Kepadamu, Mama yang Gagal ASI Eksklusif. You Are Not Alone!

Kepadamu, Mama yang Gagal ASI Eksklusif. You Are Not Alone!

1.9K
ASI Eksklusif adalah rezeki. Dan rezeki datang dariNya, maka tak eloklah jika kita mempertanyakan. Berikan ASI Eksklusif seberapa pun sedikitnya, dan syukurilah!

Dear Mama, apa kabar? Bagaimana si kecil? Sudah lulus S1, S2 ASI Eksklusif? Belum? Atau ... nggak pernah lulus? Ah, kita senasib sepenanggungan, Ma.

Apakah Mama terbiasa baper, melihat di beranda Facebook Mama dipenuhi dengan foto-foto sertifikat lulus S1, S2 hingga S3 ASI Eksklusif? Sudah terbiasa tercenung menatapi foto-foto freezer yang penuh dengan botol ASIP full loaded?

Hmmm ... saya juga merasa demikian. Well, tentu saja saya ikut berbahagia, Ma. Saya tahu para mama tersebut begitu bahagia karena pencapaian-pencapaian tersebut. Bukankah kebahagiaan itu menular?

Dan, percayalah, semua itu menjadi penyemangat saya saat saya melihat isi kulkas di rumah, yang hanya dihuni oleh botol ASIP untuk setengah hari saja.

Duh, Gusti.

Iya, itu yang saya rasakan dulu saat pernah gagal memberikan ASi Eksklusif pada anak pertama saya. Tiga tahun lalu, kalau ada saja orang yang ngomongin soal ASI Eksklusif, mendadak saya mellow.

Sekarang sih, syukurlah masa-masa itu sudah lewat, Ma. Alhamdulillah proses pemberian ASI Eksklusif saya lebih lancar. Jauuuh lebih baik ketimbang anak pertama, di mana saya banyak drama mulai dari membohongi diri sendiri, nangis-nangis, sampai super sensi masalah ASI. Kok bisa? Yah, kemungkinan besar sih karena saya sudah tak terlalu berharap banyak saat mulai masa menyusui.

Jadi, I feel you banget, Mama yang gagal memberikan ASI Eksklusif sedunia.


Beberapa hal yang Mama harus tahu saat Mama mulai merasa gagal memberikan ASI Eksklusif pada bayi Mama


You are not alone!


Yes, you are not alone.

Jangan merasa sendiri. Ada saya, kami, dan banyak mama lain yang tahu persis bagaimana perjuanganmu, karena kami pun mengalami hal yang sama.

Kami juga mengalami bagaimana Mama terbangun di malam hari untuk menyusui bayi Mama. Kami juga sering makan terburu-buru di jam istirahat kantor agar bisa pumping tanpa mengambil terlalu banyak jam kerja. Bahkan meski di kantor nggak menyediakan nursing room untuk pumping, kita rela kan ya, menggunakan toilet?

Sudah tak kurang kita berjuan, namun ternyata hasilnya tetap nggak sesuai dengan harapan. Nggak cukup untuk memenuhi kebutuhan si baby.

You don't need to mention it, Mama. Saya tahu banget bagaimana rasanya. I feel you!


Jangan merasa bersalah!


No, Mama, jangan pernah merasa bersalah!

It's ok saat akhirnya Mama harus merelakan bayi Mama meminum susu formula sebagai tambahan ASI, yang entah mengapa nggak selancar dan melimpah ruah seperti mama yang lain.

I'm telling you, kita tidak sedang berbuat kejahatan, Mama! Itu bukan kriminal! Tutuplah telinga Mama rapat-rapat, saat ada yang dengan enteng berkata, "Kalau kamu mau berusaha, pasti bisa." Atau, "Menyusui kan alami. Sudah kodratnya perempuan! Jadi, mudahlah! Susahnya di mana?" Atau, "Yang penting mindset. Kalau kita sugesti diri sendiri bahwa kita pasti bisa dan ASI kita cukup, maka pasti cukup."

That's ok, Mama. Nggak perlu dipikirkan dan dimasukkan ke hati.

Kita adalah seorang mama, sudah pasti akan memberi yang terbaik untuk buah hati kita. Jangan merasa bersalah, Mama. Lakukan saja yang terbaik yang bisa kita lakukan.


Jangan bersedih!


Kita mungkin memang sekelompok mama yang nggak berhasil memberikan ASI Eksklusif seperti yang dikampanyekan pemerintah. Kita mungkin nggak bisa mencapai life goals para mama sedunia untuk bisa menyusui anak-anak kita. Kita mungkin dibilang tak pernah keras berusaha untuk bisa menyusui.

Tak apa. Jangan bersedih. Tersenyumlah, dan syukurilah bahwa kita masih bisa memeluk anak-anak kita sama hangatnya dengan mama-mama mana pun. Syukurilah bahwa si baby bisa merasakan cinta mati kita meski kita tak menyusuinya. Coba lihat ke dalam matanya, Ma. Dia tersenyum kan? Coba rasakan detak jantungnya, kulitnya yang halus. Semua itu adalah hasil kerja cinta Mama, meski Mama tidak menyusuinya.

Karena memberi ASI Eksklusif hanyalah merupakan salah satu dari sekian hal penting lainnya dalam perjalanan menjadi seorang mama yang sebenarnya. ASI Eksklusif bukanlah tujuan, melainkan ikhtiar.

Tersenyumlah, Mama, dan jangan bersedih. Karena bayi yang bahagia dimulai dari mama yang bahagia. Untuknya, Mama adalah semestanya, tak peduli seberapa banyak ASI Eksklusif yang bisa diberikan padanya.


Stay positive!


Menyakitkan memang mendengar anak kesayangan kita disebut sebagai anak sapi. Belum lagi kita yang dituduh sebagai mama yang kurang bertanggung jawab karena nggak mau usaha. Dicap pula sebagai ibu pemalas, dan bahkan lebih parah lagi, anak kita dipastikan bakal penyakitan!

Well, ketimbang baper dengan semua energi negatif yang datang itu, mengapa tak kita balik kondisinya sehingga menjadi lebih positif? It's ok-lah, anggap saja semua 'caci maki' yang datang pada kita itu sebagai bentuk perhatian dari orang-orang lain. Mereka hanya ingin kita bisa memberi yang terbaik seperti yang sudah mereka lakukan kok. Jadikanlah hal tersebut sebagai penyemangat, bahwa banyak lho yang perhatian ke kita. Iya nggak sih, Ma?

Jangan pernah kecewa pada diri sendiri, Mama. Percayalah kita sudah berusaha semaksimal yang kita bisa, sekuat daya kita. Jika hasil tak sesuai harapan, maka yang bisa kita lakukan adalah berdamai dengan diri sendiri.


You don't need to explain anything!



Ah, pastilah kita pengin sekali menjelaskan apa alasan-alasan yang kita punya hingga kita tak mampu memberikan ASI Eksklusif seperti mereka kan, Ma? Ya, ya. Saya dulu juga begitu.

Mama pasti ingin menjelaskan, bagaimana usaha keras Mama untuk memperlancar ASI seperti makan lebih bergizi, minum suplemen untuk ibu menyusui, berapa kali kau ganti pompa, massage payudara dan sebagainya. Semua demi merangsang ASI keluar dari payudara Mama.

Atau mungkin, Mama hanya ingin bilang, "Jangan bikin aku tambah tertekan. Tolong bantu aku supaya lebih semangat!"

Tapi ah, sudahlah, Ma. Untuk apa semua penjelasan itu? Mama mau jelasin ke berapa orang? Terlalu sia-sia, Ma. Sudahlah. Cukuplah kita (dan suami) yang tahu, betapa kita telah berusaha. Doakan saja semoga mama lain tak mengalami hal yang sama.


Jangan menyerah!


Walau hasil perahan ASI kita nggak bisa mengisi kulkas yang bisa difoto dan dibanggakan di beranda Facebook, namun jangan pernah menyerah! Tetaplah berikan ASI Eksklusif berapa pun banyaknya (atau sedikitnya). Karena dalam tiap tetesan ASI itu ada cinta kita dan doa supaya si baby selalu sehat.

Karena ASI adalah rezeki. Dan rezeki adalah hak Yang Mahakuasa. Tak eloklah kalau kita meminta padaNya untuk disamaratakan, atau bahkan mempertanyakannya. Mungkin mama yang lain diberi rezeki ASI yang berlimpah, namun kita diberi anugerah rezeki yang lain.


Nah, sekarang, cobalah lihat kembali senyum si baby saat digendong itu, Ma. Rasakan lembut kulit tangan dan pipinya. Cium wangi surgawi dari mulut mungilnya yang tersenyum. Iringilah semuanya dengan doa, agar dia tumbuh sehat tak kekurangan suatu apa.

Rengkuh semua kesulitanmu, Mama, dan percayalah. Meski kita tak bisa memberikan ASI Eksklusif selancar mama yang lain, kita tetaplah mama yang baik.

Stay healthy, dan salam peluk untuk si baby ya!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kepadamu, Mama yang Gagal ASI Eksklusif. You Are Not Alone!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Windi Teguh | @winditeguh