Yuk, Ajak Anak-anak Langsung Belajar di Lokasi dengan Mengunjungi Empat Cagar Budaya di Jawa Tengah Ini!

Image via deluxshionist . com

Yuk, Ajak Anak-anak Langsung Belajar di Lokasi dengan Mengunjungi Empat Cagar Budaya di Jawa Tengah Ini!

1K
A people without the knowledge of their past, origin and culture is like a tree without roots. ~ Irish Proverb

Mama mudik ke Jawa Tengah tahun ini? Kalau iya, jangan lupa untuk ajak anak-anak menyusuri jejak-jejak budaya dan juga keindahan alamnya ya.

Provinsi yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa ini, memang nggak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi kalau lagi masa mudik Lebaran seperti ini ya. Yang mudik dari Jakarta ke arah timur, baik yang langsung menuju ke Jawa Timur, atau yang memang punya kampung halaman di Jawa Tengah, pasti melewati daerah-daerah di tengah Pulau Jawa ini.

Lokasinya yang berada di pusat pulau ini juga sebenarnya menjadi salah satu faktor mengapa Jawa Tengah menjadi tujuan utama wisatawan Indonesia. Meski satu pulau, satu provinsi, satu suku, namun berbagai budaya berpadu dengan harmonis di sini. Sehingga menjadikan Jawa Tengah sebagai pusatnya kebudayaan Pulau Jawa. Memang cukup banyak destinasi wisata Jawa Tengah yang pastinya menarik ya, Ma. Salah satu unggulannya adalah destinasi budaya dan cagar budaya, selain alamnya sendiri yang mengagumkan.


Image via bingetravelerinc . wordpress . com

Untuk cagar budaya, di sini ada beberapa candi peninggalan zaman purbakala yang sangat terkenal. Misalnya seperti Candi Borobudur, Candi Mendut, berbagai makam dan juga masjid peninggalan sejarah pengembangan agama Islam di Jawa (dan Jawa Tengah khususnya), Keraton, dan lain-lain.

Memang masih banyak lagi sebetulnya cagar budaya di Jawa Tengah, Ma.

Nah, kalau Mama ingin berwisata sekaligus pengin mengenalkan segala jejak sejarah dan budaya bangsa Indonesia, mengunjungi objek wisata cagar budaya bisa banget menjadi pilihan, Ma. Apalagi kalau wisata cagar budaya yang ditawarkan, dikemas secara lebih menarik ya. Dengan mengajak anak-anak untuk langsung melihat cagar-cagar budaya ini kan kita juga mewujudkan keikutsertaan kita melestarikan budaya bangsa. Bener nggak, Ma?

Eh, sebentar. Sebenarnya, Mama sudah tahu belum, apa itu cagar budaya sebenarnya?

Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010, cagar budaya adalah warisan budaya yang berupa benda, bangunan, situs, serta kawasan yang wajib dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan.

Untuk bisa disebut sebagai cagar budaya, segala bentuk benda, bangunan, struktur, situs dan kawasan tersebut harus ditetapkan melalui suatu proses penetapan, Ma. Jadi memang nggak bisa sembarangan ya. Dan, tentunya menjadi kewajiban kita semua untuk bersama melestarikan dan menjaga semua warisan leluhur tersebut. Kenapa? Tentu saja supaya generasi yang akan datang tetap memiliki pengetahuan akan identitas budayanya.

Well, enough dengan semua teori-teori, Ma. Sekarang coba kita lihat, cagar budaya mana saja yang harus banget kita kenalkan pada anak-anak kita secara langsung yang lokasinya berada di Jawa Tengah yuk! Jadi, ceritanya sambil mudik, Mama juga sekalian mengajak anak-anak untuk bersekolah dengan terjun langsung ke lokasi pendidikannya. Asyik nggak tuh?


Candi Borobudur, Magelang


Image via wikipedia

Candi Borobudur merupakan salah satu cagar budaya yang paling ngehits milik Jawa Tengah.

Eits, tapi sebelumnya, saya mau nanya nih, Ma. Hayo, ngaku, siapa yang masih berpikir bahwa Borobudur itu lokasinya di Yogyakarta? Coba ngacung! Hahaha!

Yah, meski sudah berulang-ulang diajarkan oleh guru di sekolah, tapi banyak orang tetap beranggapan bahwa Borobudur itu ada di Yogyakarta. Padahal sebenarnya, bukan. Iya, bukan, Ma, bukan di Yogyakarta, melainkan di Jawa Tengah. Mungkin karena wisatawan lebih sering berkunjung ke Candi Borobudur dari Yogyakarta ya, jadinya seolah-olah Borobudur itu terletak di sana. Hahaha. Memang sih, posisinya berbatasan dengan Yogyakarta, tapi Borobudur sebenarnya masuk wilayah Jawa Tengah. Nah, jangan sampai salah menginformasikan hal ini pada anak-anak ya, Ma!

Saya sendiri sudah berkali-kali mengunjungi Borobudur, tapi rasanya tetap nggak bisa berhenti mengaguminya, Ma. Yah, pantas saja ya, karena Borobudur ini termasuk dalam salah satu keajaiban dunia. Still amazing, gimana ya membangunnya dulu? Di zaman teknologi masih sangat sederhana lagi. Luar biasa!

Setelah kejadian gempa dan meletusnya Merapi, Candi Borobudur memang sempat rusak berat, Ma. Selama beberapa lama ditutup, demi pembersihan dari abu vulkanik yang menutupi stupa-stupa yang mengagumkan itu. Konon, abu vulkanik memang bisa sangat merusak batu candi. Sampai sekarang masih ada sisa-sisa gempa dan abu Merapi lho, yang bisa kita temui di lokasi.

Setelah selesai berkeliling di candi, sekalian, Ma, nikmati juga suasana di kawasan candi. Mama bisa ajak anak-anak duduk-duduk di rerumputan sambil makan pecel. Wahhh, enaknya!


Baca juga: Ini Dia Cara Berlibur Sehat Menikmati Alam Bebas Bersama Keluarga a la Rocking Mama Petualang!


Lawang Sewu, Semarang



Image via indonesianparadiseisland . blogspot . com

Bisa menjejakkan kaki di depan gedung tua yang megah sekaligus misterius itu, merupakan pengalaman yang menakjubkan, Ma. Ya, Lawang Sewu. Lawang berarti pintu, sedangkan sewu berarti seribu.

Seribu pintu. Hmmm, apa Mama mau membuktikan bahwa pintunya benar-benar berjumlah seribu? Boleh, Ma. Hahaha. Dihitung satu per satu ya! Selayaknya bangunan tua di Eropa, maka Lawang sewu ini memang sangat artistik, unik dan menawan.

Bangunan ini merupakan kantor pusat kereta api yang dibangun tahun 1903 oleh seorang berkebangsaan Belanda. Karena itu konsep desainnya mengadopsi gerbong kereta, Ma. Terus menerusss ... dengan pintu-pintu yang menghubungkan ruang satu dengan yang lainnya. Gaya arsitekturnya disebut gaya art deco.

Bangunan panjang dan besar ini juga memiliki ruangan di bawah tanah. Menurut guide yang ada di sana, sebenarnya tidak pernah ada acara penyiksaan di gedung ini lho, Ma. Sebagaimana mestinya, Lawang Sewu ini merupakan kantor perusahaan kereta api sejak dibangun. Jadi, fungsinya ya memang untuk kantor kereta api. Nggak ada itu yang namanya penyiksaan tahanan segala macem. Hmmm ... jadi dari mana asal muasal semua mitos dan rumor itu ya?

Di salah satu bagiannya, ada juga bangunan yang merupakan pusat informasi dari Lawang Sewu, dilengkapi berbagai foto sejarah bangunan. Mama dan anak-anak bisa bersama menelusuri sejarah dengan detail, bagaimana perkembangan perkeretaapian di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Rasanya, seperti tersedot ke masa lalu, Ma, mengikuti semua cerita di dalam gedung ini. Mungkin di situlah kemudian berkembang aura mistisnya ya.

Setelah selesai berkeliling, jangan lupa untuk mampir ke bagian tengah yang ada halaman dengan pohon besarnya. Teduh banget lho, di sini. Biasanya juga ada pemain live music yang menghadirkan lagu-lagu khas Jawa Tengah di sini. Asyik banget! Duduk di bangku panjang sambil selfie-selfie, plus menikmati es teh manis. Hmmmm ....


Baca juga: Ini Dia 11 Museum di Dunia yang Paling Menakjubkan dan Harus Dikunjungi!


Klenteng Sam Poo Kong


Image via Wikipedia

Masih di Semarang nih, Ma. Kita akan berwisata ke tempat ibadah lain nih. Yaitu Klenteng Sam Poo Kong.

Bangunan religi bagi penganut Kong Hu Cu ini didominasi, tentu saja, oleh warna merah ya, Ma. Warna merah memang merupakan warna keberuntungan kaum Tiong Hoa. Nggak usah kaget, panasnya Semarang terasa semakin menyengat di komplek klenteng ini. Sepertinya agak sulit untuk mengambil gambar di tengah teriknya matahari seperti di sini.

Nah, sekalian sebagai informasi juga nih, di beberapa bagian tertentu memang nggak boleh diambil gambarnya ya. Jadi, perhatikan papan petunjuk dan larangan yang ada. DI sini terdapat beberapa banguan yang megah dan tampak serupa. Saat hendak memasuki rumah ibadah, kita akan diharuskan untuk membeli dupa. Tapi, mau dipakai atau nggak, terserah.

Pada bagian belakang Klenteng, terdapat ruangan ibadah besar yang hanya boleh dimasuki oleh orang tertentu. Kita hanya diperbolehkan untuk mengambil foto di bagian depan pintu dari kejauhan saja.

Memang, meskipun klenteng ini merupakan salah satu objek wisata, namun tetap harus kita hormati kesakralannya karena masih dipergunakan sebagai tempat ibadah.


Masjid Agung Jawa Tengah


Image via placestovisit . tips

Jangan lupa juga untuk mengunjungi miniaturnya Masjid Nabawi Madinah, Ma. Ya, benar sekali. Masjid Agung Jawa Tengah.

Persis seperti Masjid Nabawi, Masjid Agung Jawa Tengah juga memiliki payung-payungnya yang artistik. Pada siang hari, payung-payung tersebut menjadi peneduh, sekaligus menjadi penghias Masjid yang khas dan unik. Tak kalah indah dengan suasana malam yang bisa kita nikmati di pelataran masjid yang dilatarbelakangi lampu-lampu cantik menghias bangunan. Panas dan teriknya kota Semarang lantas berganti dengan gemerlap syahdu lampu-lampu dan sepoi angin.

SubhanaAllah, syahdunya!

Sebaiknya sempatkan juga, menunaikan ibadah sholat di dalam masjid ya, Ma.


Baca juga: Liburan? Jangan Sampai Lewatkan 7 Tempat Wisata Murah di Solo Ini!


Selain keempat objek di atas, juga ada beberapa objek cagar budaya lain tersebar di Jawa Tengah, Ma. Seperti Masjid Demak, Candi Sewu, Vihara Watugong (yang masih berlokasi di Semarang), Gereja Blenduk, juga Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran di Solo, tapi kayaknya bakalan butuh waktu sebulan buat jalan-jalan ke semua tempat sekaligus ya, Ma. Hahaha. Kalau untuk liburan seminggu, cukuplah ke empat tempat di atas dulu sebagai awal perkenalan anak-anak langsung dengan kebudayaan bangsanya. Kapan-kapan bisa diagendakan lagi untuk kembali tur mengelilingi cagar budaya di Jawa Tengah.

Nah, selamat berwisata pendidikan, Mama!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Yuk, Ajak Anak-anak Langsung Belajar di Lokasi dengan Mengunjungi Empat Cagar Budaya di Jawa Tengah Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ophi Ziadah | @OphiZiadah

Mom of Trio Alinga, Zaha, and Paksi. Legislative drafter who loves blogging. Visit her personal blog at www.ophiziadah.com www.marlekum.net

Silahkan login untuk memberi komentar