Melatih Disiplin pada Anak Tanpa Kekerasan dan Hanya dengan Kata-Kata? Bisa Banget!

Melatih Disiplin pada Anak Tanpa Kekerasan dan Hanya dengan Kata-Kata? Bisa Banget!

1.4K
Melatih disiplin pada anak menjadi PR terbesar bagi setiap orangtua, karena kita pasti menginginkan si kecil tumbuh menjadi pribadi yang baik.

Mama pasti setuju kan, kalau melatih disiplin pada anak itu penting dilakukan, dan tujuannya pasti juga baik, yaitu agar si kecil bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik.

Tapi kalau melihatnya ngambek, duh, tangan rasanya gatal banget pengin mencubit atau memukul deh, agar dia menuruti kehendak kita lebih cepat.

Namanya anak-anak, selalu berubah kelakuannya setiap waktu. Kadang nggak bisa diprediksi sama sekali bukan? Apalagi toddler, uji kesabaran bener deh, karena dia selalu ingin semua kemauannya dituruti saat itu juga. Giliran dia diminta menurut, wah, banyak banget alasan ngelesnya. Havft!

Dan, Mama juga pasti sebenarnya sadar, bahwa menggunakan kekerasan, apalagi kekerasan fisik, itu tak akan memberikan hasil yang baik, apalagi kalau kaitannya dengan melatih disiplin pada anak.

Yes, dengan menggunakan kekuatan fisik atau bahkan memaksakan kehendak kita, bisa selalu kemudian bisa membuat anak nurut. Selain akan berdampak buruk pada kejiwaannya, bisa jadi dia justru akan berulah lebih buruk lagi. Karena bisa jadi dia akan berulah lagi, Ma.

Duh, susahnya melatih disiplin pada anak!

Hmmm, jika Mama berpikir demikian, Mama juga salah. Sebenarnya melatih disiplin pada anak ini tidak terlalu susah, asal Mama sudah tahu ucapan apa saja dan bahasa tubuh yang bagaimana yang pas dan mudah dimengerti oleh si kecil.


Cara efektif melatih disiplin pada anak tanpa kekerasan dan hanya dengan kata-kata


1. Diamkan sebentar


Jika si kecil sedang marah, lalu saat itu juga Mama langsung memberi perintah supaya dia tenang dan menuruti instruksi Mama, jangan harap dia akan menurut, Ma.

Percuma saja. Dia tidak akan mendengarkan Mama.

Jadi jangan buru-buru memberi perintah ya, Ma, ketika anak sedang marah, apalagi jika Mama ikut-ikutan marah dan bersuara keras. Tunggulah beberapa saat, sampai si kecil sudah meluapkan amarah dan sedikit tenang atau tidak menangis lagi.

Setelah si kecil tenang, barulah Mama ajak dia bicara, dan coba tanyakan apa alasan dia marah dengan lembut.

"Adik kan bisa bilang baik-baik pada Mama, tidak perlu berteriak atau menangis."


2. Jelaskan keinginan Mama dengan jelas dan positif



Memberi perintah itu memang lebih mudah.

"Jangan ganggu adik!"

"Bisa diam sebentar enggak?"

Tapi percayalah, Ma, bahwa kata-kata Mama akan lebih efektif jika diungkapkan tanpa nada perintah, namun jelas dan positif. Seperti misalnya, "Mama pengin deh, kamu nggak ganggu adik bayi." Atau, "Mama pengin deh kamu diam sebentar saja, Nak.". Apalagi kalau semua itu dikatakan dengan penuh cinta dan tak lupa diiringi senyuman. Pasti si kecil akan lebih mau mendengarkan apa permintaan Mama.

Cara ini akan lebih efektif, Ma, karena pada dasarnya anak-anak nggak suka diperintah. Meski tujuannya sama, yaitu ingin si kecil melakukan apa yang Mama inginkan dan minta, tapi akan lebih baik jika Mama tidak menggunakan kata-kata yang bersifat memberi perintah. Gunakanlah kata-kata seakan Mama mengajak mereka bekerja sama, sehingga mereka pun akan dengan suka rela dan senang hati mau menuruti kata Mama.


3. Dekati lalu baru bicara



Kadang kita sering malas berjalan mendekat ke arah si kecil yang ingin kita ajak bicara, dan malah memilih berteriak dari kejauhan, atau malah dari ruangan yang lain. Hayo, siapa yang suka begini? Hehehe.

Well, maybe we all do it. Kita semua lebih suka berteriak saja, ketimbang mendekat. Itu salah, Ma.

Jika ada hal yang ingin disampaikan oleh Mama, akan lebih efektif jika Mama mendekat ke arah si kecil lalu ajaklah bicara dengan pelan. Face to face.

Ingat, Ma, Mama adalah role model untuknya. Bagaimana dia bisa berperilaku penuh kedisiplinan, jika Mama tidak menunjukkannya langsung padanya? Jika Mama sering berteriak, pastinya mereka juga akan meniru tindakan Mama tersebut.


4. Singkirkan pengganggu atau penghambat komunikasi



Nggak ada gunanya Mama ngomong panjang, meminta si kecil ini dan itu, jika Mama atau si kecil saling memunggungi. Jika Mama ingin berbicara dengan mereka, maka menghadaplah pada mereka. Turunkan badan Mama selevel ketinggian mata mereka.

Saat menatap matanya langsung dan lurus itu, katakan apa yang Mama inginkan dengan lembut.

Begitupun kalau ada penghambat komunikasi yang lain, misalnya televisi. Jika Mama ingin mengajak anak-anak berdiskusi, lebih baik matikan dulu televisinya. Mereka boleh menontonnya kembali, saat diskusi Mama dengan mereka selesai. Ini berlaku juga untuk misalnya anak-anak yang suka menonton Youtube di laptop, ataupun anak-anak yang suka ngegame dengan gadget dan sebagainya.

Mengapa harus begini? Karena anak-anak cenderung memiliki rentang perhatian yang pendek, dan susah diajak untuk mengalihkan perhatian sejenak dari sesuatu yang lebih disukainya.

Padahal sangat penting ya, Ma, untuk memastikan mereka paham dan mengerti apa maksud dan keinginan Mama. Karena itu singkirkan dulu semua pengganggu dan penghambat komunikasi yang ingin dilakukan dalam rangka melatih disiplin pada anak ini.


5. Gunakan bahasa yang tepat



Bahasa yang tepat untuk melatih disiplin pada anak adalah dengan menggunakan kata semacam "jika" dan "maka" serta "sekarang" dan "nanti".

Jadi misalnya gini, Ma.

Situasinya, si kecil belum juga merapikan kamarnya, tapi sudah buru-buru saja pengin keluar dan bermain bersama teman-temannya. Maka yang perlu Mama katakan bukanlah "Rapikan kamarmu dulu!", melainkan "Kalau Kakak bisa merapikan kamar, maka Kakak boleh main keluar." Atau, "Kalau Kakak segera merapikan kamar sekarang sehingga cepat selesai, Kakak pun segera bisa main sama teman Kakak di luar."

Kata-kata tersebut selain menyiratkan bahwa Mama mengharapkan dia melakukan sesuatu, juga sekaligus untuk menegaskan otoritas Mama namun dengan cara yang lebih baik.


6. Beri opsi yang lebih baik



Saat si kecil minta sesuatu namun Mama sedang tidak berkenan untuk mengabulkan, maka berilah dia opsi lain yang lebih baik.

Misalnya, "Kakak nggak makan es krim dulu ya, tapi gimana kalau kita cari sop buah sekarang?"

Meskipun mungkin itu nggak sesuai dengan keinginan mereka, tapi setidaknya itu akan terdengar lebih baik ketimbang dengan lempeng Mama bilang, "Tidak."


7. Keep it short



Nah, ini ya, kebiasaan mama-mama nih. Kalau ada yang kurang sreg di hati, lalu ngomel panjang. Nggak cuma satu masalah yang dibahas, bahkan sampai ke yang sudah-sudah, sampai ke urusan tetangga juga dibahas.

Jangan ya, Ma. Ayo, ubah kebiasaan buruk ini, Ma. Melatih disiplin pada anak nggak perlu sambil ngomelin tetangga juga. Just keep it short dan fokus pada si kecil saja.

Saat Mama ngomel dan kemudian mata si kecil mulai berkaca-kaca, maka saat itulah Mama sudah kehilangan kendali atasnya. Dia pasti sudah nggak akan mendengarkan lagi. So, batasi kata-kata Mama, agar si kecil mengerti dan paham, dan nggak sampai emosi saat mendengarkan Mama.


8. Tulis pesan


Cara ini bisa Mama lakukan untuk sedikit mengistirahatkan suara Mama dari seantero rumah. Yah, mungkin anak-anak sudah merasa too much "diomelin" hari ini? Maka, tulis saja pesan Mama untuk mereka.

Misalnya, tulis catatan kecil di post-it untuk mereka, "Setelah kalian selesai belajar 1 jam lagi, ada pie buah yang boleh dimakan. Ambil sendiri di kulkas ya." Tempelkan post-it tersebut di meja belajar mereka.

Atau untuk remaja yang lebih besar dan sudah membawa handphone sendiri, Mama juga bisa mengirimkan WhatsApp pada mereka, dan tuliskan pesan Mama. "Kalau kamu bisa langsung segera pulang setelah les, maka kita bisa segera berangkat makan di luar."

Pastikan Mama menyertakan icon atau smiley yang lucu-lucu dalam pesan Mama ya. Supaya mereka lebih suka.

Iya, kadang mereka hanya ingin sejenak "beristirahat" mendengar suara kita, Ma.


9. Konsisten


Saat Mama sudah mengatakan "tidak" maka itu berarti benar-benar tidak.

Jika Mama mengatakan "tidak", namun kemudian galau sendiri dan akhirnya mengatakan "ya" atau semacam memberi opsi lagi pada si kecil untuk ngeles dan negosiasi, maka itu berarti Mama sudah tak konsisten. Jika Mama tidak konsisten, maka akan lebih mudah bagi si kecil untuk "memanipulasi" Mama.

Ya, Mama, mereka secerdas itu lho, sampai bisa memanipulasi Mama. Maka dari itu, tunjukkan who's the boss pada mereka. Saat Mama harus tegas, ya jadilah mama yang tegas. No means no.

Kalau anak tantrum bagaimana? Ya, itu risiko. Justru Mama harus menghilangkan kebiasaan tantrum ini jika Mama benar-benar ingin melatih disiplin pada anak. Tak perlu bereaksi jika si kecil tantrum, namun tetap awasi. Jika si kecil tahu, bahwa tantrumnya tidak berhasil memanipulasi Mama, maka lambat laun dia akan berhenti juga melakukannya.


Nah, Mama, itu dia 9 hal yang harus Mama lakukan untuk melatih disiplin pada anak tanpa kekerasan dan hanya dengan kata-kata.

Semoga sukses program pendisiplinan si kecil ini ya, Ma! Tetap semangat!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Melatih Disiplin pada Anak Tanpa Kekerasan dan Hanya dengan Kata-Kata? Bisa Banget!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


| @RisaRusli

Silahkan login untuk memberi komentar