Istri Kurang Bahagia? Barangkali Bisa Ditemukan Jawabannya dalam Beberapa Hal Berikut Ini!

Istri Kurang Bahagia? Barangkali Bisa Ditemukan Jawabannya dalam Beberapa Hal Berikut Ini!

1.6K
Sebagai istri dan mama, kita memang dikuatkan untuk menyelesaikan tugas beragam yang menuntut banyak peran. Namun kita bukan manusia super. Maka, saat segala kepenatan itu menumpuk, kebahagiaan pun perlahan pergi.

Bicara tentang suami istri dan keluarga yang bahagia, membuat saya ingat akan petikan lagu ini.


Push the door, I'm home at last and I'm soaking through and through
then you handed me a towel and all I see is you
and even if my house falls down now, I wouldn't have a clue
because you're near me.
I want to thank you for giving me the best day of my life
Oh just to be with you is having the best day of my life


Yes, apakah Mama juga ingat lagu-nya Dido berjudul Thank you di atas? Kalo iya, berarti seangkatan sama saya yang masih kinyis-kinyis ini. Hahaha.

Lagu itu menceritakan tentang pengalaman seorang perempuan di sebuah hari, di mana semuanya berlangsung serba salah. Tehnya keburu dingin sebelum disesap hingga kurang nikmat. Tagihannya menumpuk, dan membuat kepalanya semakin pusing. Ia juga telat datang ke kantor, dengan kondisi semrawut sehingga rekan-rekan kerjanya berkata bahwa ia tidak akan ‘bertahan’ di hari itu.

Sampai kemudian ia pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup kehujanan, dan sang pria idaman menyambutnya sembari menyodorkan sehelai handuk.

Ah, sebuah handuk kering dan senyuman manis selalu bisa menghangatkan, bukan begitu, Ma? Apalagi kalau disodorkan oleh suami tercinta yang maklum banget akan kondisi sang istri yang lagi nggak hepi.

Memang biasa sekali mengalami bad days ya. Semua orang juga sering mengalaminya. Hari di mana semuanya jadi salah. Dan itu terjadi dalam kehidupan suami istri. Nggak jarang, nggak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba saja semua jadi buruk, jadi salah.

Hari yang buruk bagi para istri sihterutama di hari-hari menjelang datang bulan, di mana hormon naik-turun tidak karuan, membuat uring-uringan. Argh!

Kalau bagi suami apa ya? Hmmm ... saat pekerjaan di kantor nggak beres? Atau saat si istri nagih belanja bulanan padahal gaji belum ditransfer? Coba, Pa, sebutkan penyebab hari buruk yang biasa terjadi pada Papa di kolom komen ya. Kita, para istri, pengin tahu nih.


BACA JUGA


5 Tips BerTAHAN dalam Hubungan Suami Istri yang Harus Kita Ingat Setiap Waktu

5 Tips BerTAHAN dalam Hubungan Suami Istri yang Harus Kita Ingat Setiap Waktu

Tips melanggengkan hubungan suami istri memang lebih mudah diucapkan. Tapi bukan berarti tak mungkin dilakukan kan? Setidaknya masing-masing ...

Read more..


Anyway, memang sebenarnya apa saja sih, yang bikin bad day dan membuat para istri ini merasa tidak bahagia, selain karena alasan hormonal di atas? Kan kita juga nggak berarti nggak bahagia setiap waktu kan? Pasti deh, ada penyebabnya.

Kita bikin daftar yuk, Ma!


5 penyebab istri kurang bahagia


1. Merasa lelah


Tak bisa dipungkiri, tanpa mengurangi rasa bersyukur, menjadi seorang istri sekaligus seorang mama itu melelahkan.

Setiap hari, setiap waktu, selalu ada saja yang harus dikerjakan, dan dipikirkan. Sambil menyiapkan bahan presentasi ke klien, teringat stoples garam yang hampir kosong di rumah. Sedang memblender avokad untuk puree, melihat dompet suami tertinggal di meja, lalu bergegas menelepon untuk memberitahunya. Saat sedang mengetik ini, saya bahkan tidak lepas dari teriakan “Mamaaa, mainan Adik mana?!”.

Oh, riuhnya! Fiuh!

Sejak ayam berkokok hingga kelelawar beterbangan mencari makan, tak henti-hentinya para istri ini melakukan banyak hal. Mulai dari yang printilan seperti meletakkan kembali mobil-mobilan di kotak mainan, sampai pekerjaan besar semacam memasak untuk seluruh anggota keluarga dengan menu lengkap bergizi. Bagi para working mama, bahkan harus membagi tenaga dan pikirannya untuk pekerjaan.

Tidak heran kan, kalau seorang mama itu sangat ‘multitasking’, hingga kelelahan?


2. Terbeban dengan peran


Sekali lagi, tanpa mengurangi rasa bersyukur, kita boleh saja kok, Ma, merasa kewalahan dengan banyaknya peran yang dimainkan.

Kita adalah seorang koki yang merangkap sebagai accounting staff di keluarga. Kita juga adalah guru les sekaligus suster bagi anak-anak. Kita adalah teman berbincang dan teman tidur suami. Kita bahkan juga adalah seorang wanita karier/entrepreneur yang juga menjadi petugas bimbingan konseling di rumah. Dan sebagainya. You name it!

Kadang, kalau sedang memegang satu peran tiba-tiba ada panggilan untuk berperan yang lain, kita pun akan serta-merta berubah sesuai kebutuhan. Padahal ‘drama’ di peran-peran sebelumnya belum usai….

Penat, ya Ma? Spa yuk, Ma!


3. Tidak mendapat bantuan yang cukup


Di saat-saat tertentu, menjadi multitasker yang multitalented tidaklah membuat kita, para istri sekaligus mama ini, langsung begitu saja menjadi manusia super. Kita bahkan lantas tidak ingin lagi tersenyum bangga saat ada yang melabeli ‘supermom’.

Mengapa? Karena sebenarnya kita memang tidak ingin menjadi mama super yang mampu melakukan segalanya. Kita butuh rekan seperjuangan, yaitu suami.

Tapi sayangnya, suami sering tidak peka akan hal ini. Malam hari, saat anak-anak sudah dikeloni dan lelap tertidur, kita pun pasti ingin rebahan di sofa yang empuk sambil menonton TV bersama suami.

Hari ini sudah ditaklukan, semua beres. Etapi, si kecil tiba-tiba bangun dan minta susu. Menatap ke arah suami penuh harap, untuk minta pertolongan. Lalu, apakah sang suami mau bangkit dan membuatkan susu, atau diam saja karena merasa bukan tugasnya?

Owh, c’mon Pa, please help me….


4. Hilang arah


Mungkin ada di antara Mama yang punya keinginan pribadi, yang ‘terpaksa’ dipendam dulu demi keluarga? Misalnya, ingin kembali bekerja, meneruskan kuliah, atau sekadar mengambil les pastry di ruko ujung jalan yang setiap hari dilewati.

Semuanya memerlukan tidak hanya waktu yang luang, tapi juga biayanya cukup besar. Dan karena kondisi di rumah tangga belum memungkinkan, kita pun mengesampingkannya, menaruhnya hanya dalam alam bawah sadar saja.

Satu atau dua keinginan yang tersimpan, tanpa mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mewujudkannya, cukup mengganggu loh, Ma. Ditambah dengan rutinitas sehari-hari yang cukup padat, bisa-bisa Mama jadi tidak mampu lagi membedakan mana yang seharusnya menjadi prioritas.

Contohnya, Mama sudah memantapkan hati, lalu sedikit demi sedikit menabung dari sisa uang belanja, untuk kelas pastry itu. Tapi kemudian, suami mendapat promosi jabatan dan perlu mengikuti sebuah workshop seharga jutaan rupiah yang bisa menunjang kariernya.

Tentu saja, Mama akan dengan sukarela ‘menyumbangkan’ tabungan untuk kemajuan Papa, bukan?

Bye kelas pastry….


5. Kurang piknik


Seorang perempuan tahu benar betapa hectic-nya trafik aktivitas sehari-hari itu. Bahkan sesaat setelah membuka mata di pagi hari, otak sudah otomatis merunutkan kegiatan yang akan dilakukan seharian. Mencoba menginstruksikan setiap sel sekaligus menyiapkan mental untuk menghadapi sebuah hari baru. Nanti begini, habis itu begitu, lalu begini, kemudian begitu….

Jadi, bukan fisik saja yang diperlukan, mental pun harus tangguh!

Lalu bagaimana kalau penat? Ya harus keluar!

Escaping yourself a while from daily activities. Kalau perlu, hanya sendirian, demi mengembalikan kesegaran dan kewarasan. Memforsir tenaga dan pikiran untuk rutinitas tidak lain hanya akan membuat kita berteriak, “Aaaakkk!”


BACA JUGA


Hubungan Pasangan yang Tak Sehat - Segera Waspadai Segera Setelah 5 Gejala Ini Muncul Sebelum Terlambat!

Hubungan Pasangan yang Tak Sehat - Segera Waspadai Segera Setelah 5 Gejala Ini Muncul Sebelum Terlambat!

Hubungan pasangan yang tak sehat, jika hanya diabaikan, bukan tak mungkin berujung ke hal yang tak pernah diinginkan oleh Mama dan Papa. ...

Read more..


Nah, sampai sini, sudah cukupkah daftarnya, Ma? Atau barangkali Mama mau menambahkan?

Jangan khawatir, Ma, tidak akan nada yang menyalahkan atau menghakimi, kok. I feel you, I really do.

Oleh sang Maha Pemberi rahmat, perempuan, apalagi yang sudah berperan sebagai istri dan mama, memang dikuatkan untuk menjadi super. Perempuan memang memiliki tugas beragam yang menuntut banyak peran. Hati kita yang lembut ini juga sangat diluaskan, hingga mampu menyimpan apa pun yang menjadi keluhan serta keinginan.

Tapi jangan sampai melewati batas, ya Ma! Jaga kesabaran dan kewarasan Mama juga, demi keluarga.

Caranya bagaimana? Dengan minta bantuan suami, untuk lebih mengerti dan peka terhadap kebutuhan sang istri.

Mintalah suami untuk menelepon saat ia sedang lengang di kantornya, misalnya, pasti terasa menyenangkan. Atau membuatkan kita senampan breakfast in bed, lalu siangnya mengajak kencan ke bioskop. Atau sekadar memijit pundak sambil menonton drama Korea di TV bersama.

Yuk ah Ma, kita berbagi artikel ini dengan Papa!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Istri Kurang Bahagia? Barangkali Bisa Ditemukan Jawabannya dalam Beberapa Hal Berikut Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


PutuAyu Winayasari | @ayuwinayasari

A whole-hearted writer. A caring teacher. A Rocking Mama. A loving wife-daughter. Visit me at bilikayuwinayasari@blogspot.co.id. Reach me at raynorkayla@gmail.com. Or just come by to LIA-Bandung to have some bakso with me :)

Silahkan login untuk memberi komentar