Mendidik Anak dengan Kekerasan Hanya Akan Menghasilkan Anak yang Penuh dengan Kekerasan. Lakukan Hal-Hal Berikut untuk Menghindarinya!

Mendidik Anak dengan Kekerasan Hanya Akan Menghasilkan Anak yang Penuh dengan Kekerasan. Lakukan Hal-Hal Berikut untuk Menghindarinya!

7.5K
Mendidik anak dengan kekerasan juga akan menghasilkan anak yang penuh dengan kekerasan. Dan ini bukanlah hal yang baik bagi perkembangannya kelak.

Si kecil sering tantrum, Ma? Well, salah satu pemicu tantrum adalah masih sulitnya si kecil mengomunikasikan perasaan atau keinginan mereka dengan baik. Dan, hal ini jadi masalah banget untuk orangtua sumbu pendek. Mereka akan mengomel, berteriak, dan membentak si kecil. Nah, jadi tantrum juga semuanya. Akhirnya orangtua begini akan disalahkan karena mereka dianggap telah mendidik anak dengan kekerasan.

Kok bisa sih, orangtua mendidik anak dengan kekerasan begini? Ada beberapa alasan yang bisa jadi penyebabnya, Ma.

"Kalau anak nggak dikerasin, mereka nggak mau dengerin omongan kita."

"Satu dua kali dibilangin nggak mau denger, yang ketiga ya dikerasin!"

"Biar patuh, ya harus dikerasin."

Wah, yakin mereka akan patuh tuh, Ma, kalau kita mendidik anak dengan kekerasan? Tambahan lagi, orangtua sering memarahi si kecil dalam kondisi yang nggak fokus. Marahin anak tapi sambil pegang handphone, atau sambil nonton televisi. Yang maunya menyelesaikan masalah, malah makin ke mana-mana.

Masa golden age nggak bisa diabaikan begitu saja ya, Ma. Masa tersebut adalah masa di mana pertumbuhan sel saraf di otak anak bertumbuh dan berkembang dengan pesatnya. Pernah dengar nggak, jika anak sering dihardik maka sel saraf dalam otak mereka bisa putus?

Yes, itu bukan mengada-ada. Sudah ada penelitiannya.

Hasil penelitian Lise Eliot, PhD Neuroscientist, mengungkapkan pada anak yang masih dalam pertumbuhan, suara keras dan bentakan yang keluar dari orang tua dapat menggugurkan sel otak anak yang sedang tumbuh. Dan sebaliknya, pada saat ibu memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak terbentuk indah.




Jadi, sekarang coba dikira-kira, Ma, berapa banyak sel saraf otak yang putus akibat kita mendidik anak dengan keras ini? Belum lagi dampaknya pada penurunan rasa percaya diri mereka, dan bahkan bisa menyebabkan depresi pada si kecil lho.

Ih, serem!

Sebenarnya sih, Ma, yang diperlukan oleh orangtua adalah tindakan tegas, alih-alih keras. Iya, dua hal tersebut sangat jauh berbeda. Ketegasan adalah soal konsistensi dan kesesuaian antara ucapan dan tindakan kita pada si kecil, dan nada suara yang tidak tinggi namun tepat.

Terus, gimana cara berbicara pada anak dengan benar? Supaya kita bisa menyampaikan maksud kita pada si kecil, tanpa harus mendidik anak dengan kekerasan? Ada nih, Ma, saya kutipkan ya.


10 tip berbicara pada anak menurut Psikolog Innu Virginia.


  1. Minta perhatian anak, panggil namanya, dan perhatikan dia sebelum memberikan instruksi. Posisikan tubuh selevel dengan si kecil, beri kontak eye to eye. Dengan demikian, anak akan dengan mudah juga memusatkan perhatiannya pada kita.
  2. Bicara sesingkat dan sesimpel mungkin dalam satu kalimat, dengan instruksi positif. Gunakan satu kalimat saja ya. Jangan lebih dari itu, karena anak akan mudah hilang fokus.
  3. Tawarkan sesuatu yang nggak bisa ditolaknya. Beri alasan yang menguntungkan dari sudut pandang si kecil sehingga akan sulit ditolak.
  4. Bertindak dulu, baru berbicara. Misalnya, sudah waktunya belajar dan mematikan televisi, maka matikan dulu televisinya, baru minta anak untuk belajar. Dengan demikian kita sudah menunjukkan bahwa kita sudah serius memberi instruksi. Pasalnya, kalau kita ngomong dulu, "Ayo belajar, nanti televisinya Mama matikan!" itu sama saja memberi kesempatan pada mereka untuk negosiasi.
  5. Beri si kecil pilihan, namun tetap terbatas. Misalnya, saatnya tidur, kita bisa langsung saja bertanya, "Mau ganti baju atau sikat gigi dulu?" Atau, "Mau pakai piyama merah atau biru?"
  6. Bicaralah sesuai perkembangan anak, Ma. Semakin muda anak, instruksi harus sesingkat dan sesederhana mungkin.
  7. Pilihlah kata-kata yang baik dan bicaralah dengan suara halus. Ingat ya, Ma, bahwa ancaman dan perkataan yang menghakimi akan cenderung membuat anak menjadi bersikap defensif.
  8. Pastikan dia tenang, tidak dalam kondisi emosional. Mama nggak akan didengarkan jika dia masih marah atau sedih.
  9. Ulangi perkataan kita jika perlu, terutama pada balita ya. Karena mereka masih belajar memahami perintah. So, kita harus sabar.
  10. Biarkan anak berpendapat dan dengarkan dengan saksama. Jika memang diperlukan, Mama bisa memberi hadiah kepada anak berupa benda yang disukainya. Ucapkan kata cinta pada mereka lebih sering, dan beri pujian yang tulus.


Nah, sudah melakukan kesepuluh tip di atas belum, Ma? Saya masih belum. Makanya, yuk, Ma, belajar sama-sama.

Lalu bagaimana dengan hukuman. Apakah kita lantas nggak boleh sama sekali memberikan hukuman?

Menurut Ustaz Fauzil Adhim, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan jika ingin menghukum anak tanpa terjebak dalam cara-cara mendidik anak dengan kekerasan.


Beberapa hal tentang hukuman pada anak, agar kita terhindar dari cara mendidik anak dengan kekerasan.



  • Menghukum anak bukanlah merupakan luapan emosi orangtua karena saking jengkelnya pada si kecil.
  • Menghukum merupakan tindakan mendidik, meski bukan berarti harus mendidik anak dengan kekerasan. Tujuannya agar anak memiliki sikap yang baik. Yang terpenting, anak kemudian harus mengerti apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan. Dia juga harus paham apa sebab dia dihukum, sehingga dia tahu apa kesalahannya dan bisa memperbaikinya.
  • Hukuman adalah konsekuensi. Orangtua menghukum bukan karena marah atau melampiaskan kejengkelan.
  • Hukuman tidak boleh sampai menyakiti anak, baik fisik maupun mentalnya.
  • Orangtua harus tetap berpikir jernih saat menghukum anak, sehingga kita benar-benar membuat keputusan hukuman yang tepat bagi anak.
  • Kasih sayang mendahului kemarahan. Tunjukkanlah kasih sayang sesudah menghukum, meski hati masih bergemuruh karena rasa jengkel yang belum juga sembuh.


Oke, berarti menghukum anak itu bukan hal yang haram. Tapi, gimana ya caranya, kita menghukum anak dengan baik, agar kemudian tidak terjebak pada cara-cara mendidik anak dengan kekerasan?

Ada cara unik dari Ibu Irawati Istadi, penulis buku Mendidik Dengan Cinta.


3 Cara menghukum supaya nggak terjebak pada cara mendidik anak dengan kekerasan.


1. Pelaku dan perilaku



Orangtua harus bisa membedakan antara "pelaku" dan "perilaku."

"Pelaku" adalah si individu yang sedang melakukan sesuatu, sedangkan "perilaku" merupakan kegiatan yang sedang dilakukannya.

Orangtua harus memahami bahwa antara pelaku dan perilaku itu dua hal yang bisa saja nggak berkonotasi yang sama. Contohnya, Kakak memukul kucing. Di sini, Kakak adalah sebagai si pelaku, dan perilakunya memukul kucing.

Pemukulan kucing merupakan tindakan yang buruk, tapi bukan berarti disimpulkan bahwa Kakak adalah anak yang buruk.

Kita nggak boleh memberikan konotasi buruk kepada si pelaku. Seburuk apa pun perilaku mereka, orangtua hanya boleh menilai perbuatannya dan harus memahami bahwa saat itu anak sedang khilaf, teledor atau lupa sehingga dia melakukan perbuatan yang buruk.

Tetaplah berpegang bahwa pada hakikatnya semua anak tetaplah baik adanya, yang jika diingatkan akan kembali berperilaku baik.


2. Citra diri positif


Dari poin pertama di atas, maka kemudian anak bisa meyakini dan diyakinkan, bahwa diri mereka adalah anak-anak yang baik. Mereka mendapatkan afirmasi yang positif bagi diri mereka sendiri.

Seterusnya, peliharalah hal ini dengan tidak mendidik anak dengan kekerasan dan mengeluarkan kata-kata negatif pada mereka saat kita sedang berusaha menyampaikan apa maksud dan permintaan kita. Mengapa? Karena hal itu bisa menjatuhkan citra diri positif si kecil.

Misalnya, saat mereka lupa mengerjakan PR-nya, jangan sebut mereka anak yang pemalas, bebal, apalagi bodoh. Ingat, Ma, apa yang kita labelkan pada mereka, maka mereka pun akan meyakini pula bahwa begitulah adanya.


3. Teguran satu menit



Mama bisa mencoba cara ini untuk mendisiplinkan mereka, tanpa harus mendidik anak dengan kekerasan.

  • Setengah menit pertama: tegur perilakunya.
  • Setengah menit kedua: hargai pelakunya

Nah, pastinya untuk melakukan hal ini, Mama sudah lebih dulu paham perbedaan antara pelaku dan perilaku, seperti yang dijelaskan pada poin pertama di atas ya.

Metode teguran satu menit ini mempunyai banyak kelebihan lho. Pertama, melatih disiplin pada anak agar bisa meninggalkan perilaku yang buruk. Setengah menit pertama kan mereka diberitahu kalau perilakunya buruk. Dan dilanjutkan pada setengah menit berikutnya, anak segera diberitahu mengenai citra dirinya yang positif sebagai anak yang baik yang nggak akan melakukan hal buruk, atau mengulangi perbuatan buruknya.

Nah, jika Mama sudah selesai melakukan metode teguran satu menit ini, maka nggak perlu diungkit-ungkit lagi, Ma. Percaya saja padanya, bahwa si kecil nggak akan mengulang lagi perilaku buruknya. Singkirkan kejengkelan dan kemarahan yang mungkin masih ada.


Ah, nggak mudah memang ya, Ma, menjadi orangtua itu. Bener deh, sepertinya kita membutuhkan sekolah khusus mendidik anak. Yang penting untuk selalu diingat, bahwa mendidik anak dengan kekerasan juga akan menghasilkan anak yang penuh dengan kekerasan. Dan ini bukanlah hal yang baik bagi perkembangannya kelak.

Selamat mendidik anak tanpa kekerasan, Mama! Stay positive and happy ya!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mendidik Anak dengan Kekerasan Hanya Akan Menghasilkan Anak yang Penuh dengan Kekerasan. Lakukan Hal-Hal Berikut untuk Menghindarinya!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Shona Vitrilia | @ibubahagia

Mom & Life Style Blogger. Ibu dari 2 anak dan sedang hamil anak ke-3. Mari silaturahim ke blog saya di www.ibubahagia.com & www.eonni-shona.com.

Silahkan login untuk memberi komentar