Kerja di Rumah Itu Nggak Berarti Santai Kayak di Pantai - Ini Dia 5 Persamaannya dengan Kerja di Kantor!

Kerja di Rumah Itu Nggak Berarti Santai Kayak di Pantai - Ini Dia 5 Persamaannya dengan Kerja di Kantor!

1K
Kerja di rumah lebih santai kayak di pantai? Kalau demikian adanya, dijamin deh, diri kita nggak akan berkembang, nggak produktif, dan tak ada yang bisa dijadikan nilai tambah.

Hai Mama! Apakah Mama dulu bekerja di kantor lalu kini kerja di rumah? Nah, meskipun definisi kerja dari rumah bisa jadi sangat luas dan debatable, untuk saya pribadi ternyata kerja di rumah itu tidak jauh beda lho dengan bekerja di kantor. Yah, itu yang saya sadari sekarang setelah hampir satu tahun beralih titel dari ibu bekerja di kantor menjadi ibu yang kerja di rumah.

Saya memang telah menemukan pekerjaan impian. Ya! Saya adalah penerjemah dan penulis lepas sekarang. A freelancer! Work from home! And I really thought everyday will be holiday now! Well guess what, I was sooo wrong!


BACA JUGA


Ini Dia 3 Tanda-Tanda Pasti Bahwa Sudah Waktunya Mama Resign dari Kantor!

Ini Dia 3 Tanda-Tanda Pasti Bahwa Sudah Waktunya Mama Resign dari Kantor!

Be brave enough to walk out of your comfort zone, for it never will bring the better of you

Read more..


Saya masih harus kerja, malah kerja lebih keras lagi! Bahkan ada beberapa hal yang saya sadari, kerja di rumah itu ada miripnya dengan kerja di kantor, dan ternyata kemiripan-kemiripan itu memang bermanfaat dalam mendukung kegiatan freelancing.


Nah, ini dia lima kemiripan bekerja di kantor dengan kerja di rumah


1. Ruang kerja


Dulu saat saya bekerja kantoran, saya bekerja di belakang meja dan jarang sekali bepergian ke luar kantor. I had my own working space. Meja dan papan kerja saya beri pajangan foto keluarga dan sedikit benda-benda pribadi untuk memberi sentuhan personal. Melihat-lihat foto keluarga dan benda-benda lucu ini bisa jadi penyemangat lho saat bete dan jenuh menghadapi pekerjaan.

Nah, saat menjadi pekerja lepas, awalnya saya tidak punya ruang kerja di rumah. Saya benar-benar bekerja mobile, alias di mana saja. Saya mengetik di tempat tidur, di kursi tamu, kadang di teras. Yang belum pernah dicoba sih mengetik di dapur dan di kamar mandi. Hehehe.

Lama kelamaan seiring bertambah banyaknya buku-buku dan dokumen-dokumen penerjemahan yang saya punya, saya merasakan perlunya punya tempat khusus sebagai pusat kegiatan kerja. Akhirnya saya punya pojok kerja. Rak berisi kamus-kamus dan dokumen-dokumen ditempatkan di pojok ini. Tentunya ada juga meja kerja kecil, dihias dengan pernak-pernik lucu. Papan kerja yang selain diisi oleh jadwal tenggat dan faktur yang belum cair, saya sisipi foto suami atau prakarya-prakarya mungil hasil karya anak-anak.

Mau lebih semangat kerja? Bisa lho ditempeli print-out tagihan PAM dan telepon. Hahaha.

Sedang bosan duduk di pojok ini? Ya, tinggal angkat laptop dan pindah ke teras lagi saja. Praktis kan?


2. Jam kerja


Di kantor pastinya ada jam kerja ya. Di kantor dulu ya pukul 09.00 sampai pukul 18.00, diselingi dengan jam istirahat. Di luar itu, disebutnya lembur (walaupun dulu mah nggak dibayar. Hiks.)

Jam kerja ini penting sekali, untuk memberi batasan waktu kerja dan hak tubuh untuk beristirahat. Saya dulu sangat mengusahakan untuk tidak membawa pekerjaan kantor ke rumah. My time at home is totally for my family.

Di masa-masa awal beralih menjadi pekerja lepas, saya sempat mengalami culture shock. Saya mengambil semua order. Klien nggak boleh ditolak, karena tolak klien berarti tolak rezeki. Kadang klien meminta hasil dalam tenggat yang meffettt dan saya sanggupi. Konsekuensinya adalah saya harus bekerja lebih lama atau bahkan sampai begadang bermalam-malam.

Bangun tidur langsung mantengin laptop. Tahu-tahu sudah siang aja, dan sarapan digabung deh dengan makan siang. Boro-boro mandi pagi mah. Lanjut lagi ngetik sampai sore. Setelah istirahat sebentar lanjut lagi menghadap laptop sampai larut malam. Saya 'di rumah', tetapi tidak benar-benar 'ada' di rumah.

Panas dalam dan sariawan sering mampir. Itu tanda-tandanya stamina menurun. Saya sadar ada yang salah dengan ritme kerja di rumah ini. Saya harus mengatur jadwal saya sendiri dan mengaturnya dengan benar. Ada banyak hal yang juga penting selain kondisi tubuh sendiri. Anak-anak, suami, pekerjaan rumah tangga, dan terlebih lagi sekarang ada si dede bayi.

Jam kerja yang saya buat harus dipatuhi, agar semua berjalan dengan baik. Agar prioritas bisa ditetapkan dan tidak ada hal-hal yang tertinggal. Tidak semua pekerjaan yang datang bisa diambil.

Ini masih jadi PR banget sih untuk kondisi saya saat ini. Saya belum punya kuasa, karena jam operasional saya masih sangat ditentukan oleh jam tidurnya dede bayi lucu nan imut ini.


3. Dress for success


Nggak mungkin dong ya, pergi ke kantor tanpa dandan. Kantor saya dulu memperbolehkan karyawannya untuk memakai baju bebas tapi kan ya sebebas-bebasnya juga tetap harus tampil rapi dan enak dipandang. Kan nanti ketemu teman-teman sekantor, bos, kadang klien yang datang.

Penampilan kita mewakili image perusahaan kita, bukan?

Terus kalau nge-freelance dan kerja di rumah, berarti bebas dong mau pakai baju apa aja, mau sarungan atau dasteran (eh tapi saya bukan tipe mama dasteran sih, saya sukanya pakai piyama). Toh, nggak ada yang lihat ini kan kecuali keluarga.

Ngga ada yang salah kok dengan bekerja pakai baju tidur. Tetapi tahu nggak sih Ma, ternyata baju yang rapi dan penampilan yang cantik juga bisa mengangkat semangat kerja lho.

Coba deh mandi di pagi hari, lalu dandan yang cantik dan pakai wewangian yang kita suka. Kita akan merasa lebih segar, lebih siap untuk menghadapi hari dan membantai deadline-deadline itu!



4. Keterampilan komunikasi yang baik


Saya dari dulu selalu merasa kalau saya ini introvert dan lebih suka bekerja sendiri. Bukan berarti saya tidak bisa bekerja dalam tim sih, Ma, karena sudah terbukti saya telah mengerjakan semua tugas tim dengan baik. Saya menghormati atasan dan bergaul dengan baik dengan rekan-rekan kerja di kantor dulu.

Nah, saat saya kerja di rumah, saya pikir saya tak memerlukan lagi keterampilan berkomunikasi dengan orang lain, karena saya hanya perlu menerjemahkan dan mengetik.

Tetapi ternyata, teman-teman di dunia penerjemahan dan penulisan bukan hanya laptop dan mouse, software dan hardware. Ternyata saya masih harus bergaul.

Saya masih harus menulis email kepada klien, tawar menawar dengan Project Manajer, berbincang di dunia maya dengan teman-teman seprofesi, malah seringkali meminta pendapat dan pencerahan dari rekan-rekan yang lebih senior.

Tanpa kemampuan komunikasi yang baik, hal ini tidak akan bisa dilakukan. Bisa-bisa akan berakibat pada mandeknya perkembangan pribadi sebagai pekerja lepas. Sekarang saya memang jarang sekali bertatap muka dengan rekan-rekan seprofesi, tetapi etika dunia nyata dan dunia maya tidaklah jauh berbeda.


5. Etos kerja


Yang terakhir tetapi tak kalah pentingnya, dan ini adalah hal yang sama persis yang harus dimiliki saat bekerja baik di kantor ataupun kerja di rumah, bahkan di mana saja di seluruh dunia, adalah etos kerja.

Etos kerja adalah prinsip-prinsip yang dipegang oleh seseorang dalam melakukan pekerjaannya. Disiplin, tepat waktu, teliti, penuh kehati-hatian, hanyalah sebagian dari sekian banyak etos kerja yang sama yang saya terapkan baik saat bekerja di kantor dulu dan sekarang saat kerja di rumah. Tanpa etos kerja yang baik, dijamin seorang pekerja lepas nggak akan bisa bertahan lama di dunia kerjanya.


BACA JUGA


Bekerja di Rumah? Tetap Seimbangkan Waktu Mama dengan 7 Langkah Efektif Berikut!

Bekerja di Rumah? Tetap Seimbangkan Waktu Mama dengan 7 Langkah Efektif Berikut!

Bekerja di rumah memang merupakan kondisi paling ideal jika kita ingin produktif sekaligus dekat dengan keluarga

Read more..


Intinya sih, kerja di rumah memang lebih bebas dibandingkan bekerja di kantor, tetapi bukan berarti bebas tanpa batas. Kerja di rumah bisa jadi 'menjebak' jika kita terlalu santai kaya liburan di pantai.

Saya justru bekerja lebih keras sekarang, sebagai ibu rumah tangga dan sebagai ibu pekerja, dan menyeimbangkan porsi keduanya. Menerapkan beberapa hal yang dulu saya lakukan di kantor, memang berefek baik.

Bagaimana dengan Mama? Share di kolom komen ya, Ma!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kerja di Rumah Itu Nggak Berarti Santai Kayak di Pantai - Ini Dia 5 Persamaannya dengan Kerja di Kantor!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Astrid Prasetya | @astridprasetya

I am a mother of three, a housewife with side jobs. My side jobs are, but not limited to, freelance translator and freelance writer.

Silahkan login untuk memberi komentar