Menjadi Orangtua Penyabar - Apakah Hanya Sekadar Harapan yang Terlalu Muluk untuk Dicapai?

Menjadi Orangtua Penyabar - Apakah Hanya Sekadar Harapan yang Terlalu Muluk untuk Dicapai?

1.2K
Menjadi orangtua penyabar itu mudah. Bekali saja mereka dengan bantal yang banyak, supaya bisa digigitin setiap waktu.

Orangtua penyabar? Hmmm ... sebelum kita berteori, saya mau cerita dulu ah.

Rasanya waktu belum menikah dulu, kalau melihat anak kecil lucu, cantik, ganteng, keren, suka bikin kita jadi kepingin punya anak sendiri. Bayangan betapa bangganya punya anak yang menggemaskan dan adorable sungguh memabukkan pikiran. Bener kan ya, Ma? Siapa yang tahan untuk tidak memberikan pujian dan tatapan kagum kepada anak kita?

Wuuiihh, pasti bangganya luar biasa!

Lalu, datanglah masanya. Jengjengjeng!

Kita menikah. Punya anak. Benar sekali bayangan zaman single dulu. Punya anak yang lucu, keren, dan sehat, bangganya luar biasa.

E dodo e, rupanya itu cuma satu sisi saja. Si single tidak pernah membayangkan betapa luar biasanya cobaan membesarkan anak. Terlebih lagi urusan kesabaran yang ditantang sampai ke ujung jurang. Setiap hari.

Iya, setiap hari! Hvft! *usap keringat di jidat*

Untuk Mama yang banyak menghabiskan waktu di rumah dan lebih sering bertemu dengan anak-anak, pasti mengerti yang saya maksud. Hahaha.

Saya pikir, hanya anak balita yang akan membuat kita repot dengan segala urusan, tapi ternyata Mama yang mempunyai anak menjelang ABG pun sama repotnya. Ah, lebih-lebih lagi mereka sih sepertinya.

Setiap tahap umur anak memiliki tantangannya masing-masing, dan pemeran utama untuk tetap mengajar mereka di setiap tahap itu adalah kita, Ma. Nada tinggi, bersitegang, ngomel, marah, merupakan menu harian yang sepertinya tidak terlihat titik tamatnya. Mama tentunya tahu kalau hal-hal negatif ini lebih banyak mudarat daripada manfaatnya, baik untuk diri sendiri maupun untuk anak-anak.

Oleh karena itu, ayo, Ma, kita coba cara berikut ini untuk melatih diri supaya lebih sabar.


Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi orangtua yang penyabar



1. Hitung sampai 10

1. Hitung Sampai 10 -


Menjadi orangtua penyabar adalah merely about managing your emotions. Betul?

Jika Mama mulai merasa frustrasi dan marah, berhenti sebentar, Ma, dan coba hitung perlahan mulai dari 1 hingga 10. Biasanya, selesai di angka 10, emosi yang meluap bisa sejenak mereda.

Boleh juga kalau Mama mau berhitung dengan suara, bukan hanya di kepala, setidaknya anak-anak bisa melihat tanda waspada jika sudah mendengar angka 1 di rumah.



2. Tarik napas panjang

2. Tarik Napas Panjang -


Secara medis, mengambil napas panjang memberikan oksigen lebih banyak ke paru-paru, dan mengalirkannya juga ke seluruh tubuh. Dengan menarik napas panjang, tubuh akan menjadi lebih santai, dan membantu meredakan emosi.

Kemudian biarkan setiap kemarahan terbuang bersama napas yang diembuskan.

*inhale ... exhale ... inhale ... exhale ... this too shall pass ... inhale ... exhale ... inhale ... exhale...*


3. Hitung frekuensi marah

3. Hitung Frekuensi Marah -


Jika Mama benar-benar sudah terlalu sering marah, nggak ada salahnya Mama menghitung berapa kali Mama marah dalam sehari.

Walaupun harus agak ribet mencatat dan menulis di kertas, hal ini bisa menjadi langkah pertama untuk mengatasi kemarahan yang berlebih. Setidaknya melihat angka yang tertera di kertas di penghujung hari, akan menjadi pertanda sudah seberapa akut emosi Mama terbuang hanya untuk marah.

Kalau Mama merasa sudah tidak bisa lagi menghadapi masalah ini sendiri, tidak ada salahnya mencari bantuan ke tenaga profesional.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menjadi Orangtua Penyabar - Apakah Hanya Sekadar Harapan yang Terlalu Muluk untuk Dicapai?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Susan | @susanindriany

Mom of two. Surviving motherhood. Owner of Blog Dekat Hati. www.dekathati.com

Silahkan login untuk memberi komentar