Kepo Kondisi Anak Sekolah? Ajukan 19 Pertanyaan Kreatif Ini Supaya Jawaban Mereka Nggak Standar dan Terjalin Dialog yang Hangat

Kepo Kondisi Anak Sekolah? Ajukan 19 Pertanyaan Kreatif Ini Supaya Jawaban Mereka Nggak Standar dan Terjalin Dialog yang Hangat

760
Hari pertama anak sekolah memang seru! Tapi, setelah hari ini, pastinya mereka harus terus dimonitor ya, Ma? Ajukan 19 pertanyaan kreatif ini, supaya mereka pun terpancing untuk bercerita banyak mengenai kondisi mereka selama di sekolah.

Pagi memang merupakan waktu-waktu yang heboh ya, Ma. Dari mulai kerepotan para mama membangunkan anak-anak sampai kehebohan menyiapkan sarapan. Lalu disusul mengantar anak sekolah, sekaligus melepas si Papa yang ngantor.

Apalagi hari pertama anak sekolah seperti hari ini.

Media sosial pun penuh. Ternyata selain sibuk mempersiapkan anak sekolah, orang tua pun pengin mengabadikan momen hari pertama anak sekolah ini, dari mulai foto-foto anak yang mulai berangkat sekolah hingga posting situasi kondisi jalan di sekitar sekolah yang macet. Karena nampaknya hampir semua orang tua berlomba ingin mengantar anak-anaknya di hari pertama sekolah. Terlebih jika sang junior masih duduk di pre-school atau baru masuk sekolah dasar.

Seminggu pertama anak sekolah pada umumnya masa pendampingan. Masih lucu juga melihat reaksi dan polah anak-anak ini, terutama yang baru mengenal bangku sekolah. Tapi ‘kan tidak selamanya didampingi terus, bukan? Lambat laun anak-anak harus belajar ditinggal hanya bersama guru sekolahnya. Dan para orang tua pun kembali pada kesibukan masing-masing.


BACA JUGA


Mengawali Hari Pertama Anak Sekolah, Berikut 11 Langkah yang Bisa Membantu Mama!

Mengawali Hari Pertama Anak Sekolah, Berikut 11 Langkah yang Bisa Membantu Mama!

Biasanya, sehabis akhir pekan atau liburan anak sekolah yang panjang itulah, hal yang paling krusial bagi semua orang tua.Bagaimana tidak, ...

Read more..


Dari situ timbul ritme baru. Pergi sekolah, entah kita yang antar atau mereka ikut jemputan sekolah. Usai sekolah, mungkin mereka langsung ke tempat kegiatan tambahan. Sore baru kembali ke rumah. Dan sebagai orang tua, wajar banget ‘kan jika saya ingin tahu keseharian mereka sebagai anak sekolah.

Do they have hard time with the lesson or not? Are they having a good time at school or not? And so and so.

Walaupun tingkat kekepoan saya tinggi namun ternyata kalimat yang keluar dari mulut bisanya sebatas, “Gimana tadi di sekolah?”

Kali pertama masih dijawab lengkap. Mulai dari kejailan teman, istirahat kedua jajan apa, hingga ada guru yang sampai marah karena murid seisi kelas lebih suka bercerita sendiri ditimbang menyimak penjelasan sang guru. Kali kedua juga masih direspon baik walau ceritanya tidak sedetail sebelumnya. Lama kelamaan penjelasan makin irit. Akhir-akhirnya cuma dijawab, “Ya, gitu deh. Sama seperti kemarin kok, Ma!”.

Ealah, makjleb banget!

Mulanya saya nggak terima dengan respon seperti itu. Sempat sewot malah. Tapi kemudian secara tak sengaja, saya membaca sebuah artikel parenting luar negeri tentang komunikasi dengan anak. Banyak hal dan tips yang diulas termasuk membahas bagaimana berkomunikasi dengan anak, termasuk kalau kita ingin tahu kondisi saat anak sekolah.

Jangan mengajukan anak dengan pertanyaan yang sama setiap harinya. Karena akan terkesan standar dan basa-basi dalam benak si anak. Akibatnya, mereka pun akan memberikan jawaban yang serupa alias standar juga.

Wah, benar juga. Saya berasa ditabok deh ketika membacanya. Langsung ngaca diri alias introspeksi. Wajar juga jika saya diganjar jawaban yang sedemikian rupa dari mereka. Terlebih dari anak sulung yang sudah menginjak remaja.


Jadi, bagaimana seharusnya saya bertanya mengenai kondisi anak sekolah?

Pertanyaan yang kreatif


Singkat cerita, jadi orang tua harus kreatif. Sekepo apa pun kita akan pengalaman anak sekolah di hari itu, ajukan pertanyaan yang berbeda. Kecuali jika kita tidak masalah dengan jawaban standar. Hehehe.

Karena saya tidak ingin mendengar jawaban yang standar, maka saya pun mencoba membuat daftar pertanyaan. Tujuannya selain menghindari pertanyaan yang itu-itu saja. Bayangkan jika kita jadi mereka. Tiap hari dikasih pertanyaan yang sama, bete juga keleus.


BACA JUGA


Pendidikan di Sekolah Bukan Hanya Tanggung Jawab Guru - Yuk, Bantu Proses Belajar Si Kecil dengan 5 Hal Berikut Ini!

Pendidikan di Sekolah Bukan Hanya Tanggung Jawab Guru - Yuk, Bantu Proses Belajar Si Kecil dengan 5 Hal Berikut Ini!

Pendidikannya di sekolah nggak cuma menjadi tanggung jawab guru. Justru kitalah yang harus tetap bertanggung jawab penuh pada proses ...

Read more..


Kalimat terbuka


Walaupun jadi pe-er banget tapi akhirnya saya coba menerapkan tips tersebut.

Membuat pertanyaan mengenai kondisi anak sekolah yang akan membuat mereka bercerita sehingga memenuhi rasa kekepoan saya sebagai mamanya anak-anak.

Salah satunya, jangan melemparkan kalimat tertutup. Buat yang suka nulis tahu deh apa maksudnya. Yup, betul! Artinya kalimat tanya yang jawabannya bukan “iya” atau “bukan” saja. Kalimat yang cukup dijawab dengan “iya” atau “tidak” berpotensi pada short conversation. Bisa jadi dead-end alias buntu.


Timing


Ternyata selain kreatif dalam melontarkan pertanyaan, waktu bertanya pun kudu tepat. Walaupun posisinya kita sebagai orang tua, ternyata kita jangan menggunakan privilege tersebut untuk bertindak superior.

Jika anak baru nongol di pintu rumah langsung dibombardir pertanyaan, ya pantas saja anak menjawab dengan standar. Mereka kan masih capek.

Kalau saya sih biasanya raise questions over dinner. Alhasil, family dinner is routine agenda on the house. Manfaat lainnya seluruh anggota keluarga jadi bisa tukeran cerita.

Dengan melihat sikon, kita juga bisa menilai apakah mood si anak, apakah hatinya lagi okay atau tidak. Tidak jarang, pertanyaan yang sudah diancang-ancang jadi berubah manakala melihat ekspresi anak yang tidak seperti biasanya. Alhasil jadi sesi curhat. Hahaha.

Biasanya, saya suka melemparkan pertanyaan dengan topik berikut. Memang kadang ada yang diulang secara random. Tapi minimal nggak tiap hari saya bertanya, “Gimana tadi di sekolah?”. Ubahlah kalimat-kalimatnya sevariatif mungkin, jadi meski jawabannya sama, tapi anak nggak merasa ditanyai dengan pertanyaan yang sama.

  1. Hal apa yang menyenangkan pada hari itu dan alasannya.
  2. Pelajaran sekolah mana yang paling susah
  3. Pelajaran yang paling disebelin.
  4. Pelajaran yang paling disukai.
  5. Hari ini ada guru yang marah-marah nggak, apa penyebabnya?
  6. Kalau ada pergantian guru, kira-kira siapa yang mau diganti dan kenapa?
  7. Paling suka kalau diajar sama siapa.
  8. Dari semua makanan yang dijual di kantin sekolah, apa yang paling sering dibeli dan kenapa.
  9. Tempat favorit di sekolah.
  10. Cari tahu siapa-–misalnya 5--teman terdekat mereka. Kenapa lebih senang bermain dengan 5 teman ini dibanding yang lain.
  11. Jika mereka menjadi guru, kira-kira apa yang akan mereka lakukan. Figur guru siapa yang akan mereka tiru.
  12. Dari semua makanan yang dijual di kantin sekolah, apa yang ngga pernah dibeli dan kenapa.
  13. Cari tahu petugas sekolah--selain guru--yang mereka kenal dan apa yang dilakukan oleh petugas sekolah tersebut. Bisa penjaga sekolah, security, penjaga kantin atau lainnya.
  14. Siapa teman anak sekolah yang selalu mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Mau tidak jadi murid dengan nilai tertinggi di kelas, alasannya?
  15. Menurut mereka, hal apa yang perlu ada di sekolah dan mengapa?
  16. Adakah yang pernah berbuat tidak baik pada mereka. Sebaliknya, apakah mereka selalu bersikap baik pada teman-teman lainnya?
  17. Hal apa yang bikin bete di sekolah, kenapa?
  18. Supaya ngga bete, enaknya ngapain di sekolah?
  19. Cari tahu, apakah mereka pernah jail sama teman-teman? Siapa yang paling sering dijailin, kenapa?

Sejauh ini, my favorite answers coming from #1, #5, #8 and #10. Surprisingly, their answers triggers another questions and lead us to long conversation. Tanpa disadari kami semua belajar. Saya dan suami belajar mendengarkan opini anak, dan anak-anak pun belajar mengutarakan pendapatnya.


BACA JUGA


Ini Dia 15 Pertanyaan Kreatif yang Bisa Mama Tanyakan Kepada Si Kecil Sepulang Sekolah

Ini Dia 15 Pertanyaan Kreatif yang Bisa Mama Tanyakan Kepada Si Kecil Sepulang Sekolah

The important thing is not to stop questioning ~ Albert Einstein

Read more..


Sejalan usia anak-anak, varian pertanyaan dan topik pembicaraan pastinya akan meluas. Tidak sebatas pada hal-hal sekolah akademis namun pastinya akan menyentuh pada hal-hal yang hanya akan diajarkan oleh sekolah kehidupan di mana pengalaman adalah guru terbaiknya.

Btw, Mama punya stok pertanyaan kreatif untuk mengetahui kondisi selama anak sekolah yang lain? Share di sini yuk!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kepo Kondisi Anak Sekolah? Ajukan 19 Pertanyaan Kreatif Ini Supaya Jawaban Mereka Nggak Standar dan Terjalin Dialog yang Hangat". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ratna Amalia | @ratnaamalia

an independence project manager | content writer | owner www.mydairynote.blogspot.com

Silahkan login untuk memberi komentar