Cegah dan Lindungi Anak Agar Tidak Menjadi Korban Kekerasan, Bahkan dari Kita Sendiri!

Cegah dan Lindungi Anak Agar Tidak Menjadi Korban Kekerasan, Bahkan dari Kita Sendiri!

901
“Childhood should be carefree, playing in the sun; not living a nightmare in the darkness of the soul.” ― Dave Pelzer, A Child Called "It"

Inget nggak Ma, beberapa bulan lalu media di tanah air dihebohkan dengan kasus Angelina? Gadis kecil cantik yang menjadi korban kekerasan hingga berujung kematian. Sedih banget tiap kali membaca beritanya. Rasanya nggak percaya ada orangtua yang tega menyakiti anak sedemikian rupa. Barangkali di luar sana masih banyak Angelina-Angelina yang belum terekspose.

Sebagai orang tua, seringkali tangan ini dengan mudahnya mencubit lengan anak kita saat kenakalannya nggak bisa ditolerir lagi. Hanya saja, perlu ada self control agar nggak menjurus pada kekerasan. Nggak mudah memang menjadi orangtua. Tapi, perlu diingat, Ma, anak pun berhak mendapatkan kasih sayang bukan kekerasan!

Momen hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2016 kemarin, menjadi alarm bagi kita untuk lebih meningkatkan peran keluarga dalam mencegah terjadinya kekerasan dan kejahatan seksual pada anak. Pernah nggak, Ma, terbersit di pikiran; sebenarnya apa sih yang menjadi penyebab terjadinya kekerasan pada anak?


7 hal penyebab terjadinya kekerasan pada anak ini perlu untuk Mama ketahui!



1. Pengalaman masa lalu orangtua

Bila ada orangtua atau salah salah satu dari orangtua dulunya saat kecil pernah mengalami penganiayaan atau kekerasan lainnya, bukan tidak mungkin dia akan melakukan hal yang sama pada anaknya. Hal buruk tersebut akan terulang lagi pada anaknya, semacam bentuk peniruan atau bisa jadi dia ingin membalas dendam.

Kalau Mama atau Papa memiliki masa lalu kelam seperti di atas, nggak perlu takut dan kecewa! Yakinkan diri Mama bahwa apa yang telah terjadi cukup di sampai di situ saja, jangan sampai anak-anak merasakan hal yang sama. Mama berhak untuk bahagia pun anak-anak!


2. Kekerasan dalam rumah tangga

Akibat pertengkaran orangtua, seringkali anak yang menjadi korban atau sasaran pelampiasan emosi orangtua.

Ma, jika berantem dengan Papa ada baiknya nggak dilihat oleh anak-anak, bertengkarlah di ruang tertutup. Kalaupun harus menangis, menangislah! Dan selesaikan masalah sebelum muncul masalah baru lagi. Masalah yang nggak terselesaikan biasanya menjadi pemicu untuk stres.


Baca juga: Lepaskan Diri Dari Jerat KDRT, Sekarang!


3. Pola asuh yang buruk

Sikap orangtua yang terlalu keras mendidik anak, tanpa disadari dapat menimbulkan kekerasan psikis maupun fisik pada anak, seperti kebiasaan membentak dan memukul anak.

Gaya parenting tiap keluarga pastinya berbeda. Keras sebenarnya sedikit diperlukan untuk mendidik anak di zaman sekarang ini. Keras dalam artian anak harus memahami peraturan di rumah, jika melanggar ada punishment, sebaliknya jika dipatuhi akan ada reward. Jadikan kata keras dalam parenting sebagai hal yang positif.



4. Lingkungan

Nggak hanya dari keluarga saja, tapi perlu diingat, Ma, lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh. Ataupun karena sering menonton film berbau kekerasan, bisa membentuk anak menjadi kasar. Anak cenderung meniru apa saja yang dilihat di sekitarnya.

Setuju, ya, Ma kalau anak adalah plagiator handal? Nah, tugas kita sebagai orangtua adalah membimbing anak-anak, memberikan pengetahuan atau penjelasan atas apa yang terjadi di sekitar ataupun film yang ditonton. Sekarang setiap film ada rating, sangat penting untuk Mama hafal jenis ratingnya, sehingga nggak salah memilih tontonan untuk anak-anak.


5. Faktor ekonomi

Ekonomi merupakan faktor penyebab terbanyak terjadinya kekerasan pada anak. Tekanan ekonomi yang sulit dan membebani orangtua kerap membuat orangtua menumpahkan rasa kesal atau marahnya pada anak.

Hmmm ... Faktor ini memang sangat penting dalam keluarga tapi terkadang biasnya pun pada anak. Rezeki sudah ada di tiap masing-masing rumah, nggak perlu khawatir, ya, Ma. Kalaupun hari ini jualan sepi, yakin deh besok bakal lain lagi rezekinya. Anak juga rezeki bukan?


6. Kondisi Anak

Anak-anak yang memiliki tubuh dan psikis kurang sehat atau kurang normal juga dapat memicu stres pada orangtua. Lantaran nggak sabar menghadapi si anak, mudah terjadi kekerasan dalam rumah tangga.

Apa yang terjadi pada anak kita, sepenuhnya bukanlah salah mereka. Ada baiknya kita sebagai orangtua harus bisa introspeksi. Sudahkah kita memberikan terbaik bagi mereka sejak dalam kandungan? Never blame those things to them! Dan, satu hal Ma, berdamai lah dengan diri Mama, menerima keadaan anak-anak adalah hal terbaik yang bisa dilakukan. Kita nggak pernah tau, kelak dibalik kekurangan mereka ada sesuatu terbaik yang bakal kita terima.


7. Asisten rumah tangga / pengasuh

Memilih pengasuh atau ART perlu ekstra hati-hati, ya, Ma. Sekarang ini banyak kasus kekerasan yang dilakukan oleh ART atau pengasuh, saking percayanya Mama ke mereka dengan mudahnya mereka melakukan penganiayaan atau tindakan kekerasan lainnya walaupun secara fisik pada anak nggak meninggalkan bekas. Nggak bermaksud untuk menuduh, ya, Ma, tapi waspada is a must! Termasuk orang terdekat kita, entah itu anggota keluarga, pengasuh bahkan tetangga dekat pun memiliki kemungkinan untuk melakukan kekerasan tanpa kita sadari.


Baca juga: Busy Moms' Hacks: Mencari Babysitter yang Cocok? 5 Tips Ini Akan Berguna Buat Mama!


    5 tanda ini menunjukkan anak mengalami kekerasan



    Kekerasan terkadang nggak meninggalkan bekas fisik, tapi luka psikis atau trauma itu lebih berbahaya loh, Ma, untuk perkembangan jiwa anak kelak. Seperti apa sih tanda jika anak mengalami kekerasan?


    1. Luka fisik

    Luka pada tubuh lebih mudah terlihat secara kasat mata. Jika Mama menemukan bekas luka lebam atau benturan pada anak segera tanyakan pada anak yang telah terjadi padanya. Waspadai luka pada kepala, ya, Ma, karena dapat menurunkan fungsi otak.


    2. Murung atau depresi

    Anak yang mengalami kekerasan dapat menunjukkan perubahan drastis seperti menjadi pemurung, pendiam, kurang ekspresif, nggak mau bergaul dengan temannya, nggak mau makan, tidur bahkan jadi pemarah. Jika tanda-tanda ini muncul pada anak, Mama patut curiga dan bertanyalah padanya.


    Baca juga: Say No to Bullying! Bekali Anak dengan 5 Jurus Ini


    3. Mudah menangis

    Karena merasa nggak aman dan nyaman dengan lingkungannya, anak mudah menangis. Anak merasa nggak ada yang melindungi dan sulit percaya pada orang lain.


    4. Melakukan tindak kekerasan pada orang lain

    Trauma kekerasan yang dialami anak, bukan nggak mungkin saat dewasa dia akan melakukan hal yang sama kepada orang lain akibat pengalaman buruknya di masa lalu.


    Baca juga: Say No to Bullying! Bagaimana Jika Anak Kita yang Menjadi Pelaku Bullying? Coba Atasi dengan 5 Langkah Ini!


    5. Jangan diam saja

    Hal terakhir yang harus dilakukan jika terjadi kekerasan fisik, psikis ataupun seksual, segera laporkan pada pihak berwajib dan komisi perlindungan anak, Ma!


    7 tips ini bisa Mama lakukan untuk menghindari kekerasan pada anak



    1. Bangun kedekatan dengan anak

    Kebutuhan anak nggak hanya sekedar fisik saja tapi juga secara psikis. Anak membutuhkan perhatian, kehangatan, rasa nyaman dan aman dengan orangtua. Ketika anak merasa nyaman dengan Mama, maka dia akan dengan mudahnya berbagi hal sekecil apapun dengan Mama. Lakukan pendekatan seperti sahabat dengan anak. Ajarkan mereka untuk menceritakan semua hal yang dialaminya baik yang menyenangkan ataupun tidak. Sehingga, walaupun Mama sibuk bekerja, Mama bisa mengetahui segala kegiatan yang mereka lakukan.

    Seringlah menghabiskan waktu bersama anak, Ma. Kalaupun sudah capek pulang kerja, sempatkan sejam atau dua jam bermain dengan mereka. Akhir pekan bisa jadi momen terbaik untuk meningkatkan bonding dengan anak.


    2. Beri Penjelasan

    Bagian ini penting banget Mama ajarkan sejak dini pada anak-anak. Jelaskan pada mereka bahwa nggak seorang pun boleh menyentuh bagian tubuhnya dengan tidak wajar! Jika ada yang berani menyentuh tubuh atau kelamin mereka, ajarkan untuk memberitahu Mama. Dan jangan lupa Ma, aJari mereka bahasa sebenarnya untuk alat kelamin.


    Baca juga: Ini Dia 5 Hal Yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah, Dari Dulu Hingga Sekarang!


    3. Selalu Ingatkan

    Jangan pernah lelah untuk mengingatkan anak-anak agar dia nggak mudah percaya dengan orang yang baru dikenalnya, Ma. Tekankan dengan jelas pada anak untuk menolak ajakan atau pemberian apapun dari orang yang nggak dikenal. Kalaupun ada yang mengajak atau memberi sesuatu itu tetangga dekat atau masih ada hubungan saudara, tetap mintalah pada anak untuk memberitahu Mama.


    4. Percaya perasaan / insting

    Coba Mama ajari anak-anak untuk lebih memerhatikan berbagai macam perasaan yang muncul ketika berhadapan dengan orang lain. Apakah itu rasa marah, senang, sedih, cemas atau bingung. Katakan pada mereka, agar memercayai perasaan itu.



    5. Bantu anak melindungi diri

    Jika anak sudah usia sekolah, bekali dia dengan ilmu bela diri. Ini penting banget, Ma, setidaknya anak bisa melindungi diri sendiri saat berada di luar. Tapi, di satu sisi perlu Mama ajari juga bahwa ilmu bela diri itu bukan untuk melakukan tidakan kekerasan. Kalau bisa, Mama menjalin kerja sama dengan guru atau penjaga sekolah dalam memantau kegiatan anak ketika berada di sekolah.


    6. Pilih orang yang dapat dipercaya

    Jika Mama bekerja di luar rumah, percayakan pengawasan anak pada orang yang benar-benar Mama kenal baik. Misalnya, nenek, kakek, tante, om, pengasuh, ART yang track recordnya memang Mama percayai. Saat berada di kantor, jangan lupa untuk menelepon anak sekali atau dua kali agar dapat memantau keadaan anak di rumah.


    Baca juga: Anak Lebih Dekat dengan Pengasuh Ketimbang dengan Mama? Lakukan 6 Cara Ini Agar Mama Tak Merasa Insecure!


    7. Hindari sikap kasar dan stres berlebihan

    Ma, sebisa mungkin hindari bersikap kasar pada anak. Adalah hal yang wajar jika Mama sering dibikin pusing tujuh keliling dengan tingkah lakunya. Apalagi kondisi Mama yang lelah saat pulang kerja, usahakan untuk tetap bersikap lembut. Deadline, masalah di kantor, masalah dengan Papa jangan sampai membuat Mama stres berlebihan. Selain nggak baik untuk kesehatan Mama, mengurangi stres bisa membuat Mama terhindar untuk melakukan kekerasan pada anak.

    Sikap tegas perlu Mama lakukan juga ketika anak melakukan kesalahan. Hindari mengeluarkan kata-kata kasar atau caci maki saat memarahinya.



    Terbersit satu harapan, semoga kita menjadi orangtua yang senantiasa memberikan kasih sayang dan segala hal terbaik untuk anak-anak kita kelak, ya, Ma. Anak adalah rezeki yang nggak ternilai harganya. Sepatutnya kita menyayangi dan melindungi mereka setiap saat. Jangan pernah biarkan ada jarak antara anak dengan kita.





    Write for Us!

    Kamu baru saja membaca artikel "Cegah dan Lindungi Anak Agar Tidak Menjadi Korban Kekerasan, Bahkan dari Kita Sendiri!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

    Tulis ceritamu di sini !


    | @RisaRusli

    Silahkan login untuk memberi komentar