Menyusui itu Gampang? Sebelum Berkata Demikian, Catat Dulu Hal-Hal Berikut Ini!

Courtesy: www.iamthefbomb.com

Menyusui itu Gampang? Sebelum Berkata Demikian, Catat Dulu Hal-Hal Berikut Ini!

1.1K
Breastmilk is a magical elixir and have this strong conviction to breastfeed your baby.

Gampang! Jikalau kondisinya biasa-biasa saja semacam ASI keluarnya lancar dan tepat waktu, bayinya bisa langsung pinter menyusu, dan mental si mama stabil, menyusui itu memang gampang.

Seharusnya itu juga merupakan proses yang alamiah kan?

Iya, betul. Seharusnya memang secara alamiah, seorang mama akan bisa dengan mudah menyusui anaknya. Dan, saking alamiahnya, saya bahkan dulu malas banget mencari info dan ilmu tentang menyusui dan juga tantangannya. Padahal meski mungkin memang gampang dan alamiah, kita nggak boleh menyepelekan segala sesuatu. Pasti akan lebih baik kalau kita mengerjakannya dengan ilmu. Bener nggak, Ma?

Soalnya, kemudian kita juga bakalan tahu, bahwa ada berbagai hambatan yang terjadi saat menyusui. Bahwa nggak semua proses menyusui itu seindah yang ditampilkan di iklan-iklan. Bahwa ternyata sekadar puting lecet itu sangat lebih nyeri ketimbang luka bekas operasi caesar.


Baca juga: Inilah Alasan Mengapa Mama Perokok Aktif Harus Tetap Menyusui Bayinya!


Nah, jadi ingat dengan perkataan Dr. Elizabeth Yohmi, Sp.A, IBCLC, Ketua Satgas ASI IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) di suatu kesempatan, bahwa waktu yang terbaik untuk mempelajari ASI dan menyusui itu adalah saat kita masih hamil, Ma. Mengapa? Ya, kalau bayinya sudah brojol, boro-boro mau browsing belajar sendiri. Kitanya sudah kepalang capek duluan dari segi fisik dan emosi karena proses melahirkan, belum lagi proses adaptasi dengan si baby sendiri.

Dr. Yohmi juga menyarankan para calon mama untuk melakukan 7 Kontak (Pertemuan) ASI.

Hah? Apa pula itu 7 Kontak ASI? Yaitu jadwal di mana Mama harus menemui konselor menyusui, demi mendapatkan informasi seputar ASI. Apa saja yang akan Mama dapatkan dari ketujuh kontak yang kita lakukan bersama konselor menyusui itu?



  • Kontak Pertama, dilakukan saat usia kehamilan 28 minggu, Ma. Di sini ada pemaparan mengenai edukasi antenatal, yaitu mengenai pentingnya ASI dan proses menyusui itu sendiri, juga mengenai fisiologi ASI, dan manajemen laktasi. Edukasi ini biasa diselenggarakan oleh tenaga kesehatan terkait atau event-event semacam kelas edukASI oleh AIMI. Mama bisa follow mereka di @aimi_asi atau cek website mereka untuk info lebih lanjut.
  • Kontak Kedua, biasanya dilakukan saat usia kehamilan memasuki usia 36 minggu. Isinya masih mengenai teori menyusui, Ma. Meski hanya teori, jangan dianggap enteng ya. Edukasi seperti ini berharga sekali, demi suksesnya memberikan ASI pada baby Mama secara eksklusif. Mama bisa mencatatnya, untuk kemudian dibaca-baca lagi. Baca berulang-ulang, hingga hafal ya, Ma!
  • Kontak Ketiga, dilakukan saat proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD) setelah si baby lahir. Pada saat IMD ini, si baby akan ditengkurapkan di dada mama agar dia merayap dan mencari sendiri puting mamanya. Idealnya hal ini dilakukan selama kurang lebih 1 jam (dalam kondisi normal) untuk meningkatkan bonding antara mama dan anak. Konselor hanya akan mengawasi saja di sini. Dan karena kudet, dulu saya hanya sempat melakukan IMD ini selama 15 menit saja, dengan alasan saya melahirkan secara caesar, dan takut si baby kedinginan. Padahal ternyata, Mama, nggak ada masalah sama sekali untuk melakukan IMD meski persalinan yang dilakukan itu secara caesar. Alhasil, di masa-masa awal menyusui, saya merasa awkward dengan si baby dalam pelukan saya. Mungkin ya itu dia, karena saya nggak pernah merasakan bonding itu di awal. Hiks.
  • Kontak Keempat, dilakukan pada saat awal masa nifas, di mana Mama akan diberi pendampingan mengenai manajemen laktasi, post natal breast care, tumbuh kembang, segala tetek bengek perawatan bayi, perawatan di rumah, senam nifas dini, hingga terapi sentuh (touch therapy). Untuk yang dua hal terakhir itu, saya belum pernah dapetin, Ma. Doh! Nyesel banget deh! Seharusnya saya bisa mendapat banyak edukasi semacam ini. Hiks.
  • Kontak Kelima, dilakukan pada masa neonatal, yaitu hari ketujuh dan seterusnya, Ma, saat Mama sudah pulang dari rumah sakit bersama si baby. Pertemuan ini biasanya dilakukan saat kontrol kesehatan dan imunisasi bayi. Hal-hal yang dilakukan adalah memonitor keberhasilan menyusui dan mencari solusi atas kendala-kendala yang mungkin muncul, seperti puting lecet atau retak, bengkak, dan hal lainnya yangg dapat menimbulkan kesulitan menyusui.
  • Kontak Keenam, dilakukan pada hari ke-39 dan seterusnya. Biasanya masih terjadi proses monitoring manajemen laktasi, dan juga mengevaluasi kendala yang terjadi dan solusi yang ditawarkan saat kita melakukan kontak kelima.
  • Kontak ketujuh, dilakukan setiap pelaksanaan imunisasi, Ma. Dan juga bisa di waktu-waktu lain, saat terjadi kendala dalam pemberian ASI pada si baby.


Bacajuga: Mama Hamil dan Menyusui Sebenarnya Wajib Berpuasa Nggak Sih?



Fyuh, ternyata ada banyak sekali PR bagi mama menyusui ya! Dan banyak banget ilmu, pastinya, yang bisa kita peroleh dalam ketujuh kontak dengan konselor tersebut. Nah, saya sendiri mengalami beberapa kendala saat menyusui ini, Ma, di antaranya:

1. Manajemen ASIP

Bisa dibilang proses saya menyusui anak berjalan dengan normal dan lancar. Hal yang bikin deg-degan hanya saat ASI nggak juga kunjung lancar hingga H+3, serta minimnya pengetahuan saya soal manajemen ASIP (ASI Perahan). Hal tersebut berawal dari pemikiran sok tahu saya bahwa dua minggu sebelum mulai kerja kayaknya cukup untuk mengumpulkan ASIP. Padahal kenyataanya, ya, kurang bangetlah, Ma! Idealnya kan dua bulan sebelum mulai ngantor, kita harus sudah mulai menabung ASIP.

Akhirnya ya, saya kejar tayang bangetlah! Dan kalau mau sukses ASIX, kita ternyata juga mesti kenal sama yang namanya power pumping. See? How an edukASI is very important to succeed ASIX (ASI Eksklusif).

So, jangan pernah menyepelekan edukasi mengenai ASI ini sejak hari pertama Mama dinyatakan hamil ya!


2. Puting Lecet

Selain manajemen ASIP yang berantakan, kendala lain yang saya alami adalah puting lecet. Duh rasanya, Mama, bikin meringis dan takut buat nyusuin deh. Hiks. Saya ingat, setiap kali saya lihat si baby mau bangun, saya jadi parno sendiri.

Well, lecet ini bisa terjadi karena kurang disiplinnya perawatan payudara kita saat masih dalam masa kehamilan, Ma. Pas hamil dulu, semua orang menyarankan saya untuk rajin-rajin membersihkan area puting dengan menggunakan baby oil dan cotton bud secara rutin. Salah satu tujuannya adalah supaya permukaan puting menjadi elastis, sehingga saat sering disusu oleh si baby, akan kecil kemungkinan untuk lecet atau retak.

Solusi puting lecet pada saat itu adalah dengan mengoleskan krim. Kalaupun mau pakai salep yang biasanya kurang edible, sebaiknya sebelum si baby menyusu, putingnya dilap sampai bersih dulu.


3. Payudara Bengkak

Meskipun secara rutin ASI diberikan, ada kalanya payudara kita akan menjadi penuh dan bengkak.

Saat mengalami kendala ini, yang saya lakukan adalah mengompresnya dengan air hangat, lalu berikan ASI lebih sering pada si baby. Pembengkakan ini disebabkan oleh adanya sumbatan di saluran ASI, Ma. Biasanya sih sembuh dalam waktu satu hingga dua hari saja.


4. Flat Nipple

Meskipun banyak konselor laktasi yang bilang flat nipple ini bukan hambatan besar dan para mama seharusnya tetap bisa menyusui, tapi tetap sempat bikin panik buat saya. Karena flat-nya, si baby jadi agak kesulitan buat mengisap. Untuk ngatasinnya, suami membelikan nipple puller, bentuknya mirip pompa ASI zaman dulu tapi ukurannya kecil banget, kan hanya khusus untuk area puting. Nipple puller ini saya pakai menjelang bayi menyusu, Ma, dan pertama kalinya dipakai itu rasanya lumayan sakit. Hiks.

Namun, flat nipple ini akhirnya teratasi saat saya mulai rajin pumping di luar waktu menyusui. Seringnya puting diisap oleh bayi dan bikin ASIP, lama-lama membuat permukaanya menonjol dan memudahkan bayi mengisap. Nipple puller pun cuma digunakan dua atau tiga kali doang, hingga akhirnya semua berjalan dengan lancar.


Baca juga: Menyusui di Tempat Umum? Yay or Nay?



Selain hal-hal lain di atas, melalui pengalaman menyusui tersebut, saya juga jadi paham mengenai satu hal. Istilah “pinter nyusu” itu ternyata suatu hal yang patut disyukuri dari bayi kita, Ma. Saat pertama kali melihat respon suster yang melihat saya menyusui bilang, “Wah, bayinya pintar nyusu ya?”, saya membatin, “Lha, memang kenapa? Kan tinggal ngenyot doang? Bukannya bayi lain juga bisa ya?"

Duh, betapa udiknya saya!

Padahal maksud dari “pinter nyusu” ini rupanya adalah bayi nggak mengalami kendala dalam perlekatan pada mamanya saat menyusui, Ma. Makin ke sini saya baca dan karena sering sharing sesama mama menyusui, ternyata ada pula kondisi pada bayi yang membuatnya kesulitan untuk menyusu. Kondisi itu di antaranya ada yang disebut dengan tongue tie atau Ankyloglossia. Sederhananya sih, tongue tie ini merupakan suatu kondisi di mana tali selaput bawah lidah si baby pendek sehingga dia akan mengalami kesulitan mengisap.

Tongue tie ini dibagi dalam empat tingkatan, mulai dari yang paling ringan hingga yang mengganggu mobilitas lidah. Solusi atas kondisi ini dapat dilakukan dengan bimbingan konselor laktasi, entah itu melalui perbaikan posisi perlekatan ataupun frenotomi. (pengirisan/pemotongan selaput lidah). Tapi nggak perlu khawatir seandainya opsi terakhir yang harus dilakukan, Ma. Karena katanya frenotomi ini bahkan lebih ringan dari proses penindikan anak. Yang perlu Mama pastikan adalah frenotomi ini harus dilakukan oleh konselor laktasi yang kredibel.

Nah, Mama, gitu deh suka-duka pengalaman menyusui saya yang pertama. Kalau ada rezeki selanjutnya, semoga lain kali bisa lebih sukses menyusuinya. Saling mendoakan ya, Ma!

Jadi, kesimpulannya, menyusui itu gampang nggak sih?

It is not easy or uneasy. It's all about making your best effort for your child.

When there is a will, there’s a way. Especially if you remember breastmilk is a magical elixir and have this strong conviction to breastfeed your baby. Istilahnya, meskipun penuh perjuangan, pasti bakal dijabanin.


Baca juga: Menyusui Saat Sakit – Aman Nggak Ya?


Tapi, bagaimana kalau memang setelah diusahakan dengan cara apa pun, ASI Mama nggak juga keluar? Ya, teteup, Ma. Don't worry, be happy! No one is a failed mama anyway!

Mama juga pernah mengalami kendala saat menyusui baby Mama? Ayo, Ma, share di kolom komen ya!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menyusui itu Gampang? Sebelum Berkata Demikian, Catat Dulu Hal-Hal Berikut Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Nadia Khaerunnisa | @nadkhaerunnisa

Book Sniffer | Blabbering her stories and ideas on nadkhaerunnisa.com

Silahkan login untuk memberi komentar