Kesal lalu Ngomelin Papa di Media Sosial? Bijaklah, Ma! Sharing is Not Always Caring!

Kesal lalu Ngomelin Papa di Media Sosial? Bijaklah, Ma! Sharing is Not Always Caring!

2.5K
Media sosial menyediakan tempat untuk bereskpresi dan berpendapat secara bebas tak terbatas. Perlu kebijakan besar untuk memanfaatkan segala sesuatunya.

Media sosial sekarang sepertinya tak lagi sekadar pengisi waktu luang saja ya, Ma? Hampir setiap hari kita update status, di Facebook atau di Path, nge-tweet, atau sekadar selfie dengan caption ini itu di Instagram. Semua bisa kita tulis di media sosial, nggak boleh ada yang protes, atas nama kebebasan berpendapat. Apa-apa kita bahas, bahkan sampai ke hal-hal yang kurang penting.

Hingga kemudian, terkadang banyak dari kita yang share sesuatu dan abai akan wilayah pribadi. Kita tak bisa memilah, mana yang pantas dibagikan ke semua orang, dan mana yang seharusnya hanya disimpan sendiri saja.

Akhir-akhir ini semakin banyak drama keluarga menjadi konsumsi publik. Nggak cuma tetangga yang tahu, bahkan orang-orang di seberang lautan pun bisa menjadi penonton drama keluarga atau drama pasangan suami istri ini. Gimana nggak tertarik untuk menonton, serunya saja sudah ngalah-ngalahin drama Korea?

Semakin banyak istri yang dengan mudah membuat status mengenai suami masing-masing saat merasa kesal atau saat bertengkar. Bahkan dengan kata-kata yang nggak pantas, dengan bahasa yang nggak enak dibaca, dan bukan nggak mungkin bisa menyulut pertengkaran yang baru.

“Dasar laki-laki! Istri di rumah repot urus 3 balita, malah enak-enakan jalan sama teman-temannya!”
“Ah, sudahlah. Aku tak tahan lagi, mau minggat aja dari rumah ini!”
"Begini deh, punya suami yang nggak punya perasaan!"
“Ah, dasar pengangguran! Ya, gitu deh, biasa.”

Wow! Betapa 'sesuatu'-nya, iya kan, Ma? Coba ayo telusur linimasa akun media sosial masing-masing. Apakah ada status-status yang bernada yang sama dengan yang di atas itu?

Kalau ada ... Aduh, Ma, apa nggak malu menuliskan itu semua? Tahu nggak sih, Ma, bahwa dengan nyetatus seperti itu, tanpa sadar, Mama justru menunjukkan bahwa Mama bukanlah seorang yang bijak?

Apa yang Mama harapkan setelah Mama menulis status-status drama suami istri tersebut? Untuk mendapatkan sekadar menumpahkan perasaan? Atau supaya mendapatkan simpati?

Well, actually, Mama, orang-orang dan semua teman media sosial Mama yang membaca, nggak selalu akan bersimpati jika Mama terus-terusan berbagi status mengenai drama suami istri seperti ini. Mereka justru akan mendapatkan aura negatif dari status Mama yang mereka baca.

Iya sih, setidaknya pastilah ada yang merasa simpati, lalu mungkin akan menanggapi status drama Mama itu.

“Sabar ya.”

“Ada apa, Say?”

“Kenapa lagi sih, Cyin?"

“Sudah, tinggalin aja!”


Apakah dengan demikian, Mama bahagia dengan segala komentar mereka itu, Ma? Apakah permasalahan Mama akan terselesaikan dengan dikomentarinnya status media sosial Mama itu?

Enggak, Ma! Itu nggak menyelesaikan masalah. Bahagia? Enggak juga, karena masalah juga belum pergi. Puas? Enggak juga, karena akar permasalahannya masih ada!

Apakah Mama yakin tanggapan yang mereka tulis itu benar-benar karena ingin mendukung Mama? Benar-benar tulus dan peduli dengan Mama? Bisa jadi mereka justru senang karena ada tontonan drama gratis yang seru untuk dinikmati.

Status yang Mama tulis di akun media sosial Mama justru akan menambah image buruk pada diri Mama. Selain Mama tak memberikan manfaat dan memberi aura positif pada akun media sosial Mama sendiri, Mama juga hanya akan mendapatkan hal yang negatif saja yang akan memperburuk hubungan Mama dengan Papa.


Inilah hal yang akan Mama dapatkan jika Mama mengumbar drama keluarga di media sosial

1. Membuka aib pasangan


Suami merupakan pakaian istri, begitu pun sebaliknya.

Saat Mama membuka aib pasangan, ini berarti Mama sedang menelanjangi diri sendiri. Ingat pepatah, Ma, menepuk air di dulang terpecik muka sendiri.

Mama sebagai pasangan suami seharusnya bisa menutupi kejelekan suami, dan memperlihatkan kebaikannya. Atau, setidaknya, tak perlu membicarakannya dengan orang asing di luar sana. Ada rahasia-rahasia suami yang memang harus Mama simpan sendiri, apa pun yang terjadi.

Jika memang Mama bermasalah, lebih baik temuilah seorang profesional untuk membantu.


2. Dosa bergunjing


Agama apa pun yang Mama anut pasti melarang untuk menyebarkan keburukan orang lain, apa lagi jika orang tersebut adalah pasangan Mama sendiri.

Ya, memang tidak seharusnya Mama melakukannya kan?


3. Menanamkan rasa benci di hati teman-teman media sosial Mama, atau siapa pun yang membacanya


Niatnya mungkin Mama hanya ingin curhat tentang suami dan ingin mendapatkan afirmasi bahwa Mama yang benar dan suami yang salah, tapi sadarlah, Ma, malah diri Mama sendiri yang akan dapat predikat tidak baik, bahkan mungkin akan dijauhi.

“Ish. Dasar istri nggak beres, masa ada masalah dengan suami, malah dibikin status. Nggak punya malu ih!”

Akibat yang lebih besar lagi adalah membuat orang lain berprasangka yang tidak baik terhadap keluarga kita. Mungkin yang Mama tulis sekadar uneg-uneg saja, dan yang sebenarnya terjadi hanyalah debat kecil dengan Papa. Tapi bagi sebagian orang yang membacanya, status Mama bagai sebuah headline berita besar yang sangat penting.

Mereka pun tak segan mempergunjingkan keluarga mama di belakang Mama. Dan mungkin, Mama nggak akan mau dengar apa yang mereka bicarakan di belakang sana.

Ma, jika Mama menulis hanya yang baik-baik tentang pasangan saja, masih banyak yang akan nyinyir. Dibilang sok pamerlah, sok romantislah, dan sebagainya. Bayangkan apa yang terjadi, jika Mama mengumbar keburukan?


4. Membuka hal negatif lain untuk berpeluang terjadi


Dari beribu teman-teman maya Mama, mungkin masih terselip dia yang berstatus "mantan". Adalah mereka dari masa lalu Mama yang mungkin masih berharap sesuatu. Ataupun orang baru yang juga menyimpan sesuatu dalam hatinya.

Membaca status-status media sosial Mama, bisa jadi akan pikiran jahat pada mereka. Mereka akan memulainya dengan mengirimkan pesan sok peduli, sok simpati, dan sok perhatian. Awalnya hanyalah nasihat, wasiat, bukan nggak mungkin, lama-lama ajakan berkhalwat atau berduaan hingga berujung melampiaskan syahwat.

Duh! Amit-amit ya! Jangan sampai deh!

Tak hanya teman pria, teman-teman perempuan Mama juga barangkali banyak yang justru menertawakan Mama. Iya, mereka akan memberikan nasihat, tapi we never know, Ma. We just never know apa sebenarnya perasaan mereka.


5. Membuat keluarga suami membenci Mama



Ya, siapa juga sih yang mau anak atau saudaranya disindir-sindir melulu di media sosial? Yang tadinya mungkin Mama ingin membuat pasangan menjadi pihak yang "tampak" salah, namun malah kesalahan itu jadi berbalik ke Mama sendiri.

Ya, apa yang Mama tulis di media sosial akhirnya bisa menjadi bumerang bagi Mama sendiri.


6. Perceraian



Ini amit-amit banget ya, Ma. Tapi bukan nggak mungkin terjadi.

Yang tadinya cuma pertengkaran kecil, namun karena Mama curhat dengan status di Facebook atau Twitter, maka akan membuat pihak-pihak yang terkait bertambah berang. Entah itu suami kita sendiri, atau bumbu-bumbu panas yang diracik oleh keluarga. Masalah yang awalnya kecil pun jadi kelihatan luar biasa.

Bisa jadi, hingga berujung saling lapor dan saling tuntut.


Ya, selama Mama menginginkan keluarga yang damai dan hubungan yang rukun, jangan pernah menuliskan masalah yang sedang dihadapi antara Mama dan Papa, juga pertengkaran dengan siapa pun. Semua hal itu tak sepatutnya ditulis di ruang publik tanpa batas, seperti halnya media sosial.

Emosi sih boleh saja kok, Ma. After all, we are just human, right? Tapi karena kita manusia jugalah, kita dianugerahi dengan kebijaksanaan bukan?

Terus, bagaimana jika ada masalah dengan pasangan, atau yang lainnya dan tangan gatal pengin menuliskan uneg-uneg yang menyesakkan dada itu? Well, Mama tetap bisa menuliskannya sebagai status, namun setting-lah supaya hanya Mama yang bisa membacanya. Yes, setting-lah privacy-nya, hingga tak semua orang bisa melihatnya. Atau Mama bisa menuliskannya dalam bentuk quotes atau kalimat-kalimat bijak yang bisa menjadi sugesti positif bagi diri Mama sendiri.

Mama pasti bisa.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kesal lalu Ngomelin Papa di Media Sosial? Bijaklah, Ma! Sharing is Not Always Caring!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Nova Violita | @novaviolita

Simple Mom, Blogger, Worker,Buzzer,contet writer

Silahkan login untuk memberi komentar