Kenali Beberapa Gangguan Bicara pada Anak, dan Bagaimana Cara Mengatasinya

Kenali Beberapa Gangguan Bicara pada Anak, dan Bagaimana Cara Mengatasinya

1.3K
Kuncinya: kenali, tetap tenang, tetap positif, dan beri respon alih-alih mengoreksinya.

Si kecil sering mengucapkan kata-kata yang nggak jelas, Ma? Well, kita sih tahu banget ya, kalau mereka ini masih dalam tahap perkembangan. Jadi, wajar, dan itu jadi tugas kita buat ngajarin. Iya kan?

Memang menggemaskan banget kan, kalau liat anak perempuan, misalnya, dengan rambut berkuncir dua, mengacungkan jari, dan dengan pedenya berkata, “Au iga aun!”

Pasti yang ada, kita akan semakin terpancing untuk mengajaknya bicara demi mendengar kata-kata lucu nggak jelas yang keluar dari mulutnya.

Tapi, kalau sampai sudah TK dan SD pun, dia masih nggak jelas mengucapkan kata-kata, gimana dong?

Seorang ibu di Florida, seperti yang dilansir oleh web parents.com, Pamela Suarez, mempertanyakan kondisi anak batitanya, Dominic, yang mengalami kesulitan mengucapkan kata-kata. Misalnya, alih-alih dia menyebut “mother”, dia akan mengucapkan “mudow”. Beberapa bunyi yang susah diucapkan oleh Dominic adalah bunyi L, R dan Th. Setelah Pamela membawanya kepada program intervensi dini di daerah di mana dia tinggal, ternyata kemudian diketahui Dominic mengalami kelainan artikulasi. Dominic tahu tentang apa yang ingin diucapkannya tetapi mulutnya tak dapat membentuk pelafalan kata tersebut dengan baik.

Yah, berbicara memang merupakan suatu keterampilan tersendiri untuk anak-anak karena untuk melakukannya kita butuh melakukan koordinasi pernapasan, gerakan bibir, lidah, rahang hingga langit-langit mulut kita, Ma. Seperti juga anak-anak membutuhkan latihan untuk bisa menuliskan namanya sendiri, mereka juga butuh latihan meski sekadar bilang, “Usiaku tiga tahun.”


Baca juga: Dengan 8 Tips Parenting Jitu Ini, Anak Mama Akan Lebih Terpupuk Rasa Percaya Dirinya!


Dan seperti juga keterampilan menulis, perkembangan kemampuan berbicara satu anak dengan yang lain juga berbeda-beda. Karena itu, kita nggak boleh membandingkan kondisi anak yang satu dengan yang lain, meski usianya sama. Kita harus memberikan perhatian yang khusus untuk bisa mengatasi hambatan berbicara pada anak.

Lalu apa saja jenis gangguan bicara pada anak yang sering muncul? Coba kita lihat yuk, Ma.


1. Cadel


Cadel biasa terjadi pada anak-anak yang masih memiliki gigi susu atau gigi bagian depannya hilang. Menurut beberapa ahli, gigi susu yang mempunyai ukuran lebih kecil dibanding gigi dewasa, memungkinkan terjadinya ruang lebih bagi lidah untuk mendorong keluar udara menembus gigi. Inilah yang menyebabkan cadel.

Mengemut ibu jari atau penggunaan empeng hingga anak berusia lebih dari dua tahun bisa memperburuk kondisi ini, Ma. Dua kebiasaan tersebut bisa membuat renggang permanen pada gigi sehingga membuat lidah bisa melewati sela gigi saat mengucapkan sesuatu.

Periksakan si kecil ke terapis jika dia masih saja cadel hingga berusia lima tahun lebih. Mungkin si kecil memang salah dalam menggerakkan lidah sehingga membutuhkan terapi wicara untuk bisa menempatkan lidahnya dengan benar saat berbicara. Kemungkinan penyebab kedua adalah si kecil mengalami alergi pada hidung atau pembesaran amandel, sehingga memaksanya untuk bernapas melalui mulut dan lidahnya jadi terpaksa selalu berada di depan.

Jika Mama mendapati salah satu atau kedua penyebab tersebut di atas, ada baiknya segera periksakan si kecil ke dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorokan. Ada kemungkinan juga bahwa dia akan membutuhkan seorang patolog wicara.


2. Pelafalan yang buruk


Saat anak-anak mulai belajar berbicara, mereka akan menggantikan satu huruf dalam pelafalan dengan huruf yang lainnya. Misalnya, menyebut ‘cucu’ untuk ‘susu’. Atau mereka akan menghilangkan beberapa hurufnya dan hanya mengucapkan setengah kata, misalnya ‘nas’ untuk ‘panas’, ‘num’ untuk ‘minum’, ‘andi’ untuk ‘mandi’, dan sebagainya.

Hingga kemudian kemampuan motorik oralnya lebih meningkat, dan dia seharusnya sudah mulai bisa melafalkan kata-kata dengan lebih baik.

Gampangnya, menurut Dorothy Dougherty, seorang patolog wicara dan bahasa serta penulis buku Teach Me How to Say it Right, saat usia si kecil sudah menginjak tiga tahun, para anggota keluarga selain mamanya sudah harus bisa memahami 75 – 100 % ucapannya. Saat usianya empat tahun, semua orang sudah harus memahami betul apa yang dikatakannya.

Jika sampai usia lima tahun, dia masih saja mengalami kesulitan melafal, bahkan mungkin hingga membuat kepercayaan dirinya turun drastis, ini sudah menjadi tanda bagi Mama untuk membawanya menemui terapis wicara.


3. Gagap


Hampir semua anak yang masih berusia sangat kecil mengulangi satu atau dua kata pada saat ingin mengungkapkan sesuatu. Biasanya sih ini dikarenakan dia harus mengumpulkan dulu kata-kata yang ingin mereka ucapkan. Misalnya seperti, “Aku ingin ... ingin ... ingin ... roti keju!”

Satu dari lima anak usia batita juga akan mengulang bunyi huruf awal saat mereka merasa buntu saat ingin mengucapkan sesuatu. Misalnya, “Mama, a...a...aaa ... aku mau mamam.” Adalah normal juga kalau mereka banyak menggumam lebih dulu atau mengucapkan “errr ...” agak sering dalam proses perkembangan verbal mereka ini.

Secara umum, hal ini nggak perlu dikhawatirkan. Yang seperti ini dia akan sesekali mengalaminya, tapi tidak selalu.

Nah, kalau si kecil mengalaminya selama lebih dari enam bulan secara terus menerus, atau kemudian dia terlihat putus asa saat harus berbicara, barangkali dia mengidap gagap.

Para peneliti mengungkapkan bahwa gagap merupakan kelainan neurologi yang menurun dalam keluarga, dan lebih sering terjadi pada laki-laki ketimbang perempuan, Ma.

Nah, jadi, ajaklah si kecil untuk menemui terapis wicara jika dia mengalami gagap secara konsisten setidaknya selama enam bulan, atau saat makin memburuk. Dari yang sudah-sudah, seorang anak yang mengalami gangguan gagap akan bisa sembuh pada usia 12 tahun jika bisa ditangani dengan baik.


Baca juga: Ini Lho, 5 Bukti Bahwa Anak-Anak Itu Lebih Cerdas Ketimbang Kita, Orangtuanya!


Sementara, apa yang bisa kita lakukan, Ma? Meski mungkin keterbatasan si kecil itu masih ada dalam garis normal, tapi tentu Mama nggak akan hanya membiarkannya mengalami kesulitan kan? Ada beberapa cara yang bisa Mama lakukan nih, untuk melatih kemampuan verbalnya bahkan tanpa dia menyadarinya.



1. Tetap tenang

Kuncinya ada pada kesantaian si anak dalam berbicara. Jadi, setiap kali si kecil susah mengungkapkan sesuatu, berhentilah beberapa saat untuk menunggunya menyelesaikan kalimat. Ambil beberapa detik sebelum merespon untuk diam dan tenang. Hal ini akan memberinya kesempatan untuk santai sehingga dia bisa pelan-pelan mengatur pikirannya sebelum berkata-kata.

2. Tetap positif

Apakah dia memang belum mampu mengucap kata-kata dengan huruf ‘R’ di dalamnya, ataukah susah memilih kata-kata yang bisa mewakili apa yang dipikirkannya, tetaplah ajak dia bicara. Jangan merasa kecewa saat dia tak bisa mengucapkan sesuatu, atau bahkan mengejek dan menertawakannya. Semakin sering dia berlatih bicara, semakin baik dia berkata-kata, dan semakin tinggi pula kepercayaan dirinya tumbuh.

3. Matikan televisi, singkirkan gadget.

Melakukan percakapan yang dekat dan hangat merupakan terapi wicara terbaik bagi anak-anak, dan semua gangguan suara dapat menghambatnya.

Penelitian di University of Washington menunjukkan bahwa ketika televisi dinyalakan, orangtua hanya bisa berbicara 500 – 1.000 kata saja per jamnya pada anak-anak. Sedangkan kalau televisi dalam kondisi mati, bisa sampai tiga kali lipatnya. Hmmm ....


Baca juga: Rumah Tanpa TV? Why Not? Dengan 3 Pertimbangan Ini, Kami Memutuskan Diet TV Sejak 3 Tahun Lalu


4. Bacakan buku setiap hari

Buku mempunyai banyak kata yang bisa menjadi alat latihan pada si kecil. Bacakan padanya dengan artikulasi yang jelas, dan sesekali biarkan dia menirukan apa yang Mama contohkan padanya. Buku dengan banyak rima dan pengulangan kata akan lebih baik untuknya.


Baca juga: Selamat Hari Buku Anak Sedunia! Ini Dia 13 Buku Anak Terasyik Sepanjang Masa versi Rocking Mama!



5. Beri respon, bukan mengoreksinya

Jika si kecil berkata, “Ma, da nak ucing! Ucu! Ucu!” Jangan mengoreksinya saat itu juga, Ma. Lebih baik Mama meresponnya sambil mengucapkan kembali apa yang dikatakannya barusan. Misalnya, “Iya, ada anak kucing ya? Lucu banget ya? Kok kayak anak kucing yang kita lihat kemarin ya? Jangan-jangan anak kucing yang sama ya?”

Tekankan pelafalan yang benar pada kata yang tadi diucapkannya dengan salah.


Itu dia, Mama, beberapa gangguan bicara pada anak yang perlu kita waspadai ya. Tip-tip untuk mengatasinya juga mudah kita lakukan, bukan? Yang pasti, kita harus tetap sabar saat mendampingi anak belajar.

Semangat!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kenali Beberapa Gangguan Bicara pada Anak, dan Bagaimana Cara Mengatasinya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Carolina Ratri | @carolinaratri

An INFJ-T sarcastic sagittarian Managing Editor of Rocking Mama. Deeply passionate about writings, graphic designs, hand-drawings, and hand-letterings. Read her journal at www.CarolinaRatri.com

Silahkan login untuk memberi komentar