Si Remaja Mulai Pacaran, Ma? Nggak Usah Bingung, Lakukan 9 Tips Ini Agar Semua Terkendali!

Si Remaja Mulai Pacaran, Ma? Nggak Usah Bingung, Lakukan 9 Tips Ini Agar Semua Terkendali!

11K
Akhir-akhir ini, gaya pacaran remaja semakin mengkhawatirkan. Bagaimana kita harus menyikapi si remaja yang mulai mengenal pacaran?

Al Ghazali, siapa yang tidak kenal anak dari musisi terkenal Indonesia ini? Tidak cuma karir musiknya yang mulai menanjak, tapi gosip tentang kekasih-kekasihnya juga ramai diperbincangkan di infotainment. Sebelumnya, Aurel, anak dari Krisdayanti-Anang juga ramai 'dihujat' karena kerap berganti pacar.

Wah, anak-anak zaman sekarang. Masih usia remaja sudah pamer pacaran. Kalau ini terjadi pada anak-anak Mama, pastilah Mama jadi waswas dan parno kan? Jangan-jangan anak-anak kita juga sudah mengenal istilah pacaran. Jangan-jangan gaya pacarannya aneh-aneh. Jangan-jangan ... Jangan-jangan ...

Duh, pusing!

Kalau Mama mulai menangkap gelagat cinta-cintaan pada si remaja yang sudah duduk di bangku SMP atau SMA, Mama perlu sedikit berhati-hati dalam menyikapi perilaku mereka. Jangan terlalu emosional, sehingga Mama malah mendapatkan penolakan dari mereka, dan ini malah akan memperparah keadaan. Ah, menangani anak-anak remaja memang gampang-gampang susah, Ma. Apalagi mereka masih dalam proses pencarian jati diri ya. Jiwa 'pembangkang'-nya juga masih sangat kuat. Merasa udah gede, udah tahu segalanya. Ah, Mama pasti lebih tahu karakter si remaja ini kan ya. Kan, Mama mama mereka. Hihihi.

Dan karena menurut opini Rocking Mama, mencegah lebih baik daripada kenapa-kenapa di akhir (amit-amit deh ya, #getokgetokmeja), maka coba kita lihat yuk beberapa tips berikut. yang Rocking Mama kumpulkan dari hasil riset terhadap beberapa mama dengan anak-anak remaja.


1. Sikapi dengan Kepala Dingin


Ketika pertama kali mengetahui si remaja mulai ngomongin gebetan atau pacar (apalagi jika sebelumnya Mama nggak tahu kalau mereka pacaran), pasti rasanya terkejut ya Ma. Paling nggak, Mama akan ngerasa, ‘anakku udah mulai gede nih’.

Nah, kemudian Mama pasti kepo dengan hubungan pacarannya ini. Well, jangan langsung ngamuk atau meng-investigasi, Ma. Bisa-bisa si remaja malah menutup diri dan enggan bercerita pada Mama. Tanyakan dengan nada bercanda.

“Jadi menurut Kakak, si Aldi itu ganteng?”

Jika si remaja belum mau menjawab, ulangi pada waktu-waktu yang menurut Mama baik, misalnya saat sedang bersama-sama menyiapkan makan malam atau mencuci piring.

Sama dengan kita, jika suasana hati anak sedang baik, nanti dia akan cerita sendiri kok.


2. Anggap Serius Perasaannya


Dari kacamata kita yang sudah makan asam-garam percintaan, kisah pacaran si remaja akan sangat terdengar sepele.

Halah, cinta monyet ini, nanti juga berlalu!

Jangan bersikap begitu ya, Ma, karena dengan menyepelekan ceritanya, si remaja akan malas bercerita lagi. Pastikan bahwa dia tahu kita memperhatikan ceritanya, misalnya dengan sesekali bertanya, “Apa kabar si Aldi?” Dengan demikian, dia merasa dihargai dan akan balik mendengarkan kita.


3. Berikan Contoh melalui Kisah Mama dan Papa


Kadang akan ada anak yang bertanya, bagaimana Mama dan Papa bertemu? Sampaikan hal-hal baik dalam kisah pacaran Mama dan Papa dulu, seperti memprioritaskan kuliah atau pekerjaan, saling memercayai dan tidak ketergantungan, dan sebagainya.

Mungkin Mama juga bisa janjian dulu dengan Papa untuk menjawab pertanyaan ini. Bukannya mau bohong, tapi usahakan agar dia terinspirasi untuk mengambil pelajaran yang baik.


4. Berikan Sex Education dan Bangun Karakter Diri Anak yang Kuat


Salah satu alasan utama yang mendorong si remaja berpacaran adalah alasan ‘semua temanku pacaran, Ma.’

Nah, kalau kita sudah bisa membangun diskusi dari hati ke hati, motivasi si remaja agar dia mengerti bahwa dia tidak harus mengikuti arus. Jelaskan pula tentang perbedaan perempuan-laki-laki, juga mengenai bagaimana menghargai dirinya, bagaimana mengatakan ‘tidak’, dan konsekuensi yang akan terjadi atas segala sesuatu.

Well, wajar sih kalau si remaja risih membicarakan tentang seks, apalagi dengan Mama. Tapi bisa kok, Ma, kita memosisikan diri sebagai rekan yang selalu siap sedia untuk ditanyai, daripada dia menjadikan teman sekolahnya atau sahabatnya sebagai sumber informasi untuknya.

Mama juga bisa menggunakan sudut pandang yang penting untuknya. Misalnya nih, sebagai contoh.

“Kakak mau jadi dokter kan? Nah, akan lebih mudah untuk mengejar cita-cita itu kalau Kakak belum gendong bayi. Jadi, hati-hati dengan apa yang dilakukan saat bersama Aldi.”

Yang paling penting dari semuanya, Ma, adalah membekali anak dengan pengetahuan agama, karena hal ini terbukti ampuh untuk mengurangi perilaku negatif mereka.


5. Dampingi Dia saat Berkencan


Ketika saya duduk di bangku SMA, saya naksir teman sekelas yang anggota tim basket sekolah. Di suatu pertandingan, Mama saya nekat menemani saya menonton. Saya sih berusaha duduk jauh-jauh, tapi lama-lama saya menikmati perhatian Mama. Alasannya, dengan pendampingan Mama, gebetan saya lebih menghormati saya. Ya, bukannya dia nggak menghormati saya kalau nggak ada Mama gitu juga sih, tapi dia jadi jauh lebih sungkan.

Nah, kalau si remaja tidak suka didampingi terang-terangan, katakan bahwa kebetulan Mama pergi ke arah atau tempat yang sama. Setidaknya, Mama tahu persis seperti apa pacar atau gebetan si remaja, dan bisa memberikan reaksi yang lebih tepat saat berdiskusi dengan mereka.


6. Pantau Media Sosial si Remaja


Dengan adanya media sosial, bisa jadi pacar atau gebetan si remaja bukan teman sekolahnya. Sambil mencoba mengenal teman-temannya, perhatikan apa saja media sosial yang dia gunakan, dan bagaimana kecenderungan post-nya. Ayah saya punya Facebook dan terkadang mengomentari status anak-anaknya.

Saya juga mengamati, bahwa hampir semua Mama muda punya Instagram (dan rajin nge-post juga). Mama juga kan? Jadi, jangan asyik sendiri, Ma. Mama bisa menggunakan media sosial sebagai sarana untuk semakin akrab dengan anak, dan bantu dia untuk mengenal batasan privasi.


7. Lebih Aktif di Kegiatan Wali Murid


Jangan ‘berjuang’ sendiri Ma! Karena hampir semua orangtua menghadapi tantangan yang serupa.

Coba diskusikan hal ini dengan wali kelas pada pertemuan wali murid. Feedback dari para guru dan saran dari teman-teman sesama orangtua murid yang lain akan menjadi masukan berharga untuk Mama. Atau siapa tahu, Mama justru lebih advance dan bisa membantu wali murid lain untuk menyelesaikan masalah yang mungkin timbul ketika anaknya pacaran.


8. Hindari Punishment, Utamakan Reward


Photo via Cafemom

Tiba-tiba si remaja putus dari pacar dan sekolahnya keteteran?

Jangan keburu marah, Ma. Ingat, perasaannya adalah yang paling penting. Jika kita merasa kecewa, dia juga pasti merasa sangat sedih. Motivasi positif adalah hal yang dibutuhkan olehnya saat ini, bukan penghakiman apalagi hukuman. Katakan hal-hal yang baik padanya.

“Mama tahu perasaan Kakak pasti sedih setelah putus dari Aldi, tapi jadi lebih sedih lagi kan kalau nanti lihat nilai rapot jelek? Gimana kalau kita bikin perjanjian, kalau Kakak masuk tiga besar, Kakak boleh nonton konser Super Junior?”

Tentunya, pendekatan seperti ini membutuhkan perhatian Mama akan hal-hal yang bisa mengalihkan perhatiannya dari kisah cintanya yang kandas. Jangan lupa traktir es krim ya Ma, supaya dia tersenyum kembali. Ajak saya kapan-kapan juga boleh! #eh


9. Cek Handphone-nya


Hal ini bisa dilakukan kalau sudah terpaksa sekali ya, Ma. Misal si dia mengunci handphone-nya dan menjauhkannya dari jangkauan Mama atau Papa. Hal tersebut pasti deh karena ada sesuatu yang disembunyikannya. Apalagi kalau ditanya, jawabannya pendek-pendek, atau ketika diajak pergi sama keluarga, dia lebih milih di rumah atau nongkrong sama temannya.

Hmmm, mencurigakan!

Coba pinjam handphone-nya dengan alasan ingin mempelajari aplikasi, atau sekalian minta dia mengajarkannya. Kalaupun Mama sampai menemukan hal-hal ‘aneh’ di handphone-nya, kembali ke poin pertama, yaitu sikapi dengan kepala dingin dan bicarakan baik-baik.


Suka atau tidak, kita harus bisa menerima kenyataan bahwa anak-anak zaman sekarang lebih cepat dewasa daripada kita dulu. Apalagi dengan media sosial, kita mengalami tantangan dalam mengontrol pergaulannya – yang kadang bikin kita makin cemas. Yang paling penting adalah bagaimana tantangan ini kita jadikan motivasi untuk memperkaya pengetahuan dan meningkatkan keakraban dengan si remaja, agar kita selalu menjadi tempatnya bertanya.

Nah, selamat berdiskusi si remaja ya, Ma!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Si Remaja Mulai Pacaran, Ma? Nggak Usah Bingung, Lakukan 9 Tips Ini Agar Semua Terkendali!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Primadita Rahma | @primaditarahma

Currently juggling between writing thesis and posting my thoughts on http://theprimadita.blogspot.co.id. Lately enjoying zumba and cold-pressed juice. Obsessed with the Crown Prince of Dubai.

Silahkan login untuk memberi komentar