Kabar Baik: Selingkuh Membawa Kebahagiaan (Meski Semu). Lalu, Apakah Kebahagiaan Sejati Memang Pantas Dikorbankan?

Kabar Baik: Selingkuh Membawa Kebahagiaan (Meski Semu). Lalu, Apakah Kebahagiaan Sejati Memang Pantas Dikorbankan?

6.4K
Hati boleh saja tercecer karena satu dan lain hal, tetapi komitmen tidak! Untuk alasan yang satu ini, bisakah kita tetap melanjutkan niat kita untuk selingkuh?

Perselingkuhan bukan hanya milik para pasangan muda saja, tapi bahkan juga bisa terjadi pada pasangan yang sudah menjalani rumah tangga cukup lama. Banyak faktor yang membuat seseorang selingkuh. Bosan, adanya ketidakpuasan, konflik batin, rasa kurang bersyukur, kurang dewasa dalam menyikapi problem percintaannya, iseng, bisa menjadi beberapa alasan hingga seseorang selingkuh.

Lalu, apa dampaknya? Sudah jelas!

Pada pasangan muda yang masih pacaran, paling-paling yang terjadi adalah sakit hati lalu putus. Namun, bagaimana dengan pasangan yang sudah resmi menikah? Pantaskah dia yang selama ini telah menemani during ups and downs, harus tergantikan oleh yang lain, yang belum tentu lebih baik?

Sebenarnya, apa yang didapatkan dari perselingkuhan hingga seseorang tega melakukannya?


Well, yes, rasa bahagia. Meski semu, tapi rasa bahagia yang datang sanggup membuat orang lupa diri. Juga dengan beberapa hal berikut ini.

  • Perasaan lebih bersemangat menjalani hidup
  • Merasa lebih menarik, karena terbukti bisa membuat lawan jenis jatuh cinta padahal sudah "dimiliki". Tampil lebih muda, karena akan selalu menjaga penampilan dan rajin merawat diri.
  • Lebih cerdas, karena orang yang sedang kasmaran cenderung untuk tak terlihat bodoh di depan pasangan selingkuhnya saat berdiskusi. Pun, harus lebih cerdas saat mencari alasan-alasan untuk dikemukakan pada pasangan sejatinya.
  • Mendapatkan perhatian dan cinta yang berlebih, karena ada perasaan waswas yang timbul maka kemudian dimanifestasikan dalam bentuk ungkapan rasa cinta yang berlebihan.
  • Kebutuhan ekonomi terpenuhi, karena kecenderungan untuk memanjakan dan memperhatikan pasangan selingkuhnya secara berlebihan.

Bagaimanapun, kemudian pasti juga akan timbul kecenderungan untuk membandingkan pasangan selingkuh dan pasangan sejati. Mana yang lebih baik?

Kecenderungannya, pastilah si pasangan selingkuh lebih baik dibandingkan pasangan sejati. Padahal, di balik kelebihannya, pasti terselip juga kekurangan. Tapi karena sudah terlanjur "sebal" dengan kekurangan yang ada pada pasangan sejati, kekurangan pada pasangan selingkuh tak lagi dipermasalahkan.

Jadi mau terus mencari kekurangan pasangan sejati, dan berusaha memenuhinya pada diri orang lain, atau berusaha melengkapi kekurangan pasangan sejati menjadi sebuah tantangan untuk kemudian bisa memperbaiki kualitas kita sendiri? Karena siapa pun pasti setuju, bahwa kekurangan dan kelebihan seseorang itu adalah relatif.

Karena nggak mungkin kita membandingkan satu orang dengan yang lainnya, mungkin kita lebih baik fokus pada perselingkuhannya itu sendiri.

Di balik semua keuntungan selingkuh yang sudah kita bahas di atas, pastinya ada kerugiannya juga.


Dampak buruk selingkuh

1. Berubahnya suasana


Pesona pasangan selingkuh yang sudah memenuhi pikiran (dan ditambah lagi dengan besarnya rasa bersalah pada pasangan sejati), akan membuat gairah para peselingkuh menurun.

Hal ini akan membuat suasana rumah terganggu, komunikasi dengan pasangan sejati akan terganggu, hingga meluas ke hal-hal lain, bahkan yang paling sepele sekalipun. Yang tadinya dengan mudah dibicarakan, kini nggak gampang lagi. Yang tadinya sudah dipahami bersama, sekarang bikin selalu gagal paham. Apalagi ada rasa insecure yang timbul makin besar dari hari ke hari. Pasangan selingkuh akan ekstra hati-hati dalam menjaga sikap, dan juga handphone-nya, karena di sanalah terletak semua rahasia perselingkuhan. Insecurity ini justru kemudian memicu rasa curiga pada pasangan sejati yang makin besar juga setiap harinya.

Lalu kalau sudah ketahuan?

Pasangan selingkuh bakalan kehilangan harga diri di mata pasangan sejati, dan jatuhnya martabat di depan anak-anak serta keluarga besar.

Belum lagi hubungan sosial.

Orang di luar sana akan menjadi alergen tangguh terhadap kelakuan si pasangan selingkuh. Siap mental saja, karena "hukuman sosial" ini biasanya akan lebih kejam. Masih banyak orang yang belum bisa membedakan mana urusan pribadi dan mana urusan orang. Sehingga urusan rumah tanggamu bisa jadi urusan publik. Minimal, akan selalu pandangan sinis pada pasangan selingkuh setiap kali mereka lewat di depan orang-orang.

Siap-siap saja menghadapi suasana baru. Suasana di mana pasangan selingkuh selalu menjadi pihak yang salah, meski sebenarnya berada di posisi yang benar di masalah yang lain. Sekali cacat, maka akan cacat seumur hidup.


2. Memengaruhi performa kerja


Pasangan selingkuh akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk berkencan, hingga akhirnya pulang lebih malam dari biasanya.

Tenaga? Jangan ditanya, habis sudah!

Nggak sedikit, para pasangan selingkuh yang sedang dimabuk kepayang ini tak pulang sama sekali. Waktu untuk keluarga tak ada lagi, tubuh ngedrop, tenaga habis. Akhirnya performa kerja terpengaruh juga.

Belum lagi kalau pasangan selingkuh itu adalah seorang PNS. Menurut Peraturan Pemerintah pasal 7 ayat (4) PP 53/2010, ada risiko pelepasan jabatan bagi PNS yang memiliki istri lebih dari satu, bila tanpa didasari alasan yang kuat, akan mendapatkan sanksi hukum tersendiri.


3. Pengeluaran membengkak


Kecenderungan pasangan selingkuh yang lebih royal pada biasanya akan memaksa dompet bekerja lebih keras. Pun demikian dengan tagihan kartu kredit. Karena kencan, pastinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Akhirnya, uang belanja bulanan tersendat. Uang sekolah anak terbengkalai.


4. Ancaman kesehatan



Sebuah penelitian di Jerman menyebutkan, bahwa para pria yang berselingkuh memiliki risiko terkena penyakit jantung lebih besar dibandingkan mereka yang tidak berselingkuh. Memang perselingkuhan akan memacu adrenalin sehingga menimbulkan rasa penasaran dan senang. Namun, hal tersebut juga membuat jantung bekerja lebih keras.

Pasangan selingkuh juga akan lebih mudah mengalami depresi, yang dipicu oleh rasa takut kalau ketahuan. Demikian pula dengan risiko terkena penyakit menular seksual.


5. Kehilangan segalanya


Ya, inilah risiko terbesar yang harus dihadapi oleh pasangan selingkuh.

Apalagi bagi perempuan. Dalam hukum yang berlaku saat ini, seorang mama yang berselingkuh bisa kehilangan hak asuh atas anaknya. Siapkah kehilangan anak-anak, hanya karena kebahagiaan sesaat dan semu?

Karena itu, bersiaplah juga kehilangan segalanya. Tak hanya anak-anak akan hilang secara fisik, namun juga kepercayaan mereka.


So, setelah kita lihat lagi, maka ada beberapa hal yang bisa kita tanyakan pada diri sendiri sebelum berselingkuh:

  1. Apakah saya berselingkuh karena si pasangan sejati punya segudang kekurangan? Kalau iya, apa yang bisa saya lakukan untuk membantunya memperbaiki diri?
  2. Apa saya berselingkuh karena si pasangan sejati kurang menarik penampilannya? Kalau iya, apa yang bisa saya lakukan untuk membuatnya lebih tampil percaya diri sehingga bisa tampak menarik?
  3. Apakah saya berselingkuh karena si pasangan sejati susah diajak berkomunikasi? Kalau iya, apa yang bisa kami lakukan berdua untuk memperbaikinya?

So, gimana nih?

Pilihan tentunya ada di tangan kita kan? Apakah ingin meneruskan (niat) selingkuh, atau berhenti di saat ini, sekarang juga?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kabar Baik: Selingkuh Membawa Kebahagiaan (Meski Semu). Lalu, Apakah Kebahagiaan Sejati Memang Pantas Dikorbankan?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Indah Mutiara putri | @imp9nn

Membaca adalah caraku mengenal dunia, dan menulis adalah caraku mengenal sebaik-baiknya diri. Hai saya indah mutiara putri, berada di Rocking Mama karena ingin belajar dan senang berbagi. Semoga apa yang saya tulis di sini memberi nilai-nilai kebaikan,

Silahkan login untuk memberi komentar