Kapan Bisa Memulai Toilet Training Untuk Balita? Pertimbangkan Dulu Beberapa Hal Berikut!

Kapan Bisa Memulai Toilet Training Untuk Balita? Pertimbangkan Dulu Beberapa Hal Berikut!

3.5K
Toilet training tak sekadar hanya melatih anak untuk BAK dan BAB di tempatnya, namun juga melatih perkembangan jiwa anak loh! Dampak dari toilet training yang tak tuntas bahkan bisa 'melukai' mereka. Yuk, lakukan cara berikut!

"Sayang, lain kali pipis di toilet ya," ucap sang mama sembari membersihkan lantai bekas air seni putrinya. Tiara (2,5 th) menunduk tampak merasa bersalah, "Maaf, Ma, tadi mau ke toilet tapi sudah keluar duluan," sanggah Tiara. Mama pun jadi sedih. Ah, toilet training Tiara belum berhasil juga, desahnya.

Apakah Mama juga mengalami hal seperti yang dialami oleh mama Tiara?

Kecelakaan seperti Tiara saat awal-awal melakukan pembiasaan ke toilet memang acap kali terjadi. Wajar kok, Ma. Dan, yang paling penting dan harus selalu diingat, agar Mama tidak perlu bereaksi berlebihan sehingga membuat anak terkejut atau bahkan mengalami trauma saat melakukan toilet training ini.

Menyikapi kecelakaan selama proses toilet training sebaiknya Mama bawa happy aja, Ma agar tidak kehilangan kesabaran dan konsentrasi. Memang, dalam kegiatan ke kamar mandi atau latihan ke toilet atau toilet training ini, anak membutuhkan bimbingan yang intens, waktu dan kesabaran tinggi. Mama hendaknya tidak tergesa-gesa memulai melatih si kecil ke kamar mandi. Salah waktu memulai toilet training bisa berakibat kegagalan program.


BACA JUGA


Ini Dia 7 PR Terbesar bagi Setiap Orangtua yang Punya Balita

Ini Dia 7 PR Terbesar bagi Setiap Orangtua yang Punya Balita

Menanam kebiasaan baik pada si kecil akan menuai kebiasaan baik pula

Read more..


Banyak orangtua yang bertanya, kapan sebaiknya anak latihan menggunakan toilet. Untuk memastikan waktu yang tepat memulai toilet training, Mama hendaknya mengenali tanda-tanda kesiapan anak.


Tanda-tanda kesiapan anak mulai dikenalkan pada toilet training


Kesiapan Fisik

Kesiapan fisik ditandai dengan anak sudah sanggup menahan air seni dan tetap kering kurang lebih 3 jam.

Kemampuan ini berkaitan dengan perkembangan otot saluran kemih untuk menyimpan air seni lebih banyak. Selain itu, kesiapan motorik halus dan kasar balita juga patut diperhatikan ya, Ma, apakah anak sudah bisa duduk tegak, sudah bisa berjalan dengan baik dan bisa melepaskan celana sendiri.


Kesiapan Kognitif

Kesiapan kognitif apakah anak siap melakukan toilet training ditunjukkan dengan sudah pahamnya anak kapan ingin buang air kecil atau buang air besar.

Pada saat itu, anak sudah sadar akan fungsi tubuh sehingga anak mulai menunjukkan reaksi bila hendak BAK atau BAB. Misalnya nih, anak memegang perut dan merasa gelisah.

Anak yang belum siap kognitif tidak aware dengan alarm BAK dan BAB yang muncul di tubuh mereka, sehingga secara otomatis mereka langsung mengompol.

Tanda lainnya balita sudah mengerti instruksi sederhana. Sebagai contoh, ketika Mama meminta mereka memberitahu Mama saat akan BAK atau BAB, mereka pun bisa memahaminya.


Kesiapan Emosional

Anak yang sudah siap emosi akan mampu menahan sesaat, agar kotoran tidak keluar sembarang tempat. Mereka juga merasa malu jika mengompol di tempat umum.


Nah, ketiga kesiapan toilet training tersebut pada tiap anak berbeda, Ma, dan umur bukanlah patokan.

Secara general anak usia 2 tahun seharusnya sudah memiliki ketiga kesiapan itu, tetapi ada juga anak usia 3 tahun atau lebih malah belum siap. Mama yang sehari-hari bersama buah hati pasti sudah tahu dan dapat mengamati, kapan putra-putrinya siap melakukan toilet training ini.

Program toilet training pada balita biasanya berlangsung 8-10 minggu. Ada beberapa anak 'lulus' dalam waktu 2 minggu, tetapi ada juga yang 'gagal' walau sudah lewat 10 minggu. Keberhasilan toilet training tergantung pada kedisiplinan dan konsistensi orangtua saat menjalankannya.


Ani Ch, seorang psikolog dan pemerhati anak, mengemukakan 3 tahapan toilet training yang bisa kita lakukan.


1. Pengenalan Atau Pre-Toilet Training

Tahap pengenalan diawali dengan komunikasi dua arah antara orangtua dan anak mengenai pentingnya toilet training.

Anak bisa diajak ngobrol santai dengan mengatakan, bahwa anak besar sudah tidak ngompol lagi atau kalau mau pipis di toilet. Orangtua juga mengenalkan toilet sebagai tempat khusus untuk BAK atau BAB.

Sebaiknya suasana kamar mandi didekorasi dengan hiasan yang sesuai dengan karakter anak, Ma, juga dengan pencahayaan yang cukup. Karena kamar mandi yang gelap dan lembap bisa membuat anak malas ke toilet.


2. Tahap kedua Pembiasaan

Setelah anak paham tempat BAK dan BAB adalah toilet, maka mulai biasakan anak ke toilet.

Jika sudah ada tanda-tanda kebelet segera ajak ke kamar mandi. Atau ajak ke toilet di jam-jam tertentu untuk BAK, biarpun tidak kebelet.


3. Tahap Terakhir Pemantapan

Anak perlu diberi apresiasi bila berhasil ke toilet untuk BAK atau BAB. Penghargaan atas kesuksesan anak ke toilet tidak harus dengan hadiah berupa benda sih, Ma. Bisa juga sebuah pujian yang tulus dari Mama atau pelukan hangat akan sangat berarti untuk meningkatkan semangatnya dan menambah rasa percaya diri anak.


BACA JUGA


Agar Rasa Percaya Diri Anak Semakin Terpupuk, Coba Mama Lakukan 8 Tips Parenting Jitu Ini!

Agar Rasa Percaya Diri Anak Semakin Terpupuk, Coba Mama Lakukan 8 Tips Parenting Jitu Ini!

Rasa percaya diri dan penghargaan pada diri sendiri itu krusial banget buat anak. Mama tentu sudah menyadari hal ini ya?Ya, rasa percaya ...

Read more..


Toilet training sendiri berhubungan dengan pendidikan karakter anak lho/. Sebab toilet training merupakan bagian dari pengajaran kepada anak untuk menahan keinginan, mengelola emosi dan kedisiplinan, Ma.

Saat Mama sendiri kurang serius dalam menjalankan toilet training maka sama halnya Mama telah kehilangan moment penting untuk mengajari anak mengenai manajemen waktu, kedisiplinan, rasa malu dan mengelola emosi.

Masalah yang bisa timbul akibat toilet training yang tidak tuntas bisa beragam dan bisa sangat memengaruhi kejiwaan anak, antara lain anak bad mood, labil, emosional, sulit mengendalikan diri dan kurang terbentuknya rasa bersalah serta malu.

Bagi Mama yang sedang menjalankan program toilet training bersama buah hati tercinta, tetap semangat ya. Kecelakaan, seperti anak mengompol di lantai mungkin akan sering terjadi di awal-awal program. Namun, setelah berhasil dan anak lulus toilet training, Mama akan merasa sangat bahagia karena salah satu tahap perkembangan anak dapat terlampaui.

Happy parenting, Mama! Let's do it with fun!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kapan Bisa Memulai Toilet Training Untuk Balita? Pertimbangkan Dulu Beberapa Hal Berikut!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Anittaqwa Elamien | @anittaqwaelamien

Setelah resign sebagai peneliti di lembaga Penelitian Penyakit Tropis Universitas Airlangga. Bunda dari Fikri dan Raisa benar-benar jatuh cinta pada dunia menulis. Baginya menulis merupakan katarsis stress yang paling ampuh.

Silahkan login untuk memberi komentar