Mendidik Anak Remaja, Berikut Do & Don't (s) yang Harus Mama Simak

huffingtonpost

Mendidik Anak Remaja, Berikut Do & Don't (s) yang Harus Mama Simak

4.7K
Mendidik anak remaja itu memang rumit, karena semua pasti tahu bahwa tahap remaja memang merupakan tahapan kehidupan di mana manusia sedang mencari identitas diri. Agar tidak bingung menghadapinya, Rocking Mama akan memberikan tip Do & Don't (s)-nya. Simak terus ya, Ma.

Sebagaimana Mama tahu, tahap remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak sebelum beranjak ke masa dewasa, sehingga sesuai dengan perkembangan diri, maka perlu juga ada perlakuan khusus dalam mendidik anak remaja ini.

Ya, karena di setiap tahap kehidupan, berbeda pula tantangan yang harus dihadapi, bukan, Ma?

Pada usia 12 - 20 tahun seseorang memang dapat dikatakan sebagai remaja (remaja awal, remaja madya dan remaja akhir). Menurut Erik Erikson, tahap remaja merupakan tahap kelima dari tahapan perkembangan manusia; disebut juga sebagai tahap Identity vs Identity Confusion.

Wajar sekali jika Mama ingin ambil andil dalam setiap hal yang sedang dihadapi anak remaja Mama. Tetapi, jauh lebih wajar ketika anak remaja Mama cenderung menjadikan teman sebayanya sebagai sumber nilai utama.


BACA JUGA


Please, Stop Menghakimi Remaja Kita! Mari Kita Penuhi Hak-Hak Mereka!

Please, Stop Menghakimi Remaja Kita! Mari Kita Penuhi Hak-Hak Mereka!

Youth is the best time to be rich, and the best time to be poor. – Euripides

Read more..


Nah, di sini pastilah timbul kekhawatiran Mama ketika melihat mereka memiliki nilai pelajaran yang pas-pasan, atau mewarnai sebagian rambutnya dengan warna mencolok, atau bergaya mengikuti idolanya yang juga remaja labil.

Duh, Gusti! Mau jadi apa kamu nanti?

Ha! Pasti kalimat itu secara sadar atau tidak, baik dikatakan secara langsung atau hanya dalam hati, pasti akan terlontar dari mulut Mama setiap kali melihat mereka bertingkah laku ajaib kan?

Tenang dulu, Ma! Mama pasti dan seharusnya sudah paham akan tahapan hidup yang satu ini. Ingat, Ma, bahwa more or less, Mama dulu juga pernah harus melewatinya. Yah, dan mungkin dengan mengingat apa saja yang telah terjadi dan Mama lakukan saat masih remaja, akan sedikit membantu Mama untuk berempati dan bertindak benar saat Mama ingin mendidik anak remaja Mama.

Yes, betul sekali, karena pada tahapan ini memang anak Mama sedang mencari identitas dirinya. Untuk itu, tip ini akan membantu Mama dalam mendidik anak remaja Mama.


Berikut Do and Don't (s) menghadapi dan mendidik anak remaja Mama agar Mama tidak salah langkah.


Do

1. Give them space

Jika Mama ingin mendidik anak remaja Mama sesuai dengan tahapnya, maka memang perlu Mama sadari lebih dulu fakta bahwa mereka sedang mencari identitas dirinya.

Mereka merasa punya otoritas dalam diri mereka untuk mencari jalan keluar suatu masalah dengan caranya sendiri. Maka, meski mungkin Mama berpikir bahwa mereka sok jagoan dan sok bisa mencari solusi sendiri, namun tetaplah beri mereka ruang untuk itu.

Ketika mereka sedikit menjaga jarak dari Mama, Mama harus peka bahwa itu tanda mereka meminta ruang pribadi.


2. Beritahu alasan yang jelas

Orangtua yang memberikan penjelasan tentang bahaya mengonsumsi narkoba pada anaknya cenderung memiliki risiko lebih kecil anaknya terjerumus narkoba daripada orangtua yang tidak memberi penjelasan, dan hanya sebatas mengatakan 'jangan' atau 'tidak boleh'.

Yes, Mama, dalam mendidik anak remaja, janganlah Mama hanya melarang, namun beritahu juga alasan mengapa Mama melarangnya bertindak atau berbuat sesuatu.



3. Deal or no deal?

Buat kesepakatan antara Mama dan anak remaja Mama. Dan, saat kesepakatan sudah tercapai, maka Mama harus juga tegas dan konsisten.

Yah, hal ini sulit dilakukan oleh kebanyakan mama sih, tapi Mama harus bisa!

"Ah, ndak tega."

"Gak apa-apalah, baru sekali ini dilanggar."

No, jangan pernah memberi excuse lagi seperti itu ya, Ma.

Itu adalah anggapan yang keliru, Ma. Anak remaja Mama harus tahu dan paham mengenai konsekuensi dari kesepakatan yang dilanggar. Ingatkan kembali bahwa hal ini merupakan persetujuan dua pihak, antara Mama dan dia, sehingga anak remaja Mama mulai belajar tanggung jawab.


4. Biarkan mereka berbuat salah

Proses mendidik anak, terutama dalam mendidik anak remaja, mungkin memang akan sering membuat Mama patah hati. Salah satunya adalah saat Mama harus membiarkan mereka berbuat salah.

Rasanya kita juga jadi ikut bersalah kan, saat kita tahu bahwa keputusan yang mereka ambil salah (apalagi kemudian kita bisa membayangkan risikonya seperti apa) tapi kita tak bisa berbuat apa pun?

Yah, tegarkan hati Mama!

Selama jika anak remaja Mama bisa belajar dari kesalahan tersebut dan paham untuk tidak mengulanginya lagi, tidak perlu memarahinya ya, Ma. Cukup menegur dan mengajaknya berdiskusi dengan kepala dingin.

Tentunya, Mama tahu mana yang harus ditindaklanjuti, dan mana yang cukup dengan evaluasi bersama bukan?


Don't

1. Mengatur segala hal

Untuk beberapa hal kecil, biarkan mereka yang memilih, dan rasanya memang nggak perlu banget terlalu Mama atur.

Misalnya saja, ekstrakurikuler apa yang akan anak remaja Mama ikuti, ya nggak perlulah Mama yang memutuskan dan menentukan. Biarkan mereka menentukan pilihan, hal tersebut melatih intuisi anak untuk dapat membangun soft skill-nya yakni decision making.

Mereka ingin mengenakan baju apa saat pesta tutup tahun sekolahnya, biar saja mereka yang memutuskan. Namun, saran dan masukan dari Mama yang diberikan dengan baik-baik pasti juga akan mereka perlukan.


2. Memberikan nasihat ketika tidak diminta

Mendidik anak remaja nggak berarti harus setiap waktu kasih nasihat, Ma, apalagi kalau tak mereka minta.

Ingat, bahwa mereka telah merasa mampu melakukan apa pun meski sebenarnya belum. Yang mereka perlukan adalah pendengar.

So, ketika anak remaja Mama menceritakan masalah yang dihadapi di sekolah ataupun masalah dengan bentuk tubuhnya yang kurang ideal, hal yang paling ia butuhkan adalah seorang pendengar yang baik. Luangkan waktu untuk mendengarkan curahan hati mereka.

Ketika mereka meminta nasihat, di situlah peran Mama dapat dimaksimalkan.



3. Memberikan kebebasan terlalu jauh

Too much freedom can do them more harm than good.

Mendidik anak remaja untuk mengambil keputusan sendiri, atau membiarkan mereka berbuat salah sekali-sekali tidak sama dengan membebaskan mereka berbuat apa pun yang mereka mau.

Selama kebebasan tersebut masih dalam koridor yang telah Mama sepakati, biarkan mereka. Hal yang perlu Mama lakukan adalah mengawasinya dan bersiaga jika mereka mulai 'keluar jalur'. Juga, andil Papa sebagai kepala keluarga sangat dituntut dalam hal ini.


4. Memaksakan kehendak pribadi

Sering kita dengar kalimat seperti ini.

"Dulu Mama nggak begini deh!"

"Dulu Mama suka nari lho, Kak. Sayangnya, nggak pernah dapat kesempatan pentas. Kamu ikut ekskul nari aja deh, siapa tahu bisa pentas kan?"

Atau memaksa anak remaja untuk menggemari satu hal dan membenci hal lain hanya karena Mama juga suka dan nggak suka akan hal tersebut.

Well, you know what, Mama? Diri Mama cukup satu saja. Hal yang tidak tercapai ketika Mama remaja dulu sekali-kali jangan sampai malah dibebankan pada anak. Kecuali, jika memang sesuai keinginan mereka.

Ekspektasi boleh saja, namun jika realitanya tidak sesuai, ketahui lebih lanjut alasan di balik pilihan sang anak. Tempatkan diri Mama sebagai teman ya, agar mengerti sudut pandang anak usia remaja.


BACA JUGA


Si Remaja Mulai Pacaran, Ma? Nggak Usah Bingung, Lakukan 9 Tips Ini Agar Semua Terkendali!

Si Remaja Mulai Pacaran, Ma? Nggak Usah Bingung, Lakukan 9 Tips Ini Agar Semua Terkendali!

Akhir-akhir ini, gaya pacaran remaja semakin mengkhawatirkan. Bagaimana kita harus menyikapi si remaja yang mulai mengenal pacaran

Read more..


Sepenting itukah untuk tahu apa yang harus dan tidak boleh dilakukan pada anak usia remaja Mama? Ya. Tentu, Ma.

Masa remaja merupakan tahap yang sangat krusial karena jika anak remaja Mama gagal melewati tahap ini dengan baik, maka ia akan mengalami krisis identitas. Maka itu, peran Mama sangat dibutuhkan untuk bisa mendidik anak remaja Mama dengan tepat dan mendukung perkembangannya.

Dan jangan lupa, Ma, sebelum menerapkan hal yang telah disebutkan di atas dalam mendidik anak remaja Mama, diskusi dulu dengan Papa ya, Ma.

Semangat, Mama! Dan, salam untuk si remaja ya!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mendidik Anak Remaja, Berikut Do & Don't (s) yang Harus Mama Simak". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Githa MuthiaAnanda | @githamuthiaananda

Silahkan login untuk memberi komentar