Kesalahan Pengelolaan Keuangan Keluarga Bisa Terjadi Karena 7 Hal Sepele Berikut. Hati-hati, Ma!

Kesalahan Pengelolaan Keuangan Keluarga Bisa Terjadi Karena 7 Hal Sepele Berikut. Hati-hati, Ma!

1.8K
Kesalahan keuangan keluarga bisa terjadi karena kita melakukan beberapa hal sepele. Kenali apa yang salah, dan segera lakukan tindakan pencegahan. Demi keuangan keluarga yang sehat!

Hei, Mama. How's family life? Apakah keuangan keluarga masih aman?

Well, ngomongin soal keuangan keluarga, masih ingatkah Mama saat menjadi perempuan single dulu? Saat masih menjadi decision maker untuk diri sendiri, terutama soal keuangan? Asyik ya, Ma, cari uang sendiri, dan menghabiskannya pun hanya untuk diri sendiri. Pergi ke mal untuk menyisir fashion outlets, ayo! Jalan sama teman-teman ke luar negeri, ke luar kota, atau sekadar nongkrong di kafe pun, hayuk! Mau berlama-lama di salon juga oke, mengambil sepaket spa treatment seharga sekian digit, atau sekadar mengecat kuku warna-warni. Buat lucu-lucuan! Nggak ada yang melarang, nggak ada yang keberatan.

Betapa bebas dan bahagianya menjadi perempuan single itu ya, Ma! But how about you now, as a married woman?

Saat secara aklamasi Mama terpilih sebagai menteri keuangan keluarga, sementara Papa ‘cuek’, cenderung menyerahkan segala keputusan keuangan pada istrinya tercinta. Mamalah yang mengatur belanja bulanan, berapa banyak harus beli beras, minyak, telur, dan aneka kebutuhan primer. Lalu, berapa banyak harus dialokasikan untuk uang sekolah, uang les, uang antar jemput. Belum lagi tagihan dan cicilan bulanan. Oh ya, juga harus ada kas untuk kesehatan. Terus, pos piknik juga penting banget. *jembrengin gaji Papa di atas meja*

Semua harus pas! Kalau berlebihan mengeluarkan uang di satu pos, pos yang lain akan terancam berkurang jatahnya.

Hadeh! *bikin kopi dulu*

Jadi, harus gimana ini supaya tidak salah langkah?

Nah, supaya nggak salah langkah itulah, maka sepertinya paling tepat nih, kita memulai perencanaan dan pengelolaan keuangan keluarga dengan mengenali lebih dulu apa saja kesalahan kita, sehingga kita tahu langkah apa yang diambil untuk mencegahnya.


7 hal yang menjadi kesalahan kita dalam merencanakan dan mengelola keuangan keluarga


1. Kurang komunikasi


Hal pertama yang harus diluruskan demi keuangan keluarga yang ideal adalah mengomunikasikannya dengan Papa. Tugas Mama sebatas membantu masalah teknisnya saja, seperti melakukan pembukuan, menjadi kasir, dan memegang kunci brankas uang keluarga. Sedangkan pengaturan pos-pos pemasukan serta pengeluarannya, sebaiknya dirembukkan bersama. Jadi, sediakan waktu satu hari untuk duduk dan memikirkan itu bersama Papa ya, Ma. Komunikasikan arah pemasukannya, lalu ke mana pengeluarannya.

Pemasukan itu, misalnya, dari gaji Papa, lalu dari usaha kelontong di rumah, dan tambahan sedikit dari Mama. Iya, saya tahu kalau ada pendapat bahwa uang Papa adalah uang bersama, dan uang Mama adalah uang Mama. Tapi rasanya, kita sama-sama paham bahwa ‘rezeki keluarga bisa datang dari berbagai arah’ ya kan, Ma?

Pengeluaran itu, misalnya, cicilan rumah, belanja bulanan, transportasi, pulsa, asuransi/investasi, uang sekolah, uang jajan, dan lainnya, hingga kalau masih tersisa, uang jalan-jalan.

Dalam merumuskan pengeluaran inilah, Papa dan Mama dituntut untuk ‘ngobrol’ menentukan skala prioritasnya, dan Papa nggak hanya menyerahkan segalanya pada Mama saja, apalagi dengan alasan bahwa tugas Papa hanya sebatas mencari nafkah, dan titik.

Iya, kalau Mama cukup tegar. Kalau nggak kan uang belanja bisa nyasar masuk ke kasir factory outlet yang baru itu. *eh. Dengan musyawarah dan transparansi yang demikian, niscaya kedua belah pihak tidak akan terbeban dengan amanah masing-masing.


2. Kurang bisa membedakan kebutuhan dengan keinginan


Di era perdagangan bebas ini, sungguh barang-barang itu menjadi sedemikian bebasnya bermain-main dengan khayal, menggoda iman kita. Bukan begitu Ma? Menjadikan mereka begitu sulitnya untuk dipisahkan, antara barang-barang kebutuhan utama, dan barang-barang pelengkap. Mengacaukan urusan keuangan keluarga saja.

Well, be strong, Ma! Bear in mind, bahwa ‘kebutuhan’ itu adalah yang termasuk dalam kategori pangan, sandang, papan. Jadi, selain belanja bulanan untuk dapur (juga untuk rumah seperti alat-alat mandi dan bebersih lainnya), lalu beli sepotong pakaian (hanya jika sudah perlu beli baju baru saja, bukan saat ada diskon ya!), dan cicilan rumah, maka hindarilah!

Baiklah, zaman sekarang, pulsa sudah juga menjadi kebutuhan primer, jadi itu termasuk dalam anggaran utama. Sisanya seperti makan di luar, creambath dua minggu sekali, beli seperangkat alat makan bermotif bunga cantik, dan sejenisnya ada di direktori ‘keinginan’.

Jadi, nanti saja beli dining ware vintage-nya, kalau Ratu Elizabeth bilang mau mampir ke rumah. ya.


3. Belum ada kesadaran untuk saving



Ini yang harus diubah, Ma. Segera!

Demi kesehatan keuangan keluarga Mama, putar-balikkan kebiasaan dari ‘membeli segala kebutuhan dulu baru menabung’, menjadi ‘menabung dulu sepuluh atau sekian persen baru membeli segala kebutuhan’.

Menurut buku Cerdas Mengelola Keuangan Pribadi karya Herlina P. Dewi, punya tabungan itu memang harus sengaja dianggarkan, setidaknya 10% dari pendapatan. Ini menarik, mengingat hampir semua dari Mama terpola untuk buru-buru belanja dulu (dengan alasan uangnya takut keburu habis), baru kalau ada sisa, menabung.

Sekarang ini, ada banyak cara untuk saving atau investing yang menarik, loh Ma. Ada reksadana, ada logam mulia, ada sukuk, dan lain-lain yang bisa dipilih sesuai kebutuhan dan karakter Mama. Coba deh, intip-intip situs bank atau lembaga keuangan lain –asal jangan ke situs penggandaan uang itu ya!

Yuk ah, buru-buru menyisihkan setidaknya 10% setelah gajian, lalu sisanya dibelanjakan. Takut keburu habis. Hehehe.


4. Belum menyiapkan ‘Net Safe’


Setelah menabung, how about a Net Safe? ‘Jaringan penyelamat’ ini sebenarnya hanya istilah saja kok, Ma. Maksudnya dalam perencanaan keuangan keluarga itu, kita harus bisa dan ‘terpaksa’ menyiapkan anggaran dalam bentuk simpanan jangka panjang, kalau-kalau masa sulit datang.

Perusahaan-perusahaan asuransi menangkap peluang ini dengan menawarkan berbagai programnya, yaitu ‘jaringan penyelamat’ jiwa, ‘jaringan penyelamat’ kesehatan, ‘jaringan penyelamat’ dana pensiun, dan ‘jaringan penyelamat’ pendidikan anak. Caranya adalah dengan membeli programnya sesuai kebutuhan dan tekun membayar preminya.

Oya, ada beberapa Mama yang setuju dengan konsep asuransi ini, dan ada pula yang merasa tidak sesuai dengan keyakinannya. Tidak mengapa, setiap kita pasti punya alasan untuk menetapkan pilihan.

Rocking Mama mendukung apa pun pilihan Mama, ya!


5. Berutang secara tidak sehat


Konon, memiliki utang (dalam kasus ini, utang yang dimaksud adalah cicilan ya, bukannya utang kanan-kiri ke teman atau tetangga atau juga saudara) dapat memicu semangat kerja.

Ya iyalah, kan pengin cepat-cepat lunas (dan kemudian berutang lagi. Hvft!). Tapi ya, juga harus banyak berpikir sebelum mengambil program cicilan.

Yang pertama adalah kembali ke poin ke dua di atas. Mama harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Cicilan blender-mixer branded demi kelancaran usaha pastry Mama, misalnya, tentunya merupakan sebuah kebutuhan. Tapi cicilan sebuah presto cooker mahal supaya kalau masak kambing di hari Raya Idul Adha itu bisa lebih cepat, bukanlah sebuah kebutuhan ya!

Masih menurut mbak Herlina, idealnya persentasi cicilan itu maksimal sepertiga dari pendapatan. Jadi, kalau satu cicilan sudah memenuhi kuota 30% tersebut, jangan dulu berutang yang lain, ya Ma!

Pikirkan kembali demi keselamatan keuangan keluarga Mama.


6. Mengandalkan kartu kredit


Hari gini, memiliki kartu kredit sepertinya merupakan suatu gengsi tersendiri. Begitu bukan, Ma? Apalagi yang limitnya 8 digit.

Tapi, sadarkah Mama, bahwa yang namanya kartu kredit itu adalah kartu utang yang bisa "menghancurkan" keuangan keluarga secara keseluruhan? Kenapa demikian? Karena setiap diajak jalan-jalan, kartu itu akan memanggil-manggil, seolah-olah Mama punya uang yang tidak terbatas.

Tanpa sadar, Mama akan terbujuk untuk menggunakannya membayar premi asuransi juga cicilan-cicilan, lalu menggeseknya di kasir-kasir untuk melunasi pakaian dan makanan.

Saat tiba billing statement-nya, Mama akan melonjak kaget. Kenapa bisa jadi banyak begini? Dan Mama mulai membayar utangnya, dengan minimum payment.

Percayalah, Ma, tidak akan ada habisnya utang kartu kredit Mama kalau Mama selalu begitu. Bunganya akan semakin tinggi, jauh melampaui kemampuan Mama membayarnya.

Jadi, manfaatkan kartu itu hanya untuk keperluan mendesak saja, ya Ma. Lalu segera bayar utangnya. Tanpa dicicil!


7. Kurang update situasi


Dalam hal menyiasati situasi ini, saya mendukung Mama untuk menggesek kartu kredit. Bukan bermaksud plin plan, tapi memang banyak program yang ditawarkan bank yang menguntungkan. Misalnya saja, mengumpulkan poin dengan hadiah program wisata keluarga, atau program diskon sekian, atau cicilan nol persen jika menggunakan kartu kredit.

Nah, kalau ada yang begitu, ambil saja, Ma! Kan lumayan banget untuk memperingan kas keuangan keluarga. Tapi dengan catatan, jangan menunda atau mencicil tagihannya, ya!

Selain menggunakan kartu kredit, Mama juga harus jeli melihat situasi, demi memaksimalkan jatah budget bulanan. Contohnya, Mama bisa browsing dulu di internet, untuk mengecek harga kebutuhan pokok dengan harga terendah. Selain itu, kalau pergi ke supermarket, beli saja barang-barang yang dibundel, karena biasanya lebih hemat, juga terselip hadiah. Mama juga jangan kudet dan harus banyak bergaul, siapa tau ada yang menjual voucher belanja dengan harga miring.

Hal-hal seperti inilah Ma, yang menuntut keahlian tingkat tinggi dari seorang wanita. Ayo Ma, lirik kiri-kanan, dengar depan-belakang, cari tau mana yang lebih banyak memberikan keuntungan. Belajar terus sambil praktik ya, Ma. Semangat!


Nah, Mama, semoga Mama sekarang sudah tahu, apa saja kesalahan pengelolaan keuangan keluarga yang bisa berakibat fatal, padahal hanya sepele saja. Dengan begini, harapannya sih Mama akan bisa merencanakan semuanya lebih baik lagi.

Happy budgeting and smart saving - spending , Ma!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kesalahan Pengelolaan Keuangan Keluarga Bisa Terjadi Karena 7 Hal Sepele Berikut. Hati-hati, Ma!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


PutuAyu Winayasari | @ayuwinayasari

A whole-hearted writer. A caring teacher. A Rocking Mama. A loving wife-daughter. Visit me at bilikayuwinayasari@blogspot.co.id. Reach me at raynorkayla@gmail.com. Or just come by to LIA-Bandung to have some bakso with me :)

Silahkan login untuk memberi komentar