Mama Hobi Belanja Alias Shopaholic? Ada Kok Sisi Positifnya!

Mama Hobi Belanja Alias Shopaholic? Ada Kok Sisi Positifnya!

2.3K
I'm not a shopaholic. I'm helping economy.

Shopaholic. Hmmm, apa yang terlintas di benak Mama saat mendengarnya?

Rebecca Bloomwood? Si perempuan gila belanja dalam novel atau film Confessions of a Shopaholic?

Hmmm ... ya kurang lebih memang kayak si Becky itu sih. Si gila belanja yang sampai-sampai bisa jebolin limit credit card, yang sampai stres karena diteror sama bank.

Seorang shopaholic akan belanja tanpa kenal waktu, apalagi kalau ada sale atau diskon. Bisa dibilang kondisi 'besar pasak daripada tiang' itu adalah hal yang biasa bagi seorang shopaholic. Soalnya si shopaholic ini suka banget membeli barang karena lapar mata dan pengin, bukan karena butuh.

Nah nah. Adakah yang tersindir? Hihihi. Apakah Mama juga salah seorang shopaholics yang sedang kita bicarakan ini?

Calm down, Mama! Di balik semua hal yang seharusnya tidak terjadi pada kita sebagai seorang shopaholic, ada kok ternyata sisi positifnya. Well, as you know, selalu ada plus dan minus di setiap hal. Termasuk menjadi seorang penggila belanja.


Sisi positif seorang shopaholic


Shopaholic adalah orang yang sehat dan bugar


Selain membutuhkan modal uang, hobi shopping juga memerlukan stamina yang oke punya lho. Minimal kita harus punya kaki yang kuat untuk berjalan dalam waktu yang lama di area yang luas. Saking semangatnya belanja, energi yang tadinya sudah hampir limit di garis nol gara-gara bekerja, tiba -tiba saja menjadi berlebih. Superpower untuk bisa menjelajah mal pun muncul dengan tiba-tiba. Semacam orang yang sedang jatuh cinta, kita nggak akan merasakan capek ataupun lapar. Pokoknya, pantang deh pulang ke rumah kalau mal belum tutup, atau belum semua toko dimasuki.

Tanpa disadari, aktivitas keluar masuk toko di mal ini bisa membuang kalori. Jumlah kalori yang dibakar sih memang tergantung dari kecepatannya, yaitu sekitar 80 - 100 kalori per mil.

Dan, belum termasuk perhitungan bakar kalori saat kita membawa tas-tas hasil belanja. Wuih! Langsung kekar deh tuh tangan!


Baca juga: Sibuk? Cukup Lakukan 6 Aktivitas Bakar Kalori Ini Setiap Hari Saja!


Shopaholic adalah seorang yang tekun


Never underestimate the power of persistence. Energy and persistence conquer all things.

Kita sudah membicarakan tentang energi di atas, dan siapa yang akan mendebat, bahwa seorang shopaholic itu adalah orang yang persistent?

Segala sesuatu yang dilakukan secara terus-menerus mampu mengasah keterampilan seseorang. Ini berlaku saat kita melakukan apa pun, termasuk saat belanja! Seorang shopaholic akan keluar masuk toko demi sebuah barang yang terbaik. Dia juga akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, termasuk 'merayu' pemilik toko demi melepaskan barang yang sebenarnya sudah dipesan oleh orang lain, untuk diberikan pada dirinya. Ah, persis banget dengan si Becky Bloomwood kan? Ingat dia begitu menginginkan satu scarf di toko, sampai dia berbohong pada pelanggan?

Begitulah seorang shopaholic.

Keinginan dan ketekunan seorang shopaholic nggak bisa diremehkan sama sekali. Hubungan mutualisme dengan pemilik atau pengelola toko pun diperoleh juga, Ma. Mereka biasanya juga dengan senang hati akan memperlakukan si shopaholic secara istimewa. Kenapa? Karena biasanya seorang shopaholic adalah pelanggan yang loyal!

Nah! Sudahlah mendapatkan perlakuan istimewa sebagai prime customer yang memungkinkannya mendapat harga khusus, si shopaholic juga akan otomatis masuk dalam shortlisted customer yang akan dihubungi kalau ada produk baru. Klop!


Baca juga: Yuk, Punya Hobi! 21 Hobi ini Cocok Dilakukan oleh Para Stay at Home Moms


Shopcaholic merupakan orang yang perseverence


Perseverance itu kurang lebih artinya “ngotot”. Kadang memang terkesan suka membeli barang dengan membabi-buta, namun seorang shopaholic biasanya betul-betul tahu apa yang menjadi kesukaan mereka, mereka punya preferred desainer atau preferred brand. Sehingga seorang shopaholic juga otomatis menjadi kolektor.

Kayak saya nih, Ma. Saya lagi suka banget berburu props untuk keperluan hobi motret saya. Saya lagi pengin banget punya beberapa jenis tipe piring. Saat saya sudah mendapatkan apa yang saya incar, anak saya nih komentar, "Beli piring lagi?!"

Tarakdungces! Hahaha. Yahhh ... orang lain memang akan melihatnya hanya sebagai piring. Tapi nggak begitu dengan saya. Karena piringnya kan saya pilih yang belum ada dalam koleksi saya. Hihihi.

Memang menjadi kebiasaan dari seorang kolektor untuk memburu barang-barang yang unik dan langka. Nggak jarang harga barang-barang tersebut juga lebih mahal jadi barang biasanya. Tapi, buat shopaholic, itu adalah bentuk investasi!


Baca juga: Ini Dia 6 Cara Pintar, Mudah, dan Praktis untuk Menghemat Pengeluaran Rumah Tangga ala Rocking Mama!


Shopaholic is an expert


Seorang yang suka fotografi, pasti memiliki pengetahuan yang luas mengenai fotografi. Seorang yang suka menyanyi, pasti juga punya perbendaharaan lagu yang lebih banyak ketimbang orang lainnya.

Begitu juga dengan si shopaholic. Mereka punya pengetahuan lebih mengenai satu produk. Coba saja tanyakan, bagaimana memilih tas yang berkualitas. Atau bagaimana mengenali jahitan baju yang rapi, awet dan kuat. Mereka pasti dengan senang hati berbagi pengetahuannya yang luas.

Bahkan seorang shopaholic juga bisa memprediksikan trend apa yang akan berkembang berikutnya lho! Jadi, kalau Mama pengin selalu up to date, maka dekat-dekatlah dengan si shopaholic. Dijamin Mama nggak akan pernah ketinggalan berita terkini perkembangan trend. Trend apa pun itu!

Just don't underestimate their product knowledge!


Shopaholic adalah orang yang bahagia



Pernah nggak, Ma, rasanya bete banget dan rasanya cuma bisa dihilangkan dengan mencium aroma sepatu kulit baru, atau hanya dengan sekadar mengelus sebuah gaun di sebuah etalase toko? Apalagi kalau kemudian sepatu dan gaun tersebut bisa juga dibawa pulang!

... and after that, you feel so re-energized! You get your energy back!

Online survey yang dilakukan oleh situs Huffington Post pada 1.000 koresponden yang berusia 18+ menunjukkan, bahwa satu dari tiga penduduk dewasa di Amerika Serikat melakukan retail theraphy untuk meredakan stres.

Di samping aktivitas belanjanya sendiri yang sudah membahagiakan, seorang shopaholic juga bisa menstimulasi panca inderanya. Memanjakan mata dengan display cantik di etalase, mendengarkan lagu yang biasanya diputar di mal, menghirup aroma roti dari toko roti, menyesap kopi di coffee shop. Semuanya merupakan mood booster!


Baca juga: Mengapa sih Mama Harus Selalu Bahagia? Karena Ada 5 Hal Ini yang Menjadi Bentuk Kebahagiaan bagi Bayi Mama


Shopaholic is a good networker


Tahu tempat-tempat belanja yang oke, kenal secara personal dengan banyak pemilik toko, mengenali banyak produk dan barang, adalah informasi yang paling berharga yang pernah dimiliki oleh seorang shopaholic!

Di zaman viral seperti sekarang ini, informasi sangat berharga, Ma. Informasi juga artinya networking. Kalau kita ketinggalan informasi, artinya kita kudet.

Tanpa disadarinya, seorang shophacolic telah membuat networking yang cukup kuat. Tahu Miss Jinjing nggak, Ma? Buat saya, Miss Jinjing adalah contoh sempurna dari seorang shopaholic yang dengan cerdas berhasil menjadikan hobinya sebagai profesi yang menjanjikan, yaitu menjadi personal shopper. Miss Jinjing bahkan mendukungnya dengan membuat sebuah blog pribadi dan juga menerbitkan buku karena 'keahlian'-nya ini. Nggak cukup segitu, dia pun sering menjadi narasumber dan diminta oleh pemilik merek tertentu untuk mengendorse produk yang mereka pasarkan.


Baca juga: Begini Seharusnya Cara Seorang Rocking Mama Mengatur Keuangan Rumah Tangga. Yay for Financial Freedom!


Nah, Mama. Sekali lagi nih, apakah Mama seorang shopaholic? Katakan dengan bangga, Ma! Karena menjadi shopaholic tak selamana buruk! Asal kita melakukannya secara smart!

Stay awesome, Mama!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mama Hobi Belanja Alias Shopaholic? Ada Kok Sisi Positifnya!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Ratna Amalia | @ratnaamalia

an independence project manager | content writer | owner www.mydairynote.blogspot.com

Silahkan login untuk memberi komentar