Menderita Tumor Otak, dan Saya Tetap Berusaha Mencuri Kebahagiaan di Antara Ruang-Ruang Kesulitan

614
Kebahagiaan datang dan pergi silih berganti dalam hidup manusia, termasuk saya. Saat kesulitan datang, saya pun berusaha untuk tak pernah melepaskan kebahagiaan itu benar-benar pergi. Saya berjuang, untuk masalah saya dan demi kebahagiaan saya sendiri.

Banyak orang yang mengira, bahwa hidup saya baik-baik saja. Mereka salah, padahal masalah saya datang dan pergi seperti ombak. Kadang membesar, kadang kecil-kecil. Tapi saya aminkan saja semua.

Saya termasuk introvert, banyak melihat, banyak mendengar, banyak merasa, banyak melakukan. Kadang-kadang apa yang saya lakukan merupakan hasil dari mendengar dan mengamati. Namun, kadang keputusan saya bukanlah hal yang biasa dan sulit diterima oleh lingkungan. Khususnya keluarga.

Sebelum menikah, saya pernah menolak beberapa kali upaya perjodohan. Meskipun tekanannya cukup besar, saya lebih memilih berkata tidak. Saya sudah cukup sering nurut dan mengikuti larangan serta tuntutan keluarga, yang membuat saya tidak bahagia.


BACA JUGA


Inilah #KisahSaya - Saat Pelecehan Seksual yang Saya Alami Menjadi Bayangan Hitam yang Selalu Menyertai Setiap Langkah Saya

Inilah #KisahSaya - Saat Pelecehan Seksual yang Saya Alami Menjadi Bayangan Hitam yang Selalu Menyertai Setiap Langkah Saya

Pelecehan seksual adalah semua tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. ...

Read more..


Mencari Kebahagiaan


Inilah yang saya cari dan inginkan. Keluarga besar saya adalah sumber bahagia, tapi mereka jugalah yang membatasi langkah-langkah saya untuk meraihnya.

Kadang, saya bisa saja melepaskan sesuatu demi mereka. Ya, karena saya tidak mau kehilangan mereka. Tapi apakah saya akan hidup terus dengan mereka? Tidak. Tapi kalau kita bisa bertahan dengan pilihan hidup kita dan bahagia, saya kira, mereka pun akan ikut senang.

Mereka hanya kadang terlalu khawatir dan tidak percaya saja, bahwa saya bisa menjalani pilihan hidup yang saya buat.

Bertahun-tahun saya hidup dengan keyakinan saya, meski keluarga besar merasa khawatir karena saya tidak juga menikah. Saya kenyang akan nasihat serius, canda, dan juga nyinyiran. Saya telan habis, dan menganggap bahwa tindakan mereka merupakan upaya perhatian dan kasih sayang.

Mereka berusaha meyakinkan saya, bahwa cinta akan datang kemudian melalui usaha-usaha perjodohan itu. Tapi saya geming.

Saya harus mencintai orang yang kelak akan menjadi pemimpin keluarga, menjadi partner hidup, menjadi sahabat, menjadi teman yang asyik untuk mengobrol.


BACA JUGA


Untuk Kamu Yang Masih Single, 5 Hal Seputar Kehidupan Pernikahan Ini Perlu Kamu Ketahui!

Untuk Kamu Yang Masih Single, 5 Hal Seputar Kehidupan Pernikahan Ini Perlu Kamu Ketahui!

“Marriage can bore you but there is a fortitude that comes from it, too. When you need to lean on it, you are so thankful that you can ...

Read more..


Bagaimana tidak, pernikahan itu merupakan sebuah keputusan yang punya komitmen paling tinggi. Pernikahan itu sebuah perjanjian yang, diyakini, disaksikan oleh langit, bumi, malaikat-malaikat. Itu artinya, seseorang yang akan berkomitmen dengan seseorang, harus punya cinta.

Bayangkan, setiap hari kita akan bertemu, berinteraksi, membicarakan satu masalah menuju masalah yang lain. Kalau, pernikahan itu banyak asyiknya, tentu sepertinya kita akan ikut merasa senang. Yang akan menguatkan kita dalam sebuah pernikahan adalah cinta.

Sayangnya, pemikiran saya ini tak sejalan dengan keluarga. Entah kenapa.

Hingga waktu itu tiba, saya menemukan laki-laki yang membuat saya jadi diri sendiri dan nyaman. Prosesnya cukup lama, dan akhirnya saya menikah di usia 28 tahun. Saya pun merasa terbebas dari tekanan keluarga tentang jodoh.

Namun, ternyata, dugaan saya meleset. Sesegera itu pula, muncul tekanan yang lain.


Tekanan yang lain mulai muncul, mengancam kebahagiaan saya


Dari sini saya mengerti, bahwa tekanan dan tuntutan itu tidak akan pernah selesai. Artinya, pikiran dan hati kita haruslah kuat.

Setelah menikah, saya pun merasakan kebahagiaan itu. Ya, saya bahagia.

Saya tidak banyak dituntut ini itu oleh suami. Malah jadi punya teman ngobrol yang asyik, teman diskusi, teman saling menguatkan dan rasa cemburu yang proporsional. Bersama suami, saya nyaman menjadi diri sendiri. Kalau saya senang, dia juga senang. Ini cukup membuat saya lega, mengingat banyak sekali kekurangan dalam diri saya.

Tujuh tahun pernikahan, paling hanya ada beberapa masalah perbedaan pendapat sedikit, dan soal kehabisan uang. Meski di 7 bulan menikah, saya harus kehilangan indung telur kiri saya karena ada kista. Dokter bilang, dengan diangkatnya indung telur kiri, sangat kecil kemungkinan untuk punya anak.

Buat laki-laki lain, ini mungkin akan menjadi batu sandungan dalam pernikahan. Tapi suami saya tidak. Katanya, “Yang penting kamu sehat, itu cukup membuat saya merasa bahagia.”

Bertahun-tahun saya kami tidak punya anak. Saya tidak merasa punya beban.

Justru orang lain, beberapa orang yang menganggap bahwa tubuh saya tidak sempurna. Katanya, seorang perempuan itu belumlah sempurna jika dia tidak dapat melahirkan seorang anak.

Betapa menyakitkan! Dan itu saya dengar selang seminggu setelah saya operasi indung telur. Saya pun kembali tertekan dan minder.

Tapi suami saya tidak begitu. Dia menguatkan saya dengan cintanya, dan hanya bilang bahwa, saya perempuan yang hebat karena berani operasi dan kehilangan indung telur.

Saya kembali tenang karenanya, bahkan tidak peduli dengan omongan orang tentang keturunan. Yang penting, saya hidup dengan orang yang menerima dan nyaman dengan tubuh saya seperti ini.

Jadi, kami menghabiskan banyak waktu pernikahan kami dengan bekerja, kuliner, travelling, datang ke pameran buku, nonton teater, dan nonton ke bioskop. Seperti bulan madu sepanjang hari.


BACA JUGA


Inilah #KisahSaya - Sang Korban Kekerasan dalam Pacaran dan Hampir Bunuh Diri karena Putus Asa

Inilah #KisahSaya - Sang Korban Kekerasan dalam Pacaran dan Hampir Bunuh Diri karena Putus Asa

Kekerasan dalam pacaran yang terjadi pada remaja, lebih banyak disebabkan oleh "kebodohan" mereka sendiri. Sebagai orang tua, kita memang ...

Read more..


Kebahagiaan itu datang, dan kemudian pergi lagi


Hingga suatu hari, saya pun hamil. Ini sungguh di luar dugaan kami. Saya bahkan sampai melahirkan anak ketiga. Ini berkah buat kami.

Ini sangat membahagiakan! Meski kami akhirnya harus begadang, dan melewatkan waktu tanpa istirahat. Kami harus beradaptasi menjadi orang tua baru dengan banyak perubahan, dan mengikuti ritme bayi.

Hidup menjadi begitu sempurna bagi saya. Meski tak bertahan terlalu lama.

7 tahun pernikahan, Tuhan memberi kejutan yang super besar. Mendadak suami saya sakit.

Suatu malam, dia dapat serangan kejang. Padahal siang harinya, kami baru saja keliling kota, dan beberapa menit sebelum tidur seperti biasa kami selalu diskusi ringan.

Suami pun diperiksa. Ternyata ada tumor yang menempel di otak kirinya, tepatnya di lobus frontalis kiri. Katanya, posisi tumor itulah yang membuat tubuhnya diserang kejang berkali-kali. Kejadian kejang ini membuat stamina tubuh dan mentalnya terganggu, bahkan sempat koma.

Hidup kami berubah 180 derajat dalam hitungan jam, menit, detik. Saya pun makin sadar, bahwa kehidupan bisa berubah sewaktu-waktu, seperti membalikan telapak tangan. Kebahagiaan dan kesulitan bisa datang silih berganti secepat kita menjentikkan jari.

Dulu suami saya dosen luar biasa DKV (Desain Komunikasi Visual) di beberapa kampus. Siang dia akan mengajar, dan malam hari dia akan mengerjakan projek desain. Nyaris tiap hari begitu. Hidupnya sangat dinamis, selalu optimis, dikelilingi kawan-kawan yang baik hati, dan penuh tawa.

Kini suami saya bukan orang yang bisa diajak bicara lagi, dan kehilangan berbagai fungsi tubuhnya. Namun, dia tetaplah sosok papa yang pintar menghibur anak-anaknya, meski dia tak bisa menggendong, dan tak kuat bermain terlalu lama.

Sebagai kepala keluarga, dia harus kehilangan passion-nya dalam dunia pendidikan, mengajar, pengelola rumah desain visual yang kami kelola sendiri di rumah. Dia tidak bisa lagi berpaparan langsung dengan radiasi laptop maupun gelombang handphone.

Kebahagiaan kami satu per satu seperti direnggut dari kehidupan. Fungsinya sebagai manusia seperti hilang. Dia benar-benar tak berdaya.

Saya kehilangan teman bicara, kehilangan orang yang bisa mengerti saya. Saya kehilangan teman minum kopi, teman problem solving saya. Saya seperti ditarik dari satu ruang menuju ruang lain, dan dipaksa untuk memecahkan satu per satu masalah sendirian. Saya harus menahan diri untuk tidak membicarakan berita apa pun, kecuali yang bisa menghiburnya.

Saya seperti terperosok dalam sumur tanpa dasar, jalan tanpa ujung, ruang-ruang hening yang sewaktu-waktu akan pecah berkali-kali, menikam berkali-kali.

Suami saya juga tidak kuat berpaparan dengan udara dingin, dan trauma dengan suasana rumah yang membuatnya mengingat kejadian-kejadian kejang yang menakutkan. Ingatannya ini akan memicu kejang lagi, dengan keadaan fisik dan psikis yang belum stabil.

Ketika dokter sudah mengizinkan kami pulang ke rumah, saya dan suami sempat kebingungan. Logikanya, kalau dibawa pulang ke rumah, orang sakit akan bertambah baik. Tapi tidak demikian dengan suami saya. Dia kemungkinan besar akan kembali drop.


Pindah!


Saya memutuskan untuk pindah dulu, sementara waktu. Kebetulan, kakak suami, ipar saya, menawarkan agar kami pindah ke rumahnya di Tangerang. Di sana cuacanya panas, cocok dengan kondisi suami yang membutuhkan udara panas.

Kami pun pindah sementara ke rumah kakak ipar, mungkin sampai situasi cukup kondusif. Keputusan ini terpaksa kami buat, demi kondisi suami saya. Anak-anak belum sekolah, dan bisa dititip ke keluarga besar saya di Bandung.

Tak hanya ikut tinggal sementara, kakak ipar pun membagi waktunya untuk ikut sibuk mengantar kami mencari pengobatan yang tepat untuk suami.

Saya terus berjuang mengatasi semua kesulitan yang datang silih berganti. Saat tak ada satu orang pun menolong saya, saya minta sama Tuhan, dan Dia selalu mendatangkan siapa pun orang yang berhati baik, tanpa saya minta di waktu yang tepat.

Mereka datang satu per satu, digerakkan hatinya, mendekati saya, memberi dalam berbagai bentuk yang saya butuhkan. Materi, nasihat, semangat, ataupun jasa. Mereka datang membantu dengan kapasitas masing-masing.

Saya bersyukur karenanya.

Melihat suami yang tertatih tatih, dengan tubuh dan hati yang rapuh, adalah yang paling berat buat saya. Melihatnya tak berdaya, membuat saya nyaris menyerah beberapa kali.

Tapi beberapa kali juga saya mengatakan pada diri sendiri, “Lantas, kalau kamu menyerah kamu akan terhindar dari masalah? Masalah itu akan terus mengikuti, ke mana pun kamu lari. Maka, hadapi dan jalani solusinya satu per satu.”

Setelah itu, saya pun kembali beranjak dari rasa lelah dan rasa takut. Meyakinkan diri sendiri, semua harus kita jalani dengan sabar dan tenang.


BACA JUGA


Inilah #KisahSaya - Atas Percobaan Pemerkosaan yang Kamu Lakukan, Saya Memaafkanmu, Fabien!

Inilah #KisahSaya - Atas Percobaan Pemerkosaan yang Kamu Lakukan, Saya Memaafkanmu, Fabien!

Saya memaafkanmu, atas percobaan pemerkosaan yang pernah kamu lakukan pada saya, biarpun butuh perjuangan besar untuk itu. Meski kamu tidak ...

Read more..


Perjuangan harus saya teruskan dan ruang kecil kebahagiaan yang terus saya curi


3 tahun, kami melewati banyak hal.

Setahun pertama, tinggal sementara selama sebulan di rumah kakak ipar di Tangerang, dengan seminggu sekali kontrol ke rumah sakit di Bandung. Selama sebulan itu, suami mulai bisa jalan kaki dan suaranya kembali normal.

Akhirnya kami pun pindah sementara ke Pandeglang, tinggal di rumah mertua. Kami harus kontrol sebulan sekali ke rumah sakit di Bandung.

Bulan ke-5 pengobatan rawat jalan, suami drop lagi, dan kembali harus dibawa ke Tangerang.

Di Tangerang, saya dan suami diantar kakak ipar bolak balik ke Depok untuk melakukan pengobatan secara akupunktur. Setelah 10 hari pengobatan, kesehatan suami membaik.

Namun 3 bulan setelahnya, suami kembali terserang kejang dan harus rawat inap di rumah sakit di Tangerang. Masuk bulan ke-7 pengobatan akupunktur, kami akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan operasi otak di RS Cipto Mangunkusumo.

Awal bulan Maret 2015, saya bolak-balik Bandung - Jakarta, demi pengurusan BPJS melalui proses yang panjang dan melelahkan. Tapi, saya berusaha menikmatinya.

Saya anggap perjalanan dari Tangerang ke Bandung dengan travel menjadi layaknya travelling betulan. Saat travel saya berhenti untuk beristirahat, saya pun turun untuk menikmati kopi sembari memotret-motret beberapa pemandangan yang bagus.

Juga ketika harus bolak-balik perjalanan Tangerang (St. Rawa Buntu) - RSCM (St.Cikini). Semua menghadirkan pengalaman baru yang menarik bagi saya. Mengejar kereta, berdesakan dengan penumpang lain, kehabisan kursi, ketinggalan kereta.

Kadang saya harus menenangkan diri dulu, dengan duduk di salah satu kios makanan sambil makan roti hangat dan sebotol air mineral. Lalu, mencoba berdiri dan menikmati Pasar Tanah Abang di atas stasiun kereta.

Sungguh pengalaman yang luar biasa. Saya jadi terbiasa dengan jarak, waktu dan suasana-suasana yang berbeda.


Saya berjuang, tapi saya tak ingin kebahagiaan hilang


Satu sisi, saya sedang mengalami situasi yang berat, tapi saya tidak mau kehilangan sisi kebahagiaan yang lain. Saya ingin menikmatinya, saya ingin dapat memetik apa pun makna dan hikmah yang terjadi.

Jadi seringkali saya melihat, di balik semua kesulitan itu Tuhan sedang memperlihatkan keindahan dari sisi yang lain. Dan saya dapat merasakannya.

Kisah saya tidak selesai sampai di RSCM, masih banyak rangkaian balada saya yang lain. Semua unik dan menarik. Setidaknya, di RSCM saya bisa menikmati nasi uduk yang dikemas dengan daun pisang. Ini sangat lezat.

Jadi, saya percaya, bersama kesulitan itu, selalu ada keindahan lain yang berusaha ditampakkan. Keindahan orang-orang yang baik, keindahan tawa di tengah ruang tunggu ICU, menikmati kelezatan makanan di balik ruang rawat inap, perkenalan dan melihat berbagai macam karakter yang lain.

Akhirnya, saya semakin percaya, bahwa di balik proses yang berat, di sana pula ada ilmu hidup memberi energi yang besar.


BACA JUGA


Inilah #KisahSaya - Saya Hamil di Luar Nikah dan Harus Berdamai dengan Janin yang Tak Saya Harapkan

Inilah #KisahSaya - Saya Hamil di Luar Nikah dan Harus Berdamai dengan Janin yang Tak Saya Harapkan

Hamil di luar nikah telah menghancurkan semua yang sudah saya raih; keluarga, harapan dan karier saya. Tapi, saya harus mencintai bayi yang ...

Read more..


Maka, ketika kesulitan itu hadir, teruslah kita percaya bahwa kebahagiaan itu tetap ada. Jangan pernah menyerah dan jangan pernah berharap pada apa pun atau siapa pun selain Dia semata. Yakinlah, setiap keputusan dengan jalur doa, Dia akan mengarahkan kita pada berbagai pertemuan dan situasi yang terbaik.

Karena, perhitungan Tuhan Maha Tepat.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Inilah #KisahSaya - Suami Saya Menderita Tumor Otak, dan Saya Tetap Berusaha Mencuri Kebahagiaan di Antara Ruang-Ruang Kesulitan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ima Rochmawati | @imatakubesar

Silahkan login untuk memberi komentar